Hujan dan Satu Rindu - Teh Deska Hujan dan Satu Rindu - Teh Deska
TERBARU

Hujan dan Satu Rindu

Aku tahu ku takkan bisa, menjadi seperti yang Engkau minta, namun selama nafas berhembus, aku kan mencoba…

Hujan masih menemaniku pagi ini, mengiringi langkahku menuju kampus perjuangan. Ketika payung tak mampu melindungi, kurasakan ia menerpa lembut wajahku. Menyombongkan keanggunannya dalam dingin yang mampu membuat bibir kelu.

Betapa indahnya hujan di kampusku. Di saat orang-orang berlarian berlindung menghindari hujan agar pakaian tak basah atau make-up yang dipakai para mahasiswi itu tidak luntur, aku masih di bawah lingkaran payung, menikmati suara hujan yang berirama, merasakan sensasi dingin yang diberikan hujan pada syaraf-syaraf semangatku. Sejenak kuulurkan tanganku, mencoba menggapai hujan. Terasa energi yang diberikan hujan sampai padaku. Pasukan Allah yang datang berjamaah itu memberikan sebuah makna padaku. Tentang hidup yang tak selamanya selalu dalam dekapan hangat sang mentari. Dan kini, betapa aku menikmati indahnya pagi bersamamu, hujan…

Hujan kau ingatkan aku tentang satu rindu
Di masa yang lalu saat mimpi masih indah bersamamu

Dulu, aku sering menikmati hujan bersama Ibu. Ketika hujan mengalir dengan derasnya, guntur pun menambah suasana semakin syahdu, ibu selalu mengingatkanku untuk mematikan TV walau saat itu sedang asyik-asyiknya nonton.

“Nonton TV itu masih ada waktunya, kalau TV kita kena sengatan guntur, nanti kamu malah ngga bisa nonton lagi, jadi pilih mana?” ucap ibu mengingatkan.

“Hm, iya deh, daripada aku ngga bisa nonton TV lagi,” kataku sambil mematikkan TV dan mencabut kabelnya. Kalau ibu sudah bicara begitu, tak ada pilihan lain untukku.

Tapi di tengah keheningan rumah, kurasakan betapa indahnya saat-saat hujan itu. Kudengar suara hujan di atas genting menghasilkan alunan yang indah. Meski membasahi jendela dan teras rumah, namun kulihat hujan bergantian datang satu-satu, begitu rapi dan teraturnya.

Ibu selalu tahu apa yang terbaik harus dilakukannya ketika itu. Segelas teh manis hangat tersaji di meja makan. Aromanya sampai ke hidungku yang saat itu masih berdiam diri menatap TV yang tidak menyala.

“Hm, asyiiik, kayaknya enak nih dingin-dingin gini minum teh manis hangat,” ucapku mendekati ibu. Walau belum disilakan, langsung saja kuambil segelas teh yang tersaji di meja makan dan kucicipi minuman buatan ibu.

“Haduh, anak ibu yang cantik ini, pelan-pelan dong minumnya, masih agak panas itu,” kata ibu mengingatkan. Namun, ucapan ibu tak kuhiraukan sampai aku tersedak dan hanya mampu meminum sedikit karena memang masih panas. Melihat tingkahku itu, sontak ibu tertawa sambil membantuku mengelap baju yang sedikit basah karena air teh.

Di tengah hujan, aku menikmati kebersamaan itu. Dengan matanya yang mampu menundukkan hati, ibu menatapku yang asyik dengan minumanku. Sadar diperhatikan begitu oleh ibu, aku membalas tatapannya sambil tersenyum.

“Hm, ibu… ada apa? Kok kayaknya khusuk banget melihat aku? Aku cantik ya?” ucapku mencoba menggoda ibu.

“Iya, anak ibu kok cantik banget sih?” balas ibu menggodaku.
“Yaiyalah… ibu pasti mau bilang, ‘Sipa dulu dong ibunya’ ya kan? Hehe…” godaku kembali.
“Ih, anak ibu ini bisa aja deh… terus yang cantik ini udah ada yang punya belum?” ucap ibu sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Aah… ibu nih… maksudnya apa? Yang punya ya ibunya… kan aku anak ibu yang cantik…” jawabku.

“Maksud ibu, sudah punya seseorang yang special belum di hati?” Tanyanya kembali.
Sebenarnya aku mengerti maksud ibu, namun aku belum bisa mengungkapkan prinsipku saat itu yang hanya ingin mencintai seseorang jika sudah menikah.

“Sudah ada dong…” jawabku membalas kedipan mata ibu tadi. Dengan sedikit penasaran, ibu mendekatkan wajahnya dan menunggu kelanjutan jawabanku.

“Yang spesial di hati aku cuma satu… yaitu Ibu…..” tambahku akhirnya sambil mencium kening ibu. Sambil tersenyum, ibu memelukku. Begitu hangat dekapannya.

“Nak, kalau suatu hari ada seseorang yang datang mengambilmu dari ibu, kuharap dia yang soleh dan menyayangimu serta ibumu ini…” ucap ibu masih memelukku.

“Amiiiin……” dalam hati kuberdoa, ‘Rabb, kabulkan pinta ibuku…’
“Kelak, kau akan menjadi wanita paling bahagia, bersama keluargamu tercinta,” ucapmu kembali.
“Amiin…Amiin…Amiin Ya Mujib… sekarang pun aku sudah merasa menjadi wanita paling bahagia, Bu…” kataku. “Bahagia memiliki ibu seperti ibuku yang baik hati ini… bahagia bisa hidup bersama keluarga yang amat kucintai dan mencintaiku…”

“Sungguh?” tanyamu meyakinkan.
“Sungguh Bu… Aku sungguh menyayangi ibu… jika aku sudah menikah nanti, aku akan tetap bersama ibu, menjaga ibu, seperti ibu yang telah menjaga dan merawatku sejak kecil… kuharap kebahagiaan selalu bersamamu… itu doaku, Bu…” terangku sepenuh hati.

Kurasakan ada butiran hangat di pipiku dan kesejukan di atas ubun-ubunku.
Ibu menangis…
Air matanya sungguh menyejukkan…
* * *


Masih ditemani hujan, aku melangkah menuju kelas. Hari ini mata kuliah sastra. Aku sangat suka dengan sastra. Bahkan aku selalu ingat perkataan sayidina Umar bin Khatab, sahabat nabi, bahwa sastra mampu melembutkan hati. Kuharap dengan mempelajarinya, hati yang sejatinya suci, bertambah lembut dan dengan kelembutannya mampu menggetarkan hati siapa pun untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta hati.

“Assalamualaikum,” ucap salah seorang dengan nafas terengah-engah. Aku mengenal jelas siapa pemilik suara itu. Tanpa memandang ke arahnya, kujawab salamnya. Seseorang yang setiap berpapasan denganku selalu menebarkan salam dan ‘senyumnya’? Bahkan telingaku pun sampai hafal betul dengan suaranya.

Dia berlari mendahului langkahku.
Hujan, maukah kau menceritakan siapa dia? Yang berani masuk dalam alur kehidupanku. Datang tanpa permisi, menyapa hati yang berteman sepi.

Pertama kali aku menginjakkan kai di kampus ini, kurasakan gersang dan kemarau yang solah tiada berujung. Namun, di balik semua kegersangan itu, masih ada oase yang menyejukkan disini.

Aku bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus yang memberiku sedikit penyegaran di tengah hiruk-pikuk suasana kampus yang kemarau. Aku mengenal apa itu ukhuwah dan dakwah. Melewati semua ujian dengan perjuangan yang kelak akan meninggalkan jejak yang manis.

Bersama sahabat yang setia menggenggam tangan. Membantuku berdiri ketika terjatuh, memapahku ketika aku sakit, berjalan beriringan tanpa ada yang tertinggal, mengajak berlari ketika iman itu mulai menurun bahkan terbang bersama dengan sayap indah menuju cinta-Nya. Semua begitu indah. Termasuk perasaan itu?

Perasaan yang aku pun tak dapat mendeskripsikannya. Bahagiakah atau sedihkah? Namun, aku selalu berharap, perasaan itu hadir pada saat yang tepat dan tempat yang tepat.

Kembali pada pertanyaan pertama. Siapakah dia yang berani masuk dalam alur kehidupanku. Datang tanpa permisi, menyapa hati yang berteman sepi? Ya, mungkin hujan berkenan menceritakannya padaku.

Ternyata aku keliru. Perasaan itu justru tumbuh lebih cepat. Secepat hujan yang mulai membasahi hati. Rabb, ampuni segala khilaf hamba. Kutahu ini fitrah.. tapi aku tak tahu bagaimana harus menghadapinya… aku tak kuasa. Sungguh.

* * *

Dia. Lagi-lagi dia. Yang selalu hinggap di pikiranku. Seolah tak ada lagi topik menarik untuk perbincangan batin ini.

Lagi-lagi dia. Hadir memenuhi relung hati yang seolah kosong. Padahal sejatinya tak pernah kosong. Aku sesungguhnya hanya butuh cinta. Mencoba mencarinya di sudut hati, tapi tak pernah kutemui. Adakah hati yang kini kupakai terlalu kotor? Hingga tak mampu menemukan cinta-Nya.

Sampai dia hadir. Lagi-lagi dia mencoba mencuri sekeping hati yang lemah ini. Aku tahu, tak selayaknya aku menyalahkan dia. Karena sungguh, diri ini yang memulai. Duhai hati, maafkan aku tak kuasa menjagamu…

Hujan itu mungkin terlalu cepat datang dan terlalu cepat pergi. Menyisakkan gerimis bagi gadis yang sedang bernaung pada lingkar payung.

Awalnya aku tak pernah tahu bagaimana bentuk dan wujud perasaa itu. Yang kutahu ia memenuhi relung hatiku. Begitu dalam, begitu terasa indah.

Aku coba memahami, bahwa setiap hati memiliki fitrahnya masing-masing. Termasuk diriku dengan hati yang masih mencari tentang wujud fitrah itu.

Dia. Lagi-lagi dia. Kehadirannya tak mampu kucegah. Pertemuan pertama pada sebuah ikatan. Ketika itu mungkin aku terlalu dini untuk mengenal sosoknya. Aku hanya mampu memandang dari pandangan seorang anak remaja yang selalu haus akan pencarian. Pencarian arti diri.

Aku mencoba menenangkan hati. Ketika intensitas pertemuan itu semakin padat. Mencoba berlari, namun tak sanggup, karena amanah itu begitu berat. Tak mungkin aku meninggalkan jalan yang sudah kupilih sendiri. Akhirnya, berbekal tekad yang kuat, kucoba buang jauh-jauh perasaan itu. Mencoba menetralkan suasana hati.

Ketika diri mulai terbiasa dengan hadirnya, lagi-lagi rasa itu hadir. Kusembunyikan ia dalam diam, namun diam itu sendiri yang semakin menunjukkan kehadirannya. Sampai ibu akhirnya yang menemukan ‘keanehan’ dalam diri anaknya ini.

“Heum, ibu lihat akhir-akhir ini kamu berbeda, Nak? Ada apa?” Tanya ibu mendekatiku yang sedang menulis sendiri di kamar. Segera kututp buku diary itu, berusaha untuk tidak kaget dengan kehadiran ibu yang tiba-tiba itu.

“Ah enggak kok Bu, aku masih seperti aku yang biasanya, anak ibu yang baik hati dan tidak sombong,” jawabku sambil tersenyum menatapnya. Tapi tatapanku segera berpaling, karena ibu lebih dalam menatapku. Takut keresahan yang ada dalam hati anaknya ini terbaca lewat mata yang tak pernah bisa berbohong.

“Kau tahu Nak? Ibu juga pernah merasakannya, karena ibu juga pernah menjadi seusiamu, berada di posisimu seperti sekarang ini,” ucap ibu sambil berbisik di telingaku. Aku hanya terdiam, mencoba memahami maksudnya.

“Yang paling penting, kau harus bisa menjaganya baik-baik Nak, mampu mengendalikannya dan tetap berada dalam fitrahnya,” kini ibu berucap sambil beranjak keluar.

“Sudah malam, lekas istirahat ya!” pesan ibu sambil menutup pintu kamarku.
Hm, ibu selalu saja mengerti perasaan anak gadisnya ini. Ya, ibu benar. Siapapun berhak mendapatkan cinta dan merasakannya. Memberikan cinta dan menebarkannya.

Hujan… ajari aku cintamu
Cinta pada bumi yang menjadikanmu taat
Mempersembahkan rintik terbaik
Pada tanah yang kupijak
Memberi kedamaian
Pada hati yang selalu gersang

Kusudahi bercumbu bersama buku diary, menyimpannya di tempat terbaik. Kelak, diary ini menjadi saksi sebuah curahan cinta yang belum tersampaikan. Mungkin takkan pernah tersampaikan. Atau suatu saat nanti akan tersampaikan. Entah kapan. Entahlah.

Aku hanya mampu menyimpannya dalam diam. Inilah diriku yang tak mudah mengungkapkan sesuatu dengan lisan. Bercerita pada orang terdekat seperti ibu saja aku tak mampu. Cukup kuungkapkan pada Dia saja, Sang Maha Penebar Cinta. Bukan pada siapa-siapa, apalagi pada ia yang dituju. Bukan. Kuharap bukan.

Rasanya mungkin begitulah seorang perempuan, terkadang jika ia tak mampu berkata dalam dekap nyata, maka ia akan meraung dalam goresan tinta. Maka aku putuskan untuk mengungkapkan semuanya di sini. Di dalam tulisanku. Apakah semua orang akan merasakkan perasaan ‘aneh’ seperti perasaan yang menghinggapiku saat ini? Aku ingin semua orang merasakannya. Bukan merasakan kegelisahannya, tapi rasa cinta yang memberi bahagia. Ya, bahagia! Semoga.



            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes