Cinta Merah Jingga 1 - Teh Deska Cinta Merah Jingga 1 - Teh Deska
TERBARU

Cinta Merah Jingga 1

Cinta…masihkah berwarna Merah Jambu???!
Padahal Hijau Surga telah membentang….
Cinta…terima kasih kau telah hadir temani Cinta.
Terima kasih karna kau telah membuat Cinta Merah Jingga.
“Cinta….” Kata-kata kakek Taman Kota itu kembali terngiang di telinganya.
“Iya, sekarang aku telah mendapatkan Cinta itu, dan takkan pernah kulepas, akan kugenggam erat selamanya meski kusadar suatu saat, Cinta ini akan kembali pada Sang Pemilik Cinta,” ucapnya pada dirinya sendiri.
            “Cinta…hadirlah selalu. Meski, aku mesti kehilangan…,”
* * *
            Pagi itu, Cinta telah mendapatkan sebuah kebenaran.
“Cin, kau benar-benar telah berubah!
            “Jujur, aku tak suka dengan semua perubahanmu!!!” ucap Rayna sambil berlari ke luar kelas.
            “Ya Allah, sahabatku telah pergi, apakah kini aku harus kehilangan setelah mendapatkan??” Cinta berucap lirih. Dia juga berlari ke luar kelas, namun bukan untuk mengejar Rayna. Dia berlari di lorong sekolah yang masih belum banyak siswa yang datang pagi itu. Dia berlari dan terus berlari sambil terisak.
            “Inikah jalan yang harus kulewati untuk mempertahankan cintaMu itu?”
Cinta terduduk di sudut, di suatu tempat yang tak ada seorangpun yang datang ke tempat itu pada pagi hari. Namun, pagi ini terasa berbeda.
            Cinta terus menangis dalam sujudnya.
            “Assalamu’alaikum,”
            Suara itu begitu lembut, terdengar indah di telinga Cinta. Dia terbangun dari sujudnya dan saat itu, terlihat olehnya sesosok wajah yang begitu teduh dan meneduhkan tersenyum hangat padanya.
            “Wa’alaikum Salam…” Cinta membalas salamnya, dia pun tersenyum pada seseorang yang kini ada di hadapannya. Seseorang berwajah manis, dengan senyum yang manis, pandangan mata yang teduh, dan yang membuat Cinta semakin nyaman berada di dekatnya, adalah kain yang dipakai olehnya yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
            “Kamu Cinta ya? Senang saya bisa ketemu sama kamu di sini, di Rumah Allah ini…” ucapnya.
            “Iya, saya Cinta, kenapa kamu bisa kenal sama saya? Saya juga sangat senang bertemu denganmu,” jawab Cinta.
            “Siapa yang ngga kenal sama orang se-terkenal kamu di Sekolah ini… Cinta yang pernah mendapat medali emas Olympiade Sains, kenalkan nama saya Suci,” ucapnya lembut.
            “Suci ini bisa aja. Saya bahkan ngga ngerasa dikenal orang. Justru saya merasa selalu menjadi orang yang dilupakan…” ucap Cinta. Pandangannya menerawang jauh ke atas langit-langit yang berhiaskan Lafadz Allah di sana. Sungguh, bangunan yang sangat indah. Cinta bahkan sempat kagum pada Arsitek yang membangun bangunan itu, sampai akhirnya dia sadar siapa yang benar-benar mesti dia kagumi sesungguhnya.
            “Kenapa kamu berkata seperti itu?
“Cinta, semuanya mesti kamu syukuri. Bahkan sekecil apapun kenikmatan itu. Karena sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, Dzat Yang Maha Memberi…”
Ditatapnya kembali gadis itu, entah mengapa kini ia merasa dadanya sesak, ditumpahkannya air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya.
“Apakah aku hanya pantas menjadi orang yang tak tahu terima kasih? Apakah hidupku cukup terbelenggu dosa semata? Di mana kebenaran itu? Di mana??” Cinta menangis sekuat-kuatnya, ditumpahkannya segala apa yang selama ini berkecamuk di dadanya.
“Cinta, menangislah jika memang itu yang terbaik buatmu. Tapi ingat saudaraku seiman… kau tidak sendiri di sini, ada Allah yang menjagamu, mendengarkan semua keluh kesahmu dan menunjukkanmu jalan yang terbaik, dan kini waktu telah bicara padamu,” Suci mencoba mengingatkan.
“Apa benar apa yang kau katakan? Apa Dia tidak membenciku karena selama ini aku telah terlelap pada hisan dunia, sementara Allah masih menjagaku?” tanyanya dengan mata yang berkaca.
Suci tersenyum lembut.
“Allah tak pernah membenci siapapun hambaNya yang ingin kembali padaNya, kembali meraih CintaNya…”
Mendengar perkataan Suci, tangis Cinta pecah kembali, bahkan kali ini lebih deras. Tapi, air matanya kini ia persembahkan untuk Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang.
“Dialah Allah Sang Penggenggam Cinta…”

Sungguh Cinta… kau telah tunjukkan kebenaran itu lagi…
Terima kasihku kali ini karena Cinta telah memberiku yang lebih baik setelah aku kehilangan…
Sungguh Cinta… kau telah tunjukkan kebenaran itu lagi…
* * *


Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes