Belajar dari Hujan - Teh Deska Belajar dari Hujan - Teh Deska
TERBARU

Belajar dari Hujan

RAKA DAN RAI
Belajar dari Hujan

            Tadi sore, usai hujan mengguyur bumi dengan lebat, Raka dan Rai pergi ke halaman luar rumah untuk membersihkan lantai dari cipratan air hujan yang membasahi lantai rumah mereka.
            “Tadi hujannya besar banget ya, sampai-sampai air hujannya masuk ke halaman rumah,” seru Rai sambil memegang lap kering di tangannya.
            “Hujan itu, anugrah dari Allah yang harus kita syukuri, Nak!” ucap ibu yang mulai membersihkan lantai.
            “Kenapa dibilang anugrah, Bu? Bukannya kalau ada hujan, kita jadi ngga bebas beraktifitas di luar?” tanya Raka bingung.
            “Kata siapa jadi ngga bebas?” ibu balik bertanya.
            “Ya, buktinya ada teman sekelas Raka yang ngga masuk sekolah gara-gara hujan,” jawab Raka.
            “Kalau begitu, jangan salahkan hujan, tapi salahkan temanmu yang tidak semangat belajar. Masa hanya karena hujan, jadi ngga masuk sekolah? Gimana kalau hujannya turun setiap hari?” jelas ibu yang membuat Raka semakin bingung.
            “Iya ya, masa ngga masuk sekolah terus? Jadi ketinggalan pelajaran dong,” ucap Raka sambil mengangguk-angguk tanda mengerti dengan perkataan ibunya.
            “Nah, kasihan kan, hujan malah jadi tersangka yang jelas tak bersalah atas tindakan temanmu yang tak mau sekolah itu!” ucap ibu dengan mimik wajah serius.
            “Wah ibu, kayak polisi aja, hebat!” seru Rai sambil tertawa yang diikuti oleh Raka. Akhirnya mereka pun tertawa bersama-sama sambil terus membersihkan lanatai rumah.
            “Oiya, tadi ibu bilang, hujan itu anugrah dari Allah kan? Maksudnya gimana, Bu?” tanya Raka kembali merasa belum puas dengan jawaban ibunya tadi.
            “Iya, hujan itu anugrah yang harus disyukuri, karena banyak manfaat dari hujan yang dapat kita rasakan. Coba, ada yang bisa menyebutkan apa manfaat hujan itu?” terang ibu.
            “Menyuburkan tanaman!” jawab Raka cepat.
            “Membahagiakan petani!” tambah Rai tak mau kalah.
            “Betul, kalau kita sebutkan, banyak sekali manfaat dari hujan. Makanya, kita sebut hujan sebagi anugrah dari Allah,” jelas ibu.
            “Tapi Bu, kenapa banyak orang yang tidak suka dengan turunnya hujan?” Tanya Rai sambil melirik kakaknya.
            “Kalau Raka, suka hujan kok, itu teman Raka saja yang bilang tidak suka hujan,” ucap Raka membela dirinya.
            “Ya, karena banyak manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu. Terkadang kita suka mengeluh saat hujan datang, tapi kita juga suka mengeluh kalau matahari memberikan panasnya pada bumi,” jelas ibu lagi.
            “Terus, kita harus gimana dong?” tanya Raka.
            “Kita belajar pada hujan, meskipun banyak orang yang tidak suka padanya, tapi ia tetap memberi manfaat pada manusia dengan airnya yang mampu menyuburkan tanah. Oleh karena itu, bersyukurlah dalam semua keadaan, walau panas ataupun hujan kita bisa mengambil banyak hikmah di dalamnya, siap?!” jelas ibu membuat senyum di wajah Raka dan Rai terlihat indah sore itu.
            “Siap!!” seru mereka bersamaan.
            Usai membersihkan halaman rumah, kebahagiaan mereka bertambah dengan hadirnya peangi yang menghiasi langit senja itu.


Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes