Mana Cinta? - Teh Deska Mana Cinta? - Teh Deska
TERBARU

Mana Cinta?

“Siapatah yang sudi membantuku?
 Seseorang yang tak tahu arti cinta
"Hai burung-burung kau terbang tanpa beban, tapi apakah kau sudah mendapatkan cinta?!
“Oh, lautan yang membiru, adakah cinta di sana?
“Duhai diriku yang malang, Kau tahu, dimana cinta?
“Sungguh kudibuat lemah tak berdaya  olehnya.
“Duhai cinta, dimana kau kini……….”
Sang Putri duduk menunduk, tenggelam dalam kesendirian dan hening… hingga sehembus nafas tiba di penghujung………
         
            “Huuuuuuh!”
            Tirai pun tertutup, menggemalah sorak sorai penonton dan tepuk tangan riuh tanda keberhasilan bagi Putri.
            “Wuiiih keren amat sih?” ucap Chika sambil menciumi kedua pipi sahabatnya yang baru turun dari pentas.
            “Terima kasih……!” jawab Putri, layaknya sang Putri dalam cerita, sambil mengangangkat gaun kerajaannya dengan tersenyum manis.
            “Putri lakukan ini untuk cinta, yang tak kunjung datang dalam hatiku…!” lanjutnya dengan nada puitisnya.
            “Cielaah, udeh deh non ini bukan di pentas!” ledek Tie.
            “Ehm, kalian tahu? Peran ini kulakukan atas kebenaran dalam hidup dan kehidupanku. Kini, aku yang lemah ini tak kuasa mencari cinta yang terpendam di dasar lautan nun jauh di sana…”
            “Yawdahlah, nanti juga kau kan dapatkan cinta itu. dan sekarang kau ikuti langkah kami. Maka akan kau temukan cintamu,” ajak Nadin lawan mainnya di pentas tadi yang sama-sama jago berpuitis. Dan Putri pun melangkah bersama kawan-kawannya.
            Tibalah mereka di depan pintu aula sekolah yang tertutup rapat.
            Ditatapnya wajah ke tiga sahabatnya itu yang bertingkah mencurigakan. ‘Ada sesuatu yang mereka sembunyikan!’ batinnya.
            “Satu… dua… tiga…..!!!”
            Terbukalah pintu aula. Dan tahukah kalian, apa yang terjadi di sana?

            “Putri, ini untukmu, sayang,” tiba-tiba Mama muncul di antara orang-orang di sana dan segera berhamburlah ia di pelukan Mama.
            “Oh Mama aku mencintaimu!”
            Sebuah pesta kecil dibuat untuk Putri oleh mama dan teman-teman yang sangat baik padanya. Sebagai bentuk sayang mereka pada Putri.

            “Put, ada acara pentas baru yang diselenggarakan oleh yayasan Gerakan Islam Bangsa, dan mereka mengundangmu untuk ikut bermain dalam teater ini!” tawar Bu Elsi yang bertugas sebagai pengasuh plus managernya.
            Putri cukup bingung juga menerima tawaran itu, mengingat dia masih sibuk menyelesaikan skripsinya yang tinggal sedikit lagi dan baru tiga hari yang lalu dia bermain teater sekarang harus main lagi.
            “Hmmm, Putri masih bingung Mbak, belom bisa ngasih keputusan nih, takut pekerjaan yang lain terbengkalai,” ucap Putri.
            “Tapi manurutku, ngga ada salahnya loh kamu nyoba ikutan teater ini, ceritanya cukup menarik juga!” saran Nadin yang sedang membaca majalah kesukaannya.
            “Iya juga sih, lagian aku kan belum pernah main dalam teater yang bernuansa religi seperti ini, mungkin saja ada hal baru yang akan aku dapatkan dalam teater kali ini!” jawab Putri.
            “Jadi, apa kau akan ikut teater ini?” tanya Mba Elsi meyakinkan.
            “Yup!” ucap Putri mantap.
            Dan, Mbak Elsi pun segera menelpon yayasan itu, memberitahukan bahwa Putri siap main dalam teater mereka.
            “O ya Putri, besok kau bisa mulai latihan, nanti Mbak yang ngatur!” beritahu Mbak Elsi setelah menutup telponnya.
            “Thanks ya Mbak!” ucap Putri yang sedang sibuk mengetik di depan layar komputer.
            Betapa pun seabrek tugasnya. Putri tak akan pernah membengkalaikan salah satunya. Dia akan berusaha melaksanakan kewajibannya. Dan Main teater adalah salah satu hobi di tengah kesibukannya, dia akan melakukannya dengan senang hati.

* * *

            “Eh itu Putri, seorang pemain teater terkenal yang jago akting!” tunjuk Sarah, ketua keputrian yayasan GIB pada Fitrah.
            “Yuk, kita sambut dia, mudah-mudahan bisa bekerja sama dengan kita!” ajaknya sambil menggamit lengan Fitrah.
            Putri tersenyum pada dua orang yang kini ada di hadapannya.
            “Assalamu’alaikum, selamat bergabung ukhti di yayasan kami!” ucap Sarah sambil menjabat tangan Putri dengan penuh keramahan, begitu pun dengan Fitrah. Tapi Putri malah bengong sendiri, dia merasa canggung ada di hadapan dua orang yang jarang dia temukan dalam kehidupannya.
            “Wa…Wa’alaikum salam!” jawabnya ragu. ‘Ya ampun, sudah lama aku tak mengucapkannya, terasa ada sesuatu yang kurasakan yang tak pernah ada sebelumnya. Kenapa lidah ini terasa ringan dan hati tenang begitu mengucapkannya?’ batin Putri.
             “Mari, kami antar berkeliling di yayasan sederhana ini, agar Ukhti lebih mengenal lingkungan yang akan kita tempati selama latihan teater ini!” ajak kedua gadis berjilbab ini. Dengan senang hati Putri menerima ajakan itu.
            Kini, aku seolah tengah berada dalam dunia lain, duia yang sebelumnya pernah kumasuki, walau hanya sekejap saja.
            Oh, mereka sungguh berbeda. Ya, jauh berbeda! Suasana penuh kehangatan ini membawaku tuk lebih mengenal Islam.
            Dulu, aku pernah seperti mereka, Sarah dan Fitrah. Jilbab yang kini ada di tangankua tak teresa asing lagi buatku. Tapi, ini untuk pertama kalinya aku mengenakan jilbab suci dan pakaian taqwa ini, setelah sekian lama ku tlah ajuh darinya.
            Aku sempat berpikir, ‘kenpa dulu aku menjauhunya? Kenapa dulu aku melupakannya? Kenapa?’
            Aku ini seorang muslim, ya, sekiranya begitu, sebab sejak lahir aku beragama islam. Tapi… masih pantaskah aku menyebut diriku sebagai seorang muslim? Setelah sekian lama kutinggalkan kehidupanku. Dan lebih memilih memasuki dunia hampa yang tak pernah kumenemukan sebuah kata yang tersembunyi?
            “Subhanallah, kau sungguh cantik Putri!” ucap Fitrah yang membantunya menggunakan jilab sebelum latihan.
            “Ah, Fitrah kau mengejekku ya!” ucap Putri malu.
            “Sungguh, kau cantik Ukhti, apalagi jika hatimu juga kau balut dengan jilbab suci ini!” ucap Fitrah lembut sambil memegang pundak Putri.
            Kau benar, sungguh aku malu pada diriku sendiri. Fitrah, andai kau tahu, aku iri padamu, aku cemburu padamu, karena aku merasa Allah lebih mencintaimu dari pada aku!
            Malam ini akan diadakan tausiyah ba’da Isya di masjid bersama para pemain teater.
            “Sebelum kita melaksanakan hajat ini, lebih baik kita berdo’a, memohon pada Sang Khalik agar apa yang kita rencanakan ini mendapatkan ridho darinya.
            “Fitrah, aku deg-degan banget nih, besok kita harus bermain sebaik mungkin!” bisik Putri pada lawan mainnya. Fitrah membalasnya dengan senyuman.
            Sebelumnya aku tak pernah merasakan kegelisahan ini. Padahal sudah begitu banyak dan sering aku bermain dalam teater, tetapi kali ini sangat berbeda.
            Naskah drama yang akan dipentaskan bercerita tentang seseorang yang baru masuk Islam dan memperdalam tentang agama barunya ini.
            Hati Putri semakin gelisah. Ia merasa takut karena ia tak sebaik tokoh yang harus diperankannya dalam teater itu. Meskipun sudah lama ia tidak mengaji, tetapi ia pernah dengar bahwa kita tidak boleh berkata tentang apa yang tidak kita kerjakan.
            Malam harinya, Putri tidur di asrama putrid bersama pemain teater yang lain. Sementara itu, Putri lebih memilih tidur di dekat Fitrah. Ia ingin mengetahui rahasia di balik diri seorang Fitrah.
            “Fit, boleh aku bertanya satu hal kepadamu?” Tanya Putri sedikit berbisik.

Baca Kompilasi Cerita Cinta lainnya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes