Archive For April 2015 April 2015 - Teh Deska
TERBARU

Karena Cinta Aku Memilihmu

Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa
Aku hanya ingin menyempurnakan agamaku sebagai istri shalihah
Tak apa hidup sederhana, asalkan bahagia bersamamu


Sedih rasanya ketika mengingat dulu
Saat engkau telah pulang bekerja, sementara aku masih sibuk di tempat kerjaku
Kau setia menantiku di rumah, bahkan seringkali kau datang menjemputku walau kutahu kau masih lelah
Meski alasanku bekerja adalah utnuk membantumu mendapat penghasilan tambahan
Namun sebenarnya egolah yang menguasai
Aku malu padamu
Malu pada Allah dan Rasul-Nya


Kini kuputuskan untuk meninggalkan segalanya karena cinta
Tak kupedulikan cibiran orang lain
“Percuma sarjana kalau hanya jadi ibu rumah tangga,” kata mereka
Bukankah semua yang dilakukan seorang istri di rumah adalah ibadah
dan seorang ibu pun harus cerdas untuk mendidik ana-anaknya
Maka, aku bahagia menjalani peranku saat ini
Aku merasa lebih produktif bekerja di rumah dibanding di luar sana
Banyak hal yang dapat kulakukan
Mengurus rumah tangga, berwirausaha, bahkan melakukan kegemaran menulisku
Waktuku bersamamu menjadi lebih banyak
Selain itu, senang rasanya ketika dapat melihat perkembangan putra kita setiap hari
Hal yang mungkin takkan kudapatkan jika aku masih bekerja


Kebahagiaan terindah memang bukan diperoleh dari banyaknya waktu yang kita miliki
Namun waktu yang berkualitas
Karena itu, aku mencoba memanfaatkan setiap waktu agar dapat menjadi amal yang bermanfaat untuk semua orang


Sejak kau mengungkapkan cinta usai ijab qobul
Kutahu, sejak saat itulah seluruh tanggung jawab berpindah padamu
Kau adalah imamku, ayah bagi anak-anakku
Kuserahkan seluruh cinta padamu
Aku ingin merajut impian dan merangkai masa depan bersamamu


Aku bersyukur menjadi istrimu
Kau begitu baik, perhatian, pengertian, dan penyayang
Kau sangat sabar menghadapi diriku yang terkadang masih kekanakan
Bimbing aku selalu, suamiku
Agar aku dapat menjadi shalihah untukmu
Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, mendidik mereka agar menjadi generasi yang terbaik
Sungguh, aku memilihmu dan mencintaimu karena-Nya

Dalam naungan cinta-Nya,
29 April 2014/ 02:43

Bukan Sekedar Cinta

Gadis kecil itu masih terduduk di samping dua gundukan tanah merah yang membisu. Bertemankan hujan yang semakin membasahi hatinya yang sendu, ia masih saja menatap nisan yang bertuliskan nama orang-orang yang begitu dicintainya. Bunga kamboja yang sedikit menghiasi gundukan tanah merah itu pun semakin layu.

Derasnya hujan, petir yang memekakan telinga dan angin yang menusuk tulang tak dipedulikannya. Kini yang ada dalam pikirannya adalah orang-orang yang selama sembilan tahun menjaganya. Di dalam hatinya masih tersimpan kasih sayang orang-orang yang dicintainya, yang kini telah tiada.

“Ayah, Ibu… Dinda rindu… Sungguh…” dalam tangisnya, ia ungkapkan seluruh gejolak batinnya. Langit pun seolah mengerti isi hatinya dan turut menangis untuknya.

Sebenarnya perasaan itu sudah lama ia pendam. Perasaan rindu yang mendalam, yang selalu mengusik hari-harinya. Ia tak tahu bagaimana harus mengobatinya, karena luka itu semakin menganga. Bukan pada dua gundukan tanah itu ia mengadu, bukan pula pada jasad yang bersembunyi di baliknya. Namun pada Sang Pemilik ruh, ia tumpahkan segalanya.

“Rabb, Engkaulah yang menciptakan mereka, Engkau pula yang berhak mengambil mereka. Karena itu, kumohon pada-Mu, sampaikan rindu ini pada mereka… sampaikan sayang ini pada ayah ibuku… sampaikan Ya Rahmaan…”

Ia tak tahu lagi pada siapa ia limpahkan semua perasaannya, selain pada Allah yang begitu dekat dengan hamba-Nya.

Entah sudah berapa lama ia berada di sana, awan gelap mulai menyelimuti bumi. Setelah semua yang mengganjal di batinnya ia ungkapkan, ia pun beranjak dari tempat itu. Ditatapnya kembali dua gundukan tanah merah yang takkan pernah bisa menjawab rindunya. Sebuah doa ia lantunkan untuk mereka yang jasanya tiada berbalas.

Saat malam mulai erat memeluk tubuhnya, ia sudah kembali berada di panti asuhan tempat tinggalnya kini. Setetes air mata kembali jatuh membasahi jilbabnya yang telah basah, tatkala ia mengingat bahwa menurutnya terlalu pagi ayah dan ibunya pergi. Apalah daya, yang pergi takkan pernah kembali lagi, kecuali jika ia temui di tempat terbaik, di surga-Nya.

Matanya yang basah belum dapat terpejam, deras air kerinduan di hatinya belum juga mereda. Dirinya sudah berada di rumah, namun pikirannya jauh meninggalkan waktu, kembali pada masa ia masih berada di pangkuan ayah ibunya, ketika purnama masih bercahaya menerangi bumi cinta.

* * *

Matahari di atas ubun-ubun selalu setia menemani langkah gadis kecil itu. Seragam putih merah yang mulai pudar dan tas gendong yang tak jelas lagi bentuknya masih ia kenakan.

“Yah… jatuh lagi pensilnya…” ucapnya sambil jongkok mengambil pensil yang nakal keluar dari lubang di tasnya. Sudah hampir enam kali ia berhenti untuk sekedar mengambil barang-barangnya yang jatuh. Karena ia sudah mulai lelah, ditambah perjalanan pulang yang masih jauh, akhirnya ia memutuskan untuk memangku tasnya dan menutup lubang itu dengan tangannya.

Setibanya di rumah, meski dengan peluh yang mengucur di dahinya, lekas ia berlari ke dalam rumah sederhana tempat tinggalnya bersama kedua orangtua yang begitu mencintainya. Sejenak ia menjinjit kakinya yang pegal karena sepatu yang sudah tak muat lagi untuk kakinya.

“Ibu…tasku bocor, peralatan sekolahku jadi loncat semua…” ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan lubang di tasnya. Ibunya yang sedang menyiapkan makan siang berbalik menatap gadis kecil itu dan menyejajarkan duduk dengannya.

“Oh iya Nak, tapi tasnya masih bisa dipakai kan?” tanya ibu dengan nada lembut. Mendengar pertanyaan ibunya, ia cemberut karena tahu kalau ia tak bisa mendapat tas baru.

“Sini Nak, ibu coba perbaiki tasmu ya, biar bisa kembali seperti baru dibeli,” ucap ibu yang mengerti dengan perasaan anak gadisnya itu. “Wah, memangnya bisa jadi baru lagi ya bu? Seperti baru beli lagi? Mau dong bu…” ia pun segera memberikan tasnya yang rusak pada ibunya.

Akhirnya, siang itu ia habiskan bersama ibu, memperhatikan tangan ibunya yang cekatan menjahit tasnya. Ada harapan di mata anak itu, ada bahagia di hatinya, ia sangat bersyukur memiliki ibu yang begitu perhatian dan sayang padanya.

“Bu, Dinda sayang ibu…” ucapnya ketika tasnya usai diperbaiki. Ibu pun membalas dengan kecupan hangat di pipi gadis kecil itu. “Ibu juga sayang Dinda.”

Malam semakin larut, tapi Dinda kecil masih terjaga. Ia bersama ibunya menunggu ayah pulang sambil menikmati teh hangat di depan rumah. Ketika bulan mulai menunjukkan kesempurnaan bentuknya, seseorang yang dinanti pun tiba. Dengan berlari, Dinda menghampiri ayahnya dan memeluknya.

“Aduh…anak ayah yang cantik ini kok belum tidur sih…” ucap ayah sambil menggendong Dinda. “Kan nunggu ayah pulang, nunggu oleh-oleh juga…” kata Dinda sambil memperlihatkan senyum manisnya, berharap ayah memberikan oleh-oleh untuknya.

“Dinda sayang, ayah kan baru pulang, masih capek. Sini Dinda sama ibu dulu,” ibu berusaha menggendong Dinda, karena melihat suaminya yang kelelahan. “Tidak apa-apa kok bu, ini ayah punya oleh-oleh untuk Dinda,” ucap ayah membuat Dinda tersenyum girang.

Dinda selalu menunggu ayahnya pulang dan berharap membawa oleh-oleh untuknya. Seperti malam ini, ia begitu bahagia dan lagi-lagi ia mengungkapkan cintanya.

“Dinda sayang ayah…sayang ibu juga…” ucapnya.

Tapi, kebahagiaannya tak bertahan lama. Malam itu, sebuah tragedi memaksanya harus berpisah dengan ayah dan ibunya, selama-lamanya.

Ketika keluarga kecil itu sedang tertidur lelap, api menjalar dari arah samping rumah mereka. Melahap apa saja yang menghalanginya, masuk ke sela-sela dinding rumah, dan membakar semua benda seketika. Saat api sudah membesar, panasnya mulai membakar kulit, Dinda tersadar dari tidurnya. Ia menatap ke jendela kamar, kobaran api perlahan memecahkan kaca-kaca jendela. Suaranya membuat dia takut. Dinda terjebak di dalam kamar, badannya gemetar, ia hanya bisa menangis dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara itu api mulai masuk tanpa permisi.

Malam yang mengerikan itu, rupanya dirasakan pula oleh orang-orang di sekitar rumah mereka. Api yang tak berhati itu membakar rumah yang berderet di kompleks itu. Semua orang panik, berusaha menyelamatkan keluarganya. Tak dipikirkan barang-barang berharga yang dimakan oleh api, karena keluarga mereka lebih berharga dari apapun.

Ketika api mulai mereda atas pemadam kebakaran yang memang tak datang tepat waktu, sayup-sayup suara isak tangis terdengar di dalam rumah yang hanya tinggal puing-puing. Beberapa warga berusaha masuk dan menyelamatkan seorang anak kecil yang menangis di sudut ruangan terlindung oleh meja kayu yang kuat. Namun, para warga terlambat menyelamatkan orang tuanya yang sudah penuh dengan luka bakar.

Tragedi yang terjadi di kompleks perumahan itu, rupanya berasal dari salah satu rumah warga karena tabung gas yang meledak. Karena angin malam yang sangat besar, menyebabkan api cepat menjalar menghabiskan beberapa rumah di sekitarnya. Sudah menjadi takdir, ternyata rumah gadis itu tepat di samping rumah warga yang menjadi sumber datangnya api.

* * *

Lima tahun telah berlalu, namun ingatan tentang kejadian di malam yang mencekam itu tak pernah hilang. Dinda berusaha untuk hidup meski dengan keadaan payah. Ia berniat dalam hatinya bahwa selama ia masih bernafas, ia akan memberikan yang terbaik untuk Sang Pencipta dan orang-orang yang dicintainya.

Hidup di panti asuhan memang tak mudah. Terlebih ketika panti tempatnya tinggal tak memiliki donatur tetap, sehingga anak-anak di sana harus bekerja mencari uang. Begitu pula dengan Dinda, setiap harinya ia bekerja sebagai penjual koran di jalanan dari pagi hingga petang. Meski berat, namun ia tak pernah mengeluh, karena ibu panti yang tinggal bersama anak-anak yatim piatu di sana selalu memberikan motivasi.

“Hidup itu hanya sementara, tak apa sengsara di dunia yang penting bahagia di akhirat. Tugas kita adalah beramal sebanyak-banyaknya. Meski tak ada uang, amal bisa dilakukan dengan apapun. Niatkan semuanya untuk ibadah, Insya Allah akan ada keberkahan pada setiap apapun yang kita kerjakan,” ucap ibu panti yang sudah paruh baya usai solat berjamaah bersama anak-anak panti. Dinda tahu betul karakter ibu panti yang tak ingin mengemis pada orang-orang untuk membiayai panti asuhan. Ia telah mengajarkan untuk berjuang mencari rizki yang halal dengan keringat sendiri.

Meski begitu, melihat kondisi anak-anak panti di sana, Dinda tidak tinggal diam. Ia memiliki mimpi agar anak-anak itu dapat meraih cita-cita mereka. Ia yakin, masa depan mereka sangat cerah. Mereka memliki hak untuk memperoleh pendidikan dan hidup layak. Mimpinya itu bukan sekedar mimpi saja, namun ia berusaha untuk mewujudkannya.

Dinda memang anak yang cerdas, sejak duduk di bangku sekolah dasar dulu, ia selalu mendapat ranking pertama. Walaupun kini ia tak melanjutkan sekolah, namun wawasan Dinda sangat luas. Jelas saja, setiap hari ia melahap berita dan informasi dari koran-koran yang dijualnya. Mulai berita dalam negeri sampai mancanegara. Topik yang paling dia minati adalah seputar dunia pendidikan. Sampai suatu saat ia berinisiatif untuk menulis surat kepada Menteri Pendidikan, mengetuk pintu hatinya agar dapat membantu anak-anak di Panti Asuhan.

Awalnya ia hanya mengirimkan surat satu kali dalam sebulan. Namun, karena tak kunjung ada balasan, akhirnya ia mengirim surat setiap minggu bahkan setiap hari. Ia berharap menteri pendidikan dapat membaca surat-suratnya dan mengubah wajah dunia pendidikan di negerinya.

Suatu hari, saat pulang bekerja pada senja yang indah, ia melihat ada sebuah mobil bagus berhenti di halaman panti. Ibu panti menyambut kedatangan beberapa orang berpakaian sangat rapi dengan ramah.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” ucap ibu panti setelah menjawab salam dari mereka.

“Kami mencari anak yang bernama Adinda Purnama. Apakah betul dia salah satu anak asuh di panti ini?” Ucap salah seorang di antara mereka yang membawa sebuah map.

“Iya betul, Dinda tinggal di sini. Ada apa ya?” ucap ibu panti agak khawatir.

“Kami mencarinya, bisa tolong panggilkan dia kemari?” pinta orang itu lagi. Tak lama Dinda datang ditemani ibu panti.

“Nak, apa benar kamu yang mengirim surat kepada Bapak Menteri Pendidikan setiap hari?” tanyanya lagi. Dinda menjawab dengan anggukan.

“Kami dari Dinas Pendidikan Kota mendapat amanat dari Bapak Menteri untuk menyerahkan surat balasan ini untukmu,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah amplop putih berisi tulisan tangan dari Menteri Pendidikan.

“Alhamdulillah... Ternyata Bapak Menteri membaca surat-suratku, Terima kasih Pak telah mengantarkan ini untukku,” ucap Dinda dengan senyum yang mengembang.

“Iya Nak, kami juga membawa bantuan berupa seragam sekolah, buku-buku, serta beasiswa pendidikan untuk anak-anak di sini. Sekarang kalian dapat bersekolah dan meraih cita-cita setinggi langit,” ucap bapak itu ramah.

Ibu panti yang berada di samping Dinda menangis terharu dan bangga pada anak asuhnya itu. Begitu pula dengan Dinda, akhirnya mimpinya akan segera terwujud. Ia yakin bahwa dengan kesungguhan, usaha yang kuat, serta doa yang tulus semua dapat diraih. Di dalam hatinya ia berdoa, semoga apapun amal kebaikan yang ia kerjakan, pahalanya dapat mengalir untuk kedua orang tuanya hingga ia dapat berkumpul kembali di surga bersama mereka yang ia cintai karena Allah.

Pagiku

Ada yang menyapa pagiku
Diam-diam menyelinap lewat jendela kamar
Tak seperti biasa
Pagiku merekah menyisakan sejumput senyuman
Di penghujung pekat kutemukan namamu
Yang sedari tadi menemani pagiku
Mengajakku berlari
Menerobos waktu menjelma sang surya
Pagiku takkan hilang
Ia selalu ada mengusir sepi
Merajut mimpi dalam masa yang berganti
Kuawali pagiku dengan sejuta harap
Untuk hidup yang lebih berarti


(230415/ 22:53)

Dilema Seorang Gadis Cantik

Dilema Seorang Gadis Cantik

Suara isak tangis terdengar di sudut masjid kampus. Seorang gadis tengah mengadukan isi hatinya kepada Sang Pemilik hati. Tak dipedulikannya senja yang mulai pudar. Kini ia hanya ingin mengungkapkan segala gundah pada-Nya. Betapa berat beban yang ia rasakan hingga air matanya mengalir begitu deras. Seisi masjid pun menjadi saksi betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. Di tengah syahdunya doa gadis itu, ia tak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya di balik tirai hijab antara tempat shalat laki-laki dan perempuan.

Senja itu ia habiskan bersujud di dalam masjid. Namun ketika ia menyadari bahwa waktu menunjukkan maghrib akan segera tiba, lekas ia menghapus air mata yang tak tebendung. Ia bangkit dari sujudnya dan segera mengambil air wudhu. Jamaah masjid kampus mulai berdatangan, kebanyakan yang shalat di sini adalah mahasiswa yang telah kuliah sore. Sementara gadis itu hanya ingin ber’itikaf di sana karena memang kosannya sangat dekat dengan masjid.

Usai shalat, ia lanjutkan berdo’a pada-Nya Sang Maha Mengetahui segala isi hati.

“Duhai Allah, Yang Maha Pengasih, ampunilah segala dosa hamba, sungguh aku begitu kecil di hadapan-Mu, Kuasa-Mu begitu agung Ya Rabb. Engkaulah yang begitu dekat dengan hamba, Engkau adalah kunci dari segala permasalahan hamba... Karena itu, kumohon jalan keluar yang terbaik untukku. Lepaskanlah segala beban yang selama ini ada di pundakku, sucikanlah hati dan pikiranku. Kumohon dengan sangat Ya Allah... Kabulkanlah... Aamiin Ya Robbal’alamiin.”

* * *

Sarah nama gadis itu. Ia sangat cerdas, aktif, lembut, dan cantik. Orang yang melihatnya menganggap bahwa ia memiliki segalanya. Orang tua yang sangat menyayanginya, kebutuhan yang serba tercukupi, bahkan wajah yang sangat cantik pun karunia yang ia miliki.

Sarah adalah salah satu wanita yang sangat terkenal di kampusnya. Bukan hanya karena kecantikan wajahnya yang mampu memikat hati siapapun yang melihat, tapi juga kecantikan yang ada dalam hatinya membuat ia terlihat begitu sempurna.

Namun, di balik semua itu Sarah selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia selalu merasa bersalah, dan perasaannya itulah yang selalu mengganggunya setiap waktu.

“Vi, apa ada yang salah dalam diriku?” Tanya Sarah pada sahabat terdekatnya.

“Apa maksudmu? Selama kau bersabat denganku, aku merasa kau tak pernah salah, Sarah,” jawab Via yang sudah bersahabat dengannya tiga tahun sejak awal masuk kuliah.

“Jawab dengan jujur Vi... Aku merasa selalu dikelilingi dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh diriku sendiri,” ungkap Sarah sambil menunduk.

“Aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan. Seharusnya kau bersyukur atas kelebihan yang Allah berikan untukmu. Kau itu cantik, baik, banyak orang yang suka denganmu dan banyak yang mengagumimu,” nasihat Via lembut.

“Justru di sanalah permasalahannya, Via. Aku sering bermuhasabah, mengevaluasi diriku sendiri. Apa ada yang salah dalam diriku? Mengapa begitu mudah orang lain menyukaiku? Mengapa banyak yang kagum padaku? Padahal aku bukan siapa-siapa...” Ucap Sarah sambil tersedu. Sementara, Via yang duduk di sampingnya tak mampu berkata apa-apa. Ia merasakan betapa berat beban yang ditanggung oleh sahabatnya itu.

Ungkapan Sarah memang bukan tanpa alasan. Sudah banyak laki-laki yang menyatakan cinta padanya, mengaku kagum dengan kebaikannya, dan berharap Sarah menjadi kekasih mereka. Namun tak pernah Ia menghiraukannya. Ia berusaha memegang prinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah, karena Ia ingin menjaga kesucian diri dan hatinya.

Pernah suatu saat ada yang bertanya padanya, “Apakah kau tak ingin jatuh cinta?”

Maka ia pun menjawab, “Aku bukan tak ingin jatuh cinta, tapi cinta adalah kesucian. Cinta berbicara tentang hati, ketulusan, dan kejujuran.”

Begitulah, ia merasa cintanya harus dijaga jangan sampai ternoda. Bukan diobral seperti banyak lelaki yang mengungkapkan cinta padanya. “Itu bukan cinta!” tegasnya.

Hal itulah yang sering membuatnya menangis usai tahajud.
“Rabb... Kumohon berikanlah jalan keluar yang terbaik untuk hamba-Mu yang lemah ini...” pintanya dalam setiap doa.

Sampai suatu hari, Allah seolah menjawab doanya.

Malam itu, ia memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya. Ia ingin mengungkapkan segala kegundahan hatinya pada mereka. Ia rindu suasana rumah yang selalu memberinya ketenangan. Namun, belum juga ia sampai, sebuah kecelakaan memaksanya untuk berhenti sejenak pada harapannya.

Langit begitu pekat tanpa bulan dan bintang yang menghiasi. Rintik hujan perlahan mulai membasahi bumi. Jalanan terlhat begitu sepi. Sementara laju bus yang ditumpangi Sarah memecah kesunyian. Namun, sunyi di malam itu terlihat seperti fatamorgana. Bus itu terus melaju dengan kecepatan yang tinggi. Di tengah perjalanan yang panjang itu, tiba-tiba bus yang ditumpangi Sarah menabrak sebuah mobil truk yang melaju sama kencangnya dari arah yang berbeda. Tepat di tikungan tajam, kedua mobil besar itu saling menunjukkan keangkuhannya.

Saking kerasnya tabrakan yang terjadi, bagian depan bus sudah tak berbentuk, sopir tergencit dan tak mampu mengendalikan bus lagi. Akhirnya bus itu pun oleng dan ternyata tikungan tajam tempat terjadinya kecelakaan itu tepat berada di samping jurang yang curam. Lantas saja bus itu jatuh ke jurang. Sementara seluruh penumpang yang berada di dalam bus panik dan tak tertolong.

* * *

Di tengah puing sisa tabrakan semalam, ternyata masih ada seseorang yang berjuang melanjutkan hidupnya. Di antara belasan mayat yang tergeletak, ia mencoba membuka mata dan mengatur nafasnya. Terlihat sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah segar yang masih bercucuran. Namun, tak lama matanya kembali terpejam.

Saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun, tim penyelamat baru saja tiba untuk mengevakuasi para korban kecelakaan. Badan bus dan truk sudah hanya tinggal puing-puing. Seluruh korban segera dibawa dan dievakuasi. Namun, tim evakuasi menemukan ada seseorang yang masih hidup.

“Ada yang masih hidup di sini, detak jantungnya masih ada!” ucap salah seorang tim evakuasi ketika melihat seorang gadis yang kakinya tertindih bagian badan bus. Lekas saja ia segera diselamatkan dan dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit. Ternyata, di antara belasan korban, hanya gadis itu yang selamat.

Setibanya di rumah sakit, dokter segera menanganinya dan berusaha menolongnya.

“Kondisinya sudah sangat kritis, kalau sedikit saja terlambat dibawa ke rumah sakit, mungkin ia sudah tak tertolong,” ucap dokter itu setelah memberikan pertolongan pertama pada pasien korban kecelakaan itu.

“Terima kasih, Dok. Namun kami kesulitan mencari identitasnya untuk menghubungi keluarganya,” ucap salah seorang tim yang telah menemukan gadis itu.

“Iya, tidak apa-apa, kita tunggu saja sampai ia sadar, karena sekarang kondisinya masih sangat kritis,” ucap dokter.

Tak lama, beberapa keluarga korban mulai berdatangan ke rumah sakit, di antara orang-orang itu, terlihat sepasang suami istri yang mencari-cari anak gadisnya.

“Pak, di mana anak saya?” tanya sang ibu dengan nada khawatir pada petugas rumah sakit.

“Tenang bu, kami minta data anak ibu untuk dicocokkan dengan data yang kami miliki,” ucap salah seorang perawat. Segera ibu itu memberikan biodata lengkap anaknya. Kemudian perawat itu pergi untuk mengambil data yang sudah berhasil ditemukan. Tak lama, ia kembali membawa sebuah map yang berisi data para korban.

“Maaf bu, data anak ibu tidak ada di sini,” ucapnya.

“Tidak mungkin! Kemarin anak saya janji akan pulang, namun ia tak kunjung datang. Sampai akhirnya kami mendengar ada berita kecelakaan di jalan yang menuju rumah kami. Saya yakin anak saya ada di sini,” ucap sang ibu memastikan.

Perawat itu bingung karena memang data yang diberikan oleh ibu itu tidak ada dalam data yang berhasil dikumpulkan. Namun tiba-tiba, seorang dokter menemui mereka dan mengatakan bahwa masih ada seorang gadis yang belum diketahui identitasnya. Akhirnya kedua orangtua itu pun diajak ke ruangan tempat gadis yang sedang dirawat.

“Apakah ia anak ibu?” tanya dokter itu. Sejenak mereka memerhatikan gadis yang terbujur kaku di hadapan mereka. Hampir saja mereka tak mengenalinya karena sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka, bahkan wajahnya sudah tak jelas lagi.

“Dia Sarah, anak kami!” Tiba-tiba ibu itu berkata yakin.

“Dari mana ibu tahu kalau itu anak ibu?” tanya dokter kembali.

“Saya ibunya, dan saya kenal betul dengan anak gadis saya,” jawab ibu itu sambil tangannya mengelus kepala gadis yang tak berdaya itu. Sungguh, sentuhan lembut dan tulus seorang ibu memang sebuah karunia. Tiba-tiba saja mata gadis itu terbuka perlahan-lahan. Ditatapnya wajah ibu di hadapannya, lalu segaris senyum mulai mengembang di bibirnya.

“I..bu...” ucap gadis itu terbata. Digenggamnya tangan ibunya yang sedari tadi tak lepas memegangnya.

“Iya sayang, ibu di sini, kau sudah kembali,” ucap ibunya. Setetes air mata terjatuh di pipinya, ia menangis bahagia. Setelah pulih, Sarah segera dibawa pulang oleh kedua orangtuanya.

Beberapa bulan berlalu setelah kecelakaan di malam yang mencekam itu. Kini kondisi Sarah sudah mulai membaik, namun ada yang terlihat berbeda dari dirinya. Sarah yang sekarang bukan Sarah yang dulu lagi. Kecelakaan itu telah mengambil semua kecantikan yang ia miliki. Wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka, serta kakinya patah karena tertindih oleh bagian badan bus. Tak terlihat lagi kecantikan yang dulu dikagumi banyak orang. Namun, meskipun fisiknya tak sempurna, Sarah masih memiliki hati yang cantik melebihi fisiknya.

“Alhamdulillah Sarah bersyukur, Allah masih memberikan Sarah kehidupan. Dia menyelamatkan Sarah dan mengizinkan Sarah untuk bertemu dengan ibu dan ayah,” ucap Sarah pada kedua orangtuanya.

Meskipun dalam kondisi yang belum pulih total, dia memutuskan untuk kembali kuliah, melanjutkan skripsinya yang sempat tertunda karena musibah yang menimpanya. Namun, ada hal berbeda yang dia rasakan. Tak ada lagi orang-orang yang dulu mengejar-ngejarnya. Hidupnya terasa lebih tentram dan damai.

“Apapun yang terjadi, kau tetaplah sahabatku. Mereka hanya melihat dari fisik saja, sementara tak mampu melihat hatimu yang begitu suci,” ucap Via saat mereka usai shalat di mesjid kampus.

“Terima kasih, sahabatku. Aku tahu, segala keindahan itu hanya milik Allah. Semoga Allah selalu menjaga hati kita agar tetap indah dengan karunia-Nya,” ucap Sarah sambil memeluk sahabatnya.

Akhirnya, karena kegigihan, ikhtiar, dan doa yang kuat, Sarah berhasil lulus dengan menyandang predikat Cumlaude. Meskipun dengan segala keterbatasan, namun ia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa. Ia yakin, bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Ujian di Dalam Ujian

Di ruang kelas yang begitu luas ini aku merasa sempit, tersudut, bahkan hampir tak bisa bernafas. Di sekelilingku tiga puluh empat pasang mata tengah mengawasi gerikku dan menanti kata yang akan keluar dari mulutku. Suasana masih hening, namun aku merasakan gemuruh emosi yang begitu keras dari mereka. Aku masih saja tak bergeming. Kucoba untuk tetap tenang agar tidak terbawa emosi.

“Keputusanku tetap sama,” ucapku dengan nada halus. Namun, mereka menimpali ucapanku barusan dengan nada kasar dan sumpah serapah.

“Baiklah, kalau kamu masih ngotot, mulai saat ini kamu bukan bagian dari kami lagi!” tegas sang ketua kelas. Mendengarnya, ada setetes air mata yang mengalir di pipiku. Tetap saja, sekuat apapun diriku, tapi hati ini tak dapat dibohongi. Meskipun kini aku tak dianggap bagian dari anggota kelas lagi, namun bagiku mereka tetap keluargaku. Sejujurnya, aku sangat menyayangi mereka, teman-temanku yang telah berjuang bersama selama tiga tahun di sekolah ini.

Satu per satu mereka mulai melangkah pergi meninggalkan aku sendiri di ruangan ini. Matahari senja sudah menyeruak masuk melalui kaca jendela. Kakiku yang sejak tadi berdiri menahan beban mulai lemas. Aku pun akhirnya terjatuh dan tersungkur di lantai yang membisu.

“Rabb, mengapa harus ada akhir yang menyedihkan? Kutahu, betapa lemahnya aku, tak mampu mengajak teman-temanku untuk mempertahankan nilai kejujuran seperti yang dimiliki oleh Rasulullah. Aku malu ya Rabb...malu kepada-Mu, malu kepada Kekasih-Mu, bahkan malu kepada diriku sendiri yang tak mampu menjalankan amanah-Mu.”

Saat senja mulai berganti petang dan langit pun telah merona, aku pun beranjak menuju rumah. Tak kupedulikan peluh yang masih mengalir, saat ini yang ingin kulakukan adalah segera mengambil air wudhu, berdo’a, dan mengadukan semua pada-Nya. Hanya Dia tempatku berkeluh kesah dan mencurahkan segala isi hatiku. Malam ini kuhabiskan waktuku hanya berdua dengan-Nya, Allah Sang Maha Penyayang.

Sejenak, terkenang olehku beberapa waktu yang telah lalu, saat aku mulai menginjakkan kaki di sekolahku tercinta. Seragam putih abu yang kubanggakan juga mimpi yang kugantungkan setinggi mungkin menjadi motivasi untukku bersaing di sekolah bergengsi ini. Namun, semua ambisi perlahan mulai surut saat aku mengenal Rohis, sebuah ekstrakulikuler yang bergerak dalam bidang kerohanian Islam. Di sana aku belajar banyak tentang agamaku dan Penciptaku.

Aku mulai memahami pentingnya niat dalam mengawali segala hal yang akan dilakukan. Sekecil dan seringan apapun pekerjaan itu harus dilandasi niat karena Allah semata. Karena ketika Allah ridho dengan hal yang kita kerjakan, maka balasannya adalah surga. Sementara jika niat karena dunia, maka kita hanya mendapatkan yang kita tuju saja namun tidak sampai ke akhirat. Sebab itulah, aku mulai mencoba untuk meluruskan niat. Merevisi kembali mimpi-mimpiku, bukan sekedar dunia yang kutuju, namun ridho-Nyalah yang kudamba.

Sejak saat itulah idealismeku mulai tumbuh. Aku ingin Allah ridho atas semua amal yang kukerjakan, termasuk dalam hal ujian. Meski banyak cibiran yang kuterima, namun aku tak berpaling sedikit pun dari-Nya. Biarlah cibiran manusia di dunia, asal Allah tersenyum dan kuperoleh hadiah dari-Nya di surga nanti.

Awalnya teman-temanku mempermasalahkan atas sikap idealisku yang ingin jujur saat ujian berlangsung. Namun, lama-kelamaan mereka mulai memahami akan prinsipku tersebut. Dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas kujalani prinsipku itu walau banyak rintangan yang kuhadapi. Tetapi, ada yang berbeda ketika sekarang akan menghadapi Ujian Nasional. Teman-teman bahkan rasanya seisi sekolah tak mendukungku untuk berbuat jujur.

“Rabb, inikah ujian yang sesungguhnya dari-Mu untukku? Kutahu, ini bukan hanya tentang Ujian Nasional, namun lebih dari itu. Ini adalah Ujian Keimanan. Karena itu, kumohon dengan sepenuh hati, mudahkanlah...”

* * *

Hari ini Ujian Nasional dimulai, kucoba menenangkan hati dan pikiranku. Ada sedikit kedamaian setelah kucurahkan segala isi hatiku pada-Nya. Kujalani setiap detik-detik ujian dengan penuh kesungguhan dan ketenanga. Meski tak ada seorang pun di kelas yang menyapaku, namun aku tetap bersikap ramah seperti biasanya kepada mereka.

“Rabb, bukakanlah pintu hatiku dan pintu hidayah untuk teman-teman yang kucintai karena-Mu...” doaku di dalam hati.

Suasana di kelas benar-benar tak terkondisikan. Berkali-kali aku mengucap istighfar ketika melihat pemandangan di sekelilingku. Peserta ujian yang saling menyontek, pengawas yang tidak melaksanakan tugasnya, serta beberapa ‘oknum’ yang dengan mudahnya memberikan kunci jawaban bahkan di saat ujian belum dimulai. Betapa sedihnya hati melihat semua kejadian ini.

Hari demi hari telah terlewati, Ujian Nasional pun telah usai. Namun doaku pada-Nya takkan pernah berhenti, terus mengalir selama nafas masih berhembus.

“Tunjukkan jalan terbaik untukku Ya Allah...”

Hasil memang bukan segalanya, tetapi proses yang akan menunjukkan betapa berharganya setiap detik yang terlewati. Ketika semua menjauhiku, biarlah yang penting Allah selalu bersamaku. Aku yakin, Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Nilai kejujuran harus ditanamkan sejak dini, karena ia akan terus mengakar sampai tua. Begitu pula sebaliknya.


Yakinlah, Allah begitu dekat, maka memohonlah hanya kepada-Nya...
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes