Anda Pengunjung ke-

Bunda, Aku Ingin Jadi Nabi


  “Bunda, aku ingin jadi Nabi,” ucap Ziyad suatu hari. Saat itu aku baru selesai meng-ASI-hi adiknya di kamar ketika Ziyad tiba-tiba masuk dengan permintaan ajaibnya.

  “Kenapa ingin jadi nabi, sayang?” tanyaku memastikan keinginannya tersebut.

  “Aku mau kayak Nabi Muhammad jadi seorang nabi!” jawabnya kini dengan nada memaksa. Aku tak langsung melanjutkan bertanya, tetapi segera kupeluk ia dan kududukkan di pangkuanku,

  “Oh, Ziyad ingin seperti Nabi Muhammad ya?” kucoba memahami keinginannya dan ia pun mengangguk mengiyakan.

  “Kalau Ziyad ingin seperti Nabi Muhammad, bisa banget sayang. Kita juga sebagai umatnya Nabi harus bisa mencontoh beliau,” terangku.

  “Nabi itu waktu kecil anak yang sangat baik, sayang sama keluarganya, teman-temannya, bahkan menyayangi hewan juga,” aku berusaha menjelaskan sesuai dengan kemampuan berfikirnya dan ia pun terlihat sangat tertarik mendengar ceritaku.

  “Sayang sama ayah bundanya juga ya?” tanyanya.
  “Tentu, nabi sangat sayang kedua orangtuanya. Beliau selalu mendoakan mereka meskipun saat itu beliau sudah menjadi yatim piatu yang disayang Allah,” jelasku sambil menceritakan masa kecil Nabi.

  “Bunda, aku ingin jadi anak yatim piatu juga biar disayang Allah,” pintanya kembali dengan polosnya. Ternyata Ziyad sangat ingin mencontoh nabinya hingga segalanya dari Nabi ia inginkan.

  “Yatim piatu itu artinya tidak punya ayah dan ibu, sayang. Karena ketika masih di dalam kandungan, ayahnya meninggal dunia dan ibunya pun meninggal ketika nabi masih kecil,” terangku.

  “Kasian ya Nabi Muhammad,” ucapnya sedih.

  “Iya sayang, tetapi beliau selalu mendoakan ayah ibunya karena Nabi Muhammad itu anak yang saleh,”

  “Ziyad mau jadi anak saleh juga, Bunda,” pintanya kini. Aku pun terharu mendengarnya dan bahagia memiliki anak yang punya keinginan luar biasa ini.
Meskipun sebenarnya ketika ia mengucapkan keinginannya untuk menjadi nabi, aku pun sempat kaget. Tetapi setelah mengobrol dengannya, kuketahui bahwa dia sangat mengidolakan Nabinya.

  Tak heran sebenarnya mengapa Ziyad begitu tertarik dengan segala cerita tentang Nabi Muhammad saw. Sebab, beberapa hari lalu kami sempat nonton bareng sebuah film yang menceritakan kisah saat nabi kecil. Dari sana, Ziyad yang keingintahuannya sangat besar mulai banyak bertanya tentang Nabi Muhammad saw. Sebelum itu, kami pun sering menceritakan kisah Nabi Muhammad, baik melalui buku cerita miliknya ataupun saat usai membaca Alquran yang berisi kisah nabi.

  Sejak saat itu, sepertinya cerita tentang Nabi selalu terngiang dalam benaknya hingga ia berkeinginan seperti Nabi. Maka, kusambut keinginannya dengan mengajaknya mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw.

Mulai dari hal yang bisa dia lakukan seperti minum dengan tangan kanan, makan sambil duduk, mengucap salam ketika masuk rumah dan segala hal yang menjadi adab sehari-hari yang dicontohkan Nabi. Ketika dia tahu bahwa Nabi Muhammad saw. pun melakukan hal tersebut, Ziyad menjadi semakin semangat dan antusias mengerjakannya.

  “Bunda, aku mau kayak Nabi Muhammad juga, ngga dilihatin mukanya,” ucapnya sambil menutupkan kain sorban ayahnya ke wajahnya. Aku tersenyum melihat tingkah lucunya tersebut. Sepertinya dia terinspirasi saat melihat film kisah nabi yang setiap muncul sosok nabi tak pernah diperlihatkan wajahnya. Begitu pula dalam buku cerita kisah para nabi pun, sosok Nabi Muhammad saw. hanya digambarkan dengan tulisan arab bertuliskan Muhammad saw. saja.

  “Sayang, Nabi Muhammad itu adalah manusia yang sangat mulia. Di zaman sekarang, belum ada yang pernah bertemu dengan beliau. Karena itu, tak ada yang bisa menggambarkan sosok Nabi yang sangat indah,” jelasku.

  “Aku pengen ketemu Nabi Muhammad,” pintanya antusias.

  “Insya Allah Ziyad bisa melihat Nabi Muhammad, tapi nanti ketika di surga. Makanya, Ziyad harus jadi anak saleh biar bisa masuk surga dan ketemu Nabi Muhammad ya,” terangku diikuti anggukannya yang semangat.

Selalu takjub rasanya dengan segala hal yang diucapkannya. Kurasakan betapa besar kecintaannya terhadap Nabi Muhammad saw. dan keinginannya bertemu Nabi. Semoga fitrah ini selalu terjaga dan ia dapat menjalankan sunnah nabi seutuhnya. Hingga kelak keinginannya bisa terwujud untuk berkumpul bersama di surga dan mendapat syafaat dari Rasulullah saw.

0 Response to "Bunda, Aku Ingin Jadi Nabi"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel