Aku Tak Ingin Kalian Celaka - Teh Deska Aku Tak Ingin Kalian Celaka - Teh Deska
TERBARU

Aku Tak Ingin Kalian Celaka

“Oi Nina, Oi Nina, Oooi…!” suara seseorang di luar sana membuyarkan pikiran Nina yang sedang asyik menuliskan isi hatinya dalam buku diary kesayangannya.
“Hei Don, tunggu bentar ya!” wajah Nina yang tadinya agak marah sebab sudah diganggu, kini berubah menjadi wajah yang gembira dengan senyum manis di bibirnya. Setelah melihat ke arah jendela, segera dia keluar sambil berlari riang.
“Wah maaf ya, aku lupa nih!” ucapnya, saat teringat kalau dia sudah punya janji dengan Doni.
“Ah ngga masalah, sekarang ayo kita berangkat!” ajak Doni, siap mengayuh sepedanya.
“Wah sepedaku lagi rusak, lupa belum dibenerin,” keluh Nina.
“Dasar Nenek pikun!” ledek Doni “Sudahlah, kalau begitu aku boncengin deh!” Ucap Doni akhirnya. Nina pun duduk di jok belakang sepeda Doni. Dan mereka siap berangkat di pagi hari yang agak mendung.
“Ckiiit…!!!”
Dengan cekatan Doni mengerem sepedanya, ketika ada sebuah mobil melaju kencang di hadapannya.
“Hei, kalau main jangan di tengah jalan!” seorang Bapak tua melongokkan kepalanya dari dalam mobil sambil marah. Sementara Doni hanya tersenyum menutupi kesalahannya.
“Maaf  Pak!” ucapnya sambil mengayuh sepedanya kembali dengan kencang. Sebab takut kena marah bapak tadi.
“Aaaaaaa!!!” jeritan Nina terdengar keras sekali.
“Woi, kenapa sih?” Tanya Doni sambil terus mengayuh sepedanya dengan tetap kencang.
“Don, sadar, laju sepedamu terlalu cepat, aku pusing tau!” bentak Nina. Tapi Doni tetap saja seperti tadi. “Ha, ha, ha !!!” ketawa Doni semakin membuatnya kesal.
“Doniiiiiiiiiiii !!!”
“Ckiiiit !” Doni mengerem sepedanya tiba-tiba. Sehingga hampir membuat Nina terjatuh. Tapi untunglah dia segera memegang baju Doni, dan akhirnya tidak jatuh.
“Hei, kenapa sih kamu ini? Kita sudah sampai nih,” ucap Doni menyadarkan Nina yang sedang menutup wajahnya di belakang punggung Doni, karena takut.
“Hah, di mana kita Don?” Tanya Nina bingung sambil perlahan-lahan menurunkan tangannya -yang tadi menutupi wajahnya- di depan sebuah pintu gerbang yang tinggiii sekali, bahkan lebih tinggi dari pohon cemara yang biasa mereka tempati untuk beristirahat.
“Ayo ikut saja, pasti kamu terkejut!” jawab Doni sambil menarik tangan Nina.
“kejutan!!!”
Di dalam ruangan terlihat beberapa anak yang memegang balon dan seorang anak memegang karton bertuliskan ‘Selamat Ulang Tahun Nina’
“Gimana, kamu senang ngga dengan hadiah ini? Selamat ulang tahun ya!” ucap Doni bangga. Anak yang lain juga ikut bersorak untuk Nina. Tapi Nina sendiri tidak berekspresi apa-apa, wajahnya malah semakin muram.
“Eh Nina, kamu pasti kaget, sekarang ayo kita mulai acaranya. Ya, mesti tanpa lilin, tanpa kue dan tanpa makanan enak,” ucap Doni sambil menarik tangan Nina.
“Hei kenapa?” Tanya Doni kembali, sebab Nina malah menguatkan kakinya dan melepaskan tangan Doni dari tangannya.
“Iya Don, aku benar-benar kaget!” ucapnya dengan nada suara bergetar seolah-olah menahan tangis. Dan dia keluar dengan tangis yang sejak tadi ditahannya itu.
“Nina!”
Teriak anak-anak di sana serempak. “Nina tunggu !” Doni berteriak sambil berlari mengejar Nina. Namun percuma saja, Nina sudah tidak ada di sana. Dan tanpa pikir panjang, Doni segera mengayuh sepedanya.
Sementara langit yang mendung ditutupi awan hitam yang sendu, sesendu hati Nina yang kini sedang terombang-ambing seolah-olah memahami perasaannya.
Air mata yang menggenangi pipinya tidak kalah dengan air hujan yang semakin deras. Di tengah hujan itu, Nina berlari kencang hingga kakinya tak kuasa lagi untuk berlari.
“Hah Nina, kamu tidak apa-apa?” Tanya Doni dari arah belakang dengan sepedanya yang agak sulit untuk melaju, karena jalan yang sangat licin.
“Nina, kamu kenapa?” Tanya Doni kedua kalinya karena Nina tidak menjawab pertanyaannya tadi. Didapatinya Nina yang sedang berdiri dengan kedua lututnya dan pandangannya mengarah ke bawah.
“Bawa aku pulang Don, bawa aku pulang!” kini Nina berucap dengan nada serak. Sisa tangisnya masih membekas di pipinya.
Segera Doni membantunya berdiri, mendudukkannya di atas kursi belakang dengan perlahan dan hati-hati, sebab tubuh Nina sangat lemah. Di tengah hujan yang lebat itu, mereka terus melaju dengan sepeda Doni di jalan yang tanpa laju kendaraan lain, selain sepeda itu.

***
Malam itu, Nina tak berhenti menangis, tidak ada seorang pun yang menemaninya saat itu, selain buku kecil kesayangannya yang selalu setia bersamanya.
Selesai menuliskan isi hatinya yang kini sedang gundah, dia segera menutupnya dan memutuskan untuk pergi.

            Dia sudah bulat dengan keputusannya, maka malam itupun menjadi saksi perginya Nina dari rumah.

***
            “Bibi, Ninanya ada?” Tanya Doni yang pagi sekali sudah datang ke rumah Nina.
            “Wah, Nina sudah pergi, tapi dia menitipkan ini sebelumnya. Bibi tidak tahu ke mana dia pergi, mungkin ke rumah saudaranya dan bibi juga tidak pernah tahu tentang keluarganya,” ucap wanita yang tinggal bersama Nina itu, sambil memberikan sebuah buku kecil.
            “Oh, terima kasih ya Bi” Doni pergi sambil membolak-balikkan buku yang dipegangnya.
            ‘Mungkin ini milik Nina, tapi kenapa diberikan padaku?’ Tanya Doni dalam hatinya. Dan dia segera membacanya di bawah pohon cemara –tempat istirahatnya bersama Nina bila kelelahan pulang bekerja-. Tepat pada halaman yang dibukanya,

Kamis, 5 Januari 2006

“Ini kan tanggal ulang tahunnya Nina?”

Dear diary,
Bisa ngga kamu sampaikan salamku buat ayah dan  ibuku? Tolong ya.., aku sudah kangen sama mereka. Sampaikan juga maafku, karena aku,  mereka pergi. Aku ini benar-benar bodoh dan egois, demi mewujudkan keinginanku mereka berkorban…
Diary…
Hari ini tepat hari ulang tahunku dan juga hari di mana ayah ibuku meninggalkan dunia tempat aku yang ditinggalkan oleh mereka, aku sadar dan mengakui kekhilafanku. Dan aku tak ingin ini terjadi pada siapapun lagi.
Ayah…ibu…, aku menyesal…………….
Sekarang Doni mulai membaca lembaran berikutnya.
Diary, apa aku salah?
Aku sudah membuat mereka sedih, dengan meninggalkan mereka.

Baca Kompilasi Cerita Cinta lainnya ...

Tapi hanya kamu yang mengerti aku
Malam ini, harus kuakhiri semua yang pernah aku lakukan agar apa yang terjadi pada ayah ibu tidak terjadi pada mereka.

Maafkan aku teman-teman, tapi aku tidak mau jika kalian celaka dan pergi meninggalkan aku. Lebih baik aku yang pergi,  supaya kalian bahagia.
Dan satu hal yang aku inginkan…
Ingatlah aku dalam hati kalian… selamanya!
         
            Saat ini Doni dipenuhi dengan rasa penuh penyesalan. “Nina, aku akan selalu ingat denganmu, keceriaanmu, baiknya dirimu, dan tulusnya hatimu. Itu pasti…!”
Di bawah pohon itu dia menangis sendiri, hanya sendiri….
***

Share this:

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes