Ini Kisah Bulan - Teh Deska Ini Kisah Bulan - Teh Deska
TERBARU

Ini Kisah Bulan

Seindah Cahaya-Mu
Bulan. Sempurna bentuknya ketika kudatangi ia bersama rindu pada malam. Berhias jutaan bintang, semakin memesona ia menggoda langit temaram.

Sayangnya, indahnya purnama malam ini tak seindah apa yang terasa dalam batin dan apa yang kupikir dalam benak. Namun, setidaknya sedikit penat dapat terusir oleh cahaya rembulan yang setia menemani diri yang kerdil ini.

Mengingatnya, aku lupa bagaimana bentuk dan wujud perasaan itu. Yang aku ingat hanya aromanya yang merasuk dalam diri. Damai. Tenteram. Walau ada sedikit sedan.

Aku yang kini duduk beralaskan rerumputan, hanya dapat memandang langit. Tepatnya menatap bulan. Ada sebuah kerinduan di sana, di ujung malam. Dan di sini, di sudut hatiku.

Dua puluh tahun rasanya tak cukup bagiku memahami arti hidup. Banyak yang belum kumengerti dari semua yang kualami. Banyak pertanyaan yang tak kuasa kujawab sendiri. Mungkinkah di atas langit sana kan kutemui jawab-Nya?

Memandangnya…membuatku semakin rindu…
Rindu pada ia yang telah tiada…
Rindu pada ia yang semakin dekat dengan-Nya…
Rindu ingin berjumpa kembali di tempat terbaik…di sisi-Nya… di surga-Nya…
Duhai bulan,,, lewat cahayamu,, sampaikan rinduku pada mereka… Ayah Ibuku tercinta…
Kisah ini kuawali dengan mengenang mereka yang amat berarti dalam hidupku. Kehadiran mereka menjelaskan keberadaanku di dunia ini. Kasih sayang, ketulusan, ketabahan, cinta… dan semua yang telah mereka ajarkan, kelak akan menjadi kunci pintu perjalananku dan kompas petualangan hidupku.
* * *
Bulan tinggal separuh, separuhnya lagi mungkin sedang mengendap di dasar hatiku.
Dulu, aku enggan sekali menginjakkan kaki ke taman surga. Tempat mengaji. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang pasti aku enggan. Bahkan sampai menangis tersedu pada ibu.

“Aku ngga mau ngaji di sana bu, ga ada yang aku kenal di sana, aku ga akan betah..” ucapku merajuk.

“Terus mau dimana lagi, Nak..? di tempat ngaji dekat rumah itu kamu malah sering kabur,” jawab ibu masih membujukku untuk mau mengaji.
Saking sayangnya padaku, ibu bahkan sampai mengantarku langsung ke tempat mengajiku yang baru itu. Ayah pun ikut andil dalam membujukku. Masih kuingat, ketika itu, usai mengaji malam hari, hujan turun sangat deras. Kami yang berada di tempat mengaji sampai takut mendengar guntur di luar. Tapi, dengan setianya, ternyata ayah datang menjemputku, membawakan payung untukku. 

‘Hm… derasnya hujan, teriakkan guntur yang memekakan telinga dan dinginnya angin malam itu, terkalahkan oleh ayah yang datang bagai super hero bagiku!’

ya, kurasakan aman berada di sampingmu, Yah…
Semangat mengaji pun mulai muncul, ketika aku mulai mengenal guru ngajiku. Mereka suami istri dan belum dikaruniai anak. Total hidup mereka dipersembahkan untuk majelis ilmu ini. Unuk anak-anak yang haus akan ilmu. Sepertiku?

Dari merekalah, aku mulai mempelajari banyak hal. Tidak hanya dalam masalah agama, namun pelajaran berarti tentang hidup! Semoga keberkahan selalu bersamamu, guruku…

Sebenarnya ada satu yang masih mengganjal dalam benakku dulu. Ketika aku mulai menikmati masa-masa mengajiku, menjadi murid yang baik dengan prestasi yang baik pula, aku merasa ada hal yang masih belum sempurna. Ya, aku belum sempurna menutup aurat. Terutama soal kerudung.

Sempat, ketika usai mengaji malam itu, kami semua dibariskan dan ditanya satu-persatu terkait yang satu ini. Dengan polos dan jujur apa adanya, kukatakan aku belum bisa berkerudung dengan rapi. Demi mendengar jawabanku itu, akhirnya aku pun kena hukuman dari guru ngajiku. Hukuman yang biasa sebenarnya, namun menjadi sesuatu yang luar biasa dalam batinku terutama beberapa tahun setelahnya. Sejak saat itu, sebisa mungkin aku mencoba menjalankan aturan Allah dengan sempurna. Walau belum terlalu sempurna, jika harus kuakui.

Tingkah lakuku belum dapat mencerminkan seorang anak shalehah yang diharapkan orang tuaku. Masih sering bermain dengan anak-anak di sekitar rumah, bahkan kadang sampai larut dan lupa shalat. Astaghfirullah…

Namun, semua itu berubah 175 derajat -karena memang belum sempurna mencapai derajat kesempurnaan itu- ketika Allah berencana lain tentang alur hidupku.

Masih kuingat, saat aku menginjak bangku SMP, ayahkulah yang paling bangga karena anaknya dapat bersekolah di SMP favorit. Dan itu menambah motivasiku untuk lebih baik. Walau kadang dibarengi rasa takut dimarahi ayah kalau aku tak baik di sekolah.

Masa indah itu tak berlangsung lama. Terhitung beberapa minggu aku mendudukki bangku SMP, ternyata ayah tak akan lagi menyaksikan anaknya ini sampai pada mimipi-mimpinya.
Tepat di Hari Ibu, ayah pergi…

Tangisan itu masih kuingat hingga kini, tangisan pilu seorang istri yang ditinggalkan suami. Apalah dayaku mencoba menenangkan ibu, karena saat itu aku masih belum mengerti apa artinya sebuah perpisahan.

“Nak, walau ayah sudah tiada, tapi kau masih memiliki ibu, Nak…” ucap ibu dengan suara paraunya, masih terngiang.

Ayah, kutahu betapa besar cintamu kepada kami, keluargamu.

Kutahu betapa lelahnya engkau harus bekerja mencari penghidupan untuk kami. Dan kutahu betapa rindunya ibu yang setiap kali kau pamit bekerja di luar kota, selalu mengantarmu dengan senyuman dan airmata. Hingga menunggu pulang satu bulan sekali. Mungkin, karena pertemuan yang jarang bersama ayah itu, aku bisa membiasakan diri kembali setelah engkau benar-benar pergi selamanya.
Namun aku ternyata keliru. Aku baru mengerti arti kehadiramu, justru ketika engkau telah tiada, ayah… maafkan anakmu yang sempat menyiakanmu… maafkan aku yang tak bisa menemani di saat terakhirmu… maafkan aku yang belum bisa menjadi anakmu yang baik, layaknya seorang anak yang shaleh kepada ayahnya… maafkan buah hatimu ini, ayah… maaf…

Semenjak itu, aku mulai banyak berfikir. Terkadang aku merasa iri melihat teman-teman lain yang memiliki orang tua yang lengkap. Sementara aku? Seorang yatim yang masih butuh dibimbing, masih membutuhkan tangan kokoh itu.

Pikiranku ketika itu berubah tatkala memerhatikan adik-adikku yang masih kecil. Bagaimana di usia mereka yang masih dini harus kehilangan kasih sayang dari seorang ayah. Mereka mengajariku banyak hal. Tentang bagaimana memandang dunia ini, dari sudut pandang seorang anak. Meski tiada tangan kekar yang melindungi, tiada bahu kokoh yang menguatkan. Namun kusadar kami masih memiliki tangan lembut ibu, dekapan hangat yang mendamaikan. Kami hanya memerlukan satu. Kasih sayang. Terlepas dari siapa yang mencurahkannya. Dan aku menemukan makna kasih sayang sebenarnya itu dari ibu. Wanita mulia yang telah mendidikku. Bersyukur aku lahir dari rahimmu, Bu…

Bulan kini benar-benar menghilang dari buaian langit. Aku hanya mampu menantinya diselimuti angin yang menambah sepi… berharap bulan kembali bersama formasi bebintangnya…

Masa-masa indah kulalui bersamamu, Bu.. bersama kenangan ayah yang masih tersisa. Semua dijalani meski dengan keterbatasan diri.

Sejujurnya, awal aku mengenal jalan yang banyak orang sebut sebagai jalan yang panjang, banyak rintangannya, dan pengikutnya sedikit itu adalah ketika aku menginjakkan kaki di sebuah SMA Negeri yang kata orang pula disebut sekolah ‘favorit’ kala itu. Entah sefavorit apa sekolah yang dimaksud. Yang kutahu, aku lolos masuk ke sekolah yang menjadi awal ‘perubahanku’.
Disini, aku merasakan aroma yang berbeda. Meski sekolahku berada tepat di pinggir jalan raya, namun ada kesejukan yang kurasakan. Meski tak banyak pula pohon yang menaungi bangunan sekolah ini.

Kesejukkan itu, justru kudapat dari pemandangan indah kakak tingkat yang begitu mendamaikan. Awalnya aku tak menyangka kalau di sekolah ini, akan ada puluhan bidadari yang menghiasi. Walau sebenarnya jumlah mereka tidak banyak, tapi sayap-sayap indahnya mampu menarik jutaan hati. Termasuk diriku.

Dengan jilbab lebarnya yang indah -kusebut sebagai sayap bidadari- Ia menemuiku memberi sebuah senyuman. Indah. Ingin rasanya kumiliki senyuman indah itu. Senyuman yang membuat siapapun yang memandangnya damai. Kelak, aku pun akan memilikinya. Harapanku kala itu.

“De, sekarang waktunya mentoring. Insya Allah dari hari ini sampai beberapa bulan ke depan, kita akan bersama-sama mencari cinta-Nya,” ucap kakak tingkatku yang bersayap bidadari itu. Awalnya aku tak mengerti. Mentoring? Apa itu? Katanya semua murid baru di sekolah ini wajib mengikuti mentoring setiap minggu?

Dan di Masa Orientasi Siswa itulah aku mulai berkenalan dengan yang namanya tarbiyah yang begitu indah.

Kujalani masa-masa ‘pencarianku’. Di sini, aku mengenal apa itu ukhuwah, persaudaraan, kebersamaan, dan keluarga yang sesungguhnya.
Mulanya aku sedikit agak risih dengan diriku sendiri. Melihat bidadari-bidadari di sini, membuatku malu akan diri yang belum bersayap indah seperti mereka.

“Semua itu butuh proses de,, tak ada yang instan. Semua harus dijalani, dengan pengorbanan, ketulusan dan keistiqomahan…” nasihat pementorku ketika menjelaskan tentang kewajiban berjilbab. Hatiku dingin tatkala mendengarnya. Ada perasaan aneh yang menggelayuti batinku. Rabb,,,aku ingin lebih dekat dengan-Mu…

Berangkat dari sebuah kerinduan itulah aku mulai berusaha mendekati Sang pemilik cinta. Karena sungguh aku merindukan cinta-Nya. Cahaya itu hadir di tempat yang tepat. Tepat di hatiku.
Syukur tiada terkira pada-Mu Ya Rabb… Kau bukakan pintu itu… pintu yang penuh dengan cahaya. Hingga terbukalah hati yang selama ini tertutup rapat oleh semua ketiadaberdayaan diri. Entah pada siapa lagi aku kan meminta. Semua jawaban atas pertanyaan yang tiada pernah terjawab. Selain pada-Mu Ya Malik. Pemilik semua jawaban. Penentu atas semua takdir hidupku.

Kulalui semua proses itu. Aku mulai bergabung dengan teman-teman di rohis. Mempelajari semua tentang hidup. Pelajaran berharga yang takkan kudapatkan dimana pun. Selain di tempat yang Dia kehendaki.

Perjuangan itu kurasakan. Perjuangan yang menguras peluh dan air mata. Namun selalu ada senyuman yang terukir indah di akhirnya. Di usia remaja sepertiku dan teman-teman perjuangan yang lain, memang tidak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi yang kupahami, manisnya berjuang akan terasa ketika kita bersungguh-sungguh menikmati semua ujian-Nya. Ya, bukan mencelanya, tapi menikmatinya.

Kunikmati semua pahit dan manisnya perjuangan. Semua masalah yang menghadang jalan, kami sebut sebagai ‘kado terindah’. Setiap kali kado terindah itu datang, aku menghadapinya bersama teman-temanku. Mencari solusi terbaik, bertukar pikiran, walau kadang ada perbedaan, namun semua begitu indah bagai pelangi.

Di penghujung masa tanggung usiaku, berada di tingkat paling atas, menjadi kakak bagi adik-adik kelas, aku semakin mengenal arti diri. Ketika itu, aku dipersatukan dalam sebuah taman yang begitu indah, bersama seorang bidadari yang siap mengajak terbang dan menari indah di atas bumi, mencapai purnama.

Aku benar-benar merasakan nikmatnya tarbiyah. Apapun seolah akan aku hadapi untuk menujunya. Tak peduli siang yang penat, hujan yang dingin, bahkan saku yang menipis. Semua dilalui hingga aku tiba di taman itu.

Bidadari itu mengajarkan banyak hal kepadaku. Bagaimana harus mnyikapi hidup, mengelola waktu, menghargai setiap hembusan nafas dan pelajaran berharga lainnya. Hingga tiba aku pada ujian keimanan itu. Masa-masa Ujian Nasional yang menguras semua rasa. Jika melihat di sekitar, jujur, aku merasakan penat. Semua kawan belajarku selama tiga tahun seolah menjelma menjadi seseorang yang tak kukenal. Semua sempat membuatku takut. Terlebih ketika ujian itu tinggal di depan mata, aku disodori sebuah kebohongan diri. Ditawarkan manisnya buah yang telah diracuni.

Tuhanku hanya Allah
UN-ku bukan tuhanku
UN-ku hanya untuk Allah

“Ingatlah, satu orang yang jujur, lebih baik dari seribu orang yang berbohong..!” kalimat-kalimat itu mengantarkanku pada selembar keimanan. Meski tipis, namun mampu menjadi tabir penghalang untuk semua godaan ‘menyontek’.

Bersyukur kala itu aku masih memiliki orang-orang luar biasa yang mampu meneguhkan yakinku. Mendukung setiap langkah menuju kebaikan. Bukan jalan yang penuh fatamorgana. Bersama mereka kulalui ujian keimanan itu. Walau diawalnya penuh airmata, tapi diujungnya aku katakan bahwa semua perjuangan itu terasa manis dan indah. Teramat indah.

Ternyata benar kata orang. Masa-masa paling indah adalah masa remaja, khususnya masa-masa di sekolah. Ketika kita melakukan semua hal dengan senang hati dan ikhlas, maka semua terasa ringan dan mudah karena ada Allah yang selalu mempermudah.

Sungguh, aku akan sangat merindukan masa-masa itu…

Bulan mulai menyabit di kerajaan langit. Aku memandangnya penuh pesona. Memaksa memanggil cahayanya tuk terangi hati yang mulai redup. Sementara ia yang dipandang hanya mampu memberikan sebuah senyuman. Senyuman sabit.

Semakin beranjak dengan usia yang berbilang menuju dewasa, kucoba lalui hari, menikmati alur hidupku. Namun indahnya pelangi tak selamanya kulewati. Sejujurnya aku masih ingin menikmati masa remajaku lebih lama lagi. Masa ketika seragam putih-abu itu masih nyaman kukenakan. Tapi, kenyataan harus kuhadapi. Aku yang sekarang bukan lagi anak tanggung yang dulu harus terus dipapah berjalan di jalanan yang berliku. Kini, aku menghadapi lebih dari sekedar jalan berliku!
Jurang itu semakin menganga di depanku. Menggoda langkahku menujunya, menyuarakan kefanaan. 

Sementara aku yang masih terpaku di ujung jurang, tak tahu kemana arah tujuan.
Duhai, begitu manisnya ia menarikku, memasukki jurang yang tiada berujung.
Aku takut. Sungguh. Aku takut! Tak kuasa aku menahan tarikkannya hingga aku mulai terjerumus di dalamnya. Di lembah fatamorgana.

“Inikah buah dari tarbiyahmu? Apa yang kau dapatkan dulu? Kini semua tak berarti…Sejuknya taman hatimu hilang dilanda kemarau berkepanjangan. Sebenarnya kau mampu menghadapinya, namun naluri remajamu menolak!” suara hatiku memberontak.

Rabb, maafkan hamba yang sempat lalai kala itu. Sungguh mataku terhalang oleh fatamorgana dunia. Cinta yang semu. Sungguh, bukan cinta itu yang kuharapkan. Tetapi cinta hakiki-Mu Ya Rahmaan…
Di masa-masa awal kuliah inilah ujian itu benar-benar kurasakan. Perdebatan di dalam batin yang tiada pernah usai. Sejujurnya, di sini aku tidak menemukan kedamaian seperti yang kuperoleh di SMA dulu. Mungkin lebih tepatnya belum menemukan.

Aku mencoba bergabung dengan lembaga dakwah kampus yang lagi-lagi kurasakan belum cukup memenuhi kebutuhan hatiku.

Dimana aku kini berada?
Tempat apa ini?
Mengapa aku ada disini?
Sungguh, aku rindu tempatku dulu…

Pertanyaan-pertanyaan itu belum juga terjawab. Aku mencoba untuk berjalan terus di lembaga dakwah ini. Meraba-raba. Mencari apa yang hendak kucari. Hingga aku tersudut di sebuah perahu yang tak kutahu kemana layar terkembang kan membawaku.

Kau tahu kawan? Perahu ini penuh lubang, perahu ini terlihat tak bersih, tak sempurna. Namun, ini satu-satunya jalan menuju dermaga bernama hati. Hati yang telah lama merindukan cahaya-Nya.

Akankah kau melompat dari perahu ini? Lalu berenang sendiri mencari dermagamu? Ataukah kau akan bersama mendayung perahu ini? Memperbaiki hal-hal tak sempurna yang kau temui di dalamnya agar air laut itu tak masuk ke dalam perahumu?

Ya, tentu aku memilih pilihan yang kedua. Alasannya, sebab tak ada pilihan lain. Jujur, jika harus berenang sendiri, aku tak kan sanggup. Maka, kutentukan pilihan untuk tetap berada dalam perahu ini. Bersama sahabat-sahabat perjuangan yang kutemukan di sini. Memperbaiki segala yang dapat diperbaiki. Kembali membangun pondasi, mengembangkan layar dan mendayung bersama. Walau lelah dan terasa amat panjang, tapi usaha itu takkan sia-sia, kawan…

Segala pertanyaan yang datang di awal itu, kucoba simpan baik-baik. Mencoba mencari jawabannya. Di sini aku belajar, ternyata dakwah tak selamanya indah. Seindah di SMA-ku dulu. Berharap kesempurnaan pada manusia memang takkan pernah berujung. Karena hanya Allahlah yang Maha Sempurna.

Berbekal benih yang kuperoleh dari dakwah di SMA, aku mulai menanamnya di sini. Kuharap tempat ini akan terlihat indah. Terasa damai dan nyaman untuk dihinggapi burung-burung penjelajah itu.

Meski dengan tersuruk, aku coba bangkit. Menaiki tebing jurang yang tinggi itu. Bersyukur aku memiliki sahabat-sahabat yang siap mengulurkan tangannya, mengajakku untuk melangkah bersama. Menggenggam erat dan meminjamkan sayapnya untuk terbang, meraih semua mimpi yang telah terukir.

Masa lalu yang kelam di awal kumenginjakkan kaki di perguruan tinggu ini, sebisa mungkin aku kubur dalam-dalam. Berharap ia takkan lagi keluar ke permukaan. Biarlah cinta semu itu menjadi sebuah kenangan yang mengajariku arti cinta sejati-Nya.

Dengan cinta itu, aku belajar mencintai-Nya. Mengerti tentang perasaan rindu jika jauh dari-Nya. Memahami bahwa aku selalu ingin berada di samping-Nya. Bersama-Nya. Aku sadar, meski kau sempat hinggap di hatiku sejenak, namun kau mengajarikku banyak hal. Terima kasih untuk semuanya. Semoga kau pun mendapatkan cinta terbaik, bukan cinta semu dari gadis kerdil penuh dosa sepertiku. Tapi cinta hakiki dari Sang Pemilik Cinta. Semoga.

Bulan semakin menampakkan keanggunannya. Tepat di atas ubun-ubunku dia hadir dengan kesempurnaannya menjelma menjadi purnama yang begitu indah… Tapi, akankah malam ini ia meminjamkan cahayanya untuk terangi hatiku?

Kau tahu kawan? Mengapa di awal kuliah itu aku merasakan iman diri yang semakin turun?
Karena aku tak percaya dengan diriku sendiri. Aku sempat bermimpi lulus dari sekolah yang kata orang favorit itu, melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi yang menurut orang favorit juga, letaknya di luar kota, atau di luar pulau, bahkan di luar negeri? Mungkin. Bukan di kota yang sama sejak aku menginkakkan kaki di bangku pendidikan. Tapi, takdir berkata lain.

Apakah pernyataanku dapat dibenarkan? Bukan di tempat ini seharusnya aku berada! Bukan!
Tapi, rupanya itu hanya sebatas pernyataan yang tiada berarti. Hingga tumbuhlah pertanyaan-pertanyaan dalam benakku. Apakah rencana-Mu Ya Rabb? Engkau tempatkan aku di lingkungan yang sama sekali aku tak mengenalnya? Sebuah tempat dengan tingkat heterogen yang tinggi. Di kampus yang kutahu bernama Kampus Perjuangan?

Dulu, aku pun pernah memiliki mimpi yang sama dengan teman-temanku ketika SMA. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di tempat terbaik. Dan aku pun sempat mengutarakan mimpiku itu kepada ibuku tercinta. Lalu, apa jawab beliau?

“Nak, tidak ada tempat terbaik, tidak ada sekolah terbaik, karena sesungguhnya yang terbaik itu ada dalam hatimu. Ketika hatimu merasa baik, maka di tempat mana pun kau berada, takkan menjadi masalah bagimu.” Ucap ibu kala itu. Namun, aku terus membujuk ibu agar mengijinkanku sekolah di luar kota seperti harapanku.

“Ibu yakin, jika kau tetap berada di samping ibu, kau akan baik-baik saja, Nak. Tidak lah perlu sekolah jauh-jauh, di sini pun ada sekolah yang bagus untukmu…” terangmu. Mendengar perkataan ibu itu, terbenamlah sudah tekadku. Aku mencoba memahami maksudmu, Bu… namun ketika itu belum juga kutemukan jawab atas pertanyaanku.

“Belajarlah setinggi-tingginya, Nak.. agar kelak kau dapat mewujudkan mimpi-mimpimu..!” pesan ibu saat mengantarku mendaftarkan diri ke kampus pejuangan ini. Hm, bayangkan kawan, di usiaku yang seharusnya mandiri, justru masih harus diantar ibu demi melihat senyumku menjejaki perguruan tinggi

Akhirnya, meski dengan berat hati di awalnya, aku menjalani semuanya. Menikmati masa-masa ‘pencarianku’ kembali di kampus perjuangan. Meski dengan tanyaku yang belum juga terjawab. Tapi, semua pesan ibu masih terngiang hingga kini. Itulah sumber pengantar semangatku menuntut ilmu di sini.

Dengan tekad yang kembali, aku menikmati semua proses itu. Belajar memahami diri, memahami lingkungan sekitar dan memahami setiap alur yang ditakdirkan Tuhan.

Hingga di akhir semester satu, aku membuktikan pada ibu, bahwa pilihannya memang tak sia-sia! Syukurku pada Allah karena Dia memberiku kesempatan memiliki indeks prestasi tertinggi di jurusanku. Ya, nilai sempurna bagi mahasiswa.

Senyum ibu pun semakin merekah. Sungguh, aku senang mamandang senyumnya, seperti senyum rembulan tatkala sabit. Indah. Aku pun semakin bersemangat untuk memberikan hadiah-hadiah lain untuk ibuku. Agar dapat kulihat senyum-senyumnya yang amat kubanggakan.

Ternyata mimpiku terwujud kembali di penghujung tahun pertama kuliah, Indeks Prestasi Kumulatifku sempurna. Hingga aku memeroleh beasiswa prestasi. Syukurku tiada terkira pada-Mu Ya Rabb. Aku pun mempersembahkan semuanya untuk ibu tercinta. Senyum itu kembali menyentuh hati siapapun yang memandangnya.

Tapi, aku tak pernah berpikir sedikit pun bahwa itu ternyata senyuman terakhirnya
Bulan, kuharap jangan pergi malam ini. Aku masih membutuhkan cahaya-Nya. Aku merindukkan-Nya, aku butuh peneranganmu di sisa malamku…

Bersambung….


                      Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes