Gara-Gara Berita Kriminal - Teh Deska Gara-Gara Berita Kriminal - Teh Deska
TERBARU

Gara-Gara Berita Kriminal

Pagi hari yang datang bersama embun, pasti akan terasa menghangatkan jika dihadapi dengan secaangkir kopi panas, dan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan siaran berita di televisi.

Tapi, hal itu tidak dapat mengubah suasana hati seorang lelaki separuh baya yang sedang duduk bersila di depan sebuah pesawat televisi berukuran 14 inc yang gambarnya masih hitam-putih itu.
Berkali-kali ia mengutuki berita-berita di televisi.

“Ini sebenarnya zaman macam apa sih? Kok beritanya ngga ada yang bagus-bagus!” teriak Pak Budi –begitu orang memanggilnya, walaupun sebenarnya dia memiliki nama yang lebih baik, yaitu Setiawan tetapi bermula dari pekerjaan barunya menjadi seorang sopir bus Budiman, dan saat itu orang memanggilnya Pak Budi.

“Ada apa sih Pak? Pagi-pagi kok teriak-teriak sendiri!” Tanya istrinya bingung melihat tingkah Pak Budi.

“Ini loh Bu, kenapa ya beritanya kriminal melulu? Tiap dioperin, masalah kriminal, dioperin lagi, kriminal lagi, jadi jenuh saya!” tutur Pak Budi menggebu-gebu.

“Ya terserah yang bikinnya atuh!” elak istrinya.
“Euleuh, ibu ini gimana sih, maksud saya….”, ucapan pak Budi menggantung, sebab keburu dipotong oleh istrinya yang malah terdengar seperti ceramah.

“Sudahlah Pak, kita syukuri saja apa yang ada, masalah acara berita, itu mah gimana yang bikinnya saja, lagipula percuma Pak, ngomel-ngomel di depan TV, moal matak kedengeran sama yang di dalem TV, yang ada malah nanti saya kabur soalnya Bapak marah-marah wae!” jelasnya, sementara

Pak Budi hanya geleng-geleng kepala.
“Begini Bu, maksud saya kenapa tidak ada acara berita yang bisa bikin hati saya tenang, aman, dan damai!” jelas Pak Budi menenangkan. Sebab dia tahu, kalau istrinya sudah ngancam-ngancam begitu, bisa gawat nanti! Bisa-bisa dia kabur dan ngga pulang-pulang selama ‘3 kali puasa, 3 kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang’… (lho-lho-lho kok malah nyanyi dangdut sih ?!)

“Ooh, jadi Bapak teh maunya apa atuh ?” Tanya istrinya sedikit lebih tenang.
“Seandainya saja, setiap kali saya memindahkan acara televisi, saya tidak melihat berita kriminal lagi, dan pembaca berita berkata’ “Selamat pagi pemirsa, mohon maaf hari ini tidak ada berita kriminal karena para pelaku kejahatan sudah berubah menjadi baik dan mereka berjanji untuk tidak berbuat kejahatan lagi!”ucap Pak Budi bak seorang pembaca berita.

Sementara istrinya tak kuasa menahan tawanya. “Aduuuh, Bapak ini ada-ada saja, dengerin ya Pak kalau menghayal itu jangan tinggi-tinggi!” sarannya masih dengan tawanya.
“Memangnya kenapa Bu?”

“Nih Pak, selama bumi masih berputar, maka selama itu pun orang-orang yang berniat jahat akan selalu ada, jangan mimpi deh!” ucap istrinya sedikit lebih tenang.

“Dengerin ya Bu, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jadi, apa yang saya ucapkan itu bisa saja terjadi bukan?” Pak Budi tidak mau kalah, dan sekarang dia merasa puas karena ucapannya lebih baik daripada istinya. Tapi… dengan ucapannya tadi malah seolah-olah dapat membius istrinya.

“Baik Pak, kalau itu yang bapak mau, saya mah mau minggat sekarang juga, soalnya udah bosen dimarah-marahin wae!” ancam istrinya sambil pergi meninggalkan Pak Budi.

“Eh, Bu…bu…tunggu! jangan pergi Bu….!” Pak Budi berusaha mempertahankan istrinya, tapi sayang dia sudah keburu pergi. Dan saat ini Pak budi tengah mengutuki dirinya sendiri yang egois dan tidak mau kalah dari istrinya hanya karena berita kriminal “Aduh…!”

Ya, sekarang jadi deh…”3 kali puasa, tiga kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang” …seh… (NB : dibaca dengan irama dangdut ok ;-))

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes