Archive For February 2015 February 2015 - Teh Deska
TERBARU

Mana Cinta?

“Siapatah yang sudi membantuku?
 Seseorang yang tak tahu arti cinta
"Hai burung-burung kau terbang tanpa beban, tapi apakah kau sudah mendapatkan cinta?!
“Oh, lautan yang membiru, adakah cinta di sana?
“Duhai diriku yang malang, Kau tahu, dimana cinta?
“Sungguh kudibuat lemah tak berdaya  olehnya.
“Duhai cinta, dimana kau kini……….”
Sang Putri duduk menunduk, tenggelam dalam kesendirian dan hening… hingga sehembus nafas tiba di penghujung………
         
            “Huuuuuuh!”
            Tirai pun tertutup, menggemalah sorak sorai penonton dan tepuk tangan riuh tanda keberhasilan bagi Putri.
            “Wuiiih keren amat sih?” ucap Chika sambil menciumi kedua pipi sahabatnya yang baru turun dari pentas.
            “Terima kasih……!” jawab Putri, layaknya sang Putri dalam cerita, sambil mengangangkat gaun kerajaannya dengan tersenyum manis.
            “Putri lakukan ini untuk cinta, yang tak kunjung datang dalam hatiku…!” lanjutnya dengan nada puitisnya.
            “Cielaah, udeh deh non ini bukan di pentas!” ledek Tie.
            “Ehm, kalian tahu? Peran ini kulakukan atas kebenaran dalam hidup dan kehidupanku. Kini, aku yang lemah ini tak kuasa mencari cinta yang terpendam di dasar lautan nun jauh di sana…”
            “Yawdahlah, nanti juga kau kan dapatkan cinta itu. dan sekarang kau ikuti langkah kami. Maka akan kau temukan cintamu,” ajak Nadin lawan mainnya di pentas tadi yang sama-sama jago berpuitis. Dan Putri pun melangkah bersama kawan-kawannya.
            Tibalah mereka di depan pintu aula sekolah yang tertutup rapat.
            Ditatapnya wajah ke tiga sahabatnya itu yang bertingkah mencurigakan. ‘Ada sesuatu yang mereka sembunyikan!’ batinnya.
            “Satu… dua… tiga…..!!!”
            Terbukalah pintu aula. Dan tahukah kalian, apa yang terjadi di sana?

            “Putri, ini untukmu, sayang,” tiba-tiba Mama muncul di antara orang-orang di sana dan segera berhamburlah ia di pelukan Mama.
            “Oh Mama aku mencintaimu!”
            Sebuah pesta kecil dibuat untuk Putri oleh mama dan teman-teman yang sangat baik padanya. Sebagai bentuk sayang mereka pada Putri.

            “Put, ada acara pentas baru yang diselenggarakan oleh yayasan Gerakan Islam Bangsa, dan mereka mengundangmu untuk ikut bermain dalam teater ini!” tawar Bu Elsi yang bertugas sebagai pengasuh plus managernya.
            Putri cukup bingung juga menerima tawaran itu, mengingat dia masih sibuk menyelesaikan skripsinya yang tinggal sedikit lagi dan baru tiga hari yang lalu dia bermain teater sekarang harus main lagi.
            “Hmmm, Putri masih bingung Mbak, belom bisa ngasih keputusan nih, takut pekerjaan yang lain terbengkalai,” ucap Putri.
            “Tapi manurutku, ngga ada salahnya loh kamu nyoba ikutan teater ini, ceritanya cukup menarik juga!” saran Nadin yang sedang membaca majalah kesukaannya.
            “Iya juga sih, lagian aku kan belum pernah main dalam teater yang bernuansa religi seperti ini, mungkin saja ada hal baru yang akan aku dapatkan dalam teater kali ini!” jawab Putri.
            “Jadi, apa kau akan ikut teater ini?” tanya Mba Elsi meyakinkan.
            “Yup!” ucap Putri mantap.
            Dan, Mbak Elsi pun segera menelpon yayasan itu, memberitahukan bahwa Putri siap main dalam teater mereka.
            “O ya Putri, besok kau bisa mulai latihan, nanti Mbak yang ngatur!” beritahu Mbak Elsi setelah menutup telponnya.
            “Thanks ya Mbak!” ucap Putri yang sedang sibuk mengetik di depan layar komputer.
            Betapa pun seabrek tugasnya. Putri tak akan pernah membengkalaikan salah satunya. Dia akan berusaha melaksanakan kewajibannya. Dan Main teater adalah salah satu hobi di tengah kesibukannya, dia akan melakukannya dengan senang hati.

* * *

            “Eh itu Putri, seorang pemain teater terkenal yang jago akting!” tunjuk Sarah, ketua keputrian yayasan GIB pada Fitrah.
            “Yuk, kita sambut dia, mudah-mudahan bisa bekerja sama dengan kita!” ajaknya sambil menggamit lengan Fitrah.
            Putri tersenyum pada dua orang yang kini ada di hadapannya.
            “Assalamu’alaikum, selamat bergabung ukhti di yayasan kami!” ucap Sarah sambil menjabat tangan Putri dengan penuh keramahan, begitu pun dengan Fitrah. Tapi Putri malah bengong sendiri, dia merasa canggung ada di hadapan dua orang yang jarang dia temukan dalam kehidupannya.
            “Wa…Wa’alaikum salam!” jawabnya ragu. ‘Ya ampun, sudah lama aku tak mengucapkannya, terasa ada sesuatu yang kurasakan yang tak pernah ada sebelumnya. Kenapa lidah ini terasa ringan dan hati tenang begitu mengucapkannya?’ batin Putri.
             “Mari, kami antar berkeliling di yayasan sederhana ini, agar Ukhti lebih mengenal lingkungan yang akan kita tempati selama latihan teater ini!” ajak kedua gadis berjilbab ini. Dengan senang hati Putri menerima ajakan itu.
            Kini, aku seolah tengah berada dalam dunia lain, duia yang sebelumnya pernah kumasuki, walau hanya sekejap saja.
            Oh, mereka sungguh berbeda. Ya, jauh berbeda! Suasana penuh kehangatan ini membawaku tuk lebih mengenal Islam.
            Dulu, aku pernah seperti mereka, Sarah dan Fitrah. Jilbab yang kini ada di tangankua tak teresa asing lagi buatku. Tapi, ini untuk pertama kalinya aku mengenakan jilbab suci dan pakaian taqwa ini, setelah sekian lama ku tlah ajuh darinya.
            Aku sempat berpikir, ‘kenpa dulu aku menjauhunya? Kenapa dulu aku melupakannya? Kenapa?’
            Aku ini seorang muslim, ya, sekiranya begitu, sebab sejak lahir aku beragama islam. Tapi… masih pantaskah aku menyebut diriku sebagai seorang muslim? Setelah sekian lama kutinggalkan kehidupanku. Dan lebih memilih memasuki dunia hampa yang tak pernah kumenemukan sebuah kata yang tersembunyi?
            “Subhanallah, kau sungguh cantik Putri!” ucap Fitrah yang membantunya menggunakan jilab sebelum latihan.
            “Ah, Fitrah kau mengejekku ya!” ucap Putri malu.
            “Sungguh, kau cantik Ukhti, apalagi jika hatimu juga kau balut dengan jilbab suci ini!” ucap Fitrah lembut sambil memegang pundak Putri.
            Kau benar, sungguh aku malu pada diriku sendiri. Fitrah, andai kau tahu, aku iri padamu, aku cemburu padamu, karena aku merasa Allah lebih mencintaimu dari pada aku!
            Malam ini akan diadakan tausiyah ba’da Isya di masjid bersama para pemain teater.
            “Sebelum kita melaksanakan hajat ini, lebih baik kita berdo’a, memohon pada Sang Khalik agar apa yang kita rencanakan ini mendapatkan ridho darinya.
            “Fitrah, aku deg-degan banget nih, besok kita harus bermain sebaik mungkin!” bisik Putri pada lawan mainnya. Fitrah membalasnya dengan senyuman.
            Sebelumnya aku tak pernah merasakan kegelisahan ini. Padahal sudah begitu banyak dan sering aku bermain dalam teater, tetapi kali ini sangat berbeda.
            Naskah drama yang akan dipentaskan bercerita tentang seseorang yang baru masuk Islam dan memperdalam tentang agama barunya ini.
            Hati Putri semakin gelisah. Ia merasa takut karena ia tak sebaik tokoh yang harus diperankannya dalam teater itu. Meskipun sudah lama ia tidak mengaji, tetapi ia pernah dengar bahwa kita tidak boleh berkata tentang apa yang tidak kita kerjakan.
            Malam harinya, Putri tidur di asrama putrid bersama pemain teater yang lain. Sementara itu, Putri lebih memilih tidur di dekat Fitrah. Ia ingin mengetahui rahasia di balik diri seorang Fitrah.
            “Fit, boleh aku bertanya satu hal kepadamu?” Tanya Putri sedikit berbisik.

Baca Kompilasi Cerita Cinta lainnya ...

Maafkan Aku!

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Ba’da Tahmid dan Shalawat,

Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Sungguh, ingin kukatakan bahwa aku mencintaimu...
Dan aku ingin cintaku ini hanya karena Allah semata.

fitrah hanyalah sebuah fitrah...

Kau tahu,
Langit telah menyaksikan
Bulan pun merasakan
Dan aku tlah ikhlaskan
Aku tak pernah tahu apa yang kau rasakan
Karena aku tak tahu isi hatimu
Yang aku tahu hanyalah hatiku
Yang menyimpan rasa padamu
Bagiku, kaulah yang tlah ajarkan padaku
Sesuatu yang indah
Dan buatku bahagia
Karena dengan itu, aku semakin dekat dengan Tuhanku
Kaulah yang mengajarkan Cinta
Sehingga aku dapat mengenal CintaNya
Kaulah yang mengajarkan Sayang
Sehingga aku selalu menyayangiNya
Rasa ini, rindu, kasih, sayang dan cinta
Semua yang telah kau ajarkan padaku
Sungguh, aku bersyukur menerimanya
Sedangkan dirimu,
Aku Ikhlaskan...
Karena engkau adalah milikNya
Dan kini...
Hati dan perasaan ini,
Telah menemukan tempat berlabuhnya
Tiada Tuhan selain Allah
Cinta di atas cinta....

Maafkan aku...
Rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu.
Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur.
Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku.
Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam.
Yang siap Memberi apapun yang kupinta.
Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

Maaf, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia.
Aku ataupun Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya.
Dan aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya murka.
Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

Belum terlambat untuk kita bertaubat.
Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya.
Ia bisa marah...
Marah tentang saling pandang yang kita lakukan,
marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu,
marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu,
marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau,
tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu...
Marah karena semua yang telah kita lakukan...

Tapi sekali lagi semua belum terlambat.
Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang,
semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni.
Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

Jangan marah ya.
Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya.
Tapi tak cuma aku,
Kau pun bisa menjadi kekasihNya,
kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan.

Caranya satu,
kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini.
Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing.
Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya,
Kita mulai semuanya dari awal.
Kita perbaiki semuanya untuk mensucikan hati,
Untuk saling menjaga hati.

Kau tahu,
Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu dan mengenalmu.
Tapi, sebisa mungkin akan kujaga semua ini.
Agar hati ini tak ternoda lagi dengan cinta-cinta semu lain.
Kau akan menjadi sebuah kenangan indah dalam sejarah hidupku.
Dan aku ingin melewati ini hanya sekali
Mulai saat ini akan kujaga sepenuh hati,
Fitrah dariNya
Sampai kelak aku bertemu dengan seseorang yang telah ditakdirkan Allah menjadi pendamping hidupku.

Kuharap, kau pun begitu karena Allah.
Kita sama-sama saling menjaga hati ya...
Karena kuyakin Allah telah mempersiapkan Rencana terindah untuk masa depan kita.

kau pasti akan dipertemukan dengan seorang Wanita Shalihah.
Ya, Wanita Shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini.
Seperti yang pernah A katakan,
Seorang Wanita Shalihah bagai Cahaya Cinta...
Cahaya cinta yang didamba untuk saling mengingatkan,
Cahaya cinta yang akan menemani hidup ini,
Cahaya cinta yang akan saling melengkapi,
Cahaya cinta yang saling menerima segala kekurangan dan menyempurnakan segala kelebihan..
Kuyakin, kau akan mendapatkannya...
Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan Pernikahan yang Suci...
Inilah doaku untukmu, semoga kau pun mendoakanku.

Maafkan aku...
Aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini.
Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah.
Ya, saudara di jalan Allah.
Itulah ikatan terbaik.
Semoga silaturahim kita tak putus karena hal ini.
Silaturahim yang akan memperkuat ikatan kita sebagi saudara seiman.
Silaturahim yang mengantarkan kita pada keridhoan Allah.
Tak hanya antara kita berdua.
Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di telagaNya, lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.

Maaf,
Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini.
Aku takut ini merusak kesucian hati.
Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat
Doaku untukmu...
Juga sebagai tanda akhir dari hubungan kita, Insya Allah.
Meskipun kutahu ini perih dan rasanya pahit,
Namun, semua akan indah pada waktunya.
Oleh Karna itu,
Wahai orang yang kusayang karena Allah,,,
Yakinlah’!!
“Rencana Allah Selalu Indah...”

Maafkan aku...
Bukannya aku membencimu
Bukan pula aku mengkhianatimu
Aku hanya ingin kau tahu

Sungguh...
Aku mencintaimu,
Tetapi ada yang telah menempati hati ini
Mengisi jiwa dan hidupku

Aku tetap mencintaimu,
Tetapi cinta ini kujadikan sebagai fitrah
Yang diberikanNya padaku
Sebagai tanda bahwa Dia mencintaiku

Maafkan aku...
Aku rela jika harus jauh darimu,
Semoga itu akan lebih baik untukku dan untukmu

Maafkan aku...
Aku yakin Dia akan berikan yang terbaik
Karena sesungguhnya Dialah Cinta Sejati
Dialah Allah...
Sang Penggenggam Cinta...

“Rencana Allah Selalu Indah”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh...



           Puisi lainnya tidak kalah menarik. Baca kumpulan puisi cinta di sini

Kembalilah!

“Joe, buruan gue udah ngga tahan nih !” pinta Reva sambil gemetaran di tengah suara yang membisingkan dan cahaya lampu tak beraturan, membuat kepala pusing, tapi bagi orang yang berada di sana tentunya tidak.
“Oke, tapi barang ini ngga bisa dikasih cuma-cuma,” balas Joe sambil mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaketnya.
            “Tolong, ngerti lah gue lagi bokek nih!” Pinta Reva lagi.
            “Alaaah, lagak lo so merendah,” kata Joe, tapi kali ini dia bicara sambil mengulurkan tangannya yang tidak kosong. Sementara Reva mengambil apa yang ada di sana, sambil setengah tersenyum sebab dia sudah tidak tahan.
            Saking tidak kuatnya, akhirnya Reva terkena buaian obat tadi, di tengah kebisingan malam saat itu.
* * *
            Di kediaman keluarga Setiawan, terdengar suara seorang perempuan sedang kebingungan.
            “Sudahlah bu, anak seperti itu tidak perlu dipikirkan, bikin pusing saja!” keluh Pak awan –begitu panggilannya- kepada isterinya yang sedari tadi keluar masuk kamar. Sehingga membuat Pak Awan pusing sendiri melihat tingkah isterinya.
            “Tapi Yah……,” ucapan Bu awan terpotong.
            “Lah…, sudah-sudah saya mau tidur!” potong Pak Awan sambil mematikan lampu di sebelah tempat tidurnya. Bu awan yang masih bingung langsung keluar sambil menangis.
            “Krek !!!” ada seseorang yang keluar dari kamarnya.
            “Bu, ada apa kok belum tidur ?” tanya anak perempuannya itu agak bingung.
            “Reva belum pulang nak, padahal sudah tengah malam begini, ibu jadi khawatir!” ucap ibunya sambil terus menangis.
            “Bu, Via juga mengerti, tapi tidak baik kalau ibu menangis terus, lebih baik kita berdoa!” saran Via penuh prihatin sambil memegang tangan ibunya yang basah karena air mata.
            “Kamu anak baik Via, tapi ibu ingin menunggu sampai kakakmu pulang,” kata ibunya sambil menatap anaknya itu penuh rasa sedih. Via hanya bisa diam. Dia mengerti betul perasaan ibunya yang begitu sayang terhadap Reva sehingga selalu memanjakannya. Dengan langkah pelan, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam, serta berdoa untuk kakaknya agar diberi keselamatan.
            Sebenarnya Via sudah mengetahui sifat kakaknya itu, tapi pandangannya masih terlalu baik untuk melihat lebih jauh perilaku Reva yang di luar batas.

* * *
“Dasar anak sial kamu, bisanya hanya menyusahkan orang saja, pergi seenaknya, apa kamu sudah tidak peduli dengan ibu dan keluargamu?” ucap Pak Awan pada anak sulungnya setelah menampar Reva yang hanya menampakkan watadosnya (Wajah Tanpa Dosa).
            “Sudah Yah, kasihan dia!” pinta ibunya sambil memeluk Reva penuh rasa kasihan. Via yang mendengar perdebatan itu, langsung kaget dan segera menghampiri keluarganya.
            “Ada apa ini? Sudah hentikan!” pinta Via yang tidak tahan melihat semua itu.
            “jangan ikutan kamu, sudah, pergi sekolah sana!” ucap ayahnya. Via yang selalu berusaha menghormati kedua orangtuanya, tidak bisa melawan, tetapi dia mengerti bahwa apa yang dilakukan ayahnya itu demi kebaikannya juga.
            Via, anak bungsu dari 2 bersaudara itu, dapat membuat ibunya bangga dengan prestasinya di sekolah, tetapi tidak dengan sikap ayahnya yang tidak peduli dengan prestasi belajarnya. Meskipun begitu, dia tidak pernah berhenti untuk memperlihatkan prestasinya sebagai tanda terima kasihnya pada ayah dan ibu yang sudah mengasihinya.
            “Eh Via, mana Reva, sepertinya sekarang bapak jarang melihatnya sekolah, padahal sayang kan tinggal beberapa langkah lagi dia dapat meluluskan SMA-nya,” ucap Pak Danu, guru sekolah Reva, saat berpapasan dengan Via ketika pulang sekolah.
Via hanya bisa menahan kesedihan di hatinya. Meskipun usia Via baru 15 tahun, tapi dia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak seperti kakaknya yang hanya bisa berfoya-foya dengan uang pemberian orang tuanya. Sebenarnya dulu dia merupakan salah satu anak cerdas, tapi karena terlalu tertekan oleh tuntutan ayahnya agar dapat menjadi penerus karirnya dan juga terlalu diberi kebebasan oleh ibunya, sekarang dia menjadi kelewatan.
* * *
Ujian sekolah sudah terlaksana, tapi Reva yang mesti mengikutinya malah menghilang. Semua orang rumah juga kewalahan mencarinya. Sementara Via hanya dapat berdo’a agar keluarganya selalu diberi ketabahan dalam menghadapi setiap persoalan kepada Allah Swt.
Selesai ujian, barulah terdengar kabar Reva. Ternyata orang-orang sudah mengetahui bahwa Reva telah menggunakan obat-obatan terlarang dan sangat ketergantungan dengan obat perusak itu, sehingga terpaksa dia dimasukkan ke tempat rehabilitas dan melaksanakan pengobatan khusus untuk orang seperti Reva. Memang berat semua itu terutama bagi ibu dan Via yang selalu menginginkan Reva dapat sehat selalu. Awalnya Reva memang sulit untuk dapat menyesuaikan diri di lingkungan itu, bahkan dia pernah mencoba kabur dari sana. Tapi saking ketatnya penjagaan di sana akhirnya rencana Reva dapat dicegah.
Via yang selalu menyayangi kakaknya, tidak pernah lupa untuk selalu menengok kakak semata wayangnya itu. Pada suatu hari dia menengok kakaknya yang belum sembuh.
“Assalamu’alaikum!” salam Via saat berkunjung ke tempat kakaknya. Tapi sayang, salamnya tadi tidak dijawab olehnya.
“Kak, kita keluarga di rumah ngga pernah lupa untuk selalu mendo’akanmu,” lanjut Via, seperti tadi saja Reva tetap diam.
            “Eh tau ngga kak, Via sekarang sudah jadi pengajar anak sekolahan lho!” Via mulai bercerita, meskipun dia sadar kalau kakaknya tidak sedang memperhatikannya. Reva hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
            “Ya, meskipun kecil-kecilan, hanya anak-anak yang kurang perhatian di mata masyarakat saja dan yang tidak memiliki biaya untuk bersekolah,” lanjutnya. Beberapa saat Via terdiam dan menerawang langit yang begitu luas.
“Sebenarnya, Via sadar kalau Via ini hanya anak sekolah menengah yang memang belum begitu tinggi pengetahuannya. Tapi mudah-mudahan ilmu Via dapat bermanfaat untuk anak-anak itu, kakak juga harus berusaha dong supaya dapat meraih harapan kakak di masa depan!” begitulah ucapan yang pernah dia ungkapkan pada kakaknya. Meskipun tidak pernah diperhatikan, tapi Via tidak pernah marah pada kakaknya itu.
* * *
Akhirnya tiga tahun sudah keluarga Setiawan ditinggal oleh seseorang yang selalu dituntut untuk menjadi penerus keluarga.
Via yang selama ini selalu belajar untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lain, akhirnya lulus dengan prestasi yang sangat baik. Sebagai hasil dari kegigihan belajarnya, dia mendapatkan masa depan yang cerah untuknya.
Sementara dengan Reva, ketika dia berada di tempat yang menuntutnya untuk berubah menjadi lebih baik, tentu terdapat banyak kesulitan-kesulitan yang mau tak mau harus dihadapinya.
“Ibu, Ayah, maafkan kekhilafan Reva selama ini, yang tidak dapat membuat kalian bahagia!” ucap Reva sambil menyalami kedua tangan orangtuanya dan menangis di atas pangkuan ibunya. Ayah ibunya membalas dengan senyuman lembut dan tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi mereka. Seperti mereka, Via juga merasakan kesedihan yang bercampur dengan kebahagiaan.
“Via, mau kan memaafkan kakakmu ini yang tidak pernah megikuti semua pesanmu!” tanya Reva menyadari kesalahannya selama ini sembari melirik ke arah Via.
“Tentu!!!” jawab Via.
“Tapi Kak Reva tidak boleh seperti dulu lagi, dan harus tetap seperti ini selamanya, seperti kakak yang sekarang Via kenal dan selalu Via banggakan untuk selamanya di hati Via!” pesannya. Keempat orang yang berada di sana merasa terharu.
Sekarang kakaknya telah menjadi seorang santri dan muslim yang baik dengan mengenakan pakaian yang sepantasnya dari dulu dipakainya.
‘Kau lebih pantas jadi putih, Kak..’ batin Via bahagia.
Setelah mereka saling melepaskan kerinduan yang selama ini selalu menyelimuti hati, mereka pulang kembali ke tempat berkumpulnya sebuah keluarga yang bahagia dan akan selalu hidup rukun selamanya.


* * *

Keluargaku Kebahagiaanku

“Fuih, enaknya kalo udah nyampe rumah” Ucap seorang siswi SMP sambil membantingkan tubuhnya ke kursi tamu yang lumayan empuk. begitulah kebiasaan Nanda setiap pulang sekolah yang langsung pules tertidur di kursi ruang tamu tanpa menghiraukan sepatu, dan baju seragamnya yang belum diganti. Dalam kepulesan tidurnya itu, Nanda dibangunkan oleh teriakan Mbo Minoh (pembantunya) yang begitu keras walaupun dia sudah tua.
 “Wuaah, ada apa sih Mbo ganggu orang tidur aja?” Tukas Nanda sambil nguap selebar-lebarnya. Mbo Minoh yang -begitu tegas- melhat tingkah nonanya seperti itu langsung menegurnya “Wus non, tidak baik seperti itu”. “Ups, maaf mbo! Emangnya ada apa sih, kok sampai
teriak-teriak kayak gitu?” Tanya Nanda penasaran. “INI Non, ada sesuatu yangdapat membuat Non bahagia” Mendengar Mbo Minoh berkata seperti itu, Nanda semakin penasaran, sampai Mbo Minoh memberikan sekucup surat yang memang dari tadi disembunyikan. Setelah Nanda mengetahui pengirimnya, dia langsung berteriak bahagia.”Hore…,hore…ini surat dari Bunda, wah senengnya Nda dapet surat dari Bunda” Ucapnya sambil memeluk surat itu.
            Perlahan dia membuka suratnya, namun karena tak sabar dia langsung membacanya
       
Assalamu’alaikum Wr Wb
         Nanda, jangan buru-buru dong baca suratnya coba kamu tenang dulu, kalau tidak, kamu nggak boleh baca surat ini!

Nanda tersenyum sambil membalas kata salam dan mengikuti saran ibunya

         Nanda yang manis, Bunda seneng kamu dapat membaca surat ini. Bunda kangen banget sama kamu. Nanda ngga boleh bandel  ya sayang!, pulang sekolah jangan langsung tidur di kursi tamu, tapi inget ya pesan bunda, pulang sekolah langsung ganti baju, cuci tangan-kaki, makan siang lalu kalo mau boleh tidur siang.

“Baik, tapi kapan Bunda pulang?” tanya Nanda dalam hati.

         Bunda tau kamu kangen sama Bunda, Insya Allah akan bunda usahakan untuk pulang secepatnya ke Indonesia. Jangan sedih ya sayang, kan di sana masih ada Mas Faisal dan Mbo Minoh yang selalu jaga kamu!
            Dah dulu ya sayang! Lam buat Mas faizal dan Mbo Minoh   Bunda
            Baru saja Nanda selesai membaca, tiba-tiba ada yang mengambil surat itu dari tangannya. “Eh, sialan banget nih orang baru aja dateng udah maen rebut aja” Tukas Nanda kesal. “Yeah, siapa suruh ngga ngasih tau kalo ada surat penting kayak gini” Balas Mas Izal yang baru pulang dari sekolahnya. “Idih, lagian tuh surat bukan buat Mas Izal tau!” Balas Nanda ngga mau kalah. Secara tak disadari oleh kedua saudara itu, ternyata Mbo Minoh tengah melihat tingkah laku mereka yang tak henti-hentinya berantem.”E…e…eh, kok berantem sih? Udah n’tar nyonya jadi sedih kalo Den Izal sama Non Nanda berantem terus!” Ucap Mbo Minoh tegas. “Ups, maaf Mbo!” Kata Mas Izal sambil mencubit pipi adiknya dan langsung lari ke atas menuju kamarnya. Nanda yang merasa kesakitan lantas aja secara spontan marah. “Aw, sialan lo, awas ya tunggu balasan gue!”
. . .

Di Tengah Malam

“Tok, tok, tok !” Suara ketukan pintu terdengar nyaring di telingaku yang memang sedang sendiri di rumah mungil ini, tapi bukan berarti berani sendirian, justru sebaliknya.
            “Tok, tok, tok !” Kembali suara ketukan pintu memecahkan kesunyian di tengah malam yang dingin, di mana orang-orang tengah tertidur pulas, kecuali aku. Dan saat ini perasaanku dipenuhi rasa takut, cemas, dan gelisah yang seluruhnya saling beradu dan bercampur menjadi satu.
            “Tok, tok, tok !” Untuk kesekian kalinya suara ketukan pintu tadi terdengar bergema di ruangan kecil yang begitu sempit ini yang memang tak banyak benda-benda yang dapat menelan suara itu.
            Dalam hati aku bertanya ‘Siapakah gerangan yang datang di saat orang-orang tak mau diganggu?’ Dengan diliputi rasa penasaran, aku mulai beranjak dari sejadah tempatku berdzikir, lalu kulipat mukena yang sedari tadi dipakai dan segera menyimpan tasbih di atas meja.
            Dengan langkah ragu, aku berjalan menuju ruang depan untuk membuka pintu, sumber suara itu berasal. Dengan tak lupa membaca bismillah, perlahan kubuka pintu. Suara deritan pintu terdengar mencekik di telingaku.
            Saat pintu terbuka, aku begitu tekejut sebab tidak ada siapa-siapa. Paling hanya ada angin-angin jahil yang menerpa wajahku. “Wush….!”
Aku mulai bingung dan memutar-mutar otak. Tak lama  berfikir, seketika keningku mengernyit sehingga membuat halis tipis di atas kelopak mataku bersatu. Sebab, aku merasa tambah bingung.
            Segera kututup pintu, “Blam !!!” entah kenapa saat ini perasaanku tidak enak. “Tadi itu siapa ya? Jangan-jangan…. Ih jadi ngeri !!!”
            Aku bingung dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tau ngga, air yang mengalir berwadahkan bambu yang berasal dari mata air di dusun desa terasa sangat dingin apalagi di tengah malam yang tidak mendukung orang menyentuhnya. Walau begitu, perlahan kuwadahi air itu dengan kedua telapak tanganku lalu membasuhkannya.
            Syukurlah dengan berwudlu perasaanku sedikit lebih tenang.
            Saat selesai shalat malam, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kembali. Sekarang aku tak berani membukanya. Tapi kalau tidak dibuka takutnya penting, pikirku . Batinku mulai berperang antara dibuka dan tidak. Namum saat itu ketukan pintu berhenti.
            Aku mulai berdzikir dan melantunkan kalimat-kalimat tauhid, tapi entah kenapa mataku tertarik pada secercah cahaya di balik gardeng kamar. Dengan diliputi rasa penasaran, aku mencoba mengintip apa yang ada di sana.
            Ruangan itu gelap, tapi hanya ada beberapa cahaya kecil yang terlihat begitu jelas di mataku. “Apa itu?” Aku mulai mendekat. Dan…Subhanalloh.
Lampu menyala, kesunyian berubah ceria. Di sekelilingku banyak orang-orang tercinta termasuk, Mama.
            Ini merupakan kejutan terindah dalam hidupku. Mama menghampiri dan mengucapkan “Selamat ulang tahun” untukku.
            Aku sangat bahagia hingga tak terasa air mata menetes dengan lembut di pipiku. Segera mama kupeluk. Dan dalam hati aku berdo’a agar menjadi anak shalehah, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Amien……………..!


* * *

Cinta Merah Jingga 1

Cinta…masihkah berwarna Merah Jambu???!
Padahal Hijau Surga telah membentang….
Cinta…terima kasih kau telah hadir temani Cinta.
Terima kasih karna kau telah membuat Cinta Merah Jingga.
“Cinta….” Kata-kata kakek Taman Kota itu kembali terngiang di telinganya.
“Iya, sekarang aku telah mendapatkan Cinta itu, dan takkan pernah kulepas, akan kugenggam erat selamanya meski kusadar suatu saat, Cinta ini akan kembali pada Sang Pemilik Cinta,” ucapnya pada dirinya sendiri.
            “Cinta…hadirlah selalu. Meski, aku mesti kehilangan…,”
* * *
            Pagi itu, Cinta telah mendapatkan sebuah kebenaran.
“Cin, kau benar-benar telah berubah!
            “Jujur, aku tak suka dengan semua perubahanmu!!!” ucap Rayna sambil berlari ke luar kelas.
            “Ya Allah, sahabatku telah pergi, apakah kini aku harus kehilangan setelah mendapatkan??” Cinta berucap lirih. Dia juga berlari ke luar kelas, namun bukan untuk mengejar Rayna. Dia berlari di lorong sekolah yang masih belum banyak siswa yang datang pagi itu. Dia berlari dan terus berlari sambil terisak.
            “Inikah jalan yang harus kulewati untuk mempertahankan cintaMu itu?”
Cinta terduduk di sudut, di suatu tempat yang tak ada seorangpun yang datang ke tempat itu pada pagi hari. Namun, pagi ini terasa berbeda.
            Cinta terus menangis dalam sujudnya.
            “Assalamu’alaikum,”
            Suara itu begitu lembut, terdengar indah di telinga Cinta. Dia terbangun dari sujudnya dan saat itu, terlihat olehnya sesosok wajah yang begitu teduh dan meneduhkan tersenyum hangat padanya.
            “Wa’alaikum Salam…” Cinta membalas salamnya, dia pun tersenyum pada seseorang yang kini ada di hadapannya. Seseorang berwajah manis, dengan senyum yang manis, pandangan mata yang teduh, dan yang membuat Cinta semakin nyaman berada di dekatnya, adalah kain yang dipakai olehnya yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
            “Kamu Cinta ya? Senang saya bisa ketemu sama kamu di sini, di Rumah Allah ini…” ucapnya.
            “Iya, saya Cinta, kenapa kamu bisa kenal sama saya? Saya juga sangat senang bertemu denganmu,” jawab Cinta.
            “Siapa yang ngga kenal sama orang se-terkenal kamu di Sekolah ini… Cinta yang pernah mendapat medali emas Olympiade Sains, kenalkan nama saya Suci,” ucapnya lembut.
            “Suci ini bisa aja. Saya bahkan ngga ngerasa dikenal orang. Justru saya merasa selalu menjadi orang yang dilupakan…” ucap Cinta. Pandangannya menerawang jauh ke atas langit-langit yang berhiaskan Lafadz Allah di sana. Sungguh, bangunan yang sangat indah. Cinta bahkan sempat kagum pada Arsitek yang membangun bangunan itu, sampai akhirnya dia sadar siapa yang benar-benar mesti dia kagumi sesungguhnya.
            “Kenapa kamu berkata seperti itu?
“Cinta, semuanya mesti kamu syukuri. Bahkan sekecil apapun kenikmatan itu. Karena sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, Dzat Yang Maha Memberi…”
Ditatapnya kembali gadis itu, entah mengapa kini ia merasa dadanya sesak, ditumpahkannya air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya.
“Apakah aku hanya pantas menjadi orang yang tak tahu terima kasih? Apakah hidupku cukup terbelenggu dosa semata? Di mana kebenaran itu? Di mana??” Cinta menangis sekuat-kuatnya, ditumpahkannya segala apa yang selama ini berkecamuk di dadanya.
“Cinta, menangislah jika memang itu yang terbaik buatmu. Tapi ingat saudaraku seiman… kau tidak sendiri di sini, ada Allah yang menjagamu, mendengarkan semua keluh kesahmu dan menunjukkanmu jalan yang terbaik, dan kini waktu telah bicara padamu,” Suci mencoba mengingatkan.
“Apa benar apa yang kau katakan? Apa Dia tidak membenciku karena selama ini aku telah terlelap pada hisan dunia, sementara Allah masih menjagaku?” tanyanya dengan mata yang berkaca.
Suci tersenyum lembut.
“Allah tak pernah membenci siapapun hambaNya yang ingin kembali padaNya, kembali meraih CintaNya…”
Mendengar perkataan Suci, tangis Cinta pecah kembali, bahkan kali ini lebih deras. Tapi, air matanya kini ia persembahkan untuk Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang.
“Dialah Allah Sang Penggenggam Cinta…”

Sungguh Cinta… kau telah tunjukkan kebenaran itu lagi…
Terima kasihku kali ini karena Cinta telah memberiku yang lebih baik setelah aku kehilangan…
Sungguh Cinta… kau telah tunjukkan kebenaran itu lagi…
* * *


Ada Apa dengan Bulan?

          Pertemuan itu meninggalkan jejak yang menusuk tajam di hati Bulan. Entah siapa yang memulai, tapi bulan sungguh tak menginginkan pertemuan itu. Seandainya waktu dapat berulang kembali, ingin rasanya ia menghapus masa yang pernah ia lewati saat itu. Tapi ia sadar, hari yang telah lalu takkan bisa ia ulang. Kini, bulan hanya bisa merenungi semua di bawah langit.
          Bayang itu kembali muncul ketika ia melewati tempat yang pernah menjadi kenangannya.
          “Pergi!!” ucapnya kepada bayang yang merasuki pikirannya.
          “Mengapa aku tak bisa melupakannya? Apa dia selalu hadir dalam pikiranku? Tak adakah pikiran lain yang bisa ditempatinya selain aku?” pertanyaan-pertanyaan itu terus bergejolak melawan bayangan yang membayanginya.
          Bulan mulai resah, dan terduduk lemas di atas buminya. Tak mampu menahan gejolak rasa, ia pun menangis tersedu ditemani angin yang menyelimutinya.
          Malam semakin kelam ketika bulan menyadari bahwa kini ia sendiri. Namun ada satu pertanyaan yang saat itu ada di benaknya. ‘Apakah aku tertinggal atau ditinggalkan? Ataukah hanya merasa ditinggalkan?’ yang pasti, ia merasa sendiri kini.
          Bulan berharap ada satu bintang yang menemaninya. Menghiasi langit malam yang selalu sepi. Selalu.
          Atau berharap, matahari kan datang membiaskan cahaya untuknya yang kini semakin redup. Ia mengharapkan mataharinya datang. Penuh harap.
* * *

Sakitmu Sakitku

Aku masih terdiam menatap sisa hujan siang tadi. Mencoba menghitung rintiknya, mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Suasana selepas hujan di rumah sakit ini memang masih sedikit sepi, menambah kebekuan tembok-tembok yang telah menjadi saksi atas kuasa Sang Pencipta pada makhluk-Nya sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Katak yang asyik bermain di kubangan pun seolah sadar aku menatap rintik yang jatuh di pundaknya. Segera ia meloncat dari kubangan yang satu menuju kubangan lainnya, mencoba bersembunyi dari tatapanku. Kupikir, mungkin seperti katak itulah kehidupan manusia. Meloncat dari masalah yang satu menuju masalah yang lainnya. Ada yang mampu membebaskan diri, ada yang terjebak, bahkan ada pula yang hanya bisa melarikan diri hingga masalah-masalah itu pun lari mengejarnya.
Kupejamkan mata sekejap, mencoba membayangkan diriku sendiri. Apakah aku sama dengan katak itu? Apakah aku layak disebut hamba-Mu yang selalu meminta pertolongan pada-Mu? Ataukah justru lari dan semakin jauh dari-Mu, Yaa Rabb?
“Shafa…!”
Aku segera keluar dari lamunan tentang arti diri. Mendengar namaku dipanggil begitu kencang, lantas aku segera bangkit dan menemui kakak yang berlari mendekat.
“Ada apa Kak? Teriaknya kencang sekali, kasihan orang-orang yang sedang istirahat nanti terganggu,” ucapku pada Kakak yang terlihat begitu panik.
“Sha, ibu Sha..’ ucapnya terbata.
“Ibu? Ada apa dengan ibu? Aku ingin bertemu dengannya,” ucapku sambil bersiap lari menuju kamarnya. Entah mengapa, ketika aku mendengar nama ibu disebut selalu membuat hati tergetar, air mata seolah ingin tumpah dari peraduannya. Mungkin ikatan emosional itu terlalu kuat.
Saat aku akan melangkah menuju kamar ibu, kakak langsung mencegahku dan menarik tanganku kuat-kuat. “Tunggu dulu Sha, ibu sedang mendapat pemeriksaan dari dokter dan kita tak bisa masuk kesana, kondisi ibu sangat kritis” katanya.
“Tidak, aku tidak mau diam saja disini, aku ingin bertemu ibu, aku ingin melihat keadaan ibu dan memastikannya bai-baik saja,” aku tetap bersikeras. Mencoba melepaskan pegangan kakak.
“Kumohon Kak…” ucapku akhirnya setelah pasrah tak kuasa melepaskan pegangannya yang sangat kuat itu. Kakak hanya menggelengkan kepala. Hingga akhirnya aku tak bisa membendung air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar. Perlahan, kakak pun mulai melepaskan pegangannya dan membiarkanku menangis sambil berlutut di depan hujan yang kembali turun semakin deras.
‘Ya Rabb, aku tahu Engkaulah Sang Pemilik Jiwa, Engkau Yang Maha Kuasa atas setiap diri, karena itu kumohon berikanlah setetes embun dari kerajaan lautan-Mu yang begitu luas… Karuniakanlah kami kesabaran untuk mrnghadapi ujian ini… Aku yakin Engkau Maha Penyayang… Kabulkan Yaa Rahmaan…’ do’aku dalam tangis.

            Baca Semua Episodenya ...

Rumah Sehat

Aku pernah bergurau dengan teman-teman tentang sebuah tempat yang berisi orang-orang sakit.
“Kenapa harus rumah sakit? Kenapa tidak rumah sehat?” Tanya Maya.
“Ya, kan memang isinya orang-orang sakit, yang sehat punya rumah sendiri, bukan di rumah sakit!” jawab Rinai sekenanya.

Teman-temanku ini selalu saja mengambil tema pembicaraan yang unik menurutku. Jika sedang santai, kami memang sering berkumpul sekedar untuk ngobrol-ngobrol atau melepas penat dari tugas harian. Dan kini, entah bagaimana awal pembicaraannya, kami mulai asyik berdiskusi tentang rumah sakit.

“Eh, kalau dipikir-pikir, benar juga lho pendapat Maya, sayang sekali rumah sebesar dan semegah itu kalau hanya ditempati oleh orang-orang sakit semua,” ucapku ikut nimbrung. Sementara yang lain hanya mengangguk, mengiyakan pendapatku.
“Betul Sha, gimana orang-orang mau sehat, kalau harus tinggal di rumah sakit?” Tanya Maya kembali.

“Hm, siapa sih yang pertama kali menamai rumah sakit? Kalau saja dulu aku yang menciptakan tempat perawatan orang-orang sakit itu, pasti kan kuberi nama RUMAH SEHAT, agar orang-orang yang sakit bisa sehat kembali setelah dirawat di rumah sehatku!” aku berseru penuh semangat.

“Iya juga ya, kalau rumah sakit, sugestinya sudah jelek, seharusnya mereka yang sakit diberi sugesti yang baik agar alam bawah sadar mereka membantu penyembuhan lebih cepat,” ucap Rinai menanggapi.

“Kalau begitu, yuk kita buat rumah sehat!” seru kami hampir berbarengan. Walau mungkin hanya mimpi, tapi dalam benakku ada keinginan untuk mewujudkannya.
* * *

Dulu, aku sangat tabu dengan yang namanya rumah sakit. Bahkan memasukinya saja aku enggan. Pernah ketika aku masih kecil, ibu mengajakku menjenguk saudara yang sakit disana, tapi ketika aku akan memasuki wilayah tempat saudaraku itu dirawat, seorang perawat menahanku agar tidak ikut masuk kesana.

“Maaf Bu, anak di bawah usia 6 tahun tidak boleh berada disini, dikhawatirkan mereka bisa tertular penyakit, karena seusia mereka belum memiliki kekebalan tubuh yang kuat seperti orang dewasa,” jelas salah seorang perawat kepada ibuku.

Alhasil ketika itu, aku hanya menunggu di luar saja. Sampai kini, ada rasa ketakutan kalau harus memasuki rumah sakit. “Aku ngga mau datang ke rumah sakit lagi! Nanti bisa ikutan sakit kayak orang-orang itu!” ucapku pada ibu saat pulang dari rumah sakit.

Sedikit ngeri memang ketika melihat orang-orang sakit dibawa memakai ranjang atau kursi yang berroda. Ada perasaan kasihan melihat mereka yang tak berdaya disana. ‘Semoga aku tak datang lagi ke tempat yang mengerikan ini!’ batinku saat itu.

Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Aku ditakdirkan untuk akrab dengan rumah sakit. Bukan karena aku kuliah di institut kesehatan seperti adikku, tapi karena kondisi yang memaksa. Ya, inilah rencana-Nya.

Sejak ibu sakit, memang ibu tak pernah rutin pergi memeriksakan kesehatannya ke dokter. Aku pun mengira sakit ibu biasa saja, hingga kupikir dirawat di rumah pun bisa. Namun, ternyata semua dugaanku salah. Kondisi ibu semakin lama semakin menurun. Aku melihat perubahan itu ketika kami pindah rumah, karena ketika kami masih menempati rumah yang dulu, ibu tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang kesehatannya bahkan beliau masih bisa berkumpul bersama tetangga di sekitar rumah.

Aku sadar, rumah yang kami tempati kini memang berbeda jauh dengan rumah yang dulu. Baik dari kondisi rumahnya, maupun keadaan lingkungan sekitar yang sedikit lebih tertutup. Sekarang kami tinggal di daerah dekat perkotaan, sehingga mungkin orang-orang yang tinggal di sini memiliki kesibukkan masing-masing. Berbeda dengan lingkungan di rumahku dulu, para tetangga di sana begitu baik dan mengutamakan sifat kekeluargaan.

Kupikir, mungkin juga karena kesibukanku di kampus, sehingga tidak bisa terus menemani ibu. Yang kurasakan, ibu tak seceria dulu. Entah ada hal apa yang mengganjal batinnya. Namun, sejak itu kondisi ibu semakin menurun. Yang kutahu ibu memiliki penyakit hipertensi atau darah tinggi dan sakit maag sehingga untuk beberapa waktu lama, ibu tak bisa makan dengan baik. Setiap makanan yang ia makan, selalu dimuntahkannya kembali. Seolah lambung menolak dan berdemo di dalam perut ibu untuk tutup mulut dan aksi mogok makan. Bahkan, ketika Ramadhan tiba, ibu yang sedang sakit memutuskan untuk tetap berpuasa.

“Berpuasa ataupun tidak, sama saja, toh ibu tak bisa makan apa-apa,” kata ibu saat kupinta untuk menjaga kesehatan.

“Tapi bu, justru ibu harus banyak makan, minum obat,” ucapku mencoba membujuknya. Namun ibu masih tetap dengan pendiriannya.

“Nak, percuma ibu makan, nanti juga muntah lagi, jadi lebih baik tetap puasa, mudah-mudahan ada kenikmatan makan saat berbuka nanti,” jawabnya lagi.

Begitulah ibu, selalu berusaha menjalankan ibadahnya walau dalam kondisi sakit sekalipun.
Tetapi, aku selalu mengkhawatirkanmu bu.

Setiap malam, sejak kau mulai terlelap, aku selalu ingin menatapmu. Memandang wajah teduhmu. Wajah yang mulai berkerut, terlukis bukti ketabahanmu di sana. Terhias semua perjungan untuk anak-anakmu tercinta. Rabb, sayangilah ibuku sebagaimana ia menyayangiku sejak kecil… sejak dalam kandungan dan buaian…

Di penguhujung bulan suci ini, ternyata kekhawatiranku terjawab sudah. Sakit ibu bertambah parah! Hari kemenangan yang seharusnya menjadi hari bahagia, kini berselimut duka. Sehari sebelum lebaran, kami memutuskan untuk pergi ke kampung halaman. Agar bisa menyaksikan suasana Idul Fitri yang mendamaikan di tempat kelahiran. Ibu yang menginginkannya saat itu.

Dan ternyata, Idul Fitri itu menjadi Idul Fitri terakhir baginya…
Keluarga, kerabat, saudara, mulai dari yang terdekat hingga yang terjauh datang ke rumah di kampung halamanku. Semua berkunjung, tidak hanya dalam rangka bersilaturahim saja usai lebaran, tapi untuk menjenguk ibu yang sedang sakit.

Tapi sayangnya, keluarga dari ayah tak satupun kunjung datang…
Beberapa hari usai Idul Fitri, kondisi ibu semakin lemah. Walau jasadnya terlihat baik-baik saja, namun tidak dengan fikirannya. Tidak dengan batinnya.

Sebenarnya, usai lebaran, aku merencanakan berangkat kembali ke kota karena ada acara silaturahim di sekolah SMA-ku. Tapi, ketika aku mendapat kabar bahwa sakit ibu semakin parah, segera kuputuskan untuk kembali. “Neng, ibu manggil-manggil nama Eneng sama kakak dan adik-adik Eneng semuanya,” kabar yang kudapat dari kampung. Tanpa pikir panjang, aku beserta kakak dan adik yang memang sedang berada di kota segera kembali. Tadinya kami memang pulang karena hanya punya waktu liburan sebentar usai lebaran.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdoa untuk kesembuhan ibu. Ada perasaan tak enak di hatiku. Ibu… bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang tak bisa menemanimu… kuharap kau baik-baik saja. Batinku.

Ketika sampai, kulihat rumah sudah penuh dipadati banyak orang. Ada apa ini? Dimana ibuku? Dari ruang depan, aku merasakan keharuan yang mendalam dari saudara perempuan ibu yang menangis dan memelukku erat. Aku tak mengerti. Yang kupikirkan saat itu hanya satu. Ibu! Seketika kulepaskan pelukannya, aku segera berlari menuju ruang tengah, aku melihat ibuku yang sedang tertidur lemah.

“Bu, ini aku… Bu…” ucapku berbisik di telinganya. Matanya yang tadi sedang terpejam mulai menatapku. Tangannya mengusap rambutku. Tapi mulutnya tak berkata sedikitpun. Kakak dan adik-adikku pun ikut mendekat. “Bu… ini kamu, anak-anakmu…” setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Segera kuhapus dengan tanganku.

Ibu masih menatap kami satu-persatu. Mulai terlihat senyum di bibirnya. Dan setetes air mata pun akhirnya jatuh dari mata beningnya. Ibu menangis… tanpa kata-kata. Membuatku semakin sedih. Kenapa bu? Ada apa bu? tanyaku dalam batin, mencoba berbicara dengan bahasa hati. Namun, mata yang semakin sayu itu semakin deras menguraikan air mata. Menguraikan semua gejolak dalam jiwa.

“Ibu…” tak kuasa menahannya, akhirnya kupeluk tubuh lemah itu. Aku pun menangis dalam pelukannya.

Sesak rasanya dada ini. Menyaksikan kondisi ibu yang semakin parah, aku tak sanggup.
Beberapa keluarga yang berkunjung menyarankan agar ibu segera diobati oleh ‘orang pintar’. “Ini bukan sakit biasa! Sepertinya ada angin jahat yang menguasai ibumu!” ucapnya.

Aku hanya mampu mengerutkan kening. Apa maksudnya? Ibuku sakit apa? Entahlah aku tak mengerti. Yang kutahu, ibu sepanjang hari sejak tadi aku datang, hanya bisa mengigau. Berbicara tak tentu arah pembicaraan. Matanya tajam menatap sekeliling. Sungguh, saat itu aku seolah tak mengenali ibuku.

Beberapa kali aku mencoba menenangkannya. Beberapa kali pula aku menyaksikan air matanya jatuh. Aku tak sanggup.

Akhirnya ‘orang pintar’ yang dimaksud saudaraku itu datang. Penampilannya se’aneh’ perangainya. Apa yang akan dia lakukan pada ibuku? Aku tak mengerti. Orang itu membawa sebuah benda seperti keris. Kecil memang, tapi aku ngeri melihatnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Usai ‘mengobati’ ibu, benda itu kembali dimasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.

Seperti yang kuduga di awal. Tak ada perubahan apa pun! Kembali saudaraku memanggil ‘orang pintar’, tapi kali ini berbeda. Ia memakai sorban dan baju serba putin namun tak membawa apa apa-apa. Ia hanya menggerak-gerakkan tangannya. Aku pun tak mengeri maksudnya. Dan seperti sebelumnya, tak ada hasil apapun. Nihil!

Untuk kesekian kalinya, saudaraku memanggil ‘orang pintar’ lagi. Kali ini, ia memberikan beberapa ‘syarat’ yang harus dipenuhi oleh saudaraku. Semakin mengada-ada! Sungguh, aku tak mengerti jalan pikirannya. Aku merasa, kultur di sini terlalu kuat.

Lagi-lagi tak pernah ada hasil! Sampai di suatu malam, ketika itu aku tidur di samping ibu bersama saudara perempuannya. Sepanjang malam, sungguh aku dicekam rasa cemas. Keadaan ibu benar-benar memburuk. Nafasnya tersengal-sengal, mulutnya terus menggeram. Badannya kejang-kejang.

Kekhawatiran menyelimuti semua penghuni rumah. Segera ibu dipegang dan ditenangkan oleh saudara-saudaraku. Dibisikkan lafadz-lafadz Allah ke telinganya. Sungguh aku tak sanggup menyaksikan itu semua. Dengan berurai air mata, aku hanya mampu berdoa dalam hati.

“Rabb, kumohon jangan sekarang… jangan sekarang Kau ambil ibuku… aku belum siap jika harus berpisah dengannya saat ini… Rabb,,, izinkan aku berbakti padanya untuk terakhir kali… Ya Rahmaan….” Doa dalam tangisku. Sebuah pengharapan yang sungguh-sungguh kuminta pada-Nya. Aku benar-benar memohon sepenuh hati ketika itu…

Allah menunjukkan kuasa-Nya. Allah mendengar doaku. Setelah beberapa lama, akhirnya ibu kembali tenang. Takbir yang tadi menggema begitu keras dari semua yang ada di sekitarku ketika itu terhenti dan berubah menjadi tahmid penuh kesyukuran. Sementara ibuku, menyisakkan sebening embun di sudut matanya. Setelah beliau kembali tenang, saudaraku memeberinya air minum yang telah diberi doa.

Sementara hatiku masih tak bisa berdamai. Ya Rabb, kembalikan ibuku seperti dulu, ibu yang sehat dengan senyumnya yang selalu kurindukan. Aku ingin ibuku, Rabb…
* * *

Esoknya, aku beserta kakakku sepakat memutuskan untuk segera membawa ibu kembali ke kota, memeriksakannya ke dokter. Keputusan kami ketika itu sudah bulat. Walau ada yang mencegah untuk menunggu beberapa hari, menunggu hasil yang dijanjikan ‘orang pintar’ itu. Aku tak percaya! Takkan pernah percaya sedikit pun! Dan akan kubuktikan bahwa ada Yang Maha memberikan kepastian. Kuharap kepastian tentang sebuah kehidupan dari Sang Maha Hidup.

Ibu diantar menggunakan mobil ambulans satu-satunya milik puskesmas terdekat di kampungku. Sepanjang perjalanan, tak henti aku menatap wajah ibu. Beberapa kali pula ibu muntah, kondisinya terlalu lemah. Sirine yang berbunyi dari ambulans ini pun benar-bear memekakkan telinga. Tapi apalah daya, aku tahu ibu harus segera dibawa ke dokter dan segera mendapat perawatan.
Sopir ambulans ini sungguh lihai memainkan stir mobilnya. Beberapa mobil terlalui, bahkan lampu merah pun dilewati. Berharap tak terlambat untuk mengobati.

Setibanya di klinik dokter, kami masih harus menunggu antrian. Wajah ibu mulai tenang sekarang. Ibu sudah mulai bisa tersenyum lagi. Menatapku lagi dengan tatapan cintanya. Aku bahagia melihat senyumnya, walau ada getir di hatiku. Ketika nama ibu dipanggil, kakak menemaninya masuk ke ruangan. Kakak memapahnya memasukki ruang dokter. Sementara aku menunggu hasil di luar, dengan cemas. Saudara yang mengantar menawariku makan. Aku baru sadar, saking khawatirnya dengan kondisi ibu, aku lupa belum mengisi perutku dari pagi.

Setelah beberapa lama pemeriksaan di dalam, akhirnya ibu keluar. Wajahnya terlihat sangat pucat.
“Bagaimana, kak?” tanyaku segera.

“Ibu harus dibawa ke rumah sakit dan dicek ke laboratorium,” jawab kakakku singkat.
Dengan mengikuti saran dokter, sambil membawa surat rujukannya, ibu dibawa ke rumah sakit. Ya, rumah sakit, tempat yang paling aku tidak suka. Namun, inilah rencana Allah. Aku harus mulai bersahabat dengan rumah sakit!

Sampai di sana, ternyata kesan pertama yang tidak menyenangkan untukku. Di ruang Instalasi Gawat Darurat yang menurutku penat inilah, ibu harus menunggu beberapa lama. Kata perawatnya, belum ada kamar yang kosong untuk ibu karena ibu harus rawat inap.

Kami harus menerimanya. Karena keuangan kami tak sekelas para hartawan itu. Dengan lelah yang mulai hinggap, aku menungguinya di ruang IGD yang hanya dibatasi oleh tirai ini. Di sekeliling, aku menyaksikan orang-orang yang tak berdaya lainnya. Ternyata mereka pun sama. Berusaha sabar dengan semua yang terjadi. Aku dan beberapa penunggu pasien yang lainnya merasakan hal yang sama. Lelah. Tapi, demi menjaga ibu, lelah itu tak boleh melelahkanku.

“Neng, pulang saja, biar uwa yang menjaga ibu di sini,” ucap saudaraku yang seharian mengurus keperluan administrasi ibu.

“Aku ingin di sini, Wa… ingin bersama ibu…” jawabku sambil kembali menatap wajah ibu yang tengah tertidur.

“Ya sudah, uwa keluar dulu ya, kalau ada apa-apa, panggil uwa saja. Uwa tidak akan jauh-jauh,” ucapnya meninggalkan aku dan ibu berdua di ruangan itu. Dengan tak hentinya lisan ini melantunkan ayat-ayat cinta-Nya, aku mencoba untuk menenangkan hati ibu. Membawanya mengalun di alam bawah sadar, membisikkan serangkaian kata-kata cinta dari mushaf Al-Quran yang selalu kubawa kemana pun aku pergi.

Lantunan ayat suci Al-Quranku terhenti ketika tak lama uwa kembali memberitahu bahwa ada teman-temanku yang datang menjenguk.
“Neng, di luar ada teman-teman Eneng kayaknya. Tapi kata penjaga di depan tidak boleh masuk karena pasien di sini perlu istirahat,” beritahu Uwa dengan sedikit berbisik, takut mengganggu istirahat ibu.

“Iya Wa, aku ke sana sekarang, ganti jaga ibu ya,” ucapku sambil menyimpan mushaf Quran dan lekas pergi ke luar. Sejak tadi aku memang tidak mengaktifkan ponselku, aku sedang menjaga ibu, takut pesan dari orang lain tak bisa terjawab. Mungkin, teman-teman tahu keberadaan ibu yang sakit dari adikku yang sudah mulai masuk kuliah.

“Assalamualaikum,” salamku kepada teman-teman yang berdiri di depan pintu. Dari jauh aku sudah mengenali mereka dari jilbabnya. Jilbab indah yang menjadi identitas muslimah.

“Waalaikumsalam Warohmatulloh,” jawab mereka serentak sambil kemudian memelukku erat. Erat sekali. Bergantian mereka memelukku. Membisikkan dukanya dan menyampaikan doanya.

“Aamiin… Aamiin Yaa Mujib…” ucapku mengaminkan setiap doa tulus dari mereka. Ada energi yang berbeda ketika bertemu dengan kawan-kawan seperjuanganku. Meski kami hanya sebatas teman di kampus, tapi indahnya persaudaraan itu tak pernah terbatas. Mereka yang selalu ada di kala hati sedang dirundung duka. Ataupun kala hati menuai bahagia. Mereka tempat berbagi. Selalu ada rindu dikala berpisah. Selalu ada kasih sayang ketika berjumpa. Seperti saat ini.

“Shafa, yang sabar ya, kami semua mendoakanmu dan berharap kesembuhan ibu,” ucap salah satu sahabatku.

“Terima kasih, kehadiran kalian di sini menjelaskan bahwa aku tak sendiri,” ucapku sambil menatap wajah mereka penuh kasih. Inilah ukhuwah. Inilah persaudaraan. Persaudaraan yang bukan terjalin sebatas karena ikatan darah, tetapi karena iman di hati. Tak lama kami berbincang di depan. Aku sempat meminta maaf karena tidak bisa mempertemukan mereka dengan ibu.

“Tak apa Sha, bisa melihatmu saja, kami sudah senang. Salam buat ibu ya, semoga lekas sembuh,” ucap mereka sambil izin pamit. Aku tak sempat mengantar mereka sampai gerbang rumah sakit, karena khawatir ibu sedang menungguku di dalam. Senyuman mereka mengantarkan semangat untukku. Untuk lebih tegar menghadapi hidup.

Benar saja, ketika aku kembali ke ruang yang dipenuhi orang-orang yang tiada berdaya itu, ternyata ibu sudah bangun. Segera kusampaikan kabar kedatangan teman-temanku yang membawakan makanan untuk ibu.

“Bu, ini dari teman-temanku, katanya salam dan doa mereka untuk ibu,” ucapku. Ibu tersenyum mendengarnya. Beliau masih lemah.

Aku semakin cemas, ketika pasien yang datang ke rumah sakit ini semakin banyak, sementara ruang IGD semakin padat menampungnya. Aku merasa miris melihat semua ini. Ada pasien yang hanya duduk di kursi karena tidak mendapatkan ranjang, ada juga pasien yang bisa berbaring, tapi hanya di atas tandu saja. Rabb, di tengah-tengah mereka aku banyak belajar. Belajar tentang arti sebuah kesabaran dan pengorbanan, serta pelajaran berharga tentang syukur!

Ya, betapa indah nikmat sehat itu. Kadang kita lalai dan tak memedulikannya. Hingga ketika sakit mendera, barulah kita tersadar. Tapi tak sedikit pula yang sampai sakitnya tetap tak sadar akan rasa syukur itu.

Di sini, yang aku cemaskan bukan diriku yang semakin sesak dengan keadaan. Bukan. Tapi aku mencemaskan ibu. Beliau tak bisa beristirahat tenang di tengah orang-orang dengan berbagai aktivitas ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Yang dapat kulakukan hanya membaca Al-Quran di dekat ibu. Berharap ibu tenang mendengarkan bacaan Quranku. Sesekali aku bercerita untuk menghibur hatinya. Dan sesekali pula ibu tersenyum, walau sedikit hambar.

Waktu semakin beranjak sore. Namun kesibukan orang-orang di sini tak pernah berhenti. Terutama para dokter dan perawat yang selalu siap siaga ketika datang pasien yang tak diduga. Dengan cekatan, mereka melakukan pertolongan pertama. Sementara raut wajah pihak keluarga yang mengantar begitu menyedihkan. Aku sadar, di sini aku merasakan hal yang sama dengan orang-orang itu. Cemas. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang di hadapan ibu. Ini untuk ibuku. Mencoba mengalirkan energi tenang kepadanya.

Menjelang magrib, kakak yang baru pulang kerja segera menemuiku, ibu dan saudaraku. Kakak memintaku untuk beristirahat di rumah. Walau aku sebenarnya tak ingin meninggalkan ibu, tapi aku harus mengikuti ucapan kakak.

“Tidak baik perempuan ada di sini, nanti kamu malah ikut sakit. Lebih baik istirahat di rumah. Besok pagi bisa ke sini lagi,” ucap kakaku mengingatkan. Sebelum pulang, aku berpamitan pada ibu, mengucapkan salam dan tak lupa mencium keningnya sambil berdoa.

Sepanjang jalan pulang, pikiranku masih mengingat ibu. Bahkan ketika aku sudah sampai di rumah, aku merasa masih berada di rumah sakit. Ingin rasanya waktu cepat berlalu agar aku bisa segera bertemu dengan ibu kembali. Aku tak dapat tidur dengan nyaman di rumah, sementara ibu dalam keadaan susah disana. ‘Ya Rabb, jaga ibuku…’

* * *


Esok paginya, cahaya matahari mengantarkan langkahku menuju tempat ibuku dirawat. Setelah pekerjaan di rumah beres, adik-adik sudah berangkat sekolah, dan semua perlengkapan untuk ibu siap, aku segera berangkat membawa segenggam doa untuk ibu tercinta.

Ruangan ini masih seperti kemarin. Sesak. Walau sudah ada beberapa pasien yang dipindahkan ke kamar rawat inap, namun aku bisa memastikan nanti siang ruangan ini akan kembali padat oleh pasien yang bertambah atau oleh keluarga pasien yang menunggui.

Aku kembali berpikir, bahwa sangat disayangkan rumah yang begitu megah ini hanya dihuni oleh orang-orang sakit. Tapi, apalah daya, setiap orang pasti merasakan sakit. Yang membedakan adalah sejauh mana ia mampu bersyukur kala sakit mendera.

“Selamat Pagi, Neng! Mau menjenguk ibu ya?” sapa Pak Satpam penjaga pintu masuk IGD. Aku sempat kaget ketika disapa olehnya. Mendadak aku menghentikan langkahku.

“Eh, Assalamualaikum. Pagi juga, Pak! Iya, saya rindu sekali dengan ibu…” ucapku agak terbata. Sapaan Satpam itu menghentikan lamunanku yang sedari tadi memikirkan ibu. Satpam itu membukakan pintu dengan sopan dan mempersilakanku masuk.

Dari jauh, aku sudah melihat ranjang ibu yang terhalang oleh tirai hijau rumah sakit.
“Assalamualaikum…” ucapku kepada kakak yang sedang menyuapi ibu.
“Waalaikumsalam…” jawab kakaku. Sayup kudengar ibu pun menjawab salamku dengan lemah.
“Bagaimana kabar ibu hari ini? Aku sunggu merindukan ibu…” tanyaku sambil mencium tangan ibu dan mengecup keningnya. Ibu yang ditanya hanya tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

“Uwa dimana Kak?” tanyaku sambil menoleh pada kakak. Kuambil mangkuk dan sendok yang dipegangnya, lalu bergantian aku yang menyuapi ibu.
“Tadi mengurus surat-surat administrasi, Insya Allah kata perawat, ibu bisa dipindahkan hari ini,” jawab kakak.

Mendengarnya aku senang, walau sebenarnya aku berharap mendapat kabar kalau ibu bisa pulang hari ini, bukan dirawat di rumah sakit.

Tak berapa lama, paman datang dengan membawa kertas-kertas di tangannya.
“Eh, Shafa sudah datang ya,” ucap paman. Kusalami tangannya.
“Gimana Wa? Ibu bisa pindah ke kamar sekarang?” tanyaku buru-buru.
“Eum belum Nak, kita masih harus menunggu sampai pasien di kamar itu pulang,” jawab paman menyesal.

“Oh ya, mudah-mudahan segera ya…” harapku. Kembali aku menyuapi ibu. Namun ibu berhenti makan dan meminta minum.

“Heum….ibu sayang… ibu harus banyak makan, biar cepat sehat….” Kataku sambil mencoba menyuapinya lagi. Namun lagi-lagi ibu menolak. Aku tak bisa berbuat banyak. Segera kuambil minum untuknya dan meletakkan bubur yang masih tersisa banyak di bawah.

Hari ini kakak memutuskan untuk izin bekerja demi menjaga ibu di rumah sakit. Untunglah pihak kantornya berbaik hati mengizinkan.

Menjelang siang, sesuai dengan prediksiku. Semakin banyak pasien yang datang dengan berbagai macam penyakitnya. Aku lihat, ada anak balita yang begitu lemah, wajahnya pucat, dari tangannya mengalir darah yang dihubungkan oleh selang. Ada pula seorang anak remaja berbalut perban di kepalanya, dan orang lain dengan duka yang sama.

Ketika aku tengah membaca Quran di samping ibu, aku mendengar suara jeritan orang di samping tempat tidur ibu yang terhalang oleh tirai. Aku sempat kaget dan langsung melirik ibu, khawatir beliau terbangun mendengar jeritan itu. Namun, karena suara itu begitu keras, ibu pun sampai membuka matanya, aku coba menenangkannya. Dari kabar yang kudengar, orang yang tadi pagi dibawa ke ruangan ini dan tepat berada di samping ranjang ibu, telah meninggal. Sontak keluarganya menjerit dan menangis. Keluarga lain dan orang-orang yang ada di sana berusaha menenangkannya agar tidak mengganggu pasien lain. Ia pun segera dibawa keluar karena tidak berhenti menangis. Aku khawatir kondisi psikolog ibu akan terganggu mendengarnya. Lagi-lagi aku berusaha menenangkan ibu dengan bercerita mengalihkan perhatiannya.

Ketika ibu mulai tenang dan kembali tertidur, aku menatap wajahnya dalam-dalam. Wajah yang sudah termakan usia. Kerut di keningnya, tulang pipinya yang terlihat, dan semua gurat wajahnya menceritakan tentang hidup yang dipenuhi ujian. Terbayang olehku perjuangan ibu yang membesarkan kelima anaknya sendiri. Teringat ketika ibu harus berjuang demi hidup orang-orang yang dicintainya. Suasana duka di sekelilingku menambah keharuanku. Sebening permata jatuh di pipiku. Lekas kuhapus karena tak ingin memperlihatkan kesedihan di hadapan ibu.

Tak lama dari sana, kakak datang, aku izin pamit keluar sebentar. Bukan untuk mencari udara segar, tapi untuk sekedar menghapus penat dan menumpahkan ruahan perasaan di batinku. Segera aku berlari menuju mesjid rumah sakit yang selalu menjadi tempat terbaik untukku mendamaikan hati.
Kulewati orang-orang yang berada di lorong-lorong rumah sakit. Air mata yang tadi sempat tertahan, akhirnya mengalir deras. Aku tak sanggup memendamnya, biarlah ia mengalir. Akan kuadukan semua gejolak di hatiku pada-Nya. Biarlah Ia yang memecahkan setumpuk gundahku. Biarlah Allah yang menjadi akhir segala pintaku. Aku memohon pada-Nya yang Maha Bijaksana dan pemberi solusi terbaik.

Usai kuambil air wudhu, segera aku berdiri untuk melaksanakan shalat dan aku pun bersujud lama. Kutumpahkan semua duka yang menggunung kepada-Nya. Dalam sujudku itu, kulantunkan doa penuh pengharapan.

“Ya Rabb, kutahu raga ini milikmu, kuyakin ruh ini akan kembali pada-Mu. Maka, dengan kekuatanmu, sucikanlah, terangilah dengan cahaya cinta-Mu agar aku berhak memohon pada-Mu dengan segala kesungguhan hati”

“Ya Rahmaan, aku pun tahu, raganya adalah milik-Mu, aku pun yakin ruhnya pasti akan kembali kepada-Mu… namun aku meminta pada Engkau Duhai Pemilik hati… Damaikanlah… redamkanlah… dan tabahkanlah ia… Ibuku yang kusayang karena-Mu…”

“Ya Rahiim… Sembuhkanlah… Kumohon… Kumohon dengan sangat… dengan sepenuh hati, setulus jiwa, sedalam perasaan pada-Mu… Kabulkan Ya Rabb… Amiin…”
Kuakhiri doaku siang itu dengan sujud panjangku.

* * *

Sebuah kabar baik kuperoleh dari seorang perawat yang memberi tahu bahwa ibu sudah bisa pindah ke ruang rawat inap. Sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang tiada berdaya seperti ibu, namun penuh pengharapan pada-Nya.

“Ruang 6 – Dederuk” kubaca nama ruangan tempat ibu akan dirawat.
Setelah memindahkan semua perlengkapan, aku kembali menemani ibu. Mengajaknya bicara, memberinya cerita bahagia, membuat senyumnya kembali merekah.

“Nak, ibu sakit apa sampai harus dirawat di rumah sakit begini?” Tanya ibu tiba-tiba. Aku pun kaget dan tak kuasa menjawab pertanyaan ibu.

“Hmm, hasil pemeriksaannya masih di laboratorium Bu, jadi kita belum dapat mengetahui penyakitnya. Insya Allah ibu baik-baik saja,” jawabku mencoba menghiburnya. Sejujurnya aku memang belum mengetahui nama penyakit yang didera ibu, aku hanya berharap sakit ibu tidak parah dan bisa cepat dibawa pulang kembali.

Menjelang sore, ketika kakak kembali dari laboratorium, baru kutahu hasilnya. Berita yang tak pernah ingin kudengar, berita yang tak mampu kusampaikan pada ibu. Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima. Ibu mengalami gagal ginjal!

Ketika kakak menunjukkan hasil pemeriksaan lab-nya, sejenak aku tak percaya hingga kubaca kertas itu berulang-ulang dan hasilnya tetap sama, Gagal Ginjal. Tanganku bergetar memegang kertas hasil pemeriksaan itu, lidahku kelu seketika, rasanya tubuhku sudah remuk dan hancur berkeping-keping.
Aku hampir terjatuh menahan beban di pundakku. Air mata pun mengalir deras di pipi.

“Rabb, mengapa ujian ini  begitu berat. Apa maksud dari semua rencana-Mu ini? Apakah Engkau mengira aku sanggup menghadapinya Ya Lathif…? Mengapa padaku semua uji ini Kau berikan? Mengapa pada ibu yang kucintai Kau berikan rasa sakit itu…? Mengapa Ya Rabb?” Tanyaku yang tiada terjawab itu mengalir lebih deras dari air mataku.

Segera aku berlari menuju ruangan dokter yang merawat ibu. Aku ingin meyakinkan batinku bahwa semua ini adalah salah, ini hanya sebuah kekeliruan!

“Nak, yang tabah ya, ini adalah sebuah ujian yang akan membuatmu semakin kuat. Ini hanyalah sebuah bukti sayang Allah pada hamba-Nya yang begitu setia beribadah pada-Nya seperti dirimu dan ibumu. Yakinlah, Allah telah mempersiapkan rencana-Nya yang terindah di balik semua ujian ini!” begitu pandainya dokter itu menenangkanku.

“Tapi Dok, apa ada jalan keluar yang terbaik untuk menyembuhkan ibuku?” tanyaku.
“Ada Nak, ibu harus menjalani hemodialisa atau cuci darah,” jawab dokter itu masih menatapku damai.

“Sampai berapa lama ibu harus menjalani cuci darah itu Dok?” tanyaku kembali. Kuharap dokter itu memberi jawaban yang mampu menenangkan hatiku. Namun ternyata aku keliru. Kabar buruk itu seolah menjadi guntur di atas langit senja tanpa hujan.

“Ibu harus menjalaninya seumur hidup, karena itulah salah satu jalan penopang hidpunya…” jawab dokter dengan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan batinku. Tak sanggup lagi aku menahan semuanya. Hanya tangis yang mampu menerjemahkan rasa duka di hatiku. Dan hanya doa yang mampu kulantunkan kala itu.

“Rabb, Kutahu Engkau Maha Pengasih di antara semua yang terkasih, maka kasihilah ibuku… sayangilah ia seperti ia menyayangiku sejak kecil….”


* * *

            Baca Semua Episodenya ...

Kakakku My Hero

Kak, aku bangga padamu. Kau mampu menjadi yang terbaik dalam memerankan tokoh dalam hidupmu. Kau adalah ayah bagi anakmu, kau adalah suami bagi istrimu, kau adalah kakak bagi adik-adikmu, dan bagiku kau adalah segalanya. Aku bersyukur telah menjadi adikmu. Terima kasih untuk semua pengorbananmu, perhatian, perjuangan, dan ketulusan cintamu.
Pagi itu, disaksikan oleh mentari yang baru saja menyapa bumi, kau ungkapkan perasaanmu yang mendalam kepada ibu, memohon do’a dan restunya.
“Bu, dari rahimmu aku terlahir dan dari buaianmu aku mulai mengenal dunia yang penuh duri ini. Namun, berkat cinta dan kasih sayangmu, hingga kini aku mampu menghadapi semua ujian kehidupan,” ucap kakak mengawali dengan kata-kata yang mampu menyentuh hati siapapun yang mendengarnya kala itu.
“Aku tak pernah tahu kapan langkah ini akan berlabuh, tapi hatiku selalu mengatakan bahwa engkaulah tempatku kembali setelah perjalanan yang melelahkan itu, bu…” lanjutnya.
Ibu menatap anak sulungnya begitu dalam, seolah tahu apa yang akan dikatakan olehnya. Dengan penuh keberanian dan ketulusan, kakak mulai mengungkapkan keinginannya untuk meminang seorang gadis dan menjadikannya sebagai pendamping hidup.
“Bu, hanya darimu aku dapatkan restu, darimu jua ridho Allah kuperoleh, dan sekarang aku memohon do’a, restu dan ridhomu untuk menikah…” ungkap kakak sambil memegang erat tangan ibu.
Ibu yang saat itu sedang sakit, hanya bisa meneteskan air mata bahagia. Dengan begitu lembut, ibu mencium kepala kakak dan mengantarkan restunya.
“Iya Nak, ibu merestuimu. Semoga engkau mampu menjadi pemimpin dalam keluargamu kelak. Ibu akan bahagia seandainya anak-anak ibu dapat bahagia…” ucap ibu dalam do’anya.
Meskipun kakak seorang yang kuat bagiku, tapi tetap saja air matanya meleleh mendengar do’a ibu.
“Satu pesan ibu, jika nanti kau sudah berrumah tangga, titip adik-adikmu…” pesan ibu.
“Jaga mereka, cintailah mereka seperti engkau mencintai dirimu sendiri dan istrimu. Mereka masih membutuhkan kasih sayang, perhatian dan cinta. Karena itu ibu mohon bimbing mereka…” ucap ibu dengan suara yang semakin serak karena menangis.
“Tentu bu… aku  akan selalu menjaga mereka, bersama ibu…” jawab kakak tak kuasa mengungkapkan sayangnya pada ibu dan adik-adiknya
Selepas percakapan yang cukup mengharukan antara ibu dan kakak, semua keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan. Mulai dari perencanaan waktu, undangan, pakaian, makanan, barang-barang seserahan, sampai hal terkecil lainnya. Namun, tiga minggu sebelum hari bahagia itu tiba, sakit ibu kembali kambuh. Keluarga yang sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan, kini ditambah kepanikan karena kondisi ibu yang semakin buruk.
Hari itu juga, ibu langsung dilarikan ke rumah sakit dan mendapat pertolongan pertama. Kata dokter, ibu ternyata harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.
“Gagal ginjal yang diderita ibu Siti sudah sangat parah. Karena itu, butuh perawatan intensif,” terang dokter pada kakak yang sudah sangat panik.
“Tapi dok, ibu kan sudah menjalani cucu darah dua kali dalam seminggu? Apa kurang cukup untuk mengembalikan konidisi ibu? Apa belum cukup untuk mengembalikan kebahagiaan ibu?” Tanya kakak ingin meyakinkan. Air mata yang sedari tadi dipendam, akhirnya keluar begitu deras, sederas sayangnya pada ibu.
“Tenang Nak, hanya Allah yang maha mencurahkan kebahagiaan untuk semua makhluk-Nya. Dokter dan kita hanya mampu berdoa dan berusaha sekuat tenaga,” Paman mencoba menenangkan sambil mengusap punggung kakak dengan lembut.
Sudah lama rasanya kakak tidak merasakan sentuhan lembut dari seorang ayah seperti yang dilakukan paman. Dalam tangisnya, ia merindukan kebijaksanaan ayah dan kelembutan ibu.
Sementara aku yang tak pernah mengerti dengan semua kejadian ini, hanya bisa bertanya dalam diam, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya. ‘Mungkin belum saatnya aku menemukan jawaban itu’, batinku.
* * *
            Sudah hampir satu minggu ibu berada di rumah sakit. Tak ada perubahan yang mampu membuatku dapat merasakan nikmatnya menarik nafas lega.
            Di ruangan yang hanya dibatasi oleh sekat kain seadanya, aku duduk di samping ibu yang sedang tertidur. Kupandangi wajahnya yang sangat pucat, kulitnya yang mulai berkeriput termakan usia, dan gurat-gurat perjuangan yang jelas terlihat di sana. Semua yang ada dalam diri ibu kelak akan menjadi saksi atas pengorbanan, limapahan kasih dan sayang yang telah ia curahkan pada keluarga.
            “Ya Allah, izinkan aku mengabdi pada ibu sampai akhir usiaku… berilah aku kesempatan untuk dapat membahagiakan ibu, walau semua yang telah Engkau berikan melaluinya takkan pernah tergantikan…” pintaku penuh harap, dalam doa yang mendalam.
* * *
            Hari bahagia itu akan segera tiba. Walau ibu harus menahan sakit ketika cuci darah dan tinggal di rumah sakit yang penuh dengan orang-orang yang berjuang untuk hidup, tapi ada garis kebahagiaan terpancar dari senyuman ibu.
            “Nak, sebentar lagi kakakmu akan menikah, kelak kau pun akan menyusul kakakmu, ibu minta, jadilah adik yang baik untuk kakakmu, sayangi ia ketika sayang ibu tak dapat tercurahkan lagi padanya…” ucap ibu sambil menahan sakit di perutnya.
            “Tidak bu… ibu tidak boleh bicara begitu. Kita sama-sama saling menjaga dan berbagi kasih sayang ya, Bu…” aku mencoba meyakinkan ibu. Namun ibu tak berkata apa-apa lagi. Dengan matanya yang sayu, ia menatap kosong keluar jendela kamar rumah sakit.
            “Ibu malu Nak,” ucapnya tiba-tiba. Belum sempat aku menanggapi ucapannya, ibu melanjutkan dengan nada sendu. “Ibu malu, kalau nanti kakakmu menikah, ibu hanya bisa duduk saja, atau bahkan berbaring. Tak bisa menyambut tamu yang datang ke acara pernikahan. Mungkin orang-orang akan memandang tak baik. Kasihan kakakmu…”
            Mendengar ucapan ibu, ingin rasanya aku menangis dan memeluknya. Mengatakan kalau semua itu tak akan terjadi. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menangis di hadapannya. Aku tak ingin membuatnya bertambah sedih.
            “Ibu pasti sembuh… Ibu nanti akan duduk di samping kakak, memberinya restu, berfoto bersama, menyambut salam dan do’a dari kedua keluarga yang berbahagia…” ucapku mencoba menenangkan. Perlahan, kugenggam tangan ibu, lalu kucium ia dengan perasaan haru.
* * *
            Sebuah janji suci telah terucap, doa pun memenuhi setiap relung qalbu, berharap dua insan berbahagia dalam kehidupan yang baru. Rembulan yang bersinar terang di atas sana ikut bertasbih, sucikan asma-Nya.
            Ruangan sederhana ini terasa sangat indah. Bukan karena hiasan yang mewah, bukan pula karena perabot yang mahal. Tapi karena setiap hati yang hadir di sini merasakan hal yang sama. Bahagia.
            Kulihat senyum kakak merekah dan tak henti mulutnya mengaminkan setiap doa dari tamu yang hadir. Ia tampak bahagia. Di sampingnya, duduk manis seorang wanita yang sangat cantik, mendampingi kakak di pelaminan. Kini, seorang bidadari telah melengkapi belahan hatinya, bersama membangun keluarga untuk mengharap ridho Allah swt.
Di balik kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya, aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya, ia merindukkan ibu. Meski sudah ada seorang wanita yang mendampinginya, kakak tetaplah seorang anak yang mengharap wanita yang telah membesarkannya dengan penuh ketulusan hadir di sampingnya pula saat ini. Ada yang tidak lengkap di sini, seolah waktu telah mengambil ibu menjauh dan pergi.  Kuyakin, siapapun menginginkan di saat-saat sakral seperti ini, sosok seorang ibu dapat hadir, menyaksikan buah hatinya menggenapkan dien-nya.
Ketika giliranku menyalami kakak, tak berani aku menatap matanya. Aku hanya bisa tertunduk menahan tangis. Aku tak ingin memperlihatkan duka di saat yang bahagia ini. Namun, pertahananku pun mulai hancur, ketika kusalami kakak dan ia pun membalas dengan ciuman lembut di kepalaku. Erat kupeluk ia, seperti seorang anak yang tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami. Hanya bahasa hati yang mampu mengungkapkan semuanya, bahwa kami rindu ayah dan ibu….
‘Kak, sekarang hanya kakak yang aku punya, aku tak ingin ada perpisahan lagi, karena aku tahu perpisahan itu ternyata rasanya sakit, lebih sakit daripada teriris pisau, sebab kini yang teriris adalah hatiku…’ batinku.
Ibu yang kami rindu, pergi lebih dulu sebelum masa bahagia itu berlalu. Tepat satu minggu sebelum pernikahan kakak, ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Mimpinya untuk bisa menjadi saksi pernikahan pun tak sampai. Namun ridhonya telah mengantarkan kebahagiaan itu pada anak-anaknya.
Menyaksikan pernikahan kakak, aku sempat berpikir jika ridho Allah ada pada ridho kedua orangtua, lalu pada siapa kini aku mencari ridho-Nya? Kelak saat aku menikah dengan seseorang yang telah Allah takdirkan untuk menjadi pendampingku, aku pun ingin ayah menjadi wali nikahku dan ibu memberikan restunya untukku. Tapi aku sadar, inilah takdirnya, Allah lebih sayang kepada mereka, karena itu Allah memanggil mereka lebih dulu. Dan kelak, ridho suamilah yang aku cari untuk peroleh ridho-Nya.
* * *
            Sejatinya aku tak pernah kehilangan ayah dan ibuku, sebab mereka selalu ada di hati ini. Kasih sayang yang selalu mereka curahkan sejak aku kecil masih terasa hingga kini, bahkan ketika keduanya telah tiada. Ayah dan ibu tak pernah pergi, selalu di hatiku. Mereka tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku.
* * *
            Ingin kuceritakan pengorbanan kakak yang tak pernah lelah dalam merawat ibu hingga akhir hayatnya. Kakak yang selalu setia menemani ibu ketika dirawat di rumah sakit. Ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk ibu. Pernah suatu hari, ketika aku pulang kuliah dan menjenguk ibu di rumah sakit, kutemukan kakak tertidur sambil duduk di atas ranjang rumah sakit, sementara ibu tidur di pangkuannya. Kulihat lelah di wajahnya karena beberapa hari ia tidak tidur demi menjaga ibu, namun kutahu ia melakukannya dengan tulus. Setulus cinta ibu yang diberikan ketika merawatnya sejak kecil dulu.
Seperti itulah kakak lelakiku, rela melakukan apapun untuk ibu. Bahkan ketika sakit ibu semakin parah, tak pernah satu malam pun terlewatkan untuk menaga ibu di rumah sakit. Suatu malam, karena kecapean, ia tertidur di lantai, sementara ibu dijaga oleh saudaraku. Tapi, karena sama-sama kelelahan, beliaupun tertidur. Mereka terbangunkan oleh suara keras yang membentur lantai dan teriakan kakak. Dini hari itu, ternyata ibu terbangun dan tangannya yang masih diinfus tak sengaja menyenggol tabung oksigen besar di samping ranjangnya. Tabung itu pun jatuh menimpa kakakku yang sedang tertidur di bawah.
Mendengar ada yang jatuh, sontak kakak kaget dan langsung melihat ibu karena khawatir teradi sesuatu pada ibu, tapi ia tak sadar bahwa ternyata lengannya telah tertimpa tabung oksigen yang besar itu. Tak lama dari itu, ketika mendapati ibu masih baik-baik saja, barulah ia merasakan sakit luar biasa pada lengannya. Bahkan ia hampir pingsan karena sakit dan kerasnya tabung menimpa tangannya. Untung beberapa perawat yang ada disana langsung memberikan perawatan untuk kakak sampai tangannya harus di gips.
Meskipun tangannya terluka, tapi ia masih bersyukur karena tabung oksigen itu tidak menimpa kepalanya. Posisi kepalanya saat tertidur tepat di samping tabung itu tapi atas rencana Allah malam itu posisi tidurnya pindah sehingga lengannya saja yang tertimpa. Kejadian itu terjadi dua hari sebelum mamah meninggal.
Esoknya, kakak yang tak pernah berhenti menjaga mamah, kondisi tubuhnya semakin menurun setelah kecelakaan tabung itu. Sampai kakak perempuan mamah yang saat itu ikut menjaga mamah menyarankan agar kakak istirahat saja di rumah. Awalnnya kakak menolak karena ia tak ingin meninggalkan mamah. Namun, ia pun berpikir jika kondisinya tak segera mambaik, bagaimana ia akan menaga mamah nantinya. Akhirnya, kakak berpamitan pada mamah yang saat itu tak mengingat apapun.
Inilah rencana Allah yang telah menakdirkan semua anak-anak mamah tak menyaksikkan kepergiannya. Malam itu, ketika kakak pulang dan istirahat di rumah, Allah memanggil mamah.


            Baca Semua Episodenya ...

Seindah Parasmu di Balik Keteduhan Jilbab

Bismillahirrahmaanirrahiim
Kisah ini kuawali dengan sebuah kenangan masa lalu yang membuat air mata ini meleleh karenanya.
Aku lahir dari keluarga sederhana degan pengetahuan agama yang sederhana pula. Layaknya keluarga lain yang menginginkan hidup serba kecukupan, maka berusaha mencapainya adalah sebuah keharusan.

Namun, semua terasa hampa jika hanya didorong oleh nafsu semata. Kemewahan yang melimpah pun akan terasa tak bermakna sama sekali. Tinggal di rumah yang besar pun terasa di gubuk yang dikelilingi ular-ular berbisa yang siap menerkam kapan saja.
Sementara aku dan keluargaku tetap hidup dalam kesederhanaan. Aku dibesarkan tanpa tangan kokoh ayah karena harus bekerja di luar kota. Sehingga mungkin aku jadi sedikit manja, terlebih pada ibu.

Suatu hari, ketika di SD, anak-anak seusiaku asyik mengaji ke madrasah, sementara aku lebih senang bermain di rumah atau di jalanan. Bahkan membaca iqra pun aku tak bisa. Menyadari itu, ternyata ibu tak tinggal diam, beliau memaksaku untuk mengaji bersama teman-teman lain. Meski dengan terpaksa karena dipaksa, akhirnya aku pun ikut mengaji, belajar tentang adab-adab berwudhu, solat, sampai adab-adab anak yang shaleh.

Semakin lama, aku pun semakin menikmati aktifitas mengajiku, meski aku tak punya koleksi kerudung yang banyak karena saat itu aku belum berkerudung. Namun, di sekolah agama itu, aku menjadi sorotan teman-teman, karena di sana aku menjadi satu-satunya santri yang bersekolah di sekolah negri, penampilanku pun lebih rapi dari mereka. Meski aku tergolong murid baru di sana, tapi prestasi mengajiku ternyata bisa lebih baik dari teman-teman.

Tapi, satu yang menjadi kekuranganku dari mereka. Aku belum berjilbab! Pernah suatu hari, kakekku menyindir. “Neng pake kerudung kalo mau sekolah agama aja ya? Pulang ke rumah, kerudungnya lepas…”

Aku kesal! Tapi tak berani marah, sebab kenyataannya aku memang belum berjilbab. Memang ada sedikit perasaan malu ketika bertemu dengan teman-teman ngaji bahkan guru ngaji ketika berpapasan dengan mereka tanpa mengenakan jilbab.

Sempat aku meminta ingin memakai kerudung ke sekolah, tapi ibu tidak mengizinkan. Sampai aku pernah dihukum oleh guru ngaji karena ngga pakai kerudung.

Beberapa tahun selanjutnya ketika aku masuk SMP, akhirnya ibu mengizinkan aku pakai kerudung ke sekolah. Meski kerudungku masih kecil, pakaian pun belum rapi. Anehnya, setiap aku berangkat sekolah, aku memakai kerudung, tapi ketika pulang sekolah, kerudung itu malah kulepas dan  bermain keluar rumah tanpa kerudung seperti biasa.

Pernah ada cerita, ketika pulang sekolah masih memakai seragam, perutku sangat lapar, akhirnya aku memesan mie ayam di depan rumah. Buru-buru aku lari ke rumah untuk ganti baju dan membawa uang. Tapi, ketika aku datang kembali untuk membawa mie ayam pesananku, tukang mie ayam itu malah kebingungan.

“Mas, mie ayam pesananku sudah beres?” tanyaku tergesa, saking udah laparnya.
Tukang Mie Ayam yang ditanya malah bengong. Dengan nada heran, ia pun menjawab. “Lho, Neng kan belum pesen, yang tadi pesen mie ayam tuh Neng yang pake kerudung!”

“Hah?!” aku kaget, ternyata tukang mie ayam itu tak mengenaliku. Aku lupa, tadi aku memesan ketika masih pakai kerudung, dan sekarang aku tidak memakainya. Setelah sadar, betapa aku malu sendiri dengan tingkahku. Aku bertanya, untuk apa aku berkerudung kalau tingkah lakuku belum menunjukkan tingkah laku seorang wanita muslimah yang taat berkerudung?

Meski banyak pertanyaan di benakku, tapi kebiasaanku melepas kerudung masih saja kulakukan, bahkan aku pernah berani melepas kerudung ke sekolah.

Ketika itu, ada ujian praktik drama Bahasa Indonesia di kelas, aku berperan sebagai seorang anak yang ketika besarnya menjadi dokter. Saat itu, semua teman sekelompokku tidak memakai kerudung karena alasan tidak sesuai dengan kostum yang dipakai. Akhirnya, dengan alasan yang sama, aku pun melepas kerudung dan memakai kostum layaknya seorang dokter. Dengan percaya dirinya aku bermain peran tanpa memedulikan kerudungku. Waktu itu, tidak ada perasaan malu dalam diriku karena aku masih kelas 1 SMP.

‘Toh waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) pun aku tidak pakai kerudung karena masih memakai seragam SD, bahkan rambutku yang panjang itu aku ikat dengan pita warna-warni yang banyak sebagai syarat bagi peserta yang tidak berkerudung. Aku juga heran pada teman sebangkuku yang pada hari pertama dikumpulkan, dia tidak memakai kerudung, tapi ketika esoknya mulai MOS, dia berubah memakai kerudung.

“Kok sekarang kamu berubah pake kerudung sih?” tanyaku polos.
“Biar ga usah ribet pake pita di rambut,” jawabnya simpel. Mendengar jawabannya itu, aku pun terdiam karena menyadari bahwa aku memang merasakan ribetnya harus memakai pita yang banyak di rambut. Bahkan aku juga merepotkan ibu waktu itu karena tidak bisa memakai pita sendiri.

Hm, mungkin inilah alasan ibu dulu belum mengizinkan aku berkerudung ke sekolah karena belum siap untuk sempurna memakainya. Namun, kurasakan kini, ternyata justru hidayah itu datang ketika kita memiliki keinginan kuat dan menjalani proses perubahan diri dengan hati tulus.

Tidak mudah memang menjalaninya, namun jika kita yakin, Allah pun akan ikut membantu menunjukkan jalan yang terbaik ketika kita tersesat di tengah perjalanan menuju Muara-Nya. Syukurku tiada henti, karena ketika keinginan untuk berubah sudah tertanam dalam hati, Allah pun menurunkan orang-orang yang mampu mendukung ke arah yang lebih baik.

Aku ingat dengan salah satu obat hati, yaitu berkumpullah dengan orang soleh. Karena ketika kita bergaul dengan orang yang baik, minimalnya kita pun akan terbawa baik. Dan itu pula yang kurasakan. Sejak masuk SMP, aku memiliki banyak teman yang berbeda-beda karakter. Namun dari perbedaan itu, aku belajar tentang sesuatu hal hingga aku mendapat teman dekat yang berkarakter baik. Tak bermaksud memilih teman, hanya saja aku merasa perlu untuk berteman dengan orang-orang yang mampu membawaku ke arah yang baik.

Aku pun mulai menjalani aktifitas di sekolah tidak hanya sebatas bersekolah, namun aku pun mengikuti kegiatan organisasi. Salah satu yang kuikuti adalah organisasi Palang Merah Remaja, OSIS, dan Rohis. Dari ketiga aktivitas yang kuikuti, yang paling berbeda adalah Rohis, organisasi yang bergerak di bidang kerohanian. Anehnya, meski kurasakan lebih sulit dan banyak rintangan dalam menjalankan roda organisasinya, tapi aku merasa lebih nyaman berada di sana. Dan mulailah aku melakukan pencarian makna diri.

Kucoba untuk istiqomah  memakai jilbab ini, tapi rintangan itu terlalu banyak. Godaan pun tak kalah saing dengan tekadku. Kata guru ngajiku, inilah ujian yang merupakan tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. “Ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Ia berikan ujian. Jika hamba-Nya itu lulus ujian dengan baik, maka dia akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya.”

Alhamdulillah, dengan segala upaya aku berhasil mempertahankan jilbabku di SMP. Dan ketika naik ke jenjeng sekolah yang lebih tinggi, aku kembali memperbaiki tekad dan memperbaharui niat.

“Bu, di SMA nanti, teteh pengen pakai kerudungnya ngga cuma buat ke sekolah aja, tapi dipakai sehari-hari di luar sekolah juga ya?” tanyaku pada ibu walau dengan malu-malu, karena sifat diri yang belum sesuai dengan jilbab yang dipakai.

“Iya, gimana teteh saja, yang penting buat ibu, anak-anak ibu bisa jadi anak-anak yang shaleh dan shalehah,” jawab ibu sambil membelai rambutku.

“Asyiiik,,, makasih ya Bu… Tapi….” Ucapanku terpotong.
“Tapi kenapa? Masih ragu…?” Tanya ibu bingung.
Dengan sedikit manja, kupeluk ibu, dan kubisikkan sesuatu di telinganya.

“Tapi, aku pengen dibeliin koleksi jilbab sama Ibu yaaa…” pintaku agak memaksa. Mendengar permintaan itu, ibu tersenyum sambil mencubit lenganku pelan.

“Hm… anak ibu ini… kalau ada keinginan, usaha dong… pengennya dibeliin sama Ibu melulu…” ucap ibu.

“Yah,,kan selera style ibu lebih bagus dari aku… jadi pilihin kerudung yang bagus-bagus ya bu…”
Alhasil, esoknya aku jalan-jalan bersama ibu. Berbelanja peralatan sekolah dan kerudung yang kuinginkan.


            Baca Semua Episodenya ...
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes