Archive For August 2017 August 2017 - Teh Deska
TERBARU

Karena Anak Butuh Bahagia

"Anak tidak meminta gaji yang berlipat, anak tidak meminta karir bunda yang melesat, anak hanya ingin bahagia"

Ya, anak hanya ingin bahagia... seperti yang diungkapkan oleh Teh Kiki Barkiah tersebut.

Ia tak pernah meminta apapun dari diri kita.
Sesibuk apapun, serepot apapun, sesulit apapun, sempatkan untuk bermain bersamanya. Buat agar ia merasa bahagia bersama bunda. #SelfReminder

Baru baca halaman-halaman awal saja sudah mengajak diri ini untuk muhasabah.
Betapa masih banyak yang harus dibenahi dalam pendidikan anak selama ini.

Bismillah... Mulai membenahi semuanya dari awal untuk akhir yang bahagia.

Kalau Cinta, Katakan Saja

Jika beberapa kali saya pernah menulis surat cinta untuk suami, itu bukan semata-mata kegombalan saya, namun lebih pada untuk memupuk cinta yang pernah ada. Agar ia tumbuh dengan indah, memesona, dan tetap abadi hingga akhir hayat bahkan sampai ke surga. Sebab, cinta itu harus selalu hidup dalam rumah tangga, bukan hanya di masa awal pernikahan saja.

 Romantis itu bukan sebelum sah. Ya, jika sebelum nikah sudah romantis itu baru namanya gombal. Sebab romantisme sesungguhnya itu adalah setelah akad, setelah terucap ikrar dan janji suci. Itu idealnya, namun ternyata banyak yang terbalik. Sebelum nikah sudah romantis, saat berrumah tangga malah tidak romantis. Bagaimana mau membangun keluarga sakinah jika sudah hilang rasa cinta antara suami dan istri.

 Karena itu, mulailah untuk jatuh cinta kembali pada pasangan halal kita. Tak ada kata terlambat meskipun usia pernikahan sudah lama dan sudah dikaruniai banyak anak. Justru seharusnya rasa cinta itu semakin lama harus semakin tumbuh dan mengakar. Agar bisa saling menopang satu sama lain dan bertahan dalam berbagai kondisi. Sebab, memang dalam kehidupan berumah tangga itu tak selamanya selalu indah, kadang ada ujian yang justru akan mendewasakan dan semakin menguatkan ikatan.

 Saya pun dari dulu memang sangat suka dengan puisi-puisi cinta apalagi setelah menikah rasanya bisa tersalurkan dan tertuju pada orang yang tepat. Terlebih saat mengikuti kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional diberi tugas atau nice homework untuk membuat surat cinta, maka saya pun sangat bersemangat menulis kata-kata cinta itu kembali. Meskipun ada beberapa teman di kelas IIP yang merasa kesulitan membuat surat cinta karena mengaku tidak bisa romantis. Tapi setelah dicoba justru banyak yang ketagihan membuat surat cinta untuk suaminya.

 Ada yang bilang bahwa cinta itu tak perlu diungkapkan dengan kata-kata, cukup kita menjalankan peran sebagai seorang istri yang baik maka itu sudah menjadi pembuktian cinta. Namun bagi saya khususnya, justru cinta itu harus diungkapkan baik secara langsung maupun tertulis. Kadang saya tiba-tiba memberi kejutan surat cinta melalui pesan di WA saat suami sedang bekerja. Ternyata itu terbukti bisa memberinya semangat dan menumbuhkan rasa cinta di antara kami.

 Dalam diskusi di kelas IIP pun, ada seorang peserta yang mengatakan bahwa dia melakukan survey pada beberapa pasangan dari setiap generasi. Generasi usia 30-an, 40-an, dan 50-an. Ternyata jawabannya semua sama, tidak pernah lagi membuat pernyataan tertulis perihal surat cinta kepada pasangannya setelah menikah. Menurut pengakuan mereka bahwa kalau sebelum menikah pernah membuat surat cinta atau kata-kata cinta tertulis. Ketika ditanya mengapa sekarang tidak lagi menulis surat cinta? Rata-rata mereka menjawab sudah beda lagi zamannya. Bahkan ketika ditantang untuk membuat surat cinta mereka malah tertawa saja.

 Kalau kata Teh Kiki Barkiah dalam buku Lima Gruru Kecilku, mengapa harus malu untuk bersikap hangat dengan pasangan yang telah Allah halalkan? Sementara di luar sana begitu banyak pasangan tanpa ikatan pernikahan tidak merasa malu mengekspresikan kasih sayang mereka. Mengapa romantisme hanya berlaku saat awal usia pernikahan? Sementara kehidupan dari masa ke masa semakin menantang, semakin dituntut merapatkan barisan untuk saling memperkuat dalam memberi dukungan. Mengapa romantisme harus kadaluarsa? Padahal romantisme mampu memberi suplemen semangat dalam jiwa yang memberi energi ketangguhan melewati hari-hari yang penuh aral melintang.

 Apa yang menghalangi kita untuk mengekspresikan cinta? Cinta yang berpadu dalam sebuah janji suci yang diucap di hari istimewa. Padahal terkadang hanya membutuhkan beberapa detik saja dalam mengekspresikannya. Namun yang sederhana dan singkat itu ternyata mampu mengurai kepenatan dan melepas kelelahan.

Jadi, jika saya menantang sahabat untuk membuat surat cinta kepada pasangan halalnya, SIAP??
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes