Kembalilah! - Teh Deska Kembalilah! - Teh Deska
TERBARU

Kembalilah!

“Joe, buruan gue udah ngga tahan nih !” pinta Reva sambil gemetaran di tengah suara yang membisingkan dan cahaya lampu tak beraturan, membuat kepala pusing, tapi bagi orang yang berada di sana tentunya tidak.
“Oke, tapi barang ini ngga bisa dikasih cuma-cuma,” balas Joe sambil mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaketnya.
            “Tolong, ngerti lah gue lagi bokek nih!” Pinta Reva lagi.
            “Alaaah, lagak lo so merendah,” kata Joe, tapi kali ini dia bicara sambil mengulurkan tangannya yang tidak kosong. Sementara Reva mengambil apa yang ada di sana, sambil setengah tersenyum sebab dia sudah tidak tahan.
            Saking tidak kuatnya, akhirnya Reva terkena buaian obat tadi, di tengah kebisingan malam saat itu.
* * *
            Di kediaman keluarga Setiawan, terdengar suara seorang perempuan sedang kebingungan.
            “Sudahlah bu, anak seperti itu tidak perlu dipikirkan, bikin pusing saja!” keluh Pak awan –begitu panggilannya- kepada isterinya yang sedari tadi keluar masuk kamar. Sehingga membuat Pak Awan pusing sendiri melihat tingkah isterinya.
            “Tapi Yah……,” ucapan Bu awan terpotong.
            “Lah…, sudah-sudah saya mau tidur!” potong Pak Awan sambil mematikan lampu di sebelah tempat tidurnya. Bu awan yang masih bingung langsung keluar sambil menangis.
            “Krek !!!” ada seseorang yang keluar dari kamarnya.
            “Bu, ada apa kok belum tidur ?” tanya anak perempuannya itu agak bingung.
            “Reva belum pulang nak, padahal sudah tengah malam begini, ibu jadi khawatir!” ucap ibunya sambil terus menangis.
            “Bu, Via juga mengerti, tapi tidak baik kalau ibu menangis terus, lebih baik kita berdoa!” saran Via penuh prihatin sambil memegang tangan ibunya yang basah karena air mata.
            “Kamu anak baik Via, tapi ibu ingin menunggu sampai kakakmu pulang,” kata ibunya sambil menatap anaknya itu penuh rasa sedih. Via hanya bisa diam. Dia mengerti betul perasaan ibunya yang begitu sayang terhadap Reva sehingga selalu memanjakannya. Dengan langkah pelan, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam, serta berdoa untuk kakaknya agar diberi keselamatan.
            Sebenarnya Via sudah mengetahui sifat kakaknya itu, tapi pandangannya masih terlalu baik untuk melihat lebih jauh perilaku Reva yang di luar batas.

* * *
“Dasar anak sial kamu, bisanya hanya menyusahkan orang saja, pergi seenaknya, apa kamu sudah tidak peduli dengan ibu dan keluargamu?” ucap Pak Awan pada anak sulungnya setelah menampar Reva yang hanya menampakkan watadosnya (Wajah Tanpa Dosa).
            “Sudah Yah, kasihan dia!” pinta ibunya sambil memeluk Reva penuh rasa kasihan. Via yang mendengar perdebatan itu, langsung kaget dan segera menghampiri keluarganya.
            “Ada apa ini? Sudah hentikan!” pinta Via yang tidak tahan melihat semua itu.
            “jangan ikutan kamu, sudah, pergi sekolah sana!” ucap ayahnya. Via yang selalu berusaha menghormati kedua orangtuanya, tidak bisa melawan, tetapi dia mengerti bahwa apa yang dilakukan ayahnya itu demi kebaikannya juga.
            Via, anak bungsu dari 2 bersaudara itu, dapat membuat ibunya bangga dengan prestasinya di sekolah, tetapi tidak dengan sikap ayahnya yang tidak peduli dengan prestasi belajarnya. Meskipun begitu, dia tidak pernah berhenti untuk memperlihatkan prestasinya sebagai tanda terima kasihnya pada ayah dan ibu yang sudah mengasihinya.
            “Eh Via, mana Reva, sepertinya sekarang bapak jarang melihatnya sekolah, padahal sayang kan tinggal beberapa langkah lagi dia dapat meluluskan SMA-nya,” ucap Pak Danu, guru sekolah Reva, saat berpapasan dengan Via ketika pulang sekolah.
Via hanya bisa menahan kesedihan di hatinya. Meskipun usia Via baru 15 tahun, tapi dia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak seperti kakaknya yang hanya bisa berfoya-foya dengan uang pemberian orang tuanya. Sebenarnya dulu dia merupakan salah satu anak cerdas, tapi karena terlalu tertekan oleh tuntutan ayahnya agar dapat menjadi penerus karirnya dan juga terlalu diberi kebebasan oleh ibunya, sekarang dia menjadi kelewatan.
* * *
Ujian sekolah sudah terlaksana, tapi Reva yang mesti mengikutinya malah menghilang. Semua orang rumah juga kewalahan mencarinya. Sementara Via hanya dapat berdo’a agar keluarganya selalu diberi ketabahan dalam menghadapi setiap persoalan kepada Allah Swt.
Selesai ujian, barulah terdengar kabar Reva. Ternyata orang-orang sudah mengetahui bahwa Reva telah menggunakan obat-obatan terlarang dan sangat ketergantungan dengan obat perusak itu, sehingga terpaksa dia dimasukkan ke tempat rehabilitas dan melaksanakan pengobatan khusus untuk orang seperti Reva. Memang berat semua itu terutama bagi ibu dan Via yang selalu menginginkan Reva dapat sehat selalu. Awalnya Reva memang sulit untuk dapat menyesuaikan diri di lingkungan itu, bahkan dia pernah mencoba kabur dari sana. Tapi saking ketatnya penjagaan di sana akhirnya rencana Reva dapat dicegah.
Via yang selalu menyayangi kakaknya, tidak pernah lupa untuk selalu menengok kakak semata wayangnya itu. Pada suatu hari dia menengok kakaknya yang belum sembuh.
“Assalamu’alaikum!” salam Via saat berkunjung ke tempat kakaknya. Tapi sayang, salamnya tadi tidak dijawab olehnya.
“Kak, kita keluarga di rumah ngga pernah lupa untuk selalu mendo’akanmu,” lanjut Via, seperti tadi saja Reva tetap diam.
            “Eh tau ngga kak, Via sekarang sudah jadi pengajar anak sekolahan lho!” Via mulai bercerita, meskipun dia sadar kalau kakaknya tidak sedang memperhatikannya. Reva hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
            “Ya, meskipun kecil-kecilan, hanya anak-anak yang kurang perhatian di mata masyarakat saja dan yang tidak memiliki biaya untuk bersekolah,” lanjutnya. Beberapa saat Via terdiam dan menerawang langit yang begitu luas.
“Sebenarnya, Via sadar kalau Via ini hanya anak sekolah menengah yang memang belum begitu tinggi pengetahuannya. Tapi mudah-mudahan ilmu Via dapat bermanfaat untuk anak-anak itu, kakak juga harus berusaha dong supaya dapat meraih harapan kakak di masa depan!” begitulah ucapan yang pernah dia ungkapkan pada kakaknya. Meskipun tidak pernah diperhatikan, tapi Via tidak pernah marah pada kakaknya itu.
* * *
Akhirnya tiga tahun sudah keluarga Setiawan ditinggal oleh seseorang yang selalu dituntut untuk menjadi penerus keluarga.
Via yang selama ini selalu belajar untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lain, akhirnya lulus dengan prestasi yang sangat baik. Sebagai hasil dari kegigihan belajarnya, dia mendapatkan masa depan yang cerah untuknya.
Sementara dengan Reva, ketika dia berada di tempat yang menuntutnya untuk berubah menjadi lebih baik, tentu terdapat banyak kesulitan-kesulitan yang mau tak mau harus dihadapinya.
“Ibu, Ayah, maafkan kekhilafan Reva selama ini, yang tidak dapat membuat kalian bahagia!” ucap Reva sambil menyalami kedua tangan orangtuanya dan menangis di atas pangkuan ibunya. Ayah ibunya membalas dengan senyuman lembut dan tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi mereka. Seperti mereka, Via juga merasakan kesedihan yang bercampur dengan kebahagiaan.
“Via, mau kan memaafkan kakakmu ini yang tidak pernah megikuti semua pesanmu!” tanya Reva menyadari kesalahannya selama ini sembari melirik ke arah Via.
“Tentu!!!” jawab Via.
“Tapi Kak Reva tidak boleh seperti dulu lagi, dan harus tetap seperti ini selamanya, seperti kakak yang sekarang Via kenal dan selalu Via banggakan untuk selamanya di hati Via!” pesannya. Keempat orang yang berada di sana merasa terharu.
Sekarang kakaknya telah menjadi seorang santri dan muslim yang baik dengan mengenakan pakaian yang sepantasnya dari dulu dipakainya.
‘Kau lebih pantas jadi putih, Kak..’ batin Via bahagia.
Setelah mereka saling melepaskan kerinduan yang selama ini selalu menyelimuti hati, mereka pulang kembali ke tempat berkumpulnya sebuah keluarga yang bahagia dan akan selalu hidup rukun selamanya.


* * *

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes