Archive For May 2015 May 2015 - Teh Deska
TERBARU

Ketika Mereka Berbicara Tentangku

Setiap orang pasti memiliki sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Sebagian, menyimpan kenangan itu hanya dalam memori ingatan saja, sebagian yang lain ada yang mengabadikannya dalam bentuk foto, video, atau gambar. Namun, aku lebih suka menyimpan kenangan yang indah itu dalam tulisan.

Aku dapat mengungkapkan segala perasaan serta kejadian yang pernah kualami dalam tulisan. Ketika waktu telah berputar meninggalkan masa lalu, aku dapat membacanya kembali dan mengenang setiap peristiwa yang kualami. Bagiku, kata-kata yang terangkai indah akan lebih bermakna karena dihiasi oleh imajinasi dan memori yang takkan hilang ditelan masa.

Sejak kecil aku memang senang menulis, kutuliskan semua kejadian yang pernah kualami dalam sebuah buku diary yang kuhias dengan sangat cantik. Bahkan tulisan-tulisanku dari masa kecil yang indah itu masih tersimpan rapi. Tak terhitung berapa jumlah buku harian yang kupunya. Di antara buku-buku diary itu, ada sebuah buku yang sangat bermakna bagiku, sebab buku itu merupakan hadiah dari sahabat-sahabat di SMA-ku.

Di sini, aku sampaikan beberapa tulisan sahabat-sahabatku yang sangat mempengaruhi hidupku, karena tulisan tersebut menjadi motivasi dan penyemangat bagiku. Kuucapkan terima kasih teruntuk mereka yang kucintai karena Allah.

Di manapun kalian berada saat ini, semoga Allah selalu merahmati dan memberikan anugerah-Nya yang terindah... I Love you all, because Allah... so much...

* * *

Idy’s Say


Assalamualaikum Wr. Wb.
Menurut aku, Deska tuh...teman, sahabat, saudara, pengingat,, dan... Lacur! (!?) Ladang Curhat maksudnya :D Solusi yang dikasih olehnya selalu ampuh! Selalu mengingatkan kita kepada Allah...
Berkat Ukh Deska pula, aku bisa memanage hati buat hadepin yang namanya: PROBLEMS!
Ukhti, syukron ya... Ayo kita berjuang bersama-sama! Semangat! 

Satu hal lagi...
Orangtua Ukh pasti bangga ya punya putri seperti Deska... Aku juga jadi termotivasi untuk lebih baik dan membanggakan orangtuaku...!

Teman,
Aku akan selalu setia kepada semua teman-temanku!
Aku harap Ukh juga sama... segala baik atau buruk dalam diri kita masing-masing, jangan jadi penghalang kita untuk terus berjuang ya?!
Last, aku pasti akan sangat rindu dengan semua di diri Ukh...
Ingatan-ingatan Ukh... semangat Ukh...
Jangan lupain aku ya,,,
Allohu Akbar!!!

Setiap orang pasti memiliki sebuah kenangan indah yang tak terlupakan.


Hati yang tenang ini,
Karena semilir angin lembut darinya,
Kain lebar yang menutupiku ini,
Adalah ingatan keecil darinya,
Hati yang kuat ini,
Oleh semangat yang selalu tercurah darinya,
Anggukan kepala ini,
Karena perkataannya yang mulia,
Segala kebaikan-kebaikan ini,
Adalah ajakan darinya tak pernah henti,
Dia tunjukkanku indahnya Islam,
Dia tunjukkanku cinta Allah
Ukhti, ajak aku selalu
Agar ku bisa menemanimu di tempat terindah,
Agar ku bisa bersamamu,
Sebagai bidadari surga,
Yang selalu diberkati oleh-Nya...
Aamiin....

Saudara Seperjuangan,
Widya Kartika


Tia’s Say,


Eumh... kalau menurut aku Deska tuh...
Orang baik, penyabar, alim, anggun tapi ceria, suka ngasih nasihat dan mensuport orang agar selalu ada di jalan yang diridhoi Allah, selalu semangat dan yang pasti mirip Teh Ninih... he he he 
Deska, menurut aku, kamu bagaikan seorang bidadari yang Allah turunkan untuk membimbing kita semua...

Seorang bidadari yang baik dan bercahaya...
Dan jilbabmu yang lebar itu...bagaikan sayap indah yang Allah berikan kepadamu untuk selalu menemani hidupmu.
Kita semua senang dan bersyukur banget punya teman kayak kamu, apalagi orangtua kamu ya...
Aku berharap kita akan selalu bersama di dunia dan di akhirat...

Kau selalu ada menemaniku
Di saat aku sedih,
Di saat aku senang,
Dan saat aku terpuruk dalam dosa.

Walau diri ini penuh noda,
Kau tak pernah menjauh
Dan mengasingkanku
Dari hidupmu

Kau selalu hadir menemaniku
Dengan sayapmu yang indah
Kau selalu hadir menemaniku
Dengan senyuman yang bercahaya
Kau selaluhadir dan menemaniku
Dengan penuh kesabaran

Kau...
Adalah bidadari
Yang Allah kirim
Dengan segala kebaikan yang ada pada dirimu

Datanglah wahai bidadari...
Terangilah hidupku,
Dan hindarkan diriku dari kegelapan
Dengan penuh ketakwaan
Pada Sang Pencipta

24 Juni 2007

Nad’s Say,


Apa kabar Ukhti??
About Ukhti. Deska versi Nadia...??! Hmm...
Yang pasti ukhti adalah sahabat terbaik Nad selalu!!
Dikala Nad senang, Ukhti selalu ikut senang. Dikala Nad merasa sedih, Ukhti selalu menghibur. Bahkan dikala Nad sedang mendapat masalah, Ukhti selalu memberikan semangat...
Siapa yang ngga merasa beruntung mendapat sahabat sebaik Ukhti?! Malah jadi beban batin juga ya?! Hihi... Kenapa?? Soalnya Nad pengen Ukhti dapat sahabat seperti Ukhti sendiri... Doain aja biar Nad bisa jadi sahabat yang baik buat Ukhti, meskipun harus bertahap...

Then, Ukhti Deska tuh orang yang sabar walaupun terkadang ngga sabaran (?_? jadi bingung) 
Yang pasti, ukhti penjaga rahasia terbaik dan selalu jadi penyemangat dan pengingat kita semua!
Terakhir, yang paling Nad suka dari diri Ukhti selain sikapnya yaitu... SEMNYUMAN yang selalu membuat hati Nad tenang... 

Sahabat Sejati

Hatiku resah tak terkendali
Gelisah penuhi pikiran ini
Beberapa noda telah kotori hati
Hingga diriku tak merasa suci

Entah apa yang kini terjadi
Guncingan membuatku tak enak hati
Waktu berjalan seakan tak pedulingga tinggalkan diriku sendiri

Terkejut kulihat bayangan sepi
Tersinari oleh cahaya diri
Lembut terasa belaian angin
Tenangkan malam yang sunyi

Siapakah sosok bayanngan sepi?
Hingga penting perannya di hati
Tertera hatiku nama Deska Pratiwi
Yang menjadi sahabat sejati

Ya Allah... terima kasih telah berikan diriku sahabat seperti dirimu...
Kita berjuang bersama Ukhti...!
Untuk mencapai ridho-Nya... Aamiin

Nadia Damacita

Inspirasi 5 Cm

Sebuah Inspirasi--dari 5 cm

Malam ini aku bermimpi memetik bintang, menyapa rembulan, dan terbang mengelilingi angkasa.”

Ya, itu hanyalah sebatas mimpi yang akan pergi ketika aku terbangun. Namun, tahukah kawan, sebenarnya kita dapat menciptakan mimpi kita sendiri. Bukan hanya bunga tidur, namun mimpi yang menjadi nyata!
Seperti yang diungkapkan Donny Dhirgantoro dalam novelnya “5 cm”, berikut akan aku uraikan bagian dari tulisannya yang selalu menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi.

* * *

“ Biarkan mimpimu menggantung, mengambang 5 cm di depan keningmu.
Jadi, dia takkan pernah lepas dari matamu.
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa KAMU BISA.

Ketika kita menggantungkan mimpi kita 5 cm di depan kening, artinya ia akan selalu ada kapanpun dan dimanapun kita berada. Mimpi tak hanya tersimpan dalam memori ingatan saja, namun harus selalu kita bawa dan kita lihat setiap saat.

APAPUN HAMBATANNYA, katakan pada dirimu sendiri, kalau kamu percaya dengan keinginan itu dan kamu TIDAK BISA MENYERAH.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh.
Bahwa kamu akan mengejarnya hingga dapat.
Apapun itu, segala keyakinan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.

Percayalah pada setiap mimpi kita, bahwa kita akan mampu mewujudkannya. Sehingga apapun rintangan yang menghadang akan mampu kita hadapi. Meski perih, penuh duri, dan hambatan namun semua itu tak dapat menghalangi kita dalam mengejar mimpi.

Biarkan keyakinanmu 5 cm menggantung, mengambang di depan keningmu. Dan setelah itu, YANG KAMU PERLU HANYA…

Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya..

Tangan yang akan berbuat lebih dari biasanya..

Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya..

Leher yang akan lebih sering melihat ke atas..

Lapisan tekad yang SERIBU KALI lebih keras dari baja..

Dan HATI yang akan bekerja lebih keras dari biasanya..

Serta mulut yang akan selalu BERDOA…

Yakinkan diri dan mulailah beramal. Untuk mencapai mimpi tidak dapat dilakukan dengan tidur dan berdiam diri saja. Namun kita perlu aksi! Ya, aksi nyata dalam merealisasikan mimpi kita.

Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan.. BUKAN HANYA SEONGGOK DAGING YANG HANYA PUNYA NAMA.”

Hidup kita di dunia hanya sementara, yang kekal itu di surga nanti. Karena itu, lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu. Jangan sia-siakan setiap waktu yang terlewati. Hidup ini memang pilihan, mau menjadi manusia biasa-biasa atau manusia luar biasa yang bermanfaat untuk orang lain? Tinggal pilih!

Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya.. bukan seorang pemimpi saja,, BUKAN ORANG BIASA-BIASA saja..tanpa tujuan.. mengikuti arus dan KALAH OLEH KEADAAN..

Tapi seseorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi dan keajaiban cita-cita.. dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terakumulasikan dengan angka berapa pun..

Hidup berarti dan penuh arti. Itulah pilihan kita. Menjadi seseorang yang kehadirannya selalu dinantikan, yang amalnya selalu diharapkan, dan akhlaknya selalu jadi panutan.

Dan kamu tidak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya..
Percaya pada.. 5 cm di depan keningmu..”

Seseorang yang memiliki mimpi akan selalu optimis, melangkah dengan penuh keyakinan, dan siap menghadapi setiap resiko. Tujuan akhirnya hanyalah mengharap ridho Allah. Karena Dia akan selalu bersama dengan orang-orang yang berusaha dan bersungguh-sungguh, pantang mengeluh, serta senantiasa bersyukur pada-Nya.


Ya, itu hanyalah sebatas mimpi yang akan pergi ketika aku terbangun. Namun, tahukah kawan, sebenarnya kita dapat menciptakan mimpi kita sendiri. Bukan hanya bunga tidur, namun mimpi yang menjadi nyata! Seperti yang diungkapkan Donny Dhirgantoro dalam novelnya “5 cm”, berikut akan aku uraikan bagian dari tulisannya yang selalu menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi

Kuda Perang yang Berlari Kencang

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
QS. al-‘Adiyat (100) : 1-8

    Kutipan terjemahan surat Al-‘Adiyat di atas selalu mengingatkanku pada peristiwa bersejarah yang akan selalu terkenang. Sebuah peristiwa yang kualami sendiri, antara hidup dan mati. Sungguh ketika itu hanya pasrah dan berserah diri pada Allah swt. yang dapat kulakukan. Peristiwa yang menjadikan hidupku lebih berarti dan semakin menambah kesyukuranku pada-Nya. Peristiwa yang rasanya ingin terulang lagi hingga menambah kecintaanku pada Sang Pencipta juga pada orang-orang yang kucintai dan mencintaiku karena-Nya.
 Kutipan terjemahan surat Al-‘Adiyat di atas selalu mengingatkanku pada peristiwa bersejarah yang akan selalu terkenang. Sebuah peristiwa yang kualami sendiri, antara hidup dan mati.

* * *




    Tepat 15 Agustus 2014, seorang bayi laki-laki terlahir setelah sekian lama dinantikan kehadirannya. Perasaan bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku juga suamiku tercinta. Meskipun jauh-jauh hari sebelum putra pertama kami lahir, banyak kekhawatiran yang membebani hati dan pikiran kami. Bahkan vonis dokter sempat menjadikanku drop.
    “Kalau tidak mau caessar, paling di-vacum saja agar tidak perlu mengejan terlalu kuat,” kata dokter ketika melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit. Jelas saja aku kaget dan tak percaya kalau aku tidak bisa melahirkan normal layaknya ibu lain yang dapat lahiran normal dan lancar. Dari sana, kekhawatiranku semakin bertambah, apalagi setelah mendengar kabar bahwa adikku juga melahirkan dengan cara operasi caessar. Alasannya karena mata minus yang sudah tinggi dan berat bayi yang terlampau besar.

    “Yang, mataku juga minus tinggi, aku takut kalau nanti aku juga tidak bisa melahirkan secara normal,” ucapku dengan nada lemah. Terlebih aku juga pernah membaca artikel di internet tentang hubungan mata minus dan proses melahirkan yang membuatku semakin bertambah khawatir.

    “Sabar sayang, kita tidak pernah tahu akan takdir Allah yang belum terjadi, tapi yang perlu kita yakini bahwa rencana-Nya selalu indah... bahkan lebih indah dari yang kita bayangkan,” nasihat suamiku menenangkan.

    ‘Rabb... terima kasih Engkau telah mengirimkan seseorang yang begitu baik dan menyayangiku, serta mampu membuatku tenang di kala kegelisahan melanda hatiku...’ syukurku dalam hati. Ketika itu, aku mulai mencoba menenangkan hati dan pikiran serta menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengatur. Benar kata suamiku, seindah-indah rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.

    Aku sering berkomunikasi dengan putraku yang masih di dalam kandungan, sebab pernah ku dengar sebauah nasihat bahwa bayi bisa mendengarkan suara-suara yang ada di luar rahim. Karena itu, saat-saat yang paling menyenangkan adalah ketika aku berkomunikasi dengan putraku, membacakan Al-Qur’an, juga kuajak dia berdo’a bersama. “Assalamu’alaikum sayang, sedang apa sekarang di sana, Nak? Kita berdo’a sama-sama yuk, semoga Allah memberikan kesehatan untukmu dan bunda. Jadikan anak bunda ini anak yang sholeh, baik, pintar, dan bisa memberi bahagia untuk semua orang... Aamiin,” ucapku sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar.

    “Nak, nanti bantu bunda ya, agar dapat lahiran dengan lancar dan normal... Bunda tahu kau anak yang pintar. Kita berjuang sama-sama ya sayang...” Kuyakinkan diri dan putraku untuk percaya atas segala kuasa-Nya. Di samping itu, aku sering membaca buku tentang kehamilan dan proses melahirkan. Dari sana banyak ilmu yang kuperoleh. Keluarga, sanak saudara juga sahabat-sahabatku sering memberi masukan dan motivasi. Bahkan rekan kerjaku pun tak ketinggalan. Mereka yang telah memiliki pengalaman sebelumnya banyak memberi nasihat untukku.

    “Dulu menjelang lahiran, aku sering membaca Surat Al-‘Adiyat yang artinya kuda perang yang berlari kencang dan alhamdulillah proses lahiranku sangat cepat dan lancar. Seperti kuda yang berlari kencang, anakku lahir dengan begitu mudah,” kata rekan kerjaku. Aku pun mencoba mengamalkannya,
kutanamkan niat dan tekad dalam hati bahwa aku juga bisa melahirkan normal.

    Ketika di Rumah Sakit, sambil menunggu panggilan untuk pemeriksaan, aku ceritakan kisah rekan kerjaku tadi pada suamiku. Dia sangat senang melihatku optimis dan semangat kembali. Akhirnya kami membaca surat tersebut bersama berulang-ulang sampai bidan memanggil namaku. Setelah mendengar vonis dari dokter kandungan sebelumnnya, kami memang memutuskan untuk pindah pemeriksaan pada dokter kandungan lain. Katanya dokter ini adalah dokter langganan almarhumah ibuku dulu.

    “Dok, apa benar mata minus dapat mempengaruhi proses persalinan sehingga tidak dapat melahirkan normal?” tanyaku pada dokter tersebut. Sang dokter bukannya langsung menjawab, malah tertawa seolah-olah menyangkal apa yang aku tanyakan.

    “Kata siapa itu? Mata minus sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses melahirkan, kecuali orang yang memang memiliki penyakit kronis sebelumnya,” jawab dokter itu dengan sisa tawanya. Perkataan dokter itu pun di’iya’kan oleh bidan yang ikut memeriksaku. Setelah selesai, akhirnya aku merasakan sebuah beban dan ketakutan yang selama ini membayang-bayangiku kini hilang seketika. Kucapkan terima kasih kepada dokter itu dan pada suamiku yang telah memberiku motivasi.

    Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, aku pun menikmati setiap detik yang kulalui dengan penuh pengharapan dan kesyukuran pada-Nya. Usia kandunganku sudah semakin dekat dengan hari perkiraan lahiran. Berbagai persiapan telah aku lakukan menyambut hari bahagia itu, mulai dari persiapan fisik hingga persiapan batin. Sungguh, tiada yang lebih menenangkan hati selain berharap hanya pada-Nya, memasrahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa.

    Pagi itu, seperti biasa aku bangun dan mempersiapkan sarapan serta kebutuhan suami dan adik-adikku yang akan berangkat ke sekolah. Namun ada yang berbeda ketika itu, tidak biasanya perutku terasa begitu sakit, rasanya tak tertahankan. Aku merasakan tanda-tanda akan melahirkan, namun karena aku belum berpengalaman, kucoba menelpon saudaraku dan menanyakan tentang kondisiku. Saudaraku mengatakan bahwa memang itu adalah tanda akan melahirkan, dia menyarankan untuk segera berangkat ke rumah sakit. Melihatku begitu kesakitan, suamiku langsung menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit.

    Dengan begitu sigap, suamiku mengantarkanku ke rumah sakit walaupun kulihat di wajahnya ada raut kekhawatiran. Saat itu, meski kesakitan, aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Perhatian dan pengorbanan suamiku begitu membuatku terharu dan bahagia. ‘Ya Rahmaan...berikanlah kebahagiaan untuk suami hamba...’

    Kunikmati setiap detik yang berlalu, rasa sakit yang semakin lama semakin hebat sempat membuatku tak berdaya, namun suami di sampingku terus memberikan motivasi dan do’anya. Bahkan dia menuntunku untuk membaca surat Al-‘adiyat bersama-sama. Kugenggam erat tangannya, tangan yang selama ini menguatkanku, tangan yang telah berjuang begitu keras untuk menafkahiku, yang selalu menuntun dan membimbingku untuk berjalan bersama menuju ridho-Nya. Kupandangi wajahnya, kutatap matanya, dan kukatakan padanya, “Aku mencintaimu karena Allah, suamiku...”

    Tak lama sejak aku dipindahkan ke ruang persalinan, bidan-bidan telah bersiap membantu persalinanku. Sakit luar biasa yang aku rasakan, membuatku semakin pasrah dan berserah diri pada-Nya. ‘Rabb, apapun yang terjadi, kuserahkan semuanya pada-Mu, hanya Engkaulah Sang Maha Pengasih...’.

Ternyata benar, melahirkan itu rasanya antara hidup dan mati. Tiba-tiba aku teringat dengan ibuku yang telah tiada, betapa perjuangannya sungguh takkan tergantikan oleh apapun. ‘Maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu, Bu...’

Tak ada yang mampu kuucapkan ketika itu selain dzikir pada-Nya, menyebut asma-Nya. Bidan membimbingku untuk mengejan dengan baik dan membantu proses persalinanku. Ternyata tak butuh waktu yang lama, aku mendengar suara tangis seorang bayi yang telah terlahir. Tepat pukul 09.54 WIB, putra pertamaku lahir. Bulir air mata menetes tak tertahan di pipiku. Haru dan bahagia yang kurasakan saat itu. ‘Terima kasih Ya Allah... Kau telah sempurnakan aku sebagai seorang perempuan, menjadi seorang ibu dari amanah yang Kau titipkan...’

Suamiku pun tak kalah bahagianya, ia tersungkur penuh rasa syukur mengagungkan asma-Nya. Setelah itu ia mendekatiku dan kulihat wajahnya begitu berseri, memandangku dengan pandangan penuh cinta. “Terima kasih sayang...” ucapnya sambil membelai kepalaku. Kebahagiaan kami kini telah lengkap dengan hadirnya buah hati tercinta.

Bidan segera datang membawa putraku, kugendong ia untuk pertama kalinya. “Bu, alhamdulillah, ibu dapat melahirkan normal, bahkan sangat lancar, selamat ya bu...” ucap bidan yang pernah memeriksaku sebelumnya. Senyum pun kukembangkan padanya.

“Ya Allah... terima kasih untuk semua kemudahan dalam persalinanku dan untuk segala nikmat yang telah Engkau berikan...”

* * *

    Itulah sepenggal kisah tentang peristiwa yang akan selalu terkenang dan selalu kusyukuri. Terima kasih kepada semua keluarga, sahabat, dan rekan-rekan yang telah memberiku motivasi. Terutama kepada suamiku yang selalu setia bersama dalam susah maupun senang, juga untuk anakku tersayang ‘Ziyad’ permata hatiku semoga menjadi anak yang sholeh dan dapat menjadi kebanggaan untuk keluarga, agama, dan negara.

I love u all, because Allah... ^_^ 
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes