Sakitmu Sakitku - Teh Deska Sakitmu Sakitku - Teh Deska
TERBARU

Sakitmu Sakitku

Aku masih terdiam menatap sisa hujan siang tadi. Mencoba menghitung rintiknya, mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Suasana selepas hujan di rumah sakit ini memang masih sedikit sepi, menambah kebekuan tembok-tembok yang telah menjadi saksi atas kuasa Sang Pencipta pada makhluk-Nya sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Katak yang asyik bermain di kubangan pun seolah sadar aku menatap rintik yang jatuh di pundaknya. Segera ia meloncat dari kubangan yang satu menuju kubangan lainnya, mencoba bersembunyi dari tatapanku. Kupikir, mungkin seperti katak itulah kehidupan manusia. Meloncat dari masalah yang satu menuju masalah yang lainnya. Ada yang mampu membebaskan diri, ada yang terjebak, bahkan ada pula yang hanya bisa melarikan diri hingga masalah-masalah itu pun lari mengejarnya.
Kupejamkan mata sekejap, mencoba membayangkan diriku sendiri. Apakah aku sama dengan katak itu? Apakah aku layak disebut hamba-Mu yang selalu meminta pertolongan pada-Mu? Ataukah justru lari dan semakin jauh dari-Mu, Yaa Rabb?
“Shafa…!”
Aku segera keluar dari lamunan tentang arti diri. Mendengar namaku dipanggil begitu kencang, lantas aku segera bangkit dan menemui kakak yang berlari mendekat.
“Ada apa Kak? Teriaknya kencang sekali, kasihan orang-orang yang sedang istirahat nanti terganggu,” ucapku pada Kakak yang terlihat begitu panik.
“Sha, ibu Sha..’ ucapnya terbata.
“Ibu? Ada apa dengan ibu? Aku ingin bertemu dengannya,” ucapku sambil bersiap lari menuju kamarnya. Entah mengapa, ketika aku mendengar nama ibu disebut selalu membuat hati tergetar, air mata seolah ingin tumpah dari peraduannya. Mungkin ikatan emosional itu terlalu kuat.
Saat aku akan melangkah menuju kamar ibu, kakak langsung mencegahku dan menarik tanganku kuat-kuat. “Tunggu dulu Sha, ibu sedang mendapat pemeriksaan dari dokter dan kita tak bisa masuk kesana, kondisi ibu sangat kritis” katanya.
“Tidak, aku tidak mau diam saja disini, aku ingin bertemu ibu, aku ingin melihat keadaan ibu dan memastikannya bai-baik saja,” aku tetap bersikeras. Mencoba melepaskan pegangan kakak.
“Kumohon Kak…” ucapku akhirnya setelah pasrah tak kuasa melepaskan pegangannya yang sangat kuat itu. Kakak hanya menggelengkan kepala. Hingga akhirnya aku tak bisa membendung air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar. Perlahan, kakak pun mulai melepaskan pegangannya dan membiarkanku menangis sambil berlutut di depan hujan yang kembali turun semakin deras.
‘Ya Rabb, aku tahu Engkaulah Sang Pemilik Jiwa, Engkau Yang Maha Kuasa atas setiap diri, karena itu kumohon berikanlah setetes embun dari kerajaan lautan-Mu yang begitu luas… Karuniakanlah kami kesabaran untuk mrnghadapi ujian ini… Aku yakin Engkau Maha Penyayang… Kabulkan Yaa Rahmaan…’ do’aku dalam tangis.

            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes