Hadiah di Hari Ibu? - Teh Deska Hadiah di Hari Ibu? - Teh Deska
TERBARU

Hadiah di Hari Ibu?


Ada satu hal yang menggerakkan jemariku untuk menorehkan sedikit luapan perasaan yang telah lama terpendam. Semua ini tentangmu, yang kadang terlupakan, bahkan kadang dianggap tiada, namun hasil jerih payahmu begitu terasa. Meski terkadang diri sering tak sadar akan hadirmu dan perjuanganmu. Lupa bahwa diri bukan hanya lahir karena seseorang yang bernama ibu… tapi ada satu orang lagi yang berjuang bukan untuk dirinya sendiri, namun untuk semua yang menjadi tanggungannya.
Di pundaknyalah tersimpan semua beban yang kuyakin menurutmu itu bukanlah beban. Jika aku merenung sejenak, mengenang semua orang yang telah berjasa dalam hidupku. Terbayanglah satu sosokmu diantara deretan orang-orang yang tersenyum padaku…
“Ayah”, Ada satu yang berbeda darimu dibanding yang lain. Matamu yang sayu memancarkan ketegasan sikap. Bahumu yang kekar begitu menenangkan, inginku menyandarkan semua penat di bahumu itu. Tanganmu yang kasar terasa begitu lembut tatkala mengusap kepalaku, ketika aku sedikit melanggar nasihatmu. Senyummu yang jarang kulihat, semakin buatku semangat berbuat kebaikan untukmu karena rindu akan senyum teduhmu itu.
Masih teringat sedikit memoar kebersamaan denganmu, dulu ketika usiaku belum genap di atas lima tahun. Kau selalu ingin terlihat baik di mata anak-anakmu. Sepulang kerja, selalu ada oleh-oleh yang kau berikan, hingga aku selalu menunggumu pulang karena ingin mendapatkan oleh-oleh darimu. Bukan dari fisikmu.
Ketika dalam masa menunggu itu, terkadang aku bosan karena kau bekerja terlalu lama menurutku, hingga membuat kepulanganmu pun terasa begitu lama. Ya, ayah memang bekerja di luar kota yang menurutku begitu jauh. Pulang hanya satu bulan sekali, itu pun paling cepat. Dan jika kuhitung, paling lama kau pulang tiga bulan sekali. Aku mengerti akan pekerjaanmu yang begitu menguras tenaga. Sesekali sempat aku mengeluh pada ibu.
“Bu, mengapa ayah pulangnya lama sekali? Aku pengen dapet oleh-olehnya…” ucapku sedikit merengek. Ibu hanya menjawab singkat diikuti dengan senyuman seperti biasanya.
“Sabar Nak, sebentar lagi ayah pasti pulang. Doakan ayah baik-baik saja,” katamu dengan bijak. Mendengar kata-kata ibu, aku sedikit lega. Pikirku di usia kanak-kanak saat itu, cukuplah ayah pulang segera dan membawa oleh-oleh yang banyak untukku dan untuk kakak serta adikku.
Tapi kini, kutahu ada seseorang lagi yang lebih merindukan ayah, bukan karena rindu akan oleh-olehnya, tetapi rindu akan kasih sayangnya. Pernah aku mendapatinya menangis sendiri di ruang depan, berharap ayah pulang, mengucap salam dari luar, dan dengan segera ia membukakan pintu untuk ayah. Kuyakin betapa rindunya ia pada lelaki yang begitu disayangnya. Meski tak kau ungkapkan rasa itu, tapi terlihat jelas dari matamu yang memancarkan kerinduan yang mendalam, Bu... Rindu seorang istri pada suaminya.
Ayah, sosokmu begitu istimewa. Semua begitu merindukanmu. Di usiamu yang semakin senja, kau tetap berjuang untuk hidup orang-orang terkasih.
Dulu, aku belum dewasa ketika mendapatimu sakit. Dan kini baru aku sadar, betapa keras kau berjuang melawan sakitmu di tengah perjuanganmu bekerja. Penyakit yang telah menggerogoti tubuhmu itu seolah tak kau hiraukan. Pernah suatu hari, kau pulang dalam keadaan lemah. Tubuhmu terbaring di atas kasur. Namun, hanya ibu yang memedulikanmu.
Ketika kau sedang beristirahat usai meminum obat, kuintip kau di balik pintu kamar. Wajahmu yang sempat kuanggap keras, begitu damai di tengah tidurmu. Ayah…maafkan anakmu yang tak bisa berbuat lebih untukmu.
Semakin hari, bukan kesehatan yang membaik, namun sakit yang semakin parah.
“Ayah, istirahat saja di rumah, kondisi Ayah semakin lemah, ibu takut terjadi apa-apa disana,” pinta ibu menahanmu yang akan kembali ke tempat pengaduan nasib.
“Ibu tenang saja, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Doakan agar ayah sehat dan kembali dalam kondisi terbaik,” jawab ayah berusaha menenangkan ibu.
“Tapi Yah…” ucapan ibu segera dipotong ayah. “Ayah titip anak-anak ya…”
Tangis ibu tak bisa dibendung lagi. Kepergian ayah pagi itu meninggalkan kecemasan di hati ibu. Tak seperti biasanya ibu begitu sedih ketika ayah pergi. Padahal setiap bulan pun ayah akan pamit untuk pergi bekerja di luar kota. Namun, mungkin begitulah perasaan seseorang ketika mencintai orang lain melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Apalagi ketika itu, ayah dalam keadaan sakit, namun memutuskan untuk tetap bekerja.
“Yah, kondisi ayah semakin lama semakin menurun, ibu khawatir kalau ayah terus bekerja dalam kondisi seperti ini…” ucap ibu suatu waktu.
“Iya Bu, ayah tahu, tapi ini sudah kewajiban ayah untuk bekerja dan menghidupi kebutuhan keluarga,” jawab ayah.
“Bagaimana kalau mengambil pensiun saja Yah? Biar Ayah bisa ibu rawat dengan baik di rumah,” tawar ibu ketika itu. Ayah hanya diam sambil menatap wajah ibu dalam-dalam.
“Bu, Ayah mengerti kehawatiran ibu. Penyakit yang Ayah rasakan ini sudah ada yang menangani oleh pihak perusahaan. Kalau ayah berhenti bekerja, justru biaya ke dokter akan lebih mahal dan biaya hidup keluarga pun tak akan terpenuhi, walau ayah tahu rezeki itu sudah ada yang mengatur…” ucap ayah penuh pengertian.
“Ayah tak ingin merepotkan ibu dan anak-anak,” kaka-kata terakhir ayah itu begitu berbekas di hati ibu. Dan itulah tanggung jawab seorang laki-laki, bekerja sepenuh hati untuk orang-orang tercinta. Hm, ayah, aku banyak belajar darimu tentang perjuangan dan cinta.
Siang itu, kulihat langit begitu mendung dan haru hingga tangisnya tak dapat tertahan. Selesai sekolah biasanya aku langsung pulang bersama adikkku, tapi karena hujan, akhirnya kami mengurungkan diri melangkah melawan hujan. Indahnya menatap air mata langit itu, membasahi setiap hati yang gelisah. Berdua saja dengan adik tercinta, kami setia menemani langit hingga berhenti menangis.
Usai hujan reda, segera aku dan adikku pulang naik angkot. Ketika berjalan menuju rumah, kulihat orang-orang di jalan sekitar rumah memandang kami dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
“De, apa ada yang aneh dari kita?” tanyaku pada adik.
“Iya ya, kok orang-orang melihat kita kayak gitu ya?” jawab adikku dengan pertanyaan lagi.
Ketika sampai di rumah, aku mendapati keanehan lainnya. Di rumah ternyata sepi, tak ada kegaduhan adik-adikku yang masih kecil, tak ada suara TV yang memutar film kartun kesayangan mereka, dan tak ada ibu yang biasa menyambutku pulang sekolah.
“Pada kemana orang-orang nih?” tanyaku sambil menyisir rumah dengan pendangan heran.
Tak berapa lama, usai aku berganti pakaian, seorang tetangga masuk ke rumah dan langsung mendekati aku dan adikku.
“Ada apa bu? Kenapa ibu terlihat sedih?” Tanyaku heran. Namun ia tak menjawab, hanya memelukku dengan begitu erat.
“Neng, yang sabar ya… Bapak sudah meninggal…” ucapnya lirih sambil menangis. Sontak aku kaget, segera kutatap mata tetanggaku itu mencari kebenaran. Sementara dia hanya mampu menangis sambil pergi keluar karena tak kuasa menahan tangis.
Sejenak aku berpendangan dengan adikku sambil mengucapkan Innalillahi waina ilaihi rajiun. Tapi aku yakin apa yang adikku pikirkan sama dengan pikiranku.
“Siapa yang meninggal? Bapak?” Tanya adikku sambil menatapku. Kujawab dengan gelengan kepala. Sejujurnya aku dan adikku masih belum percaya dan belum tahu siapa sebenarnya yang telah meninggal. Kupikir yang meninggal adalah kakekku karena usianya sudah sangat sepuh bahkan hamper mencapai satu abad. Saat itu, aku sedih dan mencoba menabahkan hati.
Namun, keharuan itu kembali menjadi sebuah keheranan ketika kudengar ada sedikit gaduh di luar. Segera aku berlari keluar dan kudapati ibu turun dari becak dipapah oleh saudaraku.
“Ibu? Ibu kenapa?” ucapku sambil berlari menemui ibu yang begitu lemah dengan mata sayunya dan air mata yang tak berhenti mengalir. Belum kutahu sebab ibuku menangis, aku pun turut menangis, bukan karena paham dengan semua kejadian yang tak kumengerti saat itu, tapi sedih karena melihat kondisi ibu lemah seperti itu.
Sesampainya di kamar, ibu langsung memelukku erat, menangis dalam pelukan.
“Bu…” ucapku serak, mencoba mencari semua penjelasan. Tangisan ibu semakin deras, dan aku pun tak kuasa menenangkannya hingga akhirnya ibu berkata lirih.
“Nak… Ibu menyayangimu… walau ayah sudah tiada, tapi masih ada ibu yang akan menyayangimu… ada ibu yang akan mengasihimu…” ucap ibu dengan terisak.
Deg! Batinku mulai tak nyaman.
“A… Ayah…? Ayah pergi…?” tanyaku yang hanya dijawab dengan anggukan ibu, masih dengan tangisnya.
‘Ayah… mengapa begitu pagi kau pergi? Mengapa kau pergi tanpa berpamitan dulu denganku?’ batinku pilu.
Kucoba menenangkan diri, walau sulit. Mencoba menghapus air mata di pipi ibu, walau air mataku pun masih mengalir. Kutatap orang-orang di sekitar dan kudapati pemandangan sama yang mengharukan. Begitu menyesakkan.
Kesedihan itu masih berlarut. Ketika semua keluarga sudah berkumpul, namun yang ditunggu tak juga kunjung datang. Jenazah ayah belum sampai. Ayah meninggal di kota tempatnya bekerja. Berita tentang kepergian ayah diperoleh dari telepon pihak rumah sakit dan perusahaan ayah.
Tentu kami semua khawatir. Menunggunya datang detik demi detik. Namun, hingga malam tiba, ia pun tetap belum datang. Rabb, mudahkanlah perjalanannya…
Melalui speaker di masjid, kudengar telah banyak yang melantukan ayat suci-Nya. Berdoa untuk ayah. Di rumah pun semakin banyak saudara dan tetangga yang melayat. Tapi, di mana ayahku? Dia kini tak ada di hadapanku. Dimana ia? Ingin aku memeluknya… memandang wajahnya… untuk terakhir kali…
Rindu itu semakin membuncah. Malam, meski bertaburan cahaya bulan dan bintang, namun hatiku masih gelap. Sepi.
“Nak, istirahat dulu ya, Insya Allah esok subuh jenazah bapak pasti sampai…” kata saudaraku mencoba menenangkan. Bagaimana aku dapat istirahat, sementara aku tak tahu bagaimana kabar ayah saat ini? Batinku.
Tapi, mungkin karena lelah seharian menguras air mata, dengan doa yang tak pernah henti dilantunkan untuk ayah, aku pun tertidur sambil mendekap Al-Quran yang sedari tadi kupegang.
Benar kata saudaraku. Sebelum subuh, aku dibangunkan oleh suara tangisan dari luar kamar. Ayah datang. Jenazah ayah telah tiba dengan selamat. Aku bersyukur. Tapi, sejujurnya bukan hanya jasad yang telah tak bernyawa itu yang kuharapkan. Aku ingin ayahku!
Aku tahu. Yang pergi memang takkan pernah bisa kembali lagi. Tapi haru itu terlalu dalam. Aku tak dapat menahan air mata yang berjatuhan begitu saja membasahi mukena yang kini tengah kupakai. Di hadapanku terbaring sesosok lelaki mulia tak berdaya, lelaki yang begitu berarti bagi hidupku. Ia dengan tangannya yang kekar, bahunya yang kokoh, mampu menanggung semua beban. Kau memang begitu istimewa di mataku, ayah… aku bangga padamu… sungguh, aku mencintaimu…
Mendengar cerita dari saudaraku, ternyata benar telah terjadi hal yang menyebabkan ayah terlambat datang. Mobil yang mengantarkan jenazah ayah sempat tersasar dan tak tahu jalan. Beruntung waktu itu bibiku yang biasa pergi ke pasar lebih pagi, menemukan ambulan tersasar itu kemudian ikut mengantar sampai rumah.
Suasana hari itu begitu haru. Hati siapapun pasti turut berduka menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Ketika jenazah ayah akan dikebumikan, ibu tak kuasa menahan sedihnya hingga ia pingsan dan tak melihat pemakamannya.
Di sini. Tepat di samping makam ayah. Aku lemah terduduk. Menaburkan bunga-bunga segar di atas gundukan tanah ini. Mengusap nisan yang bertuan. Tertera tanggal kepergian ayah di sana.
22 Desember!
Hari yang seharusnya menjadi hari penting bagi ibu. Dan rupanya hari ini benar-benar menjadi hari ter’penting’ baginya. Tepat di ‘Hari Ibu’ ayah pergi. Meninggalkan duka yang mendalam bagi siapapun yang ditinggalkan. Termasuk seorang wanita mulia, yang rela mencurahkan cintanya untuk ayah.
Inikah hadiah di hari ibu? Kabar itu rasanya terlalu pagi datang. Ayah memang sudah mengidap penyakit itu dari lama. Tapi aku tak pernah menyangka akan secepat ini ia pergi. Mungkin, sakit itu menjadi jalannya. Jalan menuju sebuah tempat yang abadi. Dan takkan pernah kembali lagi ke dunia yang fana, namun kekal di sana. Semoga tempat terbaik. Di surga-Nya.
Duka itu ternyata tak segera pergi. Tepat tiga hari setelah ayah meninggal. Kudengar kabar duka itu kembali. Di tempat kelahiran ayah, kakek meninggal. Usianya memang sudah sangat tua, hampir genap seratus! Tapi rasanya jarak itu terlampau dekat. Belum usai duka hilang, duka yang baru pun melanda.
Kabar kepergian kakek benar-benar mnyesakkan. Terutama bagi keluarga ayah. Ayahku dari dulu memang jadi penopang hidup saudara-saudaranya. Sejak muda, ayah mencari penghidupan untuk keluarganya sebelum menikah dengan ibu. Dan setelah memiliki keluarga sendiri, ayah tak pernah lupa dengan saudara-saudaranya yang lain. Setelah kakek dan ayah pergi, penopang keluarga itu pun pergi. Namun kuyakin, masih ada Allah yang Maha menopang semua kebutuhan hidup hamba-hamba-Nya. Bukan pada pundak atau tangan kekar ayah. Tapi pada Allah Ar-Razaq. Sang Pemberi Rizqi.
Aku sadar. Seperti inilah kehidupan. Tiada pernah ada yang abadi. Orang-orang yang kucintai, harta yang kubanggakan, semua kemewahan dunia akan pergi dan takkan ada yang dibawa pulang. Kecuali amal yang setia menemani dan do’a anak yang shalih.
Semua ini mengajarkan padaku bahwa tak pernah ada seorang pun yang tahu tentang usia. Kapan ia akan dijemput oleh kereta kencana itu. Kapan ia akan menikmati buah perjalanan hidupnya. Selain Allah Sang Maha Hidup, Pemberi Penghidupan.
Hanya pada-Nya kita mampu meminta. Ketika semua yang kita harapkan tak memenuhi semua harapan. Ingatlah Allah sumber segala harapan. Jika mengharapkan dari manusia, pasti sia-sia!
Semua butuh persiapan. Termasuk persiapan menghadapi kematian. Mungkin esok atau bahkan detik nanti. Kita tak pernah tahu. Yang kuyakini, sampai detik ini, Allah masih sayang padaku. Memberiku waktu untuk menceritakan semua skenario indah-Nya ini. Dan semoga detik ini, ketika aku menuliskan alur hidupku, senantiasa berada dalam perlindungan-Nya. Berharap selalu dalam naungan cinta-Nya. Semoga.


            Baca Semua Episodenya ...

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes