Archive For 2017 2017 - Teh Deska
TERBARU

Bunda Hanya Harus Bersabar

Ziyad sekarang sudah mulai menikmati makan sendiri. Bahkan saat bundanya kurang sabar dan akan menyuapinya, dia malah menolak dan mau makan sendiri.

"Dede mau disuapin sama bunda biar cepat habis makannya?" tanya saya yang melihat makanannya masih banyak.

"Ngga bunda, Ziyad mau makan sendiri," ucapnya sambil melanjutkan makan.

Ya, bunda hanya butuh bersabar atas setiap proses. Sabar untuk menemanimu makan. Sabar untuk setiap nasi yang berantakan di lantai. Sabar untuk melihat kau menjadi anak yang mandiri.

#hariketujuh
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Belajar Makan Sendiri

Bismillah.
Setelah melewati tantangan kemandirian untuk memakai celana sendiri, kini Ziyad akan memulai latihan makan sendiri.

Meskipun sejak bisa memakan berbagai makanan, saya sudah membiasakan Ziyad untuk makan sendiri. Namun, saya belum bisa konsisten melatihnya. Terkadang karena makannya terlalu lama akhirnya saya menyuapinya.

Sekarang saya berusaha untuk konsisten mengajarkannya untuk makan sesuai waktunya. Dengan porsi yang sesuai untuk Ziyad.

Butuh proses memang untuk bisa melatih kemandirian ini. Tapi jika kita bisa konsisten mengajarkannya maka anak pun akan terbiasa.

#harikeenam
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Tantangan Belum Berakhir

Dalam setiap proses pasti selalu ada tantangan. Begitu pula yang dialami oleh anak ketika proses melatih kemandiriannya.

Jika kemarin Ziyad sudah berhasil memakai celana sendiri, kini tantangannya adalah ketika memakai celana panjang.

Ia agak kesulitan karena berbeda dengan celana pendek yang lebih praktis. Biasanya Ziyad memakai celana panjang waktu sore menjelang akan tidur. Makanya ketika kesulitan, ia akan meminta saya kembali untuk membantunya memakaikan celana panjang.

Berarti tantangannya belum berakhir, karena masih ada yang belum bisa ditaklukkan. Tapi Insya Allah jika dilatih terus menerus, maka anak pun akan semakin terlatih untuk mandiri.

#harikelima
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Buah dari Proses

Ketika kita total berikhtiar dan konsisten menjalankan setiap misi, maka hasilnya maksimal pun akan kita peroleh.

Seperti Ziyad, Alhamdulillah setelah melewati berbagai proses untuk kemandiriannya akhirnya ia berhasil mampu memakai celana sendiri.

Awalnya masih minta bantuan bundanya, tapi setelah diyakinkan dan diberi kepercayaan maka ia pun terus mencoba.

Ekspresi bahagia pun muncul ketika ia berhasil melewati setiap tantangan.

Meskipun di awal target saya adalah Ziyad bisa memakai pakaian sendiri. Tapi meski baru mampu memakai celana sendiri, ini merupakan keberhasilan yang luar biasa baginya dan bagi saya.

Maka, sebagai orang tua kita pun harus memberikan apresiasi atas keberhasilannya. Salah satu kemandirian Ziyad sudah berhasil diceklis. Sekarang tinggal konsisten terus menerus menjalankannya.

#harikeempat
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Peran Semua Anggota Keluarga

Ternyata, untuk menumbuhkan kemandirian anak itu dibutuhkan kerja sama dengan semua anggota keluarga.

Jika kemarin ayahnya sudah mencontohkan memakai baju yang praktis pada Ziyad, kali ini giliran pamannya di rumah yang mendukung.

Ketika bundanya sedang mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa dihentikan, maka Ziyad pun meminta tolong pada pamannya untuk membantunya.

Namun, saya sampaikan bahwa untuk Ziyad yang sedang belajar mandiri tidak boleh dibantu tapi diperhatikan dan dituntut saja.

Ya, semua pun akhirnya harus ikut terlibat. Agar bisa mendukung kemandirian Ziyad. Bukan hanya oleh bundanya tetapi oleh semua anggota keluarga di rumah.

#hariketiga
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Family Gathering HEBAT Community

Weekend kita kemarin dalam agenda Family Gathering bersama keluarga-keluarga luar biasa dari Komunitas HEBAT (Home Education Based on Fitrah and Talent).


Pertama kali tiba di Waterboom Sukahaji, Ziyad sudah semangat untuk segera berenang dan bermain air bersama teman-teman barunya ditemani ayah tersayang.

Sementara para bunda siap belajar kepada Umi Rita yang membahas  tentang "FrameWork Fitrah Based Education".

Asyik sekali belajar pada ibu dengan 6 orang anak perempuan ini. 😍

Berbekal pengalamannya mendidik putri-putrinya, beliau membahas juga tentang Fitrah Anak, kemudian Misi Spesifik Keluarga, hingga Talent Mapping.

Di akhir, kami juga berdiskusi dengan Kang Rido Ndeso tentang Pengkaryaan Sampah dan Literasi

Usai berenang, anak-anak pun mulai bermain di Aula yang dilengkapi beberapa permainan tradisional seperti congklak, balok susun, dll. Ada juga perpustakaan dan prakarya yang sangat kreatif terbuat dari sampah.

Family Gathering kali ini benar-benar berkesan khususnya bagi keluarga kami. Semoga berawal dari sini, kami mampu melahirkan generasi-generasi Rabbani. Aamiin.

#FamilyGathering
#HEBATCommunity
www.tehdeska.com

Kerja Tim Bersama Suami

Untuk melatih satu kemandirian pada anak memang tidak bisa hanya sekali. Tapi harus berkali-kali hingga menjadi kebiasaan.

Karena itu Ziyad masih belajar memakai pakaiannya sendiri. Alhamdulillah saya terbantu karena suami pun mau ikut terlibat melatih kemandirian Ziyad.

Dengan senang hati suami pun membantu mengarahkan Ziyad untuk mau memakai bajunya sendiri.
Sampai dicontohkan terlebih dulu cara memakainya.

Alhamdulillah Ziyad pun akhirnya mau mencoba memakai baju dengan cara yang dicontohkan ayahnya.

Kita sebagai orang tua memang harus super kreatif dalam berbagai hal. Selain itu, dibutuhkan juga kerjasama dengan pasangan agar bisa mewujudkan impian bersama.

#harikedua
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian

Melatih Kemandirian Anak

Pada tantangan bunda sayang level dua ini benar-benar harus ekstra sabar.
Sebab, untuk membiasakan sebuah kemandirian ini perlu dilatih terus-menerus.

Kemandirian yang pertama untuk Ziyad adalah memakai pakaian sendiri. Kali ini dimulai dengan memakai celana sendiri.

Sejak dilatih toilet training, Ziyad memang sudah dibiasakan melepas celananya sendiri dan pipis sambil jongkok.

Alhamdulillah sekarang Ziyad sudah lolos toilet training. Tapi, untuk memakai celananya sendiri ia merasa kesulitan. Karena itu, Ziyad selalu meminta tolong pada ayah atau bundanya.

Namun, yang namanya kemandirian memang tidak bisa instan, butuh proses dan konsisten.

Akhirnya, hari ini kita mulai kembali latihan memakai celana sendiri. Meskipun tidak mudah memakaikan celana pada anak yang super aktif seperti Ziyad.

Awalnya dia masih belum mau, karena kesulitan memakai celana sambil berdiri. Akhirnya saya ajak dia memakainya sambil duduk.

Untuk hari ini Ziyad memang tidak begitu lancar memakai celana sendiri. Namun, masih ada hari esok untuk kita berlatih lagi ya sholih.



#Harikesatu
#tantangan10hari
#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Aliran Rasa Games Komunikasi Produktif

Alhamdulillah...
Tantangan di Kelas Bunda Sayang telah terselesaikan.

Game level 1 tentang Komunikasi Produktif ini benar-benar menyenangkan dan menguji adrenalin. Hehe

Ya, sebab menjadi tantangan tersendiri untuk saya saat harus memilih kata yang tepat saat berkomunikasi dengan si kecil yang super-super 😁

Apalagi di usianya kini yang serba ingin tahu, bikin bundanya jadi harus belajar banyak hal juga.

Selain itu, yang saya rasakan setelah mengikuti games komunikasi produktif ini jadi lebih sabar menghadapi si kecil.

Terimakasih untuk kebersamaan kita, sayang. Doakan bunda yang sedang belajar untuk menjadi lebih baik ya.

Siap-siap dengan tantangan selanjutnya 😍

#InstitutIbuProfesional
#komunikasiproduktif
#KelasBundaSayang

Rumah Belajar IIP "Workshop Membuat Web"

Keseruan belajar ala Emak-emak zaman now.



Mak, yg namanya belajar itu sepanjang masa ya.
Meskipun sekarang udah jadi Mahmud Abas (alias: Mamah Muda Anak baru satu, atau lebih) tetep harus belajar.

Dan... Inilah kita emak-emak pembelajar dari Institut Ibu Profesional, yang selalu semangat mencari ilmu.

Meski saat belajar ditemani anak-anak yang super aktif dan iringan suara yang merdu dari mereka. Tapi, suasana belajar tetap kondusif kok. Soalnya dibantu jg sama para suami siaga.

Kali ini di Rumah Belajar IIP tim Tasik, kita belajar membuat web dan bagaimana cara mengahasilkan uang dari web.

Dengan pemateri yang super sabar Kang Asep Solikhin (my husband) yang semangatnya ngga kalah dengan suara anak-anak dan emak-emak. Hehe.

Acara kemarin juga dalam rangka play date anak-anak bersama para ayah. Pokoknya seru dan berkesan banget acara Rumbel perdana ini.

Terimakasih mamak-mamak kece. Sampai  ketemu lagi di Rumah Belajar bulan depan edisi masak bareng.

www.tehdeska.com
#InstitutIbuProfesional
#RumahBelajarTasik

Ketika Ia Bilang Sayang

Sesekali terkadang ada hal yang membuat saya ingin menangis bahkan meski tanpa alasan.

Saya sedang belajar untuk bisa memanajemen diri, khususnya saat bersama dengan anak. Sebisa mungkin saya mencoba untuk tetap tenang mengahadapi anak yang super aktif.

Tapi saya tetap hanya seorang wanita biasa yang berusaha untuk bersabar. Maka, ketika mulut ini saya arahkan untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang sia-sia dan berusaha sebijak mungkin, terkadang hanya air mata yang mampu berbicara.

Siang ini entah mungkin karena hati saya yang belum bisa terkondisikan, dengan berbagai hal rasanya saya ingin menangis.

Akhirnya usai shalat Dzuhur, tak terbendung air mata ini mengalir di pipi. Sebenarnya ingin menyembunyikannya dari pandangan Ziyad, tapi tak bisa. Ia yang selalu ada di dekat saya akhirnya bertanya.

"Bunda kenapa?" tanyanya dengan wajah simpati. Saya hanya menggeleng tanpa kata-kata.

"Bunda sedih ya?" tanyanya lagi menirukan saya kalau melihatnya menangis.

Tidak mendengar jawaban saya, akhirnya dia pun mendekat dan memeluk saya sambil menepuk-nepuk​ lembut pundak saya.

"Bunda sayang Ziyad," ucap saya lembut padanya.

Ia pun membalasnya dengan kata yang mampu meluluhkan hati saya. "Ziyad juga sayang bunda," ucapnya sepenuh hati sambil mengecup pipi saya.

Ya Allah, nikmat mana lagi yang hamba dustakan. Ketika di hadapan hamba ada malaikat kecil yang mengungkapkan cinta pada ibunya.

Maafkan atas segala khilaf dan kelalaian hamba pada-Mu dan padanya yang menjadi amanah dari-Mu.

#hari12
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Derai Rinai


Hari ini ada air mata
Yang tak dapat kuuraikan
Mengapa ia membasahi hati

Mungkin sesak dalam dada
Bertabuh bersama gemuruh

Seperti derai rinai
syahdu melawan rindu
Pada bumi yang selalu menelan ego

Tapi aku tak ingin seperti awan
Yang pergi tanpa meninggalkan pelangi

Kuharap ada jawabnya di atas langit sana
Agar redam semua tanyaku

-141117-

Indahnya Saling Berbagi

Hari ini perkembangan emosional dan sosial ziyad sudah mulai terlihat banyak kemajuan.

Ziyad yang biasanya tidak suka dengan anak kecil atau anak yang usianya di bawahnya kini sudah mulai berubah.

Entah mengapa sejak beberapa bulan belakangan ini setiap bertemu dengan anak yg usianya di bawah Ziyad, dia seolah cemburu dan tidak mau bermain dengan anak tersebut.

Tapi alhamdulillah hari ini Ziyad sudah mulai bisa bersahabat. Saat ada partner bisnis saya yang berkunjung ke rumah dengan membawa putrinya yang masih berumur 2 tahun, Ziyad mau mengajaknya bermain. Meskipun di awal Ziyad tidak mau meminjamkan mainan kesayangannya.

"Ziyad, itu dede nya pengen pinjam mainan boleh?" tanya saya dengan lembut.

"Ngga boleh, ini mau dimainin sama Ziyad," ucapnya sambil mendekap mainannya.

"Terus mainan apa yang boleh dimainin  sama Dede? Itu kasian pengen main juga Dede nya,"

Akhirnya Ziyad pergi ke kamar tempat menyimpan mainannya dan mengambil kotak mainan lalu Mengeluarkan semua Isinya.

"Ini boleh dimainin ya," ucapnya pada teman kecilnya.

"Makasih ya," ucap partner saya mewakili putrinya yang belum lancar berbicara.

Setelah diperbolehkan memainkan mainan Ziyad, teman kecilnya pun memberikan sebagian makanan cemilannya.

Indahnya saling berbagi. Terima kasih anak-anak shalih dan shalihah.

#hari11
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Full Energik

Hari ini Ziyad senang sekali karena mau berangkat ke Salopa, kampung halaman bundanya.

Tapi beberapa saat sebelum berangkat temannya datang dan mengajak bermain. Akhirnya Ziyad yang udah siap mulai lari-larian lagi dan "motah" bareng temannya.

"Dede, sekarang kan kita mau berangkat ke Salopa," ucap saya agar jangan terlalu 'motah'.

"Ziyad mau maen," ucapnya masih sambil main kejar-kejaran dengan temannya sampai ke jalan.

"Yaudah, nanti kalau mau berangkat Dede harus udah ada di rumah ya," ucap saya yang masih bersiap-siap.

Akhirnya ketika ayahnya telah siap menyalakan motor, Ziyad yang sedari tadi bermain langsung datang menghampiri.

"Ayah ikut, ayah ikut," ucap Ziyad sambil berlarian. Semetara temannya hanya berdiri melihat.

"Dadah, dadah, Ziyad mau ke Salopa," ucapnya sambil melambaikan tangan pada temannya.

Temannya pun membalas sambil dadah juga. Sebelum berangkat saya usap keringatnya di dahi dan memberinya minum. Karena kecapaian akhirnya Ziyad pun tertidur sepanjang perjalanan.

Anak-anak selalu begitu, jika energinya masih Full, ia akan terus aktif bergerak. Meski begitu saya bersyukur Ziyad selalu terlihat aktif dan ceria.

#hari10
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Bukan Hanya Mendidik Anak Sendiri

Beberapa hari lalu saya telah mengajarkan arti berbagi dan kepemilikan pada anak saya. Alhamdulillah dia bisa mulai mempraktikannya saat bermain dengan saudara dan teman-temannya. Tapi ternyata tidak semua anak belajar dan diberi pengertian oleh orangtuanya tentang hal ini. Akhirnya kemarin terjadi sedikit 'kerusuhan' di rumah. Saat ada temannya yang mau bermain, Ziyad mengajaknya untuk main di rumah. Seperti biasa, mainan Ziyad sudah ke luar semua dari tempat penyimpanannya. Saat ziyad memainkan mobil-mobilan kesayangannya, tiba-tiba temannya langsung merebut mainannya. Akhirnya mereka jadi berebut mainan tersebut karena sama-sama ingin memainkannya. "Aa mau main mobil-mobilan juga?" tanya saya pada temannya. "Iya," jawabnya sambil masih berebut mainan. "Bilang dulu sama Ziyad ya. Boleh ngga Aa pinjem mainannya?" tanya saya pada Ziyad. "Ngga boleh. Ziyad lagi main," ucap Ziyad sambil berkaca. "Oh iya Aa, sekarang mainannya masih dimainin sama Ziyad. Nanti kalau Ziyad udah selesai, gantian ya," ucap saya memberi pengertian. Mereka pun mengangguk bersamaan. Akhirnya keributan pun selesai. Tapi ngga lama, terulang lagi. Temannya yang tidak sabar ingin main mobil-mobilan yang dimainkan Ziyad merebut paksa mainannya. Entahlah namanya anak-anak selalu ingin mencoba mainan yang dimainkan temannya, padahal di sana banyak mobil-mobilan lainnya. Ziyad pun mulai merengek. Saya yang bingung langsung memberi pengertian pada Ziyad untuk berbagi. Namun tidak berhasil. Memberi pengertian pada temannya pun sama. "Ziyad, ngga apa-apa ya Aa mau pinjem mainannya. Kan Ziyad punya mainan yang lain," "Ziyad mau yang itu," sambil nunjuk mainan yang direbut temannya "Oke, sekarang kita hitung sampai sepuluh Yuk. Nanti bisa gantian mainannya," saya mengajak mereka berhitung. Tapi saat hitungan kesepuluh, temannya masih tidak ingin memberikan mainannya. Sampai tangisan Ziyad semakin kencang, akhirnya temannya memberikan mainannya sambil dilempar. Setelah itu Ziyad pun kembali langsung memainkan mobil-mobilannya. Kerusuhan yang sempat membuat saya bingung pun akhirnya selesai. Ya, terkadang kita sebagai ibu pun tidak hanya harus memberikan pengertian & pemahaman kepada anak kita saja, tetapi pada teman-temannya juga. Saya pun menyadari ternyata PR saya masih banyak. Semoga Allah membimbing saya untuk mampu mendidik anak-anak, generasi masa depan. Aamiin. #hari9 #gameslevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip #InstitutIbuProfesional

Biarkan Ia Bereksplorasi

Setiap hari selalu ada hal baru yang dilakukan Ziyad yang terkadang membuat bundanya makin sering mengingat Asma Allah (beristighfar) 😊 Ketika dia melakukan hal yang sangat istimewa dan menguji kesabaran, sebisanya mungkin saya tetap tenang dan menghadapinya dengan senyuman. Seperti siang tadi, Ziyad bilang mau mewarnai. "Bunda, Ziyad mau mewarnai ya," ucapnya sambil mengambil crayonnya sendiri di lemari. "Iya boleh sayang, bisa ambil sendiri kan?" tanya saya yang sedang di dapur. "Iya bunda," jawabnya segera. Setelah saya menyelesaikan pekerjaan di dapur, saya pun kembali menemani Ziyad yang sedari tadi asyik mewarnai. Betapa kaget saat menemui Ziyad dan melihatnya sedang asyik menggambar di atas karpet. "Ziyad lagi bikin apa?" "Lagi bikin pager," ucapnya sambil terus mewarnai. "Menggambarnya di kertas aja yuk biar bagus," ucap saya sambil memberikannya selembar kertas. Tapi dia masih terus menggambar di karpet sampai berhenti ketika melihat saya menggambar sebuah bentuk hewan di kertas. "Bunda, Ziyad mau menggambar di sini," ucapnya yang kemudian mengikuti menggambar di atas kertas. Akhirnya saya beri dia pengertian bahwa karpet itu buat duduk, bukan baut menggambar. kalau mau menggambar harus di atas kertas. Seperti biasa Ziyad pun manggut-manggut sambil asyik menggambar. Ziyad sedang bereksplorasi dan saya tak mau menghentikan imajinasinya. Kita sebagai orang tua hanya perlu mengarahkan tanpa harus dengan teriakan. Semangat untuk para ibu yang selalu memberi inspirasi. 😊 #hari8 #gameslevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip #InstitutIbuProfesional

Ketika Anak Bermain Pisau

Anak-anak memang sangat suka bermain. Apalagi di usia Ziyad saat ini, ia sedang asyik mengeksplorasi berbagai hal.

Semua benda dimainkan dan dicobanya. Selagi bendanya aman dan tak berbahaya, saya tidak melarangnya. Tetapi ketika dia memainkan benda tajam, tentu saya mengawasinya.

Seperti siang tadi saat saya memasak di dapur, Ziyad yang memang selalu ikut terlibat dengan segala aktivitas saya pun ikut "membantu".

"Bunda, Ziyad mau bantuin bunda masak ya," ucapnya sambil berusaha meraih pisau.
Saya yang melihat tak langsung melarang, tetapi mencoba mengalihkannya.

"Iya, makasih sayang udah mau bantuin bunda. Tapi ini pisau punya bunda, mau dipakai sama bunda ya," ucap saya sambil mengambil pisaunya.

"Ziyad juga mau pakai pisau,"

"Oh, Ziyad mau bantuin bunda potongin wortelnya ya?"

"Iya, Ziyad mau potong wortel pakai pisau,"

"Boleh, tapi Ziyad pakai pisau yang ini aja ya,"

Saya akhirnya memberikan pisau utk memotong kue, tapi masih bisa dipakai utk momotong wortel. 😁

Kami pun mulai asyik memasak bersama. Sesekali Ziyad memakan wortel yang sudah dipotongnya sendiri. Sambil memasak saya pun mengajarkannya untuk menyukai makan sayur-sayuran dan memberitahu manfaatnya melalui cerita.

Begitulah anak-anak, selalu penasaran dan ingin mencoba. Karena itu, kita sebagai ibu harus bisa membimbing dan mengarahkannya.

*dari ibu yang masih harus banyak belajar

#hari7
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Belajar Berbagi

Untuk usia Ziyad saat ini yang baru 3 tahun, belum bisa dipaksakan untuk belajar tentang berbagi. Karena menurut beberapa buku yang saya baca pun, usia segini anak masih memiliki ego sendiri.

Namun, tidak ada salahnya juga kita mulai mengajarkan tentang arti "Kepemilikan" dan "Berbagi".

Ziyad sendiri alhamdulillah sudah bisa berbagi dengan teman seusianya baik berbagi mainan saat bermain atau berbagi makanan.

Tapi kepada anak yang usianya di bawah Ziyad, entah mengapa dia kurang suka berbagi. Mungkin masih ada cemburu saat orang dewasa lebih memperhatikan anak balita yang masih kecil. Malah ada yang bilang, Ziyad harus segera punya adik. Hehe.

Tapi saya tidak memaksanya untuk berbagi. Ketika ada anak yang mau meminjam mainannya, saya pun bertanya dulu pada Ziyad.

"Ziyad, mainannya boleh dipinjam sama Dede?"

Kalau dia bilang tidak boleh, saya pun menghargai karena ada mainan kesayangannya yang masih belum boleh dipinjamkan.

Atau terkadang saya beli dia pilihan.
"Ziyad, mainan mana yang boleh dipinjamkan sama Dede nya?"

Ziyad pun bisa memutuskan sendiri mau meminjam mainan yang mana untuk bermain bersama.

Begitu pula saat berbagi makanan. Seperti saat sepupunya main ke rumah dan Ziyad lagi makan cemilan. Saya bilang, "Ini makanannya berdua buat Abang juga ya,"

"Iya boleh, ini buat Ziyad, ini buat Abang," ucapnya sambil mengambil makanannya dan memberikannya pada Abang.

Belajar tentang arti Kepemilikan pun harus kita ajarkan sejak dini, agar dia bisa menghargai barang milik dirinya sendiri dan orang lain.

Contohnya saat Ziyad mau mainin HP, saya katakan bahwa HP ini punya bunda dan mau dipakai dulu sama bunda.

Meskipun terkadang saat saya sedang pegang HP Ziyad suka ingin ikutan juga. Saya pun tahu ketika itu sebenarnya Ziyad sedang ingin diperhatikan. Makanya saya ngga bisa lama-lama pegang HP.

Saya memang harus banyak belajar lagi, untuk bisa total bermain bersamanya, mendidiknya, dan tentunya belajar bersamanya.

#hari6
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Ayoo Merapikan Mainan

Bun mau tanya dong,, berapa kali dalam sehari bunda beresin mainan anak?😁

Salah satu tantangan yg belum berhasil saya taklukan adalah mengajak Ziyad untuk mau membereskan mainannya sendiri.

Makanya, setelah dapat materi tentang Komunikasi Produktif di Kelas Bunda Sayang IIP, saya langsung coba mempraktikkan pada Ziyad.

Biasanya Ziyad kalau disuruh beresin mainan dia suka nolak. Soalnya dia paling senang kalau mainannya berserakan, jadi bisa ngambil maianan sesuka hati 😁

Kali ini saya coba komprod untuk mengajaknya membereskan mainan

"De, yuk kita bermain masuk-masukin Lego ke wadahnya," ucap saya sambil mencontohkan terlebih dulu.

Ziyad yang awalnya ngga mau, melihat saya asyik memasuk-masukkan Lego mulai ikut terlibat. Saya ajak dia sambil berhitung.

"Yuk kita sambil hitung legonya," ajak saya.

"Hayu...Satu, dua, tiga," ucapnya semangat.

Tapi Ziyad tidak melakukannya sampai beres. Mungkin karena terlalu banyak mainannya yang berserakan.

"Dede, nanti kalau mau main, ambil mainan yg mau dimainin aja ya. Biar gampang beresinnya,"

"Ziyad mau mainin semuanya,"

Kalau sudah gitu kadang saya tidak memaksa. Setidaknya tadi sudah ada usaha Ziyad untuk membereskan mainannya walau sedikit.

Saya yakin, meskipun sekarang Ziyad belum bisa membereskan mainannya, tapi jika diajak dan dicontohkan oleh bundanya terlebih dulu, lama-kelamaan dia akan paham untuk selalu bertanggungjawab membereskan mainannya usai bermain.

Untuk bunda yang masih punya PR sama seperti saya, tetap semangat yaa.😊😘

#hari5
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Yuk, Kita Ngobrol Tentang Islam

Minggu adalah harinya "Family Time" untuk kami. Setelah hari-hari sebelumnya disibukkan dgn aktivitas pekerjaan & bisnis, maka di hari ini kami berusaha untuk mengisi waktu bersama-sama.

Namun, adakalanya di saat weekend ini saya dan suami jg lebih asyik berdiskusi ttg bisnis yg sedang kami jalankan di Salova dan Halal Mart.
Di tengah asyiknya saya ngobrol dengan suami, tiba2 Ziyad yang sedari tadi bermain datang lalu guling-guling di depan kami. Tidak merengek, hanya dia sedang mencari perhatian kami.

Saya pun mencoba mengajaknya bicara untuk mengetahui apa keinginannya.

"Ziyad pengen apa, sayang?" tanya saya lembut.

"Ziyad pengen ngobrol sama bunda," ucapnya sambil masih guling2.

Oke, akhirnya saya tahu kalau ziyad ingin diperhatikan.

"Oh, anak bunda pengen ngobrol sama bunda ya. Pengen ngobrol apa sayang?" tanya saya sambil memangkunya.

"Mm...Ngobrol Islam," ucapnya sambil mikir. Entahlah apa yg dipikirkannya tiba2 bilang begitu.

Tapi saya ingat pernah bermain tanya jawab sama Ziyad. Salah satunya pertanyaan "Ziyad agamanya apa?"
Maka ia pun menjawab dengan mantap, "Islam". Ya, itu pun setelah beberapa kali saya beritahu. Hehe.

Akhirnya, kali ini pun saya mengajaknya mengenal rukun Islam. Mulai dari rukun Islam pertama yaitu syahadat. Kami pun membaca syahadat bersama-sama.   Hingga menyebutkan rukun Islam yang kelima.

Meskipun Ziyad masih sangat kecil, tapi saya berusaha menanamkan nilai-nilai Islam dan pemahamannya sedari dini.

Semoga kelak Ziyad menjadi anak Sholeh, pembela Islam, dan berguna bagi Nusa, bangsa, dan agama. Aamiin.

#hari4
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfesional

Bunda, Insya Allah ya

Saya selalu berharap setiap hari memiliki momen istimewa bersama orang-orang tersayang, termasuk kebersamaan dengan anak.

Hal kecil sekalipun akan terasa istimewa jika kita mampu menerimanya dengan hati.

Seperti hari ini, ada yang spesial dari pangeran kecilku.

Sore ini, Ziyad dan suami saya menemani belanja kain untuk produksi manset Salova. Setelah itu kami ke Mesjid Agung karena ada agenda halaqoh dgn adik2 mahasiswa.

Ziyad sangat senang diajak ke Mesjid Agung karena dia bisa bermain di Taman Kota. Tapi karena bundanya ada agenda, jadi Ziyad harus bersabar dulu.

"Bunda, Ziyad mau maen ke Alun-alun," sambil nunjuk ke arah taman kota.

"Iya boleh ya, tapi nanti setelah bunda selesai ngaji ya," ucap saya.

"Iya Insya Allah ya," ucapnya begitu polos yang bikin hati saya mendesir.

Masya Allah...anak seusia ini mengingatkan saya untuk mengucapkan "Insya Allah" dan saya pun bahagia mendengarnya.

"Iya, Insya Allah ya sayang," ucap saya kemudian sambil mengecup keningnya.

Benar saja, usai halaqah selesai ternyata hujan turun dan mengharuskan kami menunggu sebentar di mesjid agung.

Alhamdulillah keinginan Ziyad tertunaikan meski tidak lama di sana.

Maafkan bunda yang masih harus banyak belajar. Terimakasih untuk kebersamaan kita hari ini ya. 😊

#hari3
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#institutibuprofesional

Beri Dia Pilihan

Hari ini masih dengan aktivitas menjadi juri lomba cipta & baca puisi.
Seperti biasa, ziyad selalu setia ikut menemani bundanya.

Kali ini saya memberi pilihan untuk Ziyad.

B: Dede, nanti mau ikut di depan nemenin bunda jadi juri atau main sama teteh?
Z: Ziyad mau jadi juri juga
B: Oke, Ziyad boleh nemenin bunda di depan tapi main sendiri dulu ya
Z: Iya
B: Insya Allah nanti kalau sudah selesai, kita main bareng lagi ya
Z: Iya iya (jawabnya sambil manggut2)

Alhamdulillah Ziyad bisa menepati kesepakatan kami dan asyik bermain dengan mainan kesayangannya.

Saya pun bisa semakin fokus menjadi juri karena hari ini dia punya teman bermain seusianya.

Ziyad bisa berbagi mainan dengan teman barunya. Meskipun kalau pada anak di bawahnya dia masih enggan berbagi.

Tapi saya tidak memaksanya, saya beri dia keputusan sendiri untuk memilih meminjamkan mainannya atau tidak. Saya pun tetap mengajarkannya tentang kepemilikan dan berbagi.

#hari2
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#InstitutIbuProfessional

Ziyad dan Lomba Baca Puisi

Salah satu kebiasaan yang selalu saya lakukan adalah mengajak Ziyad dalam setiap aktivitas harian.

Termasuk salah satunya saat saya mengisi seminar atau kajian, Ziyad selalu ikut dan menemani saya berbicara di depan.

Kali ini Ziyad ikut menjadi juri lomba baca puisi. 😁

Sebelum mengajak anak beraktivitas, kita sebagai orang tua harus bisa berbicara dengan anak agar ketika dalam acara dia bisa diajak bekerjasama dan tidak terjadi "tantrum".

Berikut pengalaman hari ini bersama Ziyad dan komunikasi yang saya lakukan dengannya.

Z = Ziyad
B = Bunda

B: Dede, hari ini ikut bunda ke sekolah ya
Z: Ada apa ke sekolah, Nda?
B: Bunda mau jadi juri lomba baca puisi
Z: Oh (ucapnya dengan mulut membulat yang menggemaskan seolah mengerti arti 'juri' 😄)
B: Dede di sana main sama teteh ya
Z: Ziyad mau mewarnai
B: Oke, nanti kita bawa krayon sama buku gambarnya ya. Terus mau bawa apa lagi?
Z: Bawa kereta api, mobil, helikopter, bawa sapinya juga (Ziyad menyebutkan semua mainannya satu persatu dengan huruf "r" yg belum jelas.)
B: Baiklah, sekarang ayo kita siapin mainan yg mau dibawa, oke?

Alhamdulillah ketika di sekolah, Ziyad masih ingat perkataan saya untuk bermain bersama teteh-teteh panitia dan saya pun bisa fokus menjadi juri lomba baca puisi.

Meskipun di tengah-tengah acara Ziyad ingin main bareng saya. Akhirnya saya membolehkan Ziyad bermain di dekat saya. Dengan terlebih dulu menyampaikan bahwa bunda sedang menjadi juri dan Ziyad harus bisa bermain tanpa mengganggu bunda.

Jadilah di meja juri, Ziyad bermain-main dengan mainannya dan saya pun tetap bisa fokus.

Walaupun kadang Ziyad yang selalu ingin tahu bertanya-tanya terus. "Bunda, itu tetehnya lagi apa?" (sambil nunjuk peserta di panggung)
"Itu tetehnya lagi baca puisi"
"Ziyad juga mau naik ke sana"
"Iya boleh, tapi nanti kalau udah selesai acara ya,"
"Iya bunda" (sambil kembali bermain)

Terima kasih untuk kerjasama hari ini ya, Nak. Bunda senang mengajak Ziyad dalam aktivitas bunda, karena dengan itu kita bisa belajar banyak hal.😘

#hari1
#gameslevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Karena Anak Butuh Bahagia

"Anak tidak meminta gaji yang berlipat, anak tidak meminta karir bunda yang melesat, anak hanya ingin bahagia"

Ya, anak hanya ingin bahagia... seperti yang diungkapkan oleh Teh Kiki Barkiah tersebut.

Ia tak pernah meminta apapun dari diri kita.
Sesibuk apapun, serepot apapun, sesulit apapun, sempatkan untuk bermain bersamanya. Buat agar ia merasa bahagia bersama bunda. #SelfReminder

Baru baca halaman-halaman awal saja sudah mengajak diri ini untuk muhasabah.
Betapa masih banyak yang harus dibenahi dalam pendidikan anak selama ini.

Bismillah... Mulai membenahi semuanya dari awal untuk akhir yang bahagia.

Kalau Cinta, Katakan Saja

Jika beberapa kali saya pernah menulis surat cinta untuk suami, itu bukan semata-mata kegombalan saya, namun lebih pada untuk memupuk cinta yang pernah ada. Agar ia tumbuh dengan indah, memesona, dan tetap abadi hingga akhir hayat bahkan sampai ke surga. Sebab, cinta itu harus selalu hidup dalam rumah tangga, bukan hanya di masa awal pernikahan saja.

 Romantis itu bukan sebelum sah. Ya, jika sebelum nikah sudah romantis itu baru namanya gombal. Sebab romantisme sesungguhnya itu adalah setelah akad, setelah terucap ikrar dan janji suci. Itu idealnya, namun ternyata banyak yang terbalik. Sebelum nikah sudah romantis, saat berrumah tangga malah tidak romantis. Bagaimana mau membangun keluarga sakinah jika sudah hilang rasa cinta antara suami dan istri.

 Karena itu, mulailah untuk jatuh cinta kembali pada pasangan halal kita. Tak ada kata terlambat meskipun usia pernikahan sudah lama dan sudah dikaruniai banyak anak. Justru seharusnya rasa cinta itu semakin lama harus semakin tumbuh dan mengakar. Agar bisa saling menopang satu sama lain dan bertahan dalam berbagai kondisi. Sebab, memang dalam kehidupan berumah tangga itu tak selamanya selalu indah, kadang ada ujian yang justru akan mendewasakan dan semakin menguatkan ikatan.

 Saya pun dari dulu memang sangat suka dengan puisi-puisi cinta apalagi setelah menikah rasanya bisa tersalurkan dan tertuju pada orang yang tepat. Terlebih saat mengikuti kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional diberi tugas atau nice homework untuk membuat surat cinta, maka saya pun sangat bersemangat menulis kata-kata cinta itu kembali. Meskipun ada beberapa teman di kelas IIP yang merasa kesulitan membuat surat cinta karena mengaku tidak bisa romantis. Tapi setelah dicoba justru banyak yang ketagihan membuat surat cinta untuk suaminya.

 Ada yang bilang bahwa cinta itu tak perlu diungkapkan dengan kata-kata, cukup kita menjalankan peran sebagai seorang istri yang baik maka itu sudah menjadi pembuktian cinta. Namun bagi saya khususnya, justru cinta itu harus diungkapkan baik secara langsung maupun tertulis. Kadang saya tiba-tiba memberi kejutan surat cinta melalui pesan di WA saat suami sedang bekerja. Ternyata itu terbukti bisa memberinya semangat dan menumbuhkan rasa cinta di antara kami.

 Dalam diskusi di kelas IIP pun, ada seorang peserta yang mengatakan bahwa dia melakukan survey pada beberapa pasangan dari setiap generasi. Generasi usia 30-an, 40-an, dan 50-an. Ternyata jawabannya semua sama, tidak pernah lagi membuat pernyataan tertulis perihal surat cinta kepada pasangannya setelah menikah. Menurut pengakuan mereka bahwa kalau sebelum menikah pernah membuat surat cinta atau kata-kata cinta tertulis. Ketika ditanya mengapa sekarang tidak lagi menulis surat cinta? Rata-rata mereka menjawab sudah beda lagi zamannya. Bahkan ketika ditantang untuk membuat surat cinta mereka malah tertawa saja.

 Kalau kata Teh Kiki Barkiah dalam buku Lima Gruru Kecilku, mengapa harus malu untuk bersikap hangat dengan pasangan yang telah Allah halalkan? Sementara di luar sana begitu banyak pasangan tanpa ikatan pernikahan tidak merasa malu mengekspresikan kasih sayang mereka. Mengapa romantisme hanya berlaku saat awal usia pernikahan? Sementara kehidupan dari masa ke masa semakin menantang, semakin dituntut merapatkan barisan untuk saling memperkuat dalam memberi dukungan. Mengapa romantisme harus kadaluarsa? Padahal romantisme mampu memberi suplemen semangat dalam jiwa yang memberi energi ketangguhan melewati hari-hari yang penuh aral melintang.

 Apa yang menghalangi kita untuk mengekspresikan cinta? Cinta yang berpadu dalam sebuah janji suci yang diucap di hari istimewa. Padahal terkadang hanya membutuhkan beberapa detik saja dalam mengekspresikannya. Namun yang sederhana dan singkat itu ternyata mampu mengurai kepenatan dan melepas kelelahan.

Jadi, jika saya menantang sahabat untuk membuat surat cinta kepada pasangan halalnya, SIAP??

Ibu sebagai Agen Perubahan

Permasalahan Diri:

Pemahaman Piqh Wanita

1.      Tentang bagaimana seharusnya ibadah seorang muslimah,

2.      Meneladani akhlak muslimah (muslimah penghulu surga, shohabiyah, istri para Rasul, ibunda para ulama)

3.      Kewajiban-kewajiban seorang muslimah (terhadap diri, suami, anak, keluarga, dan lingkungan masyarakat)

SOLUSI :

1.      Belajar memahami Piqh Wanita,

2.      Banyak membaca kisah-kisah para muslimah teladan,

3.      Bersungguh-sungguh menjalani peran yang saat ini sedang dijalankan.



PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE



Ø  MINAT HOBI KETERTARIKAN

Menulis dan Public Speaking

Ø  SKILL, HARD, SOFT

Menulis Buku, Menjadi Trainer, dan Motivator

Ø  ISU SOSIAL

Degradasi Moral Remaja khususnya Remaja Muslimah

Ø  MASYARAKAT

Pelajar, Mahasiswa, dan Muslimah pada umumnya

Ø  IDE SOSIAL

Menulis Buku tentang Muslimah, Mengadakan Training Kemuslimahan, Membuat dan Menjalankan Komunitas Muslimah (Girls On The Track/ GOTT)


Cerita Bersama Ibu

Mah... Teteh sekarang sudah jadi ibu seperti mamah...

Lihat mah... cucu Mamah sekarang sudah besar, sudah pinter bisa baca doa untuk kedua orangtua.

Meskipun tiga tahun lalu saat teteh akan melahirkan, Mamah tidak ada di samping teteh, tapi yang terbayang kala itu justru wajah mamah.

Teteh membayangkan dan merasakan apa yang mamah rasakan saat melahirkan teteh dulu. Meski perjuangan mamah lebih berat sebab mamah melahirkan Teteh dan Dede dalam waktu yang hampir bersamaan.

Mamah, dulu teteh ingin sekali mamah bisa menggendong Ziyad walau sebentar.

Teteh juga ingin belajar jadi ibu yang baik dari mamah.

Berat rasanya menjalani hari-hari awal setelah lahiran tanpa kehadiran mamah. Apalagi sekarang saat harus mengasuh, membesarkan, dan mendidik Ziyad.

Terbayang bagaimana dulu mamah repot mengurus dua anak kembar sekaligus seperti Teteh dan Dede yang sering merepotkan mamah...

Mah... Teteh belum sempat membahagiakan mamah, belum sempat mewujudkan impian mamah, belum sempat mengabdi pada mamah...

Maafkan teteh ya Mah...

Meskipun mamah kini telah tiada, tapi bagi teteh mamah selalu ada.
Ya, mamah selalu ada di dalam doa-doa teteh.

Satu yang selalu teteh harapkan...Semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali di Surganya Allah.

Berkumpul bersama Bapak, dan semua keluarga kita tercinta. Aamiin...

Dalam rindu yang mendalam...


#CeritaBersamaIbu
#KelasMenulisKisahInspiratif
#AntologiKisahInspiratifBersamaIbu

Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

Aktivitas di kuadran SUKA dan BISA :
Nulis dan Bisnis
(BE) Pengusaha dan Penulis
(DO) Menjadikan bisnis Auto Pilot dan Menulis banyak buku
(HAVE) Free Financial dan Free Time bersama keluarga

Life Mapping :

GOAL

Free Financial
Passive Income
Fokus Homeschooling Ziyad
Freedom Financial

TARGET

2017 : Income minimal Rp 10.000.000
2018 : Januari - Beres Rumah
2018 : Juni - Umroh
2019 : Januari - Have a Cara
2020 : Lunas Rumah
2020 : Naik Haji

SWOT

S : Link, Skill
W : Time, Team
O : Banyak Seller, Melek Media
T : Cicilan Rumah, Hutang

ACTION

Bangun sistem
Jalankan sistem
Istiqomah
Perbanyak Link
Perbanyak ibadah
Hemat
Realisasikan Agenda harian, mingguan, bulanan
Rajin belajar

Menjadi Bunda Produktif

Tahapan Menuju Bunda Produktif

Berdasarkan hasil temu bakat, saya telah mengetahui tipe kekuatan diri (strenght typology), berikut hasilnya:



DESKA PRATIWI, Anda adalah orang yang senang bersahabat, senang melayani dan bertanggung-jawab, banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya, selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang, senang mengkomunikasi ideanya, suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur, pekerja keras, fokus, perfeksionis dalam hal hasil, teliti, suka berhubungan dengan orang, baik utk mempengaruhi, bekerjasama atau melayani, dan bertanggung jawab, senang menghayal tentang apa yang mungkin terjadi jauh ke masa depan.

Potensi Kekuatan saya ialah :
1. AMB - AMBASSADOR
2. CRE - CREATOR
3. EDU - EDUCATOR
4. JOU - JOURNALIST
5. QCA - QUALITY CONTROLLER
6. SEL - SELLER
7. VIS – VISIONARY

Potensi Kelemahan saya ialah :
1. CMD - COMMANDER
2. EVA - EVALUATOR
3. MED - MEDIATOR
4. OPE - OPERATOR
5. TRE – TREASURY

Strength Cluster (%) :
1. Networking 29%
2. Generating Idea 29%
3. Elementary 14%
4. Technical 14%
5. Headman 14%

Tes kemampuan dan temu bakat tersebut sesuai dengan kepribadiaan dan hobi yang saya miliki saat ini. Dalam tahapan bunda produktif ini, saya mulai benar-benar bisa menemukan potensi kekuatan diri. Berdasarkan hasil tes, saya sebenarnya mememiliki kemampuan dalam bidang-bidang yang telah disebutkan. Seperti menjadi AMBASSADOR, CREATOR, EDUCATOR, JOURNALIST, QUALITY CONTROLLER, SELLER, dan VISIONARY.

Mengenai potensi kelemahan diri, saya akan berusaha untuk memperbaikinya. Namun, saya akan lebih memfokuskan diri pada potensi kekuatan daripada memikirkan kelemahan.

Sekarang tugas saya adalah mbagaimana mengoptimalkan setiap potensi agar saya bisa menjadikan diri saya sebagai bunda yang produktif. Untuk mengasah potensi tersebut memang dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan konsistensi saya dalam menjalankannya. Saya akan berusaha selalu belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Berikut ini adalah kuadran aktivitas saya

Kuadran 1 : Aktivitas yang saya SUKA dan saya BISA
Kuadran 2 : Aktivitas yang saya SUKA tetapi saya TIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA
Kuadran 4 : Aktivitas yang saya TIDAK SUKA dan saya TIDAK BISA



Suka
Tidak Suka
Bisa
Menulis
Bisnis
Membaca
Silaturahim
Mengisi Training
Membuat Plan & Dream
Jalan-jalan mencari inspirasi
Mengajar/ Mendidik Anak
Nongkrong/ Ngobrol-ngobrol dengan tetangga
Menghafal

Tidak Bisa
Berkebun
Pencatatan Keuangan
Membuat Kerajinan Tangan
Traveling
Merealisasikan Manajemen Waktu
Tawar Menawar Harga
Mengikuti agenda dadakan


Surat Cinta "Menjadi yang Teristimewa"

Teruntuk Suamiku Tercinta


Suamiku,
Tahukah kau, jauh sebelum kita dipertemukan
Aku pernah memohon pada Sang Penggenggam Hati
Agar kelak Dia mempersatukan hatiku
dengan seseorang yang hatinya terpaut juga pada-Nya

Sebisa mungkin aku pun berusaha untuk menjaga
Meski dalam perjalanan, aku sempat tersilap
Tersandung kerikil, 
Bahkan mungkin hampir terjatuh dalam sebuah jurang

Namun, satu yang selalu kuyakini
Bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya
Tak ada sedetik pun Ia menjauh, meski kita sering berpaling

Bahkan, ketika selangkah aku mulai mendekat
Ribuan kasih sayang-Nya telah lebih dulu mendekapku
Ia pertemukan aku denganmu, suamiku
Dalam istikharah yang syahdu
Allah telah pilihkan engkau untuk menjadi pendamping hidupku

Suamiku,
Sesekali saat engkau tidur
Diam-diam aku selalu memandang wajahmu
Wajah yang penuh guratan kasih sayang dan tanggung jawab
Aku bersyukur menjadi istrimu
Sebab, Allah Ar-Rahmaan telah meniupkan ruh kasih sayang-Nya padamu

Sehingga aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan
Mengapa ada seorang lelaki yang rela mengorbankan harta, tenaga, dan waktunya
Demi seorang wanita yang belum lama ia kenal
yang kini hadir di hidupnya
Mengapa ada seorang lelaki yang begitu pengertian
Mau mendidik istri dan anaknya dengan penuh cinta
Demi bisa membangun istana surga bersama

Suamiku,
Seandainya  aku boleh memintamu menjadikanku sebagai Khadijahmu
Maka, ada satu pinta yang lahir dari perasaanku sebagai seorang hawa
Aku ingin tak ada selainku sebelum Allah memanggilku
Seperti bunda Khadijah menjadi yang teristimewa di hati Rasulullah Saw.
Namun, aku pun ingin meneladani indahnya akhlak bunda Khadijah
Yang setia mendampingi suaminya dalam suka dan duka

Suamiku,,
Terimakasih untuk segalanya
Rasanya tak sanggup  tangan ini menuliskan segala yang telah engkau perjuangkan 
Untuk keluarga kecil kita
Namun, lisanku tak pernah berhenti memanjatkan doa
Setulus hati, sedalam cinta
Padamu, kekasihku
Agar Allah selalu menjagamu dan mempersatukan hati kita untuk selalu terpaut pada-Nya
Hinga kelak kita bisa bersatu kembali di surga-Nya yang abadi
Suamiku,
Aku mencintaimu karena Allah
Sungguh...

Dalam dekapan cinta-Nya

Dari Istrimu, bidadari surgamu
(130717/ 09.00)

Ketika Suami Enggan Terlibat

Adakah bunda di sini yang merasa terbebani dengan pendidikan anak? Merasa lelah sendiri dalam mengurus anak? Atau sang ayah yang menyerahkan seluruh tanggung jawab mengurus anak pada ibu saja?

Padahal, sejatinya pendidikan seorang anak bukan hanya tugas bagi seorang Ibu, melainkan kedua orangtua memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik putra-putrinya.

Bagi bunda yang memiliki kegalauan seperti di atas, pertanyaan serupa pernah ditanyakan oleh seorang peserta saat perkuliahan di Institut Ibu Profesional yang saat itu diisi oleh Pak Dodik Mariyanto (Suami dari Ibu Septi Peni Wulandani - Founder IIP).

"Bagaimana agar suami semangat juga ikut pembelajaran, karena yang sering itu bundanya yang disuruh belajar dan dituntut mempraktikkannya?"

Pertanyaan tersebut terjawab dengan sangat tepat dan menggugah oleh Pak Dodik.

"Bunda senang berkativitas bersama anak-anak?
Bahagia?
Sebenar-benar bahagia?
Atau 'pura-pura' bahagia?
Jika memang sungguh-sungguh bahagia beraktivitas bersama anak, cukupkan dengan itu. Tidak perlu menuntut pasangan untuk ini-itu.
Nikmati saja.
Bergembiralah bersama.
Jika suami melihat kegembiraan anak dan istrinya, masa ngga mau gabung?
Dan andaipun tidak juga mau ikut barengan bahagia, ya sudah, tak perlu banyak diminta yang ia memang tidak mau.
Bergembira saja sendiri bersama anak-anak."

Maka, saya sendiri pun bersyukur memiliki suami yang penuh pengertian, mau terlibat aktif dalam pendidikan anak, bahkan turut bermain bersama anak.

"Jika saat ini suami enggan terlibat, barangkali karena bunda berkeinginan berbagi beban, bukan berbagi kegembiraan"

Karena itu bunda, mari berbagi kebahagiaan bersama pasangan.
Bahagia  dalam mendidik anak.
Bahagia mengurus rumah tangga.
Bahagia dengan segala kesederhanaan.
Bahagia atas setiap rezeki-Nya.
Bahagia dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Bahagia menjalani kehidupan.
Bahagia hingga ke surga...
Aamiin...

Ibu Manajer Handal Keluarga

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Peran seorang ibu sejatinya adalah sebagai Manajer Keluarga. Tugas mulia ini harus berangkat dari Panggilan Hati agar kita dapat menjalankan peran ini dengan kesungguhan hati.

Maka, saya telah memutuskan untuk tidak hanya menjadi Ibu yang biasa-biasa saja. Namun, menjadi seorang Ibu Profesional.

Karena itu, ibu Profesional harus mampu menjadi manajer keluarga sebab manajemen keluarga adalah tugas kita.

Saya memulai dari menentukan tiga aktivitas yang paling penting dan tiga aktivitas yang paling tidak penting.

Sesuai dengan Ceklis indikator profesionalisme peran saya, maka aktivitas yang paling penting terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Aktivitas sebagai seorang individu,
2. Aktivitas sebagai seorang istri,
3. Aktivitas sebagai seorang ibu.

Seluruh aktivitas tersebut sudah tertuang dalam Nice Homework #1.

Kemudian, tiga aktivitas yang paling tidak penting yaitu:

1. Online (Stalking FB, IG, dll.) yang kurang bermanfaat,
2. Nonton film,
3. Jalan-jalan

Saya telah membuat jadwal harian yang menjadi acuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Untuk list jadwal harian saya share dalam bentuk pict ya.

Saya membagi jadwal harian menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Jadwal sebelum subuh untuk menjadi time (shalat tahajud, mengaji, dan menulis)
 2. Jadwal bada subuh untuk aktivitas keseharian sebagai seorang istri dan ibu
3. Jadwal bada isya untuk aktivitas bisnis dan belajar (online)

Semoga saya bisa konsisten menjalankan seluruh planning yang telah saya tuliskan agar saya bisa menjadi seorang ibu Profesional. Aamiin.

Diskusi Review NHW #5 "Belajar Cara Belajar"

PERTANYAAN:

Anak saya laki-laki usia 10th. saya mulai menggali bakat dan minatnya. Dia suka menggambar detail pesawat, selalu menggunakan logika dalam menyelesaikan masalah, dab masih banyak hal-hal yg mengagumkan dari dalam dirinya.
Akan tetapi, setiap orang pasti memiliki kekurangan. Salahsatunya, dia lebih senang menyelesaikan 'permasalahan' sendiri. Jadi, saat di sekolah diminta untuk berdiskusi, dia tidak terlalu antusias, atau jika diminta mewawancarai narasumber dalam rangka tugas sekolah, dia juga cenderung tidak terlalu antusias.
Bagaimana ya cara saya agar saya selalu 'meninggikan gunung bukan meratakan lembah'?


JAWABAN:

1. Dibantu dgn stimulasi sering di ajak ngobrol, berdiskusi dg cara orang tua sering melontarkan pertanyaan kpd anak dalam kegiatan sehari-hari.

2. Kalo menurut saya disini lah mulai nya meninggikan gunung, Teh Ungky. Mungkin memang hal tsb tidak menarik buat anak, jadi biarlah jgn dipaksa. Lebih baik menggali hal-hal yg dia suka

3. Luar biasa putranya teh ungky👍
Sekarang tinggal meninggikan gunungnya yaa.
Coba dimulai bersama bundanya dulu. Ajak diskusi bersama dgn bunda dan mulai dilatih utk Belajar cara belajar yg berbeda.😊

4. Orang yg selalu bermain logika cenderung otak kiri yg digunakan. Jadi yg hubungan nya sosial seperti wawancara emang kurang antusias. Nah sebenernya itu bisa dilatih sedikit demi sedikit lho bu. Perlu kesabaran untuk bisa meninggikan gunung. Seperti istilah org seni ga perlu pintar matematika. Semangat bu untuk terus mengembangkan bakat kaka...

5. Sepertinya kakak termasuk kecenderungan bahkan bisa jadi dominan otak kiri, senang menggambar berarti kecerdasan imagenya tinggi, logika tinggi, cocok jadi arsitek/insinyur teknik sipil.
Gaya belajar otak kiri memang lebih senang menyendiri, cenderung anti sosial, kurang suka bergaul. Berkebalikan dengan gaya belajar otak kanan.

6. Klo menurt saya, jgn dipaksakan.
Lebih baik diasah kemampuan dibidang yg dia minati nya.

Tp mgkn bs dilatih jiwa sosialisasi nya, dgn dpertemukan dgn teman2 yg kocak atw seru. Kan lama2 scra tdk lgsg dia jg ikut berdiskusi/ngobrol scra plahan dgn teman2 atw komunitasnya.
Tp jgn dipaksakan.

Biarlah dia bkembang dgn kelebihannya.
Bunda ckup memantau dan ksh sdkit stimulasi2 kecil untk merangsang dia senang bercerita dirumah, berpendapat, dgn kakak adik, ayah bundanya..

7. Meninggikan gunung, mengembangkan kemampuan menggambarnya. Sediakan kertas kanvas, A3, cat air, atau pensil warna. Minta ia menggambar sesuka hatinya.

Atau bisa ngasih tembok rumah buat dibikin lukisan mural. Seperti di film Upin & Ipin, melukis tembok dengan telapak tangan sebagai hadiah dari kepala sekolah karena menang lomba menghias taman.

Jika berhubungan dengan sosial, bisa jadi kecerdasan interpersonalnya kurang. Mungkin yanv menonjol justru kecerdasan intrapersonalnya. Jadi kakak anak yang PD. Tinggal dimunculkan lagi PDnya. Untuk hubungan sosial, bisa sedikit demi sedikit dilatih mulai dari rumah, bagaimana membangun hubungan dengan saudara sekandung, ayah ibu, sepupu, dll. Nanti lama kelamaan jika terbiasa insyaAllah akan mudah bergaul.

8. Bahkan orang yang punya test bakatnya bilang gini, "kalau dominan otak kiri, artinya kiri >=60% akan ada kecenderungan anti sosial, apatis, bahkan yang lebih ekstrem berpotensi menjadi psikopat.
Nah pernah suatu waktu saya nonton on the spot, ada anak2 pintar secara kognitif tapi hati mereka mati, karena mereka tega membunuh ortu sendiri 😭 Jadi bener yang dibilang pemilik test bakat itu teh.
Tapi kalau kakak mah mungkin seneng main aja, kurang suka kerja kelompoknya. Biasanya kalau sepemikiran, nyambung, baru kakak bisa seneng diskusi. Jadi harus nyari yang seimbang atau mengimbangi. 😊
Selama mau bergaul dengan yang lain, kekhawatiran psikopat bisa diminimalisir teh. Bahkan diabaikan. InsyaAllah kakak mah soleh, dididik sama ortu soleh 😊


PERTANYAAN:

Anak sy 7th, kesukaan lainnya adalah ngomooong terus, tapi yang menurut saya kurang baik karena dia ngomongin orang atau nyinyir terus 🤦🏼‍♀

Liat org ini "ihh liat itu preman, liat si itu mah nilainya selalu jelek"

Berani sumpah, saya dan papahnya tidak begitu 😭😭
Sudah saya nasehatin, tapi qo gitu lagi gitu lagi yaa 😭😭
Gimana yaa kira2 ?


JAWABAN:

1. Setiap orang punya 8 kecerdasan, tetapi beda kadarnya. 4 menonjol, ditandai nilai + kalau di finger print, 4 lagi (-) artinya kurang menonjol. Meninggikan gunung berarti mengabaikan yang (-) dan menggali yang (+).
Kakak berarti logika (+), image (+), intrapersonal (+). Karena kurang suka bersosial berarti interpersonal (-). Tinggal dicari 1 lagi diantara kecerdasan linguistik, kinestetik, atau musik. Mana diantara 3 itu yang terlihat menonjol.

2. Diarahin aja teh, dengan mendoakan. Kalau bilang ini itu, saya teteh diingetin "eh mending kita doain yuk, semoga anaknya jadi pinter kayak kakak", atau hal yang baik2 lainnya.

3. Bagus jadi penyiar radio tuh, teh 😄
Coba sering direkam suaranya, terus minta dengerin lagi. Biasanya anak audio cara belajarnya begitu. Terutama untuk hapalan, suruh ngulang hapalan sambil direkam jadi nanti bisa diputar ulang, ngecek tajwid dan makhrajnya dsb.

Atau bisa dilatih pura2 jadi wartawan, merekam wawancara atau bacain berita koran. Pokoknya energinya dialihkan ke hal2 positif. Daripada cape ngomongin orang mending latihan jadi penyiar radio yuk!, misalnya.

Learning How To Learn

DESAIN PEMBELAJARAN

Misi Hidup : Menjadi motivator dan inspirator khususnya bagi anak dan muslimah atau calon pendidik bangsa
Bidang : Parenting dan Pendidikan Kemuslimahan
Peran : Motivator dan inspirator

Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut di antaranya:

Untuk bisa menjadi ahli di bidang parenting dan pendidikan kemuslimahan, maka tahapan ilmu yang harus dikuasai sebagai berikut :
a.       Muslimah Perfect (Be a Great Muslimah) : Memahami Fiqh Wanita (ilmu-ilmu tentang kemuslimahan/ seputar wanita dalam Islam, memahami peran-peran hidupnya sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu, dan sosial)
b.      Muslimah Smart (Be a Smart Muslimah) : Pengembangan diri seorang Muslimah dengan mengasah Keterampilan dan potensi diri muslimah
c.       Muslimah Love (Be a Good Mom) : Pemahaman wanita sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya dan memberikan segenap cintanya untuk keluarga  (Ilmu-ilmu tentang Parenting)

Desain Pembelajaran Sesuai dengan misi hidup, bidang, dan peran yang telah saya pilih:

Model Pembelajaran :

Model pembelajaran yang saya gunakan untuk mempelajari ilmu Parenting dan Pendidikan Kemuslimahan adalah Read, Praktice, and Action

1. Read and Study
Membaca banyak literatur baik dalam buku, internet, dll. sesuai dengan jurusan ilmu yang telah saya pilih. Selain itu belajar langsung pada ahlinya melalui seminar dan training baik secara online maupun offline

2. Praktice (Try and Success)
Mulai mempraktikan apa yang telah saya baca dan ilmu yang telah saya peroleh

3. Action
Merealisasikan semua ilmu dalam kehidupan sehari-hari

Time :
Saya akan memulai belajar awal Juli 2017 dengan memberikan delapan jam waktu saya setiap hari untuk belajar. Sehingga akan tercapai Milestone sesuai apa yang telah saya tetapkan.

Materi :

1. Menguasai ilmu Fiqh Wanita yang berisi penjelasan tentang wanita lengkap
Sumber bacaan : Buku Fiqh Wanita dan sumber dari media lain

2. Menguasai ilmu Parenting tentang Pendidikan anak
Sumber bacaan : Buku Pendidikan Anak dalam Islam dan sumber dari media lain

3. Menguasai ilmu pengembangan diri sesuai passion saya dalam bidang Enterpreneur dan Writer
Sumber bacaan : Buku Bisnis dan Kepenulisan, sumber dari media lain

Q&A Learning How to Learn

(Hasil Diskusi Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional pekan ke-5 tentang "Bagaimana Cara Belajar")

Pertanyaan:
1. Dari teh Maria

Boleh minta contoh konkret tentang peran orang tua sebagai pemandu?

Jawaban​:
✓Pemandu itu tugasnya menyiapkan bahan. Memberi petunjuk plus menemani. Ga lupa abadikan juga reaksi yg timbul dari apa yg kita beri ke anak. Jadi nanti bisa ketauan minat anak ke mana. Buat bahan portofolio 😁

✓Pemandu = memberi fasilitas baik secara moril atau materil

✓pemandu, menurut kamus besar bahasa Indonesia ,salah satu artinya adalah penunjuk jalan. Menemani yang dipandu.

✓Salah satu contoh pemandu, dalam bahasa IIP disebut fasilitator. Memfasilitasi,membersamai belajar hingga peserta menemukan jawaban atas Pertanyaan nya sendiri
Bukan menjadi orang yang serba bisa menjawab semua pertanyaan dari peserta
Pun sama dengan peran orangtua sebagai pemandu
Orangtua mendampingi proses belajar anak. Contoh ketika kita ajak anak bermain diluar, kita bersamai mereka ,diskusikan dengan anak apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan ,apa yang ingin mereka ceritakan. Pun ketika ada tantangan orangtua bukan menjadi problem solvernya, namun mengarahkan bagaimana anak untuk mendapatkan solusinya

Pertanyaan
2. Dari Teh Fanny

Dalam materi disebutkan bahwa anak perlu diajari untuk mengembangkan struktur berpikirnya. Idealnya dari sejak kapan kita bisa mengajarkan ini? Bagaimana caranya? Apakah anak umur 5thn sudah bisa diajak berpikir secara lebih terstruktur?

Jawaban​:
✓Jadi flashback dulu pas belajar ttg Haji, ada pemandu nya.. Si pemandu hadir berdasarkan pengalaman nya yg sudah terlebih dulu perjalanan haji.. Mungkin kita sbg orgtua brusaha jd pemandu yg baik krn sudah pernah hidup duluan ketimbang anak..

✓Sepertinya umur 5th belum terstruktur #imajinasi mereka masih loncat2

✓Setelah umur SD atau sekitar 7th, mereka mulai bisa diajak berdiskusi secara runut

✓Anak nisa diajak berpikir terstruktur saat fitrah belajarnya mulai berkembang. Yaitu saat umur 7tahun. Ksrna umur 0-6thn anak masih berpikir abstrak
Misal saat anak sakit. Kita ngobrol ko bisa sakit? Kenapa? Enak g sakit itu? Biar g sakit harus gimana?

✓0-7 belum digenjot utk bisa memahami ilmu.. 7-14 baru bisa dimulai dgn pemahaman yg berstruktur..

Tapi saya kok malah jd mikir lagi yaaa.. Bagi anak yg usia 5 tahun sudah hafal quran contoh nya Husen Thobathoba'i yg diberi gelar doktor cilik.. Di usia 7 tahun hafal berikut tafsirannya.. Itu cara belajarnya gimana yaaaa.. Pernah baca bukunya, orgtua menerapkan setiap hari dari awal hamil sampe anaknya lahir dan tumbuh diperdengarkan terus murotal oleh suara ibunya dan ayahnya.. Mungkin bisa jd referensi buat teh hanny kalo mau dicoba di usia balita..

✓Kalo kata suami mah, ketika anak sudah bisa ngomong, dan bisa diajak ngomong.. Maksudnya komunikasi 2 arah..

✓Sesuai dgn materi pekan ke5 di atas, Untuk mengembangkan struktur berfikir Anak, ajak anak utk tidak hanya sekedar menghafal & menerima pelajaran saja, tp diajak berdiskusi & aktif bertanya jg tentang hal2 yg telah dipelajarinya, informasi yg diperolehnya, dan ilmu2 baru yg diperolehnya di lingkungan.


Public Speaking Ala Ibu Profesional

(Program 30 Menit Lebih Dekat dengan TIM NASIONAL IIP)

Selasa (13/06/17), Kelas Matrikulasi IIP Batch 4 Wilayah Garut kedatangan tamu spesial dari Tim Nasional Institut Ibu Profesional.

Beliau adalah Mba Ike Pratiwi, alumnus Public Relation & Communication UGM, melanjutkan studi dengan jurusan yang sama di Universitas Indonesia.
Mba Ike adalah Founder dan aktif dalam komunitas homeschooling PANCAR.

Dalam diskusi kali ini Mba Ike berbagi pengalamannya tentang Public Speaking.
Beberapa dari peserta bercerita tentang kesulitan mereka untuk bisa percaya diri saat mengemukakan pendapat di depan umum.

Terkait hal ini, Mba Ike memberikan tips dan trik agar bisa lebih percaya diri.

Tips percaya diri :

1. Berdoa
2. Berpikir positif
3. Kenali kepribadian Anda
4. Gali kekuatan dan potensi diri, temukan keunikan Anda, siasati kelemahan
5. Banyak membaca
6. Tingkatkan kualitas diri
7. Latihan, latihan, latohan, dan perbanyak jam terbang

Ada juga yang mengungkapkan bahwa jika berbicara di depan umum suka grogi sampai bicara tak beraturan dan terkadang bibir kelu saat berbicara.

Untuk hal ini, Mba Ike memberikan TIPS MENGATASI DEMAM PANGGUNG, di antaranya:

✔ Persiapan yang matang.
✔ Rileks sejenak dengan mendengarkan musik atau membaca artikel yang ringan sebelum _manggung_.
✔ Tarik nafas dalam - dalam, minum air putih jangan yang dingin.
✔ Lakukanlah senam kecil untuk melemaskan otot - otot yang tegang.
✔ Jangan minum kopi, merokok atau minum obat - obatan yang keras.
✔ Jangan memegang microphone di awal pembicaraan.
✔ Gunakanlah Cue Card yang tebal.
✔ Pandanglah wajah yang kita kenal atau wajah audience yang simpatik.
✔ Berpikir positif bahwa Saya pasti *BISA*, _*YES, I CAN*_
✔ Berdoa, kepada DIA Sang Maha Pemberi Kekuatan. Semoga tantangan ini terlewati dan lancar dijalankan.

🍀 *TRIK* : _Kenalilah dengan baik materi yang dibawakan. Jika membawakan materi yang tidak akrab dengan kita, maka kita akan merasa tidak nyaman dan demam panggung akan terjadi._

Teh Hany, salah seorang peserta Matrikulasi juga mengungkapkan kesulitannya. "Saya senang mengajar dan paling senang ketika orang lain paham. Masalah yang saya hadapi adalah teknik olah vokal. Suara saya kurang jelas untuk kelas besar, sehingga lebih nyaman mengajar privat.  Di awal-awal bisa terdengar ke belakang, lama-kelamaan suara saya gampang serak.
Nah, bagaimana cara melatih teknik vokal agar tetap stabil meski harus menerangkan berjam-jam? Meskipun saat ini saya fokus jadi IRT, namun suatu saat nanti saya ingin membuat taman baca dan ingin mendongeng untuk anak2 di sekitar kompleks." 😊

Untuk masalah yang dihadapi teh Hany terkait vokal, Sekjen Fasilitator Nasional IIP ini mengatakan bahwa untuk latihan vokal ada tekniknya. Suara yang ke luar hendaknya memperhatikan intonasi, artikulasi, phrasing, volume, tempo.

⭐🌟 *SUARA* 🌟⭐

Tidak hanya penyanyi, tapi Public Speaker juga perlu latihan vokal untuk bisa mengontrol suara, tempo, intonasi, dan lain sebagainya.

Latihan pernafasan juga sangat disarankan. Akan lebih baik jika kita menggunakan pernafasan diafragma.

🍀 *TIPS & TRIK*
✔ Latihan vokal
✔ Latihan pernafasan

Selain ahli dalam bidang Public Speaking, ibu yang dikenal dengan nama Ikhe Fanani ini juga merupakan praktisi Homeschooling.

Beliau bercerita bahwa sudah memutuskan untuk mempraktikkan homeschooling sejak anak pertamanya lahir. Pertimbangannya agar anak bisa lebih baik pendidikannya daripada kedua orangtuanya.

Mba Ike yang mengaku mengenal IIP pertama kali dari social media ini juga mengungkapkan motivasinya, "Saya ingin memberikan kualitas yang terbaik untuk kehidupan suami dan anak dengan mengikuti Institut Ibu Profesional."

(Deska)



 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes