Kakakku My Hero - Teh Deska Kakakku My Hero - Teh Deska
TERBARU

Kakakku My Hero

Kak, aku bangga padamu. Kau mampu menjadi yang terbaik dalam memerankan tokoh dalam hidupmu. Kau adalah ayah bagi anakmu, kau adalah suami bagi istrimu, kau adalah kakak bagi adik-adikmu, dan bagiku kau adalah segalanya. Aku bersyukur telah menjadi adikmu. Terima kasih untuk semua pengorbananmu, perhatian, perjuangan, dan ketulusan cintamu.
Pagi itu, disaksikan oleh mentari yang baru saja menyapa bumi, kau ungkapkan perasaanmu yang mendalam kepada ibu, memohon do’a dan restunya.
“Bu, dari rahimmu aku terlahir dan dari buaianmu aku mulai mengenal dunia yang penuh duri ini. Namun, berkat cinta dan kasih sayangmu, hingga kini aku mampu menghadapi semua ujian kehidupan,” ucap kakak mengawali dengan kata-kata yang mampu menyentuh hati siapapun yang mendengarnya kala itu.
“Aku tak pernah tahu kapan langkah ini akan berlabuh, tapi hatiku selalu mengatakan bahwa engkaulah tempatku kembali setelah perjalanan yang melelahkan itu, bu…” lanjutnya.
Ibu menatap anak sulungnya begitu dalam, seolah tahu apa yang akan dikatakan olehnya. Dengan penuh keberanian dan ketulusan, kakak mulai mengungkapkan keinginannya untuk meminang seorang gadis dan menjadikannya sebagai pendamping hidup.
“Bu, hanya darimu aku dapatkan restu, darimu jua ridho Allah kuperoleh, dan sekarang aku memohon do’a, restu dan ridhomu untuk menikah…” ungkap kakak sambil memegang erat tangan ibu.
Ibu yang saat itu sedang sakit, hanya bisa meneteskan air mata bahagia. Dengan begitu lembut, ibu mencium kepala kakak dan mengantarkan restunya.
“Iya Nak, ibu merestuimu. Semoga engkau mampu menjadi pemimpin dalam keluargamu kelak. Ibu akan bahagia seandainya anak-anak ibu dapat bahagia…” ucap ibu dalam do’anya.
Meskipun kakak seorang yang kuat bagiku, tapi tetap saja air matanya meleleh mendengar do’a ibu.
“Satu pesan ibu, jika nanti kau sudah berrumah tangga, titip adik-adikmu…” pesan ibu.
“Jaga mereka, cintailah mereka seperti engkau mencintai dirimu sendiri dan istrimu. Mereka masih membutuhkan kasih sayang, perhatian dan cinta. Karena itu ibu mohon bimbing mereka…” ucap ibu dengan suara yang semakin serak karena menangis.
“Tentu bu… aku  akan selalu menjaga mereka, bersama ibu…” jawab kakak tak kuasa mengungkapkan sayangnya pada ibu dan adik-adiknya
Selepas percakapan yang cukup mengharukan antara ibu dan kakak, semua keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan. Mulai dari perencanaan waktu, undangan, pakaian, makanan, barang-barang seserahan, sampai hal terkecil lainnya. Namun, tiga minggu sebelum hari bahagia itu tiba, sakit ibu kembali kambuh. Keluarga yang sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan, kini ditambah kepanikan karena kondisi ibu yang semakin buruk.
Hari itu juga, ibu langsung dilarikan ke rumah sakit dan mendapat pertolongan pertama. Kata dokter, ibu ternyata harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.
“Gagal ginjal yang diderita ibu Siti sudah sangat parah. Karena itu, butuh perawatan intensif,” terang dokter pada kakak yang sudah sangat panik.
“Tapi dok, ibu kan sudah menjalani cucu darah dua kali dalam seminggu? Apa kurang cukup untuk mengembalikan konidisi ibu? Apa belum cukup untuk mengembalikan kebahagiaan ibu?” Tanya kakak ingin meyakinkan. Air mata yang sedari tadi dipendam, akhirnya keluar begitu deras, sederas sayangnya pada ibu.
“Tenang Nak, hanya Allah yang maha mencurahkan kebahagiaan untuk semua makhluk-Nya. Dokter dan kita hanya mampu berdoa dan berusaha sekuat tenaga,” Paman mencoba menenangkan sambil mengusap punggung kakak dengan lembut.
Sudah lama rasanya kakak tidak merasakan sentuhan lembut dari seorang ayah seperti yang dilakukan paman. Dalam tangisnya, ia merindukan kebijaksanaan ayah dan kelembutan ibu.
Sementara aku yang tak pernah mengerti dengan semua kejadian ini, hanya bisa bertanya dalam diam, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya. ‘Mungkin belum saatnya aku menemukan jawaban itu’, batinku.
* * *
            Sudah hampir satu minggu ibu berada di rumah sakit. Tak ada perubahan yang mampu membuatku dapat merasakan nikmatnya menarik nafas lega.
            Di ruangan yang hanya dibatasi oleh sekat kain seadanya, aku duduk di samping ibu yang sedang tertidur. Kupandangi wajahnya yang sangat pucat, kulitnya yang mulai berkeriput termakan usia, dan gurat-gurat perjuangan yang jelas terlihat di sana. Semua yang ada dalam diri ibu kelak akan menjadi saksi atas pengorbanan, limapahan kasih dan sayang yang telah ia curahkan pada keluarga.
            “Ya Allah, izinkan aku mengabdi pada ibu sampai akhir usiaku… berilah aku kesempatan untuk dapat membahagiakan ibu, walau semua yang telah Engkau berikan melaluinya takkan pernah tergantikan…” pintaku penuh harap, dalam doa yang mendalam.
* * *
            Hari bahagia itu akan segera tiba. Walau ibu harus menahan sakit ketika cuci darah dan tinggal di rumah sakit yang penuh dengan orang-orang yang berjuang untuk hidup, tapi ada garis kebahagiaan terpancar dari senyuman ibu.
            “Nak, sebentar lagi kakakmu akan menikah, kelak kau pun akan menyusul kakakmu, ibu minta, jadilah adik yang baik untuk kakakmu, sayangi ia ketika sayang ibu tak dapat tercurahkan lagi padanya…” ucap ibu sambil menahan sakit di perutnya.
            “Tidak bu… ibu tidak boleh bicara begitu. Kita sama-sama saling menjaga dan berbagi kasih sayang ya, Bu…” aku mencoba meyakinkan ibu. Namun ibu tak berkata apa-apa lagi. Dengan matanya yang sayu, ia menatap kosong keluar jendela kamar rumah sakit.
            “Ibu malu Nak,” ucapnya tiba-tiba. Belum sempat aku menanggapi ucapannya, ibu melanjutkan dengan nada sendu. “Ibu malu, kalau nanti kakakmu menikah, ibu hanya bisa duduk saja, atau bahkan berbaring. Tak bisa menyambut tamu yang datang ke acara pernikahan. Mungkin orang-orang akan memandang tak baik. Kasihan kakakmu…”
            Mendengar ucapan ibu, ingin rasanya aku menangis dan memeluknya. Mengatakan kalau semua itu tak akan terjadi. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menangis di hadapannya. Aku tak ingin membuatnya bertambah sedih.
            “Ibu pasti sembuh… Ibu nanti akan duduk di samping kakak, memberinya restu, berfoto bersama, menyambut salam dan do’a dari kedua keluarga yang berbahagia…” ucapku mencoba menenangkan. Perlahan, kugenggam tangan ibu, lalu kucium ia dengan perasaan haru.
* * *
            Sebuah janji suci telah terucap, doa pun memenuhi setiap relung qalbu, berharap dua insan berbahagia dalam kehidupan yang baru. Rembulan yang bersinar terang di atas sana ikut bertasbih, sucikan asma-Nya.
            Ruangan sederhana ini terasa sangat indah. Bukan karena hiasan yang mewah, bukan pula karena perabot yang mahal. Tapi karena setiap hati yang hadir di sini merasakan hal yang sama. Bahagia.
            Kulihat senyum kakak merekah dan tak henti mulutnya mengaminkan setiap doa dari tamu yang hadir. Ia tampak bahagia. Di sampingnya, duduk manis seorang wanita yang sangat cantik, mendampingi kakak di pelaminan. Kini, seorang bidadari telah melengkapi belahan hatinya, bersama membangun keluarga untuk mengharap ridho Allah swt.
Di balik kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya, aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya, ia merindukkan ibu. Meski sudah ada seorang wanita yang mendampinginya, kakak tetaplah seorang anak yang mengharap wanita yang telah membesarkannya dengan penuh ketulusan hadir di sampingnya pula saat ini. Ada yang tidak lengkap di sini, seolah waktu telah mengambil ibu menjauh dan pergi.  Kuyakin, siapapun menginginkan di saat-saat sakral seperti ini, sosok seorang ibu dapat hadir, menyaksikan buah hatinya menggenapkan dien-nya.
Ketika giliranku menyalami kakak, tak berani aku menatap matanya. Aku hanya bisa tertunduk menahan tangis. Aku tak ingin memperlihatkan duka di saat yang bahagia ini. Namun, pertahananku pun mulai hancur, ketika kusalami kakak dan ia pun membalas dengan ciuman lembut di kepalaku. Erat kupeluk ia, seperti seorang anak yang tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami. Hanya bahasa hati yang mampu mengungkapkan semuanya, bahwa kami rindu ayah dan ibu….
‘Kak, sekarang hanya kakak yang aku punya, aku tak ingin ada perpisahan lagi, karena aku tahu perpisahan itu ternyata rasanya sakit, lebih sakit daripada teriris pisau, sebab kini yang teriris adalah hatiku…’ batinku.
Ibu yang kami rindu, pergi lebih dulu sebelum masa bahagia itu berlalu. Tepat satu minggu sebelum pernikahan kakak, ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Mimpinya untuk bisa menjadi saksi pernikahan pun tak sampai. Namun ridhonya telah mengantarkan kebahagiaan itu pada anak-anaknya.
Menyaksikan pernikahan kakak, aku sempat berpikir jika ridho Allah ada pada ridho kedua orangtua, lalu pada siapa kini aku mencari ridho-Nya? Kelak saat aku menikah dengan seseorang yang telah Allah takdirkan untuk menjadi pendampingku, aku pun ingin ayah menjadi wali nikahku dan ibu memberikan restunya untukku. Tapi aku sadar, inilah takdirnya, Allah lebih sayang kepada mereka, karena itu Allah memanggil mereka lebih dulu. Dan kelak, ridho suamilah yang aku cari untuk peroleh ridho-Nya.
* * *
            Sejatinya aku tak pernah kehilangan ayah dan ibuku, sebab mereka selalu ada di hati ini. Kasih sayang yang selalu mereka curahkan sejak aku kecil masih terasa hingga kini, bahkan ketika keduanya telah tiada. Ayah dan ibu tak pernah pergi, selalu di hatiku. Mereka tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku.
* * *
            Ingin kuceritakan pengorbanan kakak yang tak pernah lelah dalam merawat ibu hingga akhir hayatnya. Kakak yang selalu setia menemani ibu ketika dirawat di rumah sakit. Ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk ibu. Pernah suatu hari, ketika aku pulang kuliah dan menjenguk ibu di rumah sakit, kutemukan kakak tertidur sambil duduk di atas ranjang rumah sakit, sementara ibu tidur di pangkuannya. Kulihat lelah di wajahnya karena beberapa hari ia tidak tidur demi menjaga ibu, namun kutahu ia melakukannya dengan tulus. Setulus cinta ibu yang diberikan ketika merawatnya sejak kecil dulu.
Seperti itulah kakak lelakiku, rela melakukan apapun untuk ibu. Bahkan ketika sakit ibu semakin parah, tak pernah satu malam pun terlewatkan untuk menaga ibu di rumah sakit. Suatu malam, karena kecapean, ia tertidur di lantai, sementara ibu dijaga oleh saudaraku. Tapi, karena sama-sama kelelahan, beliaupun tertidur. Mereka terbangunkan oleh suara keras yang membentur lantai dan teriakan kakak. Dini hari itu, ternyata ibu terbangun dan tangannya yang masih diinfus tak sengaja menyenggol tabung oksigen besar di samping ranjangnya. Tabung itu pun jatuh menimpa kakakku yang sedang tertidur di bawah.
Mendengar ada yang jatuh, sontak kakak kaget dan langsung melihat ibu karena khawatir teradi sesuatu pada ibu, tapi ia tak sadar bahwa ternyata lengannya telah tertimpa tabung oksigen yang besar itu. Tak lama dari itu, ketika mendapati ibu masih baik-baik saja, barulah ia merasakan sakit luar biasa pada lengannya. Bahkan ia hampir pingsan karena sakit dan kerasnya tabung menimpa tangannya. Untung beberapa perawat yang ada disana langsung memberikan perawatan untuk kakak sampai tangannya harus di gips.
Meskipun tangannya terluka, tapi ia masih bersyukur karena tabung oksigen itu tidak menimpa kepalanya. Posisi kepalanya saat tertidur tepat di samping tabung itu tapi atas rencana Allah malam itu posisi tidurnya pindah sehingga lengannya saja yang tertimpa. Kejadian itu terjadi dua hari sebelum mamah meninggal.
Esoknya, kakak yang tak pernah berhenti menjaga mamah, kondisi tubuhnya semakin menurun setelah kecelakaan tabung itu. Sampai kakak perempuan mamah yang saat itu ikut menjaga mamah menyarankan agar kakak istirahat saja di rumah. Awalnnya kakak menolak karena ia tak ingin meninggalkan mamah. Namun, ia pun berpikir jika kondisinya tak segera mambaik, bagaimana ia akan menaga mamah nantinya. Akhirnya, kakak berpamitan pada mamah yang saat itu tak mengingat apapun.
Inilah rencana Allah yang telah menakdirkan semua anak-anak mamah tak menyaksikkan kepergiannya. Malam itu, ketika kakak pulang dan istirahat di rumah, Allah memanggil mamah.


            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes