Archive For March 2015 March 2015 - Teh Deska
TERBARU

Nasib Sopir dan Kondekturnya

Hari ini Pak Budi datang lebih awal dari biasanya. Alasannya karena jadwal narik bus sekarang ada perubahan. Meski malas, dia tetap datang banting tulang demi menghidupi ‘istrinya’ yang sekarang entah ada di mana.

“Assalamu’alaikum Pak Budi! Kok lemes aaamat?” sapa Bangbang kondekturnya yang menyadari akan kelesuan rekannya.

“Wa’alaikum salam Bang, kamu bisa Bantu saya teu?” Pinta Pak Budi. Seperti biasa, kalau lagi punya masalah pasti sharingnya sama Bangbang. Maklum, dia kan yang suka bareng sama Pak Budi kalau sedang kerja, orang yang suaranya paling ‘cempreng’ sebab udah kehabisan suara dikarenakan tugasnya yang harus extra menguras suaranya dengan berteriak-teriak demi mendapatkan penumpang alias kondektur tea, sodara-sodara! Tapi pengorbanannya ngga sia-sia lho, soalnya berkat suaranya yang ‘merdu’, dia jadi dapat bonus dari atasannya. ‘Hmm lumayan!’

“Wah, ada masalah apa nih? Insya Allah saya akan berusaha membantu, tapi kali ini mah alakadarnya saja ya, soalnya saya juga punya masalah nih!” seperti biasa juga, dengan senang hati dia akan membantu meski terkadang sering teledor alias kurang maksimal gitu.

“Apa? Kamu juga punya masalah?” Tanya Pak Budi kaget. Tapi Bangbang hanya mengangguk saja. Terlihat dari wajahnya seolah-olah menyimpan sejuta masalah yang suangat beurat.

“Wah tumben kamu punya masalah, biasanyakan kamu ini satu-satunya orang yang hidupnya sering hepi-hepi aja!” “Ck, ck, ck ternyata…!” Pak Budi berdecak sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk yang seolah-olah menemukan sesuatu.

“Ternyata apa Pak?” Bangbang terlihat bingung dengan ucapan Pak Budi tadi.

“Ternyata…kondektur juga manusia!” jawab Pak Budi diikuti dengan tawa garingnya. “Ah Bapak ini bisa saja!” elak Bangbang.

“Oh ya, memang kamu teh punya masalah apa?” Tanya Pak Budi dengan sisa-sisa tawanya.

“Mmm, sebenarnya saya malu mengatakannya Pak,” akunya. “Ayolah, mungkin saya bisa bantu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu sering membantu saya!” tawar Pak Budi.
“Nuhun Pak, saya teh seb…sebenarnya… lagi punya masalah di rumah, isteri saya… pundung, dan sekarang dia kabur entah kemana, saya bingung Pak…!”

Seketika wajah Pak Budi jadi pias. Dia bingung harus bicara apa. Ingin dia katakan… “Bang, nasib kita…SAMA!”. Sementara Pak Budi meratapi nasibnya dan Bangbang menangis tersedu, seseorang datang mendekati mereka.
            “Punten, mau numpang nanya, yang namanya Pak Budiman, eh maksud saya Pak Budi, yang mana ya?” seorang tukang parkir dengan keringat yang membasahi seragamnya bertanya kepada mereka. Meski masih pagi, tapi bagi para tukang parkir-ers pagi adalah waktu yang sangat melelahkan.
            “Muhun, saya sendiri orangnya!”
            “Oh, ini Pak ada surat buat Bapak!” tukang parkir itu memberikan sepucuk surat tak beramplop, dan Pak Budi segera menerimanya lalu membukanya dengan hati yang penasaran. ‘Siapa ya orang yang nulis surat buat saya? Perasaan, dari dulu saya tidak pernah nerima surat dari siapapun kecuali Surat Tagihan Hutang’.
         
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak, ini isterimu yang saati ni sedang merana
Pak, daripada saya terus-menerus merana seperti ini, lebih baik……pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…!
            Pak saya sedih………Hiks!

NUNIK

            Seketika Pak Budi mengangkat kepalanya lalu celingak-celingukan ke sana ke mari seperti harimau mencari mangsanya.
            “Punten Pak, Bapak kenapa? Sedang latihan jadi pemain wayang ya!” Tanya sang tukang parkir polos, sebab dia merasa aneh melihat tingkah Pak Budi.
            “Enak saja! Saya sedang mencari orang yang nulis surat ini!” elak Pak Budi marah. “Ooh orang yang tadi?” “Heh, kamu tahu?” segera Pak Budi berbalik dan memperhatikan tukang parkir itu.
            “Mmm, yang orangnya agak gemuk itu ya Pak?” “Ya!”
            “Yang hidungnya agak pesek itu ya Pak?” “Ya!”
     “Terus yang kalau bicara suka nyeroscos itu ya Pak?” “Ya!”
            “Dan yang orangnya gal…,” “Berhenti!!!” tiba-tiba tukang parkir itu terlonjak kaget.
            “Kamu mau ngasih tahu saya atau menjelek-jelekan isteri saya heh? Sekarang cepat kasih tahu saya ada di mana dia sebelum dia kabur lagi!” ucap Pak Budi nyeroscos. “Huh dasar, suami isteri sama saja bawelnya!” protesnya pelan, tapi sedikit tedengar oleh Pak Budi. “Apa kamu bilang?”
            “Ng, ngga Pak, maksud saya, tadi isteri bapak sudah pergi naik bus jurusan Sukabumi!” jelasnya gemetar dan langsung melarikan diri sambil marah-marah. “Huh dasar, ngga tahu terima kasih, udah susah-susah nyari orangnya, dimarahin pula, nasiiib nasiiib!”
            “Aduuuh terlambat! Dia balik sama orang tuanya!” Pak Budi menyesal, sementara orang yang sejak tadi ada di sampingnya terlihat lebih ceria.
            “Hore… jadi, kita senasib dong Pak! Sama-sama ditinggal!!!” teriaknya girang. “Hore…..!!!”
            “GLEK’!”

* * *

Gara-Gara Berita Kriminal

Pagi hari yang datang bersama embun, pasti akan terasa menghangatkan jika dihadapi dengan secaangkir kopi panas, dan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan siaran berita di televisi.

Tapi, hal itu tidak dapat mengubah suasana hati seorang lelaki separuh baya yang sedang duduk bersila di depan sebuah pesawat televisi berukuran 14 inc yang gambarnya masih hitam-putih itu.
Berkali-kali ia mengutuki berita-berita di televisi.

“Ini sebenarnya zaman macam apa sih? Kok beritanya ngga ada yang bagus-bagus!” teriak Pak Budi –begitu orang memanggilnya, walaupun sebenarnya dia memiliki nama yang lebih baik, yaitu Setiawan tetapi bermula dari pekerjaan barunya menjadi seorang sopir bus Budiman, dan saat itu orang memanggilnya Pak Budi.

“Ada apa sih Pak? Pagi-pagi kok teriak-teriak sendiri!” Tanya istrinya bingung melihat tingkah Pak Budi.

“Ini loh Bu, kenapa ya beritanya kriminal melulu? Tiap dioperin, masalah kriminal, dioperin lagi, kriminal lagi, jadi jenuh saya!” tutur Pak Budi menggebu-gebu.

“Ya terserah yang bikinnya atuh!” elak istrinya.
“Euleuh, ibu ini gimana sih, maksud saya….”, ucapan pak Budi menggantung, sebab keburu dipotong oleh istrinya yang malah terdengar seperti ceramah.

“Sudahlah Pak, kita syukuri saja apa yang ada, masalah acara berita, itu mah gimana yang bikinnya saja, lagipula percuma Pak, ngomel-ngomel di depan TV, moal matak kedengeran sama yang di dalem TV, yang ada malah nanti saya kabur soalnya Bapak marah-marah wae!” jelasnya, sementara

Pak Budi hanya geleng-geleng kepala.
“Begini Bu, maksud saya kenapa tidak ada acara berita yang bisa bikin hati saya tenang, aman, dan damai!” jelas Pak Budi menenangkan. Sebab dia tahu, kalau istrinya sudah ngancam-ngancam begitu, bisa gawat nanti! Bisa-bisa dia kabur dan ngga pulang-pulang selama ‘3 kali puasa, 3 kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang’… (lho-lho-lho kok malah nyanyi dangdut sih ?!)

“Ooh, jadi Bapak teh maunya apa atuh ?” Tanya istrinya sedikit lebih tenang.
“Seandainya saja, setiap kali saya memindahkan acara televisi, saya tidak melihat berita kriminal lagi, dan pembaca berita berkata’ “Selamat pagi pemirsa, mohon maaf hari ini tidak ada berita kriminal karena para pelaku kejahatan sudah berubah menjadi baik dan mereka berjanji untuk tidak berbuat kejahatan lagi!”ucap Pak Budi bak seorang pembaca berita.

Sementara istrinya tak kuasa menahan tawanya. “Aduuuh, Bapak ini ada-ada saja, dengerin ya Pak kalau menghayal itu jangan tinggi-tinggi!” sarannya masih dengan tawanya.
“Memangnya kenapa Bu?”

“Nih Pak, selama bumi masih berputar, maka selama itu pun orang-orang yang berniat jahat akan selalu ada, jangan mimpi deh!” ucap istrinya sedikit lebih tenang.

“Dengerin ya Bu, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jadi, apa yang saya ucapkan itu bisa saja terjadi bukan?” Pak Budi tidak mau kalah, dan sekarang dia merasa puas karena ucapannya lebih baik daripada istinya. Tapi… dengan ucapannya tadi malah seolah-olah dapat membius istrinya.

“Baik Pak, kalau itu yang bapak mau, saya mah mau minggat sekarang juga, soalnya udah bosen dimarah-marahin wae!” ancam istrinya sambil pergi meninggalkan Pak Budi.

“Eh, Bu…bu…tunggu! jangan pergi Bu….!” Pak Budi berusaha mempertahankan istrinya, tapi sayang dia sudah keburu pergi. Dan saat ini Pak budi tengah mengutuki dirinya sendiri yang egois dan tidak mau kalah dari istrinya hanya karena berita kriminal “Aduh…!”

Ya, sekarang jadi deh…”3 kali puasa, tiga kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang” …seh… (NB : dibaca dengan irama dangdut ok ;-))
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes