Rumah Sehat - Teh Deska Rumah Sehat - Teh Deska
TERBARU

Rumah Sehat

Aku pernah bergurau dengan teman-teman tentang sebuah tempat yang berisi orang-orang sakit.
“Kenapa harus rumah sakit? Kenapa tidak rumah sehat?” Tanya Maya.
“Ya, kan memang isinya orang-orang sakit, yang sehat punya rumah sendiri, bukan di rumah sakit!” jawab Rinai sekenanya.

Teman-temanku ini selalu saja mengambil tema pembicaraan yang unik menurutku. Jika sedang santai, kami memang sering berkumpul sekedar untuk ngobrol-ngobrol atau melepas penat dari tugas harian. Dan kini, entah bagaimana awal pembicaraannya, kami mulai asyik berdiskusi tentang rumah sakit.

“Eh, kalau dipikir-pikir, benar juga lho pendapat Maya, sayang sekali rumah sebesar dan semegah itu kalau hanya ditempati oleh orang-orang sakit semua,” ucapku ikut nimbrung. Sementara yang lain hanya mengangguk, mengiyakan pendapatku.
“Betul Sha, gimana orang-orang mau sehat, kalau harus tinggal di rumah sakit?” Tanya Maya kembali.

“Hm, siapa sih yang pertama kali menamai rumah sakit? Kalau saja dulu aku yang menciptakan tempat perawatan orang-orang sakit itu, pasti kan kuberi nama RUMAH SEHAT, agar orang-orang yang sakit bisa sehat kembali setelah dirawat di rumah sehatku!” aku berseru penuh semangat.

“Iya juga ya, kalau rumah sakit, sugestinya sudah jelek, seharusnya mereka yang sakit diberi sugesti yang baik agar alam bawah sadar mereka membantu penyembuhan lebih cepat,” ucap Rinai menanggapi.

“Kalau begitu, yuk kita buat rumah sehat!” seru kami hampir berbarengan. Walau mungkin hanya mimpi, tapi dalam benakku ada keinginan untuk mewujudkannya.
* * *

Dulu, aku sangat tabu dengan yang namanya rumah sakit. Bahkan memasukinya saja aku enggan. Pernah ketika aku masih kecil, ibu mengajakku menjenguk saudara yang sakit disana, tapi ketika aku akan memasuki wilayah tempat saudaraku itu dirawat, seorang perawat menahanku agar tidak ikut masuk kesana.

“Maaf Bu, anak di bawah usia 6 tahun tidak boleh berada disini, dikhawatirkan mereka bisa tertular penyakit, karena seusia mereka belum memiliki kekebalan tubuh yang kuat seperti orang dewasa,” jelas salah seorang perawat kepada ibuku.

Alhasil ketika itu, aku hanya menunggu di luar saja. Sampai kini, ada rasa ketakutan kalau harus memasuki rumah sakit. “Aku ngga mau datang ke rumah sakit lagi! Nanti bisa ikutan sakit kayak orang-orang itu!” ucapku pada ibu saat pulang dari rumah sakit.

Sedikit ngeri memang ketika melihat orang-orang sakit dibawa memakai ranjang atau kursi yang berroda. Ada perasaan kasihan melihat mereka yang tak berdaya disana. ‘Semoga aku tak datang lagi ke tempat yang mengerikan ini!’ batinku saat itu.

Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Aku ditakdirkan untuk akrab dengan rumah sakit. Bukan karena aku kuliah di institut kesehatan seperti adikku, tapi karena kondisi yang memaksa. Ya, inilah rencana-Nya.

Sejak ibu sakit, memang ibu tak pernah rutin pergi memeriksakan kesehatannya ke dokter. Aku pun mengira sakit ibu biasa saja, hingga kupikir dirawat di rumah pun bisa. Namun, ternyata semua dugaanku salah. Kondisi ibu semakin lama semakin menurun. Aku melihat perubahan itu ketika kami pindah rumah, karena ketika kami masih menempati rumah yang dulu, ibu tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang kesehatannya bahkan beliau masih bisa berkumpul bersama tetangga di sekitar rumah.

Aku sadar, rumah yang kami tempati kini memang berbeda jauh dengan rumah yang dulu. Baik dari kondisi rumahnya, maupun keadaan lingkungan sekitar yang sedikit lebih tertutup. Sekarang kami tinggal di daerah dekat perkotaan, sehingga mungkin orang-orang yang tinggal di sini memiliki kesibukkan masing-masing. Berbeda dengan lingkungan di rumahku dulu, para tetangga di sana begitu baik dan mengutamakan sifat kekeluargaan.

Kupikir, mungkin juga karena kesibukanku di kampus, sehingga tidak bisa terus menemani ibu. Yang kurasakan, ibu tak seceria dulu. Entah ada hal apa yang mengganjal batinnya. Namun, sejak itu kondisi ibu semakin menurun. Yang kutahu ibu memiliki penyakit hipertensi atau darah tinggi dan sakit maag sehingga untuk beberapa waktu lama, ibu tak bisa makan dengan baik. Setiap makanan yang ia makan, selalu dimuntahkannya kembali. Seolah lambung menolak dan berdemo di dalam perut ibu untuk tutup mulut dan aksi mogok makan. Bahkan, ketika Ramadhan tiba, ibu yang sedang sakit memutuskan untuk tetap berpuasa.

“Berpuasa ataupun tidak, sama saja, toh ibu tak bisa makan apa-apa,” kata ibu saat kupinta untuk menjaga kesehatan.

“Tapi bu, justru ibu harus banyak makan, minum obat,” ucapku mencoba membujuknya. Namun ibu masih tetap dengan pendiriannya.

“Nak, percuma ibu makan, nanti juga muntah lagi, jadi lebih baik tetap puasa, mudah-mudahan ada kenikmatan makan saat berbuka nanti,” jawabnya lagi.

Begitulah ibu, selalu berusaha menjalankan ibadahnya walau dalam kondisi sakit sekalipun.
Tetapi, aku selalu mengkhawatirkanmu bu.

Setiap malam, sejak kau mulai terlelap, aku selalu ingin menatapmu. Memandang wajah teduhmu. Wajah yang mulai berkerut, terlukis bukti ketabahanmu di sana. Terhias semua perjungan untuk anak-anakmu tercinta. Rabb, sayangilah ibuku sebagaimana ia menyayangiku sejak kecil… sejak dalam kandungan dan buaian…

Di penguhujung bulan suci ini, ternyata kekhawatiranku terjawab sudah. Sakit ibu bertambah parah! Hari kemenangan yang seharusnya menjadi hari bahagia, kini berselimut duka. Sehari sebelum lebaran, kami memutuskan untuk pergi ke kampung halaman. Agar bisa menyaksikan suasana Idul Fitri yang mendamaikan di tempat kelahiran. Ibu yang menginginkannya saat itu.

Dan ternyata, Idul Fitri itu menjadi Idul Fitri terakhir baginya…
Keluarga, kerabat, saudara, mulai dari yang terdekat hingga yang terjauh datang ke rumah di kampung halamanku. Semua berkunjung, tidak hanya dalam rangka bersilaturahim saja usai lebaran, tapi untuk menjenguk ibu yang sedang sakit.

Tapi sayangnya, keluarga dari ayah tak satupun kunjung datang…
Beberapa hari usai Idul Fitri, kondisi ibu semakin lemah. Walau jasadnya terlihat baik-baik saja, namun tidak dengan fikirannya. Tidak dengan batinnya.

Sebenarnya, usai lebaran, aku merencanakan berangkat kembali ke kota karena ada acara silaturahim di sekolah SMA-ku. Tapi, ketika aku mendapat kabar bahwa sakit ibu semakin parah, segera kuputuskan untuk kembali. “Neng, ibu manggil-manggil nama Eneng sama kakak dan adik-adik Eneng semuanya,” kabar yang kudapat dari kampung. Tanpa pikir panjang, aku beserta kakak dan adik yang memang sedang berada di kota segera kembali. Tadinya kami memang pulang karena hanya punya waktu liburan sebentar usai lebaran.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdoa untuk kesembuhan ibu. Ada perasaan tak enak di hatiku. Ibu… bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang tak bisa menemanimu… kuharap kau baik-baik saja. Batinku.

Ketika sampai, kulihat rumah sudah penuh dipadati banyak orang. Ada apa ini? Dimana ibuku? Dari ruang depan, aku merasakan keharuan yang mendalam dari saudara perempuan ibu yang menangis dan memelukku erat. Aku tak mengerti. Yang kupikirkan saat itu hanya satu. Ibu! Seketika kulepaskan pelukannya, aku segera berlari menuju ruang tengah, aku melihat ibuku yang sedang tertidur lemah.

“Bu, ini aku… Bu…” ucapku berbisik di telinganya. Matanya yang tadi sedang terpejam mulai menatapku. Tangannya mengusap rambutku. Tapi mulutnya tak berkata sedikitpun. Kakak dan adik-adikku pun ikut mendekat. “Bu… ini kamu, anak-anakmu…” setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Segera kuhapus dengan tanganku.

Ibu masih menatap kami satu-persatu. Mulai terlihat senyum di bibirnya. Dan setetes air mata pun akhirnya jatuh dari mata beningnya. Ibu menangis… tanpa kata-kata. Membuatku semakin sedih. Kenapa bu? Ada apa bu? tanyaku dalam batin, mencoba berbicara dengan bahasa hati. Namun, mata yang semakin sayu itu semakin deras menguraikan air mata. Menguraikan semua gejolak dalam jiwa.

“Ibu…” tak kuasa menahannya, akhirnya kupeluk tubuh lemah itu. Aku pun menangis dalam pelukannya.

Sesak rasanya dada ini. Menyaksikan kondisi ibu yang semakin parah, aku tak sanggup.
Beberapa keluarga yang berkunjung menyarankan agar ibu segera diobati oleh ‘orang pintar’. “Ini bukan sakit biasa! Sepertinya ada angin jahat yang menguasai ibumu!” ucapnya.

Aku hanya mampu mengerutkan kening. Apa maksudnya? Ibuku sakit apa? Entahlah aku tak mengerti. Yang kutahu, ibu sepanjang hari sejak tadi aku datang, hanya bisa mengigau. Berbicara tak tentu arah pembicaraan. Matanya tajam menatap sekeliling. Sungguh, saat itu aku seolah tak mengenali ibuku.

Beberapa kali aku mencoba menenangkannya. Beberapa kali pula aku menyaksikan air matanya jatuh. Aku tak sanggup.

Akhirnya ‘orang pintar’ yang dimaksud saudaraku itu datang. Penampilannya se’aneh’ perangainya. Apa yang akan dia lakukan pada ibuku? Aku tak mengerti. Orang itu membawa sebuah benda seperti keris. Kecil memang, tapi aku ngeri melihatnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Usai ‘mengobati’ ibu, benda itu kembali dimasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.

Seperti yang kuduga di awal. Tak ada perubahan apa pun! Kembali saudaraku memanggil ‘orang pintar’, tapi kali ini berbeda. Ia memakai sorban dan baju serba putin namun tak membawa apa apa-apa. Ia hanya menggerak-gerakkan tangannya. Aku pun tak mengeri maksudnya. Dan seperti sebelumnya, tak ada hasil apapun. Nihil!

Untuk kesekian kalinya, saudaraku memanggil ‘orang pintar’ lagi. Kali ini, ia memberikan beberapa ‘syarat’ yang harus dipenuhi oleh saudaraku. Semakin mengada-ada! Sungguh, aku tak mengerti jalan pikirannya. Aku merasa, kultur di sini terlalu kuat.

Lagi-lagi tak pernah ada hasil! Sampai di suatu malam, ketika itu aku tidur di samping ibu bersama saudara perempuannya. Sepanjang malam, sungguh aku dicekam rasa cemas. Keadaan ibu benar-benar memburuk. Nafasnya tersengal-sengal, mulutnya terus menggeram. Badannya kejang-kejang.

Kekhawatiran menyelimuti semua penghuni rumah. Segera ibu dipegang dan ditenangkan oleh saudara-saudaraku. Dibisikkan lafadz-lafadz Allah ke telinganya. Sungguh aku tak sanggup menyaksikan itu semua. Dengan berurai air mata, aku hanya mampu berdoa dalam hati.

“Rabb, kumohon jangan sekarang… jangan sekarang Kau ambil ibuku… aku belum siap jika harus berpisah dengannya saat ini… Rabb,,, izinkan aku berbakti padanya untuk terakhir kali… Ya Rahmaan….” Doa dalam tangisku. Sebuah pengharapan yang sungguh-sungguh kuminta pada-Nya. Aku benar-benar memohon sepenuh hati ketika itu…

Allah menunjukkan kuasa-Nya. Allah mendengar doaku. Setelah beberapa lama, akhirnya ibu kembali tenang. Takbir yang tadi menggema begitu keras dari semua yang ada di sekitarku ketika itu terhenti dan berubah menjadi tahmid penuh kesyukuran. Sementara ibuku, menyisakkan sebening embun di sudut matanya. Setelah beliau kembali tenang, saudaraku memeberinya air minum yang telah diberi doa.

Sementara hatiku masih tak bisa berdamai. Ya Rabb, kembalikan ibuku seperti dulu, ibu yang sehat dengan senyumnya yang selalu kurindukan. Aku ingin ibuku, Rabb…
* * *

Esoknya, aku beserta kakakku sepakat memutuskan untuk segera membawa ibu kembali ke kota, memeriksakannya ke dokter. Keputusan kami ketika itu sudah bulat. Walau ada yang mencegah untuk menunggu beberapa hari, menunggu hasil yang dijanjikan ‘orang pintar’ itu. Aku tak percaya! Takkan pernah percaya sedikit pun! Dan akan kubuktikan bahwa ada Yang Maha memberikan kepastian. Kuharap kepastian tentang sebuah kehidupan dari Sang Maha Hidup.

Ibu diantar menggunakan mobil ambulans satu-satunya milik puskesmas terdekat di kampungku. Sepanjang perjalanan, tak henti aku menatap wajah ibu. Beberapa kali pula ibu muntah, kondisinya terlalu lemah. Sirine yang berbunyi dari ambulans ini pun benar-bear memekakkan telinga. Tapi apalah daya, aku tahu ibu harus segera dibawa ke dokter dan segera mendapat perawatan.
Sopir ambulans ini sungguh lihai memainkan stir mobilnya. Beberapa mobil terlalui, bahkan lampu merah pun dilewati. Berharap tak terlambat untuk mengobati.

Setibanya di klinik dokter, kami masih harus menunggu antrian. Wajah ibu mulai tenang sekarang. Ibu sudah mulai bisa tersenyum lagi. Menatapku lagi dengan tatapan cintanya. Aku bahagia melihat senyumnya, walau ada getir di hatiku. Ketika nama ibu dipanggil, kakak menemaninya masuk ke ruangan. Kakak memapahnya memasukki ruang dokter. Sementara aku menunggu hasil di luar, dengan cemas. Saudara yang mengantar menawariku makan. Aku baru sadar, saking khawatirnya dengan kondisi ibu, aku lupa belum mengisi perutku dari pagi.

Setelah beberapa lama pemeriksaan di dalam, akhirnya ibu keluar. Wajahnya terlihat sangat pucat.
“Bagaimana, kak?” tanyaku segera.

“Ibu harus dibawa ke rumah sakit dan dicek ke laboratorium,” jawab kakakku singkat.
Dengan mengikuti saran dokter, sambil membawa surat rujukannya, ibu dibawa ke rumah sakit. Ya, rumah sakit, tempat yang paling aku tidak suka. Namun, inilah rencana Allah. Aku harus mulai bersahabat dengan rumah sakit!

Sampai di sana, ternyata kesan pertama yang tidak menyenangkan untukku. Di ruang Instalasi Gawat Darurat yang menurutku penat inilah, ibu harus menunggu beberapa lama. Kata perawatnya, belum ada kamar yang kosong untuk ibu karena ibu harus rawat inap.

Kami harus menerimanya. Karena keuangan kami tak sekelas para hartawan itu. Dengan lelah yang mulai hinggap, aku menungguinya di ruang IGD yang hanya dibatasi oleh tirai ini. Di sekeliling, aku menyaksikan orang-orang yang tak berdaya lainnya. Ternyata mereka pun sama. Berusaha sabar dengan semua yang terjadi. Aku dan beberapa penunggu pasien yang lainnya merasakan hal yang sama. Lelah. Tapi, demi menjaga ibu, lelah itu tak boleh melelahkanku.

“Neng, pulang saja, biar uwa yang menjaga ibu di sini,” ucap saudaraku yang seharian mengurus keperluan administrasi ibu.

“Aku ingin di sini, Wa… ingin bersama ibu…” jawabku sambil kembali menatap wajah ibu yang tengah tertidur.

“Ya sudah, uwa keluar dulu ya, kalau ada apa-apa, panggil uwa saja. Uwa tidak akan jauh-jauh,” ucapnya meninggalkan aku dan ibu berdua di ruangan itu. Dengan tak hentinya lisan ini melantunkan ayat-ayat cinta-Nya, aku mencoba untuk menenangkan hati ibu. Membawanya mengalun di alam bawah sadar, membisikkan serangkaian kata-kata cinta dari mushaf Al-Quran yang selalu kubawa kemana pun aku pergi.

Lantunan ayat suci Al-Quranku terhenti ketika tak lama uwa kembali memberitahu bahwa ada teman-temanku yang datang menjenguk.
“Neng, di luar ada teman-teman Eneng kayaknya. Tapi kata penjaga di depan tidak boleh masuk karena pasien di sini perlu istirahat,” beritahu Uwa dengan sedikit berbisik, takut mengganggu istirahat ibu.

“Iya Wa, aku ke sana sekarang, ganti jaga ibu ya,” ucapku sambil menyimpan mushaf Quran dan lekas pergi ke luar. Sejak tadi aku memang tidak mengaktifkan ponselku, aku sedang menjaga ibu, takut pesan dari orang lain tak bisa terjawab. Mungkin, teman-teman tahu keberadaan ibu yang sakit dari adikku yang sudah mulai masuk kuliah.

“Assalamualaikum,” salamku kepada teman-teman yang berdiri di depan pintu. Dari jauh aku sudah mengenali mereka dari jilbabnya. Jilbab indah yang menjadi identitas muslimah.

“Waalaikumsalam Warohmatulloh,” jawab mereka serentak sambil kemudian memelukku erat. Erat sekali. Bergantian mereka memelukku. Membisikkan dukanya dan menyampaikan doanya.

“Aamiin… Aamiin Yaa Mujib…” ucapku mengaminkan setiap doa tulus dari mereka. Ada energi yang berbeda ketika bertemu dengan kawan-kawan seperjuanganku. Meski kami hanya sebatas teman di kampus, tapi indahnya persaudaraan itu tak pernah terbatas. Mereka yang selalu ada di kala hati sedang dirundung duka. Ataupun kala hati menuai bahagia. Mereka tempat berbagi. Selalu ada rindu dikala berpisah. Selalu ada kasih sayang ketika berjumpa. Seperti saat ini.

“Shafa, yang sabar ya, kami semua mendoakanmu dan berharap kesembuhan ibu,” ucap salah satu sahabatku.

“Terima kasih, kehadiran kalian di sini menjelaskan bahwa aku tak sendiri,” ucapku sambil menatap wajah mereka penuh kasih. Inilah ukhuwah. Inilah persaudaraan. Persaudaraan yang bukan terjalin sebatas karena ikatan darah, tetapi karena iman di hati. Tak lama kami berbincang di depan. Aku sempat meminta maaf karena tidak bisa mempertemukan mereka dengan ibu.

“Tak apa Sha, bisa melihatmu saja, kami sudah senang. Salam buat ibu ya, semoga lekas sembuh,” ucap mereka sambil izin pamit. Aku tak sempat mengantar mereka sampai gerbang rumah sakit, karena khawatir ibu sedang menungguku di dalam. Senyuman mereka mengantarkan semangat untukku. Untuk lebih tegar menghadapi hidup.

Benar saja, ketika aku kembali ke ruang yang dipenuhi orang-orang yang tiada berdaya itu, ternyata ibu sudah bangun. Segera kusampaikan kabar kedatangan teman-temanku yang membawakan makanan untuk ibu.

“Bu, ini dari teman-temanku, katanya salam dan doa mereka untuk ibu,” ucapku. Ibu tersenyum mendengarnya. Beliau masih lemah.

Aku semakin cemas, ketika pasien yang datang ke rumah sakit ini semakin banyak, sementara ruang IGD semakin padat menampungnya. Aku merasa miris melihat semua ini. Ada pasien yang hanya duduk di kursi karena tidak mendapatkan ranjang, ada juga pasien yang bisa berbaring, tapi hanya di atas tandu saja. Rabb, di tengah-tengah mereka aku banyak belajar. Belajar tentang arti sebuah kesabaran dan pengorbanan, serta pelajaran berharga tentang syukur!

Ya, betapa indah nikmat sehat itu. Kadang kita lalai dan tak memedulikannya. Hingga ketika sakit mendera, barulah kita tersadar. Tapi tak sedikit pula yang sampai sakitnya tetap tak sadar akan rasa syukur itu.

Di sini, yang aku cemaskan bukan diriku yang semakin sesak dengan keadaan. Bukan. Tapi aku mencemaskan ibu. Beliau tak bisa beristirahat tenang di tengah orang-orang dengan berbagai aktivitas ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Yang dapat kulakukan hanya membaca Al-Quran di dekat ibu. Berharap ibu tenang mendengarkan bacaan Quranku. Sesekali aku bercerita untuk menghibur hatinya. Dan sesekali pula ibu tersenyum, walau sedikit hambar.

Waktu semakin beranjak sore. Namun kesibukan orang-orang di sini tak pernah berhenti. Terutama para dokter dan perawat yang selalu siap siaga ketika datang pasien yang tak diduga. Dengan cekatan, mereka melakukan pertolongan pertama. Sementara raut wajah pihak keluarga yang mengantar begitu menyedihkan. Aku sadar, di sini aku merasakan hal yang sama dengan orang-orang itu. Cemas. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang di hadapan ibu. Ini untuk ibuku. Mencoba mengalirkan energi tenang kepadanya.

Menjelang magrib, kakak yang baru pulang kerja segera menemuiku, ibu dan saudaraku. Kakak memintaku untuk beristirahat di rumah. Walau aku sebenarnya tak ingin meninggalkan ibu, tapi aku harus mengikuti ucapan kakak.

“Tidak baik perempuan ada di sini, nanti kamu malah ikut sakit. Lebih baik istirahat di rumah. Besok pagi bisa ke sini lagi,” ucap kakaku mengingatkan. Sebelum pulang, aku berpamitan pada ibu, mengucapkan salam dan tak lupa mencium keningnya sambil berdoa.

Sepanjang jalan pulang, pikiranku masih mengingat ibu. Bahkan ketika aku sudah sampai di rumah, aku merasa masih berada di rumah sakit. Ingin rasanya waktu cepat berlalu agar aku bisa segera bertemu dengan ibu kembali. Aku tak dapat tidur dengan nyaman di rumah, sementara ibu dalam keadaan susah disana. ‘Ya Rabb, jaga ibuku…’

* * *


Esok paginya, cahaya matahari mengantarkan langkahku menuju tempat ibuku dirawat. Setelah pekerjaan di rumah beres, adik-adik sudah berangkat sekolah, dan semua perlengkapan untuk ibu siap, aku segera berangkat membawa segenggam doa untuk ibu tercinta.

Ruangan ini masih seperti kemarin. Sesak. Walau sudah ada beberapa pasien yang dipindahkan ke kamar rawat inap, namun aku bisa memastikan nanti siang ruangan ini akan kembali padat oleh pasien yang bertambah atau oleh keluarga pasien yang menunggui.

Aku kembali berpikir, bahwa sangat disayangkan rumah yang begitu megah ini hanya dihuni oleh orang-orang sakit. Tapi, apalah daya, setiap orang pasti merasakan sakit. Yang membedakan adalah sejauh mana ia mampu bersyukur kala sakit mendera.

“Selamat Pagi, Neng! Mau menjenguk ibu ya?” sapa Pak Satpam penjaga pintu masuk IGD. Aku sempat kaget ketika disapa olehnya. Mendadak aku menghentikan langkahku.

“Eh, Assalamualaikum. Pagi juga, Pak! Iya, saya rindu sekali dengan ibu…” ucapku agak terbata. Sapaan Satpam itu menghentikan lamunanku yang sedari tadi memikirkan ibu. Satpam itu membukakan pintu dengan sopan dan mempersilakanku masuk.

Dari jauh, aku sudah melihat ranjang ibu yang terhalang oleh tirai hijau rumah sakit.
“Assalamualaikum…” ucapku kepada kakak yang sedang menyuapi ibu.
“Waalaikumsalam…” jawab kakaku. Sayup kudengar ibu pun menjawab salamku dengan lemah.
“Bagaimana kabar ibu hari ini? Aku sunggu merindukan ibu…” tanyaku sambil mencium tangan ibu dan mengecup keningnya. Ibu yang ditanya hanya tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

“Uwa dimana Kak?” tanyaku sambil menoleh pada kakak. Kuambil mangkuk dan sendok yang dipegangnya, lalu bergantian aku yang menyuapi ibu.
“Tadi mengurus surat-surat administrasi, Insya Allah kata perawat, ibu bisa dipindahkan hari ini,” jawab kakak.

Mendengarnya aku senang, walau sebenarnya aku berharap mendapat kabar kalau ibu bisa pulang hari ini, bukan dirawat di rumah sakit.

Tak berapa lama, paman datang dengan membawa kertas-kertas di tangannya.
“Eh, Shafa sudah datang ya,” ucap paman. Kusalami tangannya.
“Gimana Wa? Ibu bisa pindah ke kamar sekarang?” tanyaku buru-buru.
“Eum belum Nak, kita masih harus menunggu sampai pasien di kamar itu pulang,” jawab paman menyesal.

“Oh ya, mudah-mudahan segera ya…” harapku. Kembali aku menyuapi ibu. Namun ibu berhenti makan dan meminta minum.

“Heum….ibu sayang… ibu harus banyak makan, biar cepat sehat….” Kataku sambil mencoba menyuapinya lagi. Namun lagi-lagi ibu menolak. Aku tak bisa berbuat banyak. Segera kuambil minum untuknya dan meletakkan bubur yang masih tersisa banyak di bawah.

Hari ini kakak memutuskan untuk izin bekerja demi menjaga ibu di rumah sakit. Untunglah pihak kantornya berbaik hati mengizinkan.

Menjelang siang, sesuai dengan prediksiku. Semakin banyak pasien yang datang dengan berbagai macam penyakitnya. Aku lihat, ada anak balita yang begitu lemah, wajahnya pucat, dari tangannya mengalir darah yang dihubungkan oleh selang. Ada pula seorang anak remaja berbalut perban di kepalanya, dan orang lain dengan duka yang sama.

Ketika aku tengah membaca Quran di samping ibu, aku mendengar suara jeritan orang di samping tempat tidur ibu yang terhalang oleh tirai. Aku sempat kaget dan langsung melirik ibu, khawatir beliau terbangun mendengar jeritan itu. Namun, karena suara itu begitu keras, ibu pun sampai membuka matanya, aku coba menenangkannya. Dari kabar yang kudengar, orang yang tadi pagi dibawa ke ruangan ini dan tepat berada di samping ranjang ibu, telah meninggal. Sontak keluarganya menjerit dan menangis. Keluarga lain dan orang-orang yang ada di sana berusaha menenangkannya agar tidak mengganggu pasien lain. Ia pun segera dibawa keluar karena tidak berhenti menangis. Aku khawatir kondisi psikolog ibu akan terganggu mendengarnya. Lagi-lagi aku berusaha menenangkan ibu dengan bercerita mengalihkan perhatiannya.

Ketika ibu mulai tenang dan kembali tertidur, aku menatap wajahnya dalam-dalam. Wajah yang sudah termakan usia. Kerut di keningnya, tulang pipinya yang terlihat, dan semua gurat wajahnya menceritakan tentang hidup yang dipenuhi ujian. Terbayang olehku perjuangan ibu yang membesarkan kelima anaknya sendiri. Teringat ketika ibu harus berjuang demi hidup orang-orang yang dicintainya. Suasana duka di sekelilingku menambah keharuanku. Sebening permata jatuh di pipiku. Lekas kuhapus karena tak ingin memperlihatkan kesedihan di hadapan ibu.

Tak lama dari sana, kakak datang, aku izin pamit keluar sebentar. Bukan untuk mencari udara segar, tapi untuk sekedar menghapus penat dan menumpahkan ruahan perasaan di batinku. Segera aku berlari menuju mesjid rumah sakit yang selalu menjadi tempat terbaik untukku mendamaikan hati.
Kulewati orang-orang yang berada di lorong-lorong rumah sakit. Air mata yang tadi sempat tertahan, akhirnya mengalir deras. Aku tak sanggup memendamnya, biarlah ia mengalir. Akan kuadukan semua gejolak di hatiku pada-Nya. Biarlah Ia yang memecahkan setumpuk gundahku. Biarlah Allah yang menjadi akhir segala pintaku. Aku memohon pada-Nya yang Maha Bijaksana dan pemberi solusi terbaik.

Usai kuambil air wudhu, segera aku berdiri untuk melaksanakan shalat dan aku pun bersujud lama. Kutumpahkan semua duka yang menggunung kepada-Nya. Dalam sujudku itu, kulantunkan doa penuh pengharapan.

“Ya Rabb, kutahu raga ini milikmu, kuyakin ruh ini akan kembali pada-Mu. Maka, dengan kekuatanmu, sucikanlah, terangilah dengan cahaya cinta-Mu agar aku berhak memohon pada-Mu dengan segala kesungguhan hati”

“Ya Rahmaan, aku pun tahu, raganya adalah milik-Mu, aku pun yakin ruhnya pasti akan kembali kepada-Mu… namun aku meminta pada Engkau Duhai Pemilik hati… Damaikanlah… redamkanlah… dan tabahkanlah ia… Ibuku yang kusayang karena-Mu…”

“Ya Rahiim… Sembuhkanlah… Kumohon… Kumohon dengan sangat… dengan sepenuh hati, setulus jiwa, sedalam perasaan pada-Mu… Kabulkan Ya Rabb… Amiin…”
Kuakhiri doaku siang itu dengan sujud panjangku.

* * *

Sebuah kabar baik kuperoleh dari seorang perawat yang memberi tahu bahwa ibu sudah bisa pindah ke ruang rawat inap. Sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang tiada berdaya seperti ibu, namun penuh pengharapan pada-Nya.

“Ruang 6 – Dederuk” kubaca nama ruangan tempat ibu akan dirawat.
Setelah memindahkan semua perlengkapan, aku kembali menemani ibu. Mengajaknya bicara, memberinya cerita bahagia, membuat senyumnya kembali merekah.

“Nak, ibu sakit apa sampai harus dirawat di rumah sakit begini?” Tanya ibu tiba-tiba. Aku pun kaget dan tak kuasa menjawab pertanyaan ibu.

“Hmm, hasil pemeriksaannya masih di laboratorium Bu, jadi kita belum dapat mengetahui penyakitnya. Insya Allah ibu baik-baik saja,” jawabku mencoba menghiburnya. Sejujurnya aku memang belum mengetahui nama penyakit yang didera ibu, aku hanya berharap sakit ibu tidak parah dan bisa cepat dibawa pulang kembali.

Menjelang sore, ketika kakak kembali dari laboratorium, baru kutahu hasilnya. Berita yang tak pernah ingin kudengar, berita yang tak mampu kusampaikan pada ibu. Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima. Ibu mengalami gagal ginjal!

Ketika kakak menunjukkan hasil pemeriksaan lab-nya, sejenak aku tak percaya hingga kubaca kertas itu berulang-ulang dan hasilnya tetap sama, Gagal Ginjal. Tanganku bergetar memegang kertas hasil pemeriksaan itu, lidahku kelu seketika, rasanya tubuhku sudah remuk dan hancur berkeping-keping.
Aku hampir terjatuh menahan beban di pundakku. Air mata pun mengalir deras di pipi.

“Rabb, mengapa ujian ini  begitu berat. Apa maksud dari semua rencana-Mu ini? Apakah Engkau mengira aku sanggup menghadapinya Ya Lathif…? Mengapa padaku semua uji ini Kau berikan? Mengapa pada ibu yang kucintai Kau berikan rasa sakit itu…? Mengapa Ya Rabb?” Tanyaku yang tiada terjawab itu mengalir lebih deras dari air mataku.

Segera aku berlari menuju ruangan dokter yang merawat ibu. Aku ingin meyakinkan batinku bahwa semua ini adalah salah, ini hanya sebuah kekeliruan!

“Nak, yang tabah ya, ini adalah sebuah ujian yang akan membuatmu semakin kuat. Ini hanyalah sebuah bukti sayang Allah pada hamba-Nya yang begitu setia beribadah pada-Nya seperti dirimu dan ibumu. Yakinlah, Allah telah mempersiapkan rencana-Nya yang terindah di balik semua ujian ini!” begitu pandainya dokter itu menenangkanku.

“Tapi Dok, apa ada jalan keluar yang terbaik untuk menyembuhkan ibuku?” tanyaku.
“Ada Nak, ibu harus menjalani hemodialisa atau cuci darah,” jawab dokter itu masih menatapku damai.

“Sampai berapa lama ibu harus menjalani cuci darah itu Dok?” tanyaku kembali. Kuharap dokter itu memberi jawaban yang mampu menenangkan hatiku. Namun ternyata aku keliru. Kabar buruk itu seolah menjadi guntur di atas langit senja tanpa hujan.

“Ibu harus menjalaninya seumur hidup, karena itulah salah satu jalan penopang hidpunya…” jawab dokter dengan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan batinku. Tak sanggup lagi aku menahan semuanya. Hanya tangis yang mampu menerjemahkan rasa duka di hatiku. Dan hanya doa yang mampu kulantunkan kala itu.

“Rabb, Kutahu Engkau Maha Pengasih di antara semua yang terkasih, maka kasihilah ibuku… sayangilah ia seperti ia menyayangiku sejak kecil….”


* * *

            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes