Seindah Parasmu di Balik Keteduhan Jilbab - Teh Deska Seindah Parasmu di Balik Keteduhan Jilbab - Teh Deska
TERBARU

Seindah Parasmu di Balik Keteduhan Jilbab

Bismillahirrahmaanirrahiim
Kisah ini kuawali dengan sebuah kenangan masa lalu yang membuat air mata ini meleleh karenanya.
Aku lahir dari keluarga sederhana degan pengetahuan agama yang sederhana pula. Layaknya keluarga lain yang menginginkan hidup serba kecukupan, maka berusaha mencapainya adalah sebuah keharusan.

Namun, semua terasa hampa jika hanya didorong oleh nafsu semata. Kemewahan yang melimpah pun akan terasa tak bermakna sama sekali. Tinggal di rumah yang besar pun terasa di gubuk yang dikelilingi ular-ular berbisa yang siap menerkam kapan saja.
Sementara aku dan keluargaku tetap hidup dalam kesederhanaan. Aku dibesarkan tanpa tangan kokoh ayah karena harus bekerja di luar kota. Sehingga mungkin aku jadi sedikit manja, terlebih pada ibu.

Suatu hari, ketika di SD, anak-anak seusiaku asyik mengaji ke madrasah, sementara aku lebih senang bermain di rumah atau di jalanan. Bahkan membaca iqra pun aku tak bisa. Menyadari itu, ternyata ibu tak tinggal diam, beliau memaksaku untuk mengaji bersama teman-teman lain. Meski dengan terpaksa karena dipaksa, akhirnya aku pun ikut mengaji, belajar tentang adab-adab berwudhu, solat, sampai adab-adab anak yang shaleh.

Semakin lama, aku pun semakin menikmati aktifitas mengajiku, meski aku tak punya koleksi kerudung yang banyak karena saat itu aku belum berkerudung. Namun, di sekolah agama itu, aku menjadi sorotan teman-teman, karena di sana aku menjadi satu-satunya santri yang bersekolah di sekolah negri, penampilanku pun lebih rapi dari mereka. Meski aku tergolong murid baru di sana, tapi prestasi mengajiku ternyata bisa lebih baik dari teman-teman.

Tapi, satu yang menjadi kekuranganku dari mereka. Aku belum berjilbab! Pernah suatu hari, kakekku menyindir. “Neng pake kerudung kalo mau sekolah agama aja ya? Pulang ke rumah, kerudungnya lepas…”

Aku kesal! Tapi tak berani marah, sebab kenyataannya aku memang belum berjilbab. Memang ada sedikit perasaan malu ketika bertemu dengan teman-teman ngaji bahkan guru ngaji ketika berpapasan dengan mereka tanpa mengenakan jilbab.

Sempat aku meminta ingin memakai kerudung ke sekolah, tapi ibu tidak mengizinkan. Sampai aku pernah dihukum oleh guru ngaji karena ngga pakai kerudung.

Beberapa tahun selanjutnya ketika aku masuk SMP, akhirnya ibu mengizinkan aku pakai kerudung ke sekolah. Meski kerudungku masih kecil, pakaian pun belum rapi. Anehnya, setiap aku berangkat sekolah, aku memakai kerudung, tapi ketika pulang sekolah, kerudung itu malah kulepas dan  bermain keluar rumah tanpa kerudung seperti biasa.

Pernah ada cerita, ketika pulang sekolah masih memakai seragam, perutku sangat lapar, akhirnya aku memesan mie ayam di depan rumah. Buru-buru aku lari ke rumah untuk ganti baju dan membawa uang. Tapi, ketika aku datang kembali untuk membawa mie ayam pesananku, tukang mie ayam itu malah kebingungan.

“Mas, mie ayam pesananku sudah beres?” tanyaku tergesa, saking udah laparnya.
Tukang Mie Ayam yang ditanya malah bengong. Dengan nada heran, ia pun menjawab. “Lho, Neng kan belum pesen, yang tadi pesen mie ayam tuh Neng yang pake kerudung!”

“Hah?!” aku kaget, ternyata tukang mie ayam itu tak mengenaliku. Aku lupa, tadi aku memesan ketika masih pakai kerudung, dan sekarang aku tidak memakainya. Setelah sadar, betapa aku malu sendiri dengan tingkahku. Aku bertanya, untuk apa aku berkerudung kalau tingkah lakuku belum menunjukkan tingkah laku seorang wanita muslimah yang taat berkerudung?

Meski banyak pertanyaan di benakku, tapi kebiasaanku melepas kerudung masih saja kulakukan, bahkan aku pernah berani melepas kerudung ke sekolah.

Ketika itu, ada ujian praktik drama Bahasa Indonesia di kelas, aku berperan sebagai seorang anak yang ketika besarnya menjadi dokter. Saat itu, semua teman sekelompokku tidak memakai kerudung karena alasan tidak sesuai dengan kostum yang dipakai. Akhirnya, dengan alasan yang sama, aku pun melepas kerudung dan memakai kostum layaknya seorang dokter. Dengan percaya dirinya aku bermain peran tanpa memedulikan kerudungku. Waktu itu, tidak ada perasaan malu dalam diriku karena aku masih kelas 1 SMP.

‘Toh waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) pun aku tidak pakai kerudung karena masih memakai seragam SD, bahkan rambutku yang panjang itu aku ikat dengan pita warna-warni yang banyak sebagai syarat bagi peserta yang tidak berkerudung. Aku juga heran pada teman sebangkuku yang pada hari pertama dikumpulkan, dia tidak memakai kerudung, tapi ketika esoknya mulai MOS, dia berubah memakai kerudung.

“Kok sekarang kamu berubah pake kerudung sih?” tanyaku polos.
“Biar ga usah ribet pake pita di rambut,” jawabnya simpel. Mendengar jawabannya itu, aku pun terdiam karena menyadari bahwa aku memang merasakan ribetnya harus memakai pita yang banyak di rambut. Bahkan aku juga merepotkan ibu waktu itu karena tidak bisa memakai pita sendiri.

Hm, mungkin inilah alasan ibu dulu belum mengizinkan aku berkerudung ke sekolah karena belum siap untuk sempurna memakainya. Namun, kurasakan kini, ternyata justru hidayah itu datang ketika kita memiliki keinginan kuat dan menjalani proses perubahan diri dengan hati tulus.

Tidak mudah memang menjalaninya, namun jika kita yakin, Allah pun akan ikut membantu menunjukkan jalan yang terbaik ketika kita tersesat di tengah perjalanan menuju Muara-Nya. Syukurku tiada henti, karena ketika keinginan untuk berubah sudah tertanam dalam hati, Allah pun menurunkan orang-orang yang mampu mendukung ke arah yang lebih baik.

Aku ingat dengan salah satu obat hati, yaitu berkumpullah dengan orang soleh. Karena ketika kita bergaul dengan orang yang baik, minimalnya kita pun akan terbawa baik. Dan itu pula yang kurasakan. Sejak masuk SMP, aku memiliki banyak teman yang berbeda-beda karakter. Namun dari perbedaan itu, aku belajar tentang sesuatu hal hingga aku mendapat teman dekat yang berkarakter baik. Tak bermaksud memilih teman, hanya saja aku merasa perlu untuk berteman dengan orang-orang yang mampu membawaku ke arah yang baik.

Aku pun mulai menjalani aktifitas di sekolah tidak hanya sebatas bersekolah, namun aku pun mengikuti kegiatan organisasi. Salah satu yang kuikuti adalah organisasi Palang Merah Remaja, OSIS, dan Rohis. Dari ketiga aktivitas yang kuikuti, yang paling berbeda adalah Rohis, organisasi yang bergerak di bidang kerohanian. Anehnya, meski kurasakan lebih sulit dan banyak rintangan dalam menjalankan roda organisasinya, tapi aku merasa lebih nyaman berada di sana. Dan mulailah aku melakukan pencarian makna diri.

Kucoba untuk istiqomah  memakai jilbab ini, tapi rintangan itu terlalu banyak. Godaan pun tak kalah saing dengan tekadku. Kata guru ngajiku, inilah ujian yang merupakan tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. “Ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Ia berikan ujian. Jika hamba-Nya itu lulus ujian dengan baik, maka dia akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya.”

Alhamdulillah, dengan segala upaya aku berhasil mempertahankan jilbabku di SMP. Dan ketika naik ke jenjeng sekolah yang lebih tinggi, aku kembali memperbaiki tekad dan memperbaharui niat.

“Bu, di SMA nanti, teteh pengen pakai kerudungnya ngga cuma buat ke sekolah aja, tapi dipakai sehari-hari di luar sekolah juga ya?” tanyaku pada ibu walau dengan malu-malu, karena sifat diri yang belum sesuai dengan jilbab yang dipakai.

“Iya, gimana teteh saja, yang penting buat ibu, anak-anak ibu bisa jadi anak-anak yang shaleh dan shalehah,” jawab ibu sambil membelai rambutku.

“Asyiiik,,, makasih ya Bu… Tapi….” Ucapanku terpotong.
“Tapi kenapa? Masih ragu…?” Tanya ibu bingung.
Dengan sedikit manja, kupeluk ibu, dan kubisikkan sesuatu di telinganya.

“Tapi, aku pengen dibeliin koleksi jilbab sama Ibu yaaa…” pintaku agak memaksa. Mendengar permintaan itu, ibu tersenyum sambil mencubit lenganku pelan.

“Hm… anak ibu ini… kalau ada keinginan, usaha dong… pengennya dibeliin sama Ibu melulu…” ucap ibu.

“Yah,,kan selera style ibu lebih bagus dari aku… jadi pilihin kerudung yang bagus-bagus ya bu…”
Alhasil, esoknya aku jalan-jalan bersama ibu. Berbelanja peralatan sekolah dan kerudung yang kuinginkan.


            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes