Nasib Sopir dan Kondekturnya - Teh Deska Nasib Sopir dan Kondekturnya - Teh Deska
TERBARU

Nasib Sopir dan Kondekturnya

Hari ini Pak Budi datang lebih awal dari biasanya. Alasannya karena jadwal narik bus sekarang ada perubahan. Meski malas, dia tetap datang banting tulang demi menghidupi ‘istrinya’ yang sekarang entah ada di mana.

“Assalamu’alaikum Pak Budi! Kok lemes aaamat?” sapa Bangbang kondekturnya yang menyadari akan kelesuan rekannya.

“Wa’alaikum salam Bang, kamu bisa Bantu saya teu?” Pinta Pak Budi. Seperti biasa, kalau lagi punya masalah pasti sharingnya sama Bangbang. Maklum, dia kan yang suka bareng sama Pak Budi kalau sedang kerja, orang yang suaranya paling ‘cempreng’ sebab udah kehabisan suara dikarenakan tugasnya yang harus extra menguras suaranya dengan berteriak-teriak demi mendapatkan penumpang alias kondektur tea, sodara-sodara! Tapi pengorbanannya ngga sia-sia lho, soalnya berkat suaranya yang ‘merdu’, dia jadi dapat bonus dari atasannya. ‘Hmm lumayan!’

“Wah, ada masalah apa nih? Insya Allah saya akan berusaha membantu, tapi kali ini mah alakadarnya saja ya, soalnya saya juga punya masalah nih!” seperti biasa juga, dengan senang hati dia akan membantu meski terkadang sering teledor alias kurang maksimal gitu.

“Apa? Kamu juga punya masalah?” Tanya Pak Budi kaget. Tapi Bangbang hanya mengangguk saja. Terlihat dari wajahnya seolah-olah menyimpan sejuta masalah yang suangat beurat.

“Wah tumben kamu punya masalah, biasanyakan kamu ini satu-satunya orang yang hidupnya sering hepi-hepi aja!” “Ck, ck, ck ternyata…!” Pak Budi berdecak sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk yang seolah-olah menemukan sesuatu.

“Ternyata apa Pak?” Bangbang terlihat bingung dengan ucapan Pak Budi tadi.

“Ternyata…kondektur juga manusia!” jawab Pak Budi diikuti dengan tawa garingnya. “Ah Bapak ini bisa saja!” elak Bangbang.

“Oh ya, memang kamu teh punya masalah apa?” Tanya Pak Budi dengan sisa-sisa tawanya.

“Mmm, sebenarnya saya malu mengatakannya Pak,” akunya. “Ayolah, mungkin saya bisa bantu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu sering membantu saya!” tawar Pak Budi.
“Nuhun Pak, saya teh seb…sebenarnya… lagi punya masalah di rumah, isteri saya… pundung, dan sekarang dia kabur entah kemana, saya bingung Pak…!”

Seketika wajah Pak Budi jadi pias. Dia bingung harus bicara apa. Ingin dia katakan… “Bang, nasib kita…SAMA!”. Sementara Pak Budi meratapi nasibnya dan Bangbang menangis tersedu, seseorang datang mendekati mereka.
            “Punten, mau numpang nanya, yang namanya Pak Budiman, eh maksud saya Pak Budi, yang mana ya?” seorang tukang parkir dengan keringat yang membasahi seragamnya bertanya kepada mereka. Meski masih pagi, tapi bagi para tukang parkir-ers pagi adalah waktu yang sangat melelahkan.
            “Muhun, saya sendiri orangnya!”
            “Oh, ini Pak ada surat buat Bapak!” tukang parkir itu memberikan sepucuk surat tak beramplop, dan Pak Budi segera menerimanya lalu membukanya dengan hati yang penasaran. ‘Siapa ya orang yang nulis surat buat saya? Perasaan, dari dulu saya tidak pernah nerima surat dari siapapun kecuali Surat Tagihan Hutang’.
         
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak, ini isterimu yang saati ni sedang merana
Pak, daripada saya terus-menerus merana seperti ini, lebih baik……pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…!
            Pak saya sedih………Hiks!

NUNIK

            Seketika Pak Budi mengangkat kepalanya lalu celingak-celingukan ke sana ke mari seperti harimau mencari mangsanya.
            “Punten Pak, Bapak kenapa? Sedang latihan jadi pemain wayang ya!” Tanya sang tukang parkir polos, sebab dia merasa aneh melihat tingkah Pak Budi.
            “Enak saja! Saya sedang mencari orang yang nulis surat ini!” elak Pak Budi marah. “Ooh orang yang tadi?” “Heh, kamu tahu?” segera Pak Budi berbalik dan memperhatikan tukang parkir itu.
            “Mmm, yang orangnya agak gemuk itu ya Pak?” “Ya!”
            “Yang hidungnya agak pesek itu ya Pak?” “Ya!”
     “Terus yang kalau bicara suka nyeroscos itu ya Pak?” “Ya!”
            “Dan yang orangnya gal…,” “Berhenti!!!” tiba-tiba tukang parkir itu terlonjak kaget.
            “Kamu mau ngasih tahu saya atau menjelek-jelekan isteri saya heh? Sekarang cepat kasih tahu saya ada di mana dia sebelum dia kabur lagi!” ucap Pak Budi nyeroscos. “Huh dasar, suami isteri sama saja bawelnya!” protesnya pelan, tapi sedikit tedengar oleh Pak Budi. “Apa kamu bilang?”
            “Ng, ngga Pak, maksud saya, tadi isteri bapak sudah pergi naik bus jurusan Sukabumi!” jelasnya gemetar dan langsung melarikan diri sambil marah-marah. “Huh dasar, ngga tahu terima kasih, udah susah-susah nyari orangnya, dimarahin pula, nasiiib nasiiib!”
            “Aduuuh terlambat! Dia balik sama orang tuanya!” Pak Budi menyesal, sementara orang yang sejak tadi ada di sampingnya terlihat lebih ceria.
            “Hore… jadi, kita senasib dong Pak! Sama-sama ditinggal!!!” teriaknya girang. “Hore…..!!!”
            “GLEK’!”

* * *

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes