Archive For 2015 2015 - Teh Deska
TERBARU

Sukses Bareng Yuk!

Hari ini ketemuan dengan timku yang luar biasa, Yuli Mulyani,, padahal baru pertama ketemu tapi sudah serasa dekat. Ternyata Yuli adik kelasku di kampus beda jurusan...Katanya kenal aku karena dulu aku suka nge-MC kalo lagi ada acara di kampus. Hihi. Ternyata dunia bgitu dekat yaa.
Senang deh bisa ngobrol panjang lebar sama Yuli tentang bisnis yang sedang kita jalankan. Lebih senang lagi melihat antusias & semangatnya untuk bisa sukses bareng di bisnis ini.
Yuk kita belajar bareng2, mencapai tangga kesuksesan bareng2^^


Walau masih mahasiswa, tapi usahanya untuk bisa mandiri sangat bagus. Jadi ga nunggu lulus kuliah dulu baru sukses.


Colek uplinenya Fuzna Mukhbitah Amir ^^
Ayoo teman2 yang lain, yang mau bantu orangtua biayai kuliah sendiri, yang mau punya penghasilan sendiri, mandiri & sukses sejak dini, gabung bisnis dengan timku yuk, nanti diajarin caranya.

Hubungi aku aja di
Pin Bb : 5A87B880
Sma/WA: 08572349200
Atau daftar [Klik di sini]
Salam Sukses ^^

Walau masih mahasiswa, tapi usahanya untuk bisa mandiri sangat bagus. Jadi ga nunggu lulus kuliah dulu baru sukses.

Bisnis di Rumah, Rahasia Ibu Rumah Tangga Sukses ada di sini!

Assalamualaikum.
Saya Deska, ibu rumah tangga dengan satu orang anak. Sejak melahirkan anak pertama, saya memutuskan resign/ berhenti dari pekerjaan dan memilih untuk mendidik anak serta mengurus rumah tangga.


Meskipun hanya di rumah, tapi saya tetap berpenghasilanSaya menjalankan bisnis yang bisa dikerjakan di rumah dengan memanfaatkan media online dan punya penghasilan 7 digit. Alhamdulillah sekarang waktu saya bersama keluarga jadi lebih banyak dan berkualitas. 


Dengan pekerjaan yang satu ini, saya bisa bersama si kecil setiap waktu. Saya bisa mengikuti perkembangannya. Saya dapat mengerjakan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai amanah utama. Saya bebas mengerjakan bisnis ini di rumah. Waktu kerjanya dan penghasilannya pun saya sendiri yang menentukan.

Deska bisnis apa?
Teman2 mau tau caranya?


[Klik di sini]
Dengan pekerjaan yang satu ini, saya bisa bersama si kecil setiap waktu. Saya bisa mengikuti perkembangannya. Saya dapat mengerjakan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai amanah utama. Saya bebas mengerjakan bisnis ini di rumah. Waktu kerjanya dan penghasilannya pun saya sendiri yang menentukan.




Keputusan Terbaikku

<<Inilah Alasan Mengapa Aku Memutuskan untuk Resign dari Pekerjaan & Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga>>
Karena Cinta Aku Memilihmu
Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa
Aku hanya ingin menyempurnakan agamaku sebagai istri shalihah
Tak apa hidup sederhana, asalkan bahagia bersamamu
Sedih rasanya ketika mengingat dulu
Saat engkau telah pulang bekerja, sementara aku masih sibuk di tempat kerjaku
Kau setia menantiku di rumah, bahkan seringkali kau datang menjemputku walau kutahu kau masih lelah
Meski alasanku bekerja adalah utnuk membantumu mendapat penghasilan tambahan
Namun sebenarnya egolah yang menguasai
Aku malu padamu
Malu pada Allah dan Rasul-Nya
Kini kuputuskan untuk meninggalkan segalanya karena cinta
Tak kupedulikan cibiran orang lain
“Percuma sarjana kalau hanya jadi ibu rumah tangga,” kata mereka
Bukankah semua yang dilakukan seorang istri di rumah adalah ibadah
dan seorang ibu pun harus cerdas untuk mendidik ana-anaknya
Maka, aku bahagia menjalani peranku saat ini
Aku merasa lebih produktif bekerja di rumah dibanding di luar sana
Banyak hal yang dapat kulakukan
Mengurus rumah tangga, berwirausaha, bahkan melakukan kegemaran menulisku
Waktuku bersamamu menjadi lebih
banyak
Selain itu, senang rasanya ketika dapat melihat perkembangan putra kita setiap hari
Hal yang mungkin takkan kudapatkan jika aku masih bekerja
Kebahagiaan terindah memang bukan diperoleh dari banyaknya waktu yang kita miliki
Namun waktu yang berkualitas
Karena itu, aku mencoba memanfaatkan setiap waktu agar dapat menjadi amal yang bermanfaat untuk semua orang
Sejak kau mengungkapkan cinta usai ijab qobul
Kutahu, sejak saat itulah seluruh tanggung jawab berpindah padamu
Kau adalah imamku, ayah bagi anak-anakku
Kuserahkan seluruh cinta padamu
Aku ingin merajut impian dan merangkai masa depan bersamamu
Aku bersyukur menjadi istrimu
Kau begitu baik, perhatian, pengertian, dan penyayang
Kau sangat sabar menghadapi diriku yang terkadang masih kekanakan
Bimbing aku selalu, suamiku
Agar aku dapat menjadi shalihah untukmu
Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, mendidik mereka agar menjadi generasi yang terbaik
Sungguh, aku memilihmu dan mencintaimu karena-Nya
Dalam naungan cinta-Nya,

Inilah Alasan Mengapa Aku Memutuskan untuk Resign dari Pekerjaan & Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ketika Mereka Berbicara Tentangku

Setiap orang pasti memiliki sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Sebagian, menyimpan kenangan itu hanya dalam memori ingatan saja, sebagian yang lain ada yang mengabadikannya dalam bentuk foto, video, atau gambar. Namun, aku lebih suka menyimpan kenangan yang indah itu dalam tulisan.

Aku dapat mengungkapkan segala perasaan serta kejadian yang pernah kualami dalam tulisan. Ketika waktu telah berputar meninggalkan masa lalu, aku dapat membacanya kembali dan mengenang setiap peristiwa yang kualami. Bagiku, kata-kata yang terangkai indah akan lebih bermakna karena dihiasi oleh imajinasi dan memori yang takkan hilang ditelan masa.

Sejak kecil aku memang senang menulis, kutuliskan semua kejadian yang pernah kualami dalam sebuah buku diary yang kuhias dengan sangat cantik. Bahkan tulisan-tulisanku dari masa kecil yang indah itu masih tersimpan rapi. Tak terhitung berapa jumlah buku harian yang kupunya. Di antara buku-buku diary itu, ada sebuah buku yang sangat bermakna bagiku, sebab buku itu merupakan hadiah dari sahabat-sahabat di SMA-ku.

Di sini, aku sampaikan beberapa tulisan sahabat-sahabatku yang sangat mempengaruhi hidupku, karena tulisan tersebut menjadi motivasi dan penyemangat bagiku. Kuucapkan terima kasih teruntuk mereka yang kucintai karena Allah.

Di manapun kalian berada saat ini, semoga Allah selalu merahmati dan memberikan anugerah-Nya yang terindah... I Love you all, because Allah... so much...

* * *

Idy’s Say


Assalamualaikum Wr. Wb.
Menurut aku, Deska tuh...teman, sahabat, saudara, pengingat,, dan... Lacur! (!?) Ladang Curhat maksudnya :D Solusi yang dikasih olehnya selalu ampuh! Selalu mengingatkan kita kepada Allah...
Berkat Ukh Deska pula, aku bisa memanage hati buat hadepin yang namanya: PROBLEMS!
Ukhti, syukron ya... Ayo kita berjuang bersama-sama! Semangat! 

Satu hal lagi...
Orangtua Ukh pasti bangga ya punya putri seperti Deska... Aku juga jadi termotivasi untuk lebih baik dan membanggakan orangtuaku...!

Teman,
Aku akan selalu setia kepada semua teman-temanku!
Aku harap Ukh juga sama... segala baik atau buruk dalam diri kita masing-masing, jangan jadi penghalang kita untuk terus berjuang ya?!
Last, aku pasti akan sangat rindu dengan semua di diri Ukh...
Ingatan-ingatan Ukh... semangat Ukh...
Jangan lupain aku ya,,,
Allohu Akbar!!!

Setiap orang pasti memiliki sebuah kenangan indah yang tak terlupakan.


Hati yang tenang ini,
Karena semilir angin lembut darinya,
Kain lebar yang menutupiku ini,
Adalah ingatan keecil darinya,
Hati yang kuat ini,
Oleh semangat yang selalu tercurah darinya,
Anggukan kepala ini,
Karena perkataannya yang mulia,
Segala kebaikan-kebaikan ini,
Adalah ajakan darinya tak pernah henti,
Dia tunjukkanku indahnya Islam,
Dia tunjukkanku cinta Allah
Ukhti, ajak aku selalu
Agar ku bisa menemanimu di tempat terindah,
Agar ku bisa bersamamu,
Sebagai bidadari surga,
Yang selalu diberkati oleh-Nya...
Aamiin....

Saudara Seperjuangan,
Widya Kartika


Tia’s Say,


Eumh... kalau menurut aku Deska tuh...
Orang baik, penyabar, alim, anggun tapi ceria, suka ngasih nasihat dan mensuport orang agar selalu ada di jalan yang diridhoi Allah, selalu semangat dan yang pasti mirip Teh Ninih... he he he 
Deska, menurut aku, kamu bagaikan seorang bidadari yang Allah turunkan untuk membimbing kita semua...

Seorang bidadari yang baik dan bercahaya...
Dan jilbabmu yang lebar itu...bagaikan sayap indah yang Allah berikan kepadamu untuk selalu menemani hidupmu.
Kita semua senang dan bersyukur banget punya teman kayak kamu, apalagi orangtua kamu ya...
Aku berharap kita akan selalu bersama di dunia dan di akhirat...

Kau selalu ada menemaniku
Di saat aku sedih,
Di saat aku senang,
Dan saat aku terpuruk dalam dosa.

Walau diri ini penuh noda,
Kau tak pernah menjauh
Dan mengasingkanku
Dari hidupmu

Kau selalu hadir menemaniku
Dengan sayapmu yang indah
Kau selalu hadir menemaniku
Dengan senyuman yang bercahaya
Kau selaluhadir dan menemaniku
Dengan penuh kesabaran

Kau...
Adalah bidadari
Yang Allah kirim
Dengan segala kebaikan yang ada pada dirimu

Datanglah wahai bidadari...
Terangilah hidupku,
Dan hindarkan diriku dari kegelapan
Dengan penuh ketakwaan
Pada Sang Pencipta

24 Juni 2007

Nad’s Say,


Apa kabar Ukhti??
About Ukhti. Deska versi Nadia...??! Hmm...
Yang pasti ukhti adalah sahabat terbaik Nad selalu!!
Dikala Nad senang, Ukhti selalu ikut senang. Dikala Nad merasa sedih, Ukhti selalu menghibur. Bahkan dikala Nad sedang mendapat masalah, Ukhti selalu memberikan semangat...
Siapa yang ngga merasa beruntung mendapat sahabat sebaik Ukhti?! Malah jadi beban batin juga ya?! Hihi... Kenapa?? Soalnya Nad pengen Ukhti dapat sahabat seperti Ukhti sendiri... Doain aja biar Nad bisa jadi sahabat yang baik buat Ukhti, meskipun harus bertahap...

Then, Ukhti Deska tuh orang yang sabar walaupun terkadang ngga sabaran (?_? jadi bingung) 
Yang pasti, ukhti penjaga rahasia terbaik dan selalu jadi penyemangat dan pengingat kita semua!
Terakhir, yang paling Nad suka dari diri Ukhti selain sikapnya yaitu... SEMNYUMAN yang selalu membuat hati Nad tenang... 

Sahabat Sejati

Hatiku resah tak terkendali
Gelisah penuhi pikiran ini
Beberapa noda telah kotori hati
Hingga diriku tak merasa suci

Entah apa yang kini terjadi
Guncingan membuatku tak enak hati
Waktu berjalan seakan tak pedulingga tinggalkan diriku sendiri

Terkejut kulihat bayangan sepi
Tersinari oleh cahaya diri
Lembut terasa belaian angin
Tenangkan malam yang sunyi

Siapakah sosok bayanngan sepi?
Hingga penting perannya di hati
Tertera hatiku nama Deska Pratiwi
Yang menjadi sahabat sejati

Ya Allah... terima kasih telah berikan diriku sahabat seperti dirimu...
Kita berjuang bersama Ukhti...!
Untuk mencapai ridho-Nya... Aamiin

Nadia Damacita

Inspirasi 5 Cm

Sebuah Inspirasi--dari 5 cm

Malam ini aku bermimpi memetik bintang, menyapa rembulan, dan terbang mengelilingi angkasa.”

Ya, itu hanyalah sebatas mimpi yang akan pergi ketika aku terbangun. Namun, tahukah kawan, sebenarnya kita dapat menciptakan mimpi kita sendiri. Bukan hanya bunga tidur, namun mimpi yang menjadi nyata!
Seperti yang diungkapkan Donny Dhirgantoro dalam novelnya “5 cm”, berikut akan aku uraikan bagian dari tulisannya yang selalu menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi.

* * *

“ Biarkan mimpimu menggantung, mengambang 5 cm di depan keningmu.
Jadi, dia takkan pernah lepas dari matamu.
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa KAMU BISA.

Ketika kita menggantungkan mimpi kita 5 cm di depan kening, artinya ia akan selalu ada kapanpun dan dimanapun kita berada. Mimpi tak hanya tersimpan dalam memori ingatan saja, namun harus selalu kita bawa dan kita lihat setiap saat.

APAPUN HAMBATANNYA, katakan pada dirimu sendiri, kalau kamu percaya dengan keinginan itu dan kamu TIDAK BISA MENYERAH.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh.
Bahwa kamu akan mengejarnya hingga dapat.
Apapun itu, segala keyakinan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.

Percayalah pada setiap mimpi kita, bahwa kita akan mampu mewujudkannya. Sehingga apapun rintangan yang menghadang akan mampu kita hadapi. Meski perih, penuh duri, dan hambatan namun semua itu tak dapat menghalangi kita dalam mengejar mimpi.

Biarkan keyakinanmu 5 cm menggantung, mengambang di depan keningmu. Dan setelah itu, YANG KAMU PERLU HANYA…

Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya..

Tangan yang akan berbuat lebih dari biasanya..

Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya..

Leher yang akan lebih sering melihat ke atas..

Lapisan tekad yang SERIBU KALI lebih keras dari baja..

Dan HATI yang akan bekerja lebih keras dari biasanya..

Serta mulut yang akan selalu BERDOA…

Yakinkan diri dan mulailah beramal. Untuk mencapai mimpi tidak dapat dilakukan dengan tidur dan berdiam diri saja. Namun kita perlu aksi! Ya, aksi nyata dalam merealisasikan mimpi kita.

Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan.. BUKAN HANYA SEONGGOK DAGING YANG HANYA PUNYA NAMA.”

Hidup kita di dunia hanya sementara, yang kekal itu di surga nanti. Karena itu, lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu. Jangan sia-siakan setiap waktu yang terlewati. Hidup ini memang pilihan, mau menjadi manusia biasa-biasa atau manusia luar biasa yang bermanfaat untuk orang lain? Tinggal pilih!

Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya.. bukan seorang pemimpi saja,, BUKAN ORANG BIASA-BIASA saja..tanpa tujuan.. mengikuti arus dan KALAH OLEH KEADAAN..

Tapi seseorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi dan keajaiban cita-cita.. dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terakumulasikan dengan angka berapa pun..

Hidup berarti dan penuh arti. Itulah pilihan kita. Menjadi seseorang yang kehadirannya selalu dinantikan, yang amalnya selalu diharapkan, dan akhlaknya selalu jadi panutan.

Dan kamu tidak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya..
Percaya pada.. 5 cm di depan keningmu..”

Seseorang yang memiliki mimpi akan selalu optimis, melangkah dengan penuh keyakinan, dan siap menghadapi setiap resiko. Tujuan akhirnya hanyalah mengharap ridho Allah. Karena Dia akan selalu bersama dengan orang-orang yang berusaha dan bersungguh-sungguh, pantang mengeluh, serta senantiasa bersyukur pada-Nya.


Ya, itu hanyalah sebatas mimpi yang akan pergi ketika aku terbangun. Namun, tahukah kawan, sebenarnya kita dapat menciptakan mimpi kita sendiri. Bukan hanya bunga tidur, namun mimpi yang menjadi nyata! Seperti yang diungkapkan Donny Dhirgantoro dalam novelnya “5 cm”, berikut akan aku uraikan bagian dari tulisannya yang selalu menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi

Kuda Perang yang Berlari Kencang

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
QS. al-‘Adiyat (100) : 1-8

    Kutipan terjemahan surat Al-‘Adiyat di atas selalu mengingatkanku pada peristiwa bersejarah yang akan selalu terkenang. Sebuah peristiwa yang kualami sendiri, antara hidup dan mati. Sungguh ketika itu hanya pasrah dan berserah diri pada Allah swt. yang dapat kulakukan. Peristiwa yang menjadikan hidupku lebih berarti dan semakin menambah kesyukuranku pada-Nya. Peristiwa yang rasanya ingin terulang lagi hingga menambah kecintaanku pada Sang Pencipta juga pada orang-orang yang kucintai dan mencintaiku karena-Nya.
 Kutipan terjemahan surat Al-‘Adiyat di atas selalu mengingatkanku pada peristiwa bersejarah yang akan selalu terkenang. Sebuah peristiwa yang kualami sendiri, antara hidup dan mati.

* * *




    Tepat 15 Agustus 2014, seorang bayi laki-laki terlahir setelah sekian lama dinantikan kehadirannya. Perasaan bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku juga suamiku tercinta. Meskipun jauh-jauh hari sebelum putra pertama kami lahir, banyak kekhawatiran yang membebani hati dan pikiran kami. Bahkan vonis dokter sempat menjadikanku drop.
    “Kalau tidak mau caessar, paling di-vacum saja agar tidak perlu mengejan terlalu kuat,” kata dokter ketika melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit. Jelas saja aku kaget dan tak percaya kalau aku tidak bisa melahirkan normal layaknya ibu lain yang dapat lahiran normal dan lancar. Dari sana, kekhawatiranku semakin bertambah, apalagi setelah mendengar kabar bahwa adikku juga melahirkan dengan cara operasi caessar. Alasannya karena mata minus yang sudah tinggi dan berat bayi yang terlampau besar.

    “Yang, mataku juga minus tinggi, aku takut kalau nanti aku juga tidak bisa melahirkan secara normal,” ucapku dengan nada lemah. Terlebih aku juga pernah membaca artikel di internet tentang hubungan mata minus dan proses melahirkan yang membuatku semakin bertambah khawatir.

    “Sabar sayang, kita tidak pernah tahu akan takdir Allah yang belum terjadi, tapi yang perlu kita yakini bahwa rencana-Nya selalu indah... bahkan lebih indah dari yang kita bayangkan,” nasihat suamiku menenangkan.

    ‘Rabb... terima kasih Engkau telah mengirimkan seseorang yang begitu baik dan menyayangiku, serta mampu membuatku tenang di kala kegelisahan melanda hatiku...’ syukurku dalam hati. Ketika itu, aku mulai mencoba menenangkan hati dan pikiran serta menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengatur. Benar kata suamiku, seindah-indah rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.

    Aku sering berkomunikasi dengan putraku yang masih di dalam kandungan, sebab pernah ku dengar sebauah nasihat bahwa bayi bisa mendengarkan suara-suara yang ada di luar rahim. Karena itu, saat-saat yang paling menyenangkan adalah ketika aku berkomunikasi dengan putraku, membacakan Al-Qur’an, juga kuajak dia berdo’a bersama. “Assalamu’alaikum sayang, sedang apa sekarang di sana, Nak? Kita berdo’a sama-sama yuk, semoga Allah memberikan kesehatan untukmu dan bunda. Jadikan anak bunda ini anak yang sholeh, baik, pintar, dan bisa memberi bahagia untuk semua orang... Aamiin,” ucapku sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar.

    “Nak, nanti bantu bunda ya, agar dapat lahiran dengan lancar dan normal... Bunda tahu kau anak yang pintar. Kita berjuang sama-sama ya sayang...” Kuyakinkan diri dan putraku untuk percaya atas segala kuasa-Nya. Di samping itu, aku sering membaca buku tentang kehamilan dan proses melahirkan. Dari sana banyak ilmu yang kuperoleh. Keluarga, sanak saudara juga sahabat-sahabatku sering memberi masukan dan motivasi. Bahkan rekan kerjaku pun tak ketinggalan. Mereka yang telah memiliki pengalaman sebelumnya banyak memberi nasihat untukku.

    “Dulu menjelang lahiran, aku sering membaca Surat Al-‘Adiyat yang artinya kuda perang yang berlari kencang dan alhamdulillah proses lahiranku sangat cepat dan lancar. Seperti kuda yang berlari kencang, anakku lahir dengan begitu mudah,” kata rekan kerjaku. Aku pun mencoba mengamalkannya,
kutanamkan niat dan tekad dalam hati bahwa aku juga bisa melahirkan normal.

    Ketika di Rumah Sakit, sambil menunggu panggilan untuk pemeriksaan, aku ceritakan kisah rekan kerjaku tadi pada suamiku. Dia sangat senang melihatku optimis dan semangat kembali. Akhirnya kami membaca surat tersebut bersama berulang-ulang sampai bidan memanggil namaku. Setelah mendengar vonis dari dokter kandungan sebelumnnya, kami memang memutuskan untuk pindah pemeriksaan pada dokter kandungan lain. Katanya dokter ini adalah dokter langganan almarhumah ibuku dulu.

    “Dok, apa benar mata minus dapat mempengaruhi proses persalinan sehingga tidak dapat melahirkan normal?” tanyaku pada dokter tersebut. Sang dokter bukannya langsung menjawab, malah tertawa seolah-olah menyangkal apa yang aku tanyakan.

    “Kata siapa itu? Mata minus sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses melahirkan, kecuali orang yang memang memiliki penyakit kronis sebelumnya,” jawab dokter itu dengan sisa tawanya. Perkataan dokter itu pun di’iya’kan oleh bidan yang ikut memeriksaku. Setelah selesai, akhirnya aku merasakan sebuah beban dan ketakutan yang selama ini membayang-bayangiku kini hilang seketika. Kucapkan terima kasih kepada dokter itu dan pada suamiku yang telah memberiku motivasi.

    Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, aku pun menikmati setiap detik yang kulalui dengan penuh pengharapan dan kesyukuran pada-Nya. Usia kandunganku sudah semakin dekat dengan hari perkiraan lahiran. Berbagai persiapan telah aku lakukan menyambut hari bahagia itu, mulai dari persiapan fisik hingga persiapan batin. Sungguh, tiada yang lebih menenangkan hati selain berharap hanya pada-Nya, memasrahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa.

    Pagi itu, seperti biasa aku bangun dan mempersiapkan sarapan serta kebutuhan suami dan adik-adikku yang akan berangkat ke sekolah. Namun ada yang berbeda ketika itu, tidak biasanya perutku terasa begitu sakit, rasanya tak tertahankan. Aku merasakan tanda-tanda akan melahirkan, namun karena aku belum berpengalaman, kucoba menelpon saudaraku dan menanyakan tentang kondisiku. Saudaraku mengatakan bahwa memang itu adalah tanda akan melahirkan, dia menyarankan untuk segera berangkat ke rumah sakit. Melihatku begitu kesakitan, suamiku langsung menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit.

    Dengan begitu sigap, suamiku mengantarkanku ke rumah sakit walaupun kulihat di wajahnya ada raut kekhawatiran. Saat itu, meski kesakitan, aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Perhatian dan pengorbanan suamiku begitu membuatku terharu dan bahagia. ‘Ya Rahmaan...berikanlah kebahagiaan untuk suami hamba...’

    Kunikmati setiap detik yang berlalu, rasa sakit yang semakin lama semakin hebat sempat membuatku tak berdaya, namun suami di sampingku terus memberikan motivasi dan do’anya. Bahkan dia menuntunku untuk membaca surat Al-‘adiyat bersama-sama. Kugenggam erat tangannya, tangan yang selama ini menguatkanku, tangan yang telah berjuang begitu keras untuk menafkahiku, yang selalu menuntun dan membimbingku untuk berjalan bersama menuju ridho-Nya. Kupandangi wajahnya, kutatap matanya, dan kukatakan padanya, “Aku mencintaimu karena Allah, suamiku...”

    Tak lama sejak aku dipindahkan ke ruang persalinan, bidan-bidan telah bersiap membantu persalinanku. Sakit luar biasa yang aku rasakan, membuatku semakin pasrah dan berserah diri pada-Nya. ‘Rabb, apapun yang terjadi, kuserahkan semuanya pada-Mu, hanya Engkaulah Sang Maha Pengasih...’.

Ternyata benar, melahirkan itu rasanya antara hidup dan mati. Tiba-tiba aku teringat dengan ibuku yang telah tiada, betapa perjuangannya sungguh takkan tergantikan oleh apapun. ‘Maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu, Bu...’

Tak ada yang mampu kuucapkan ketika itu selain dzikir pada-Nya, menyebut asma-Nya. Bidan membimbingku untuk mengejan dengan baik dan membantu proses persalinanku. Ternyata tak butuh waktu yang lama, aku mendengar suara tangis seorang bayi yang telah terlahir. Tepat pukul 09.54 WIB, putra pertamaku lahir. Bulir air mata menetes tak tertahan di pipiku. Haru dan bahagia yang kurasakan saat itu. ‘Terima kasih Ya Allah... Kau telah sempurnakan aku sebagai seorang perempuan, menjadi seorang ibu dari amanah yang Kau titipkan...’

Suamiku pun tak kalah bahagianya, ia tersungkur penuh rasa syukur mengagungkan asma-Nya. Setelah itu ia mendekatiku dan kulihat wajahnya begitu berseri, memandangku dengan pandangan penuh cinta. “Terima kasih sayang...” ucapnya sambil membelai kepalaku. Kebahagiaan kami kini telah lengkap dengan hadirnya buah hati tercinta.

Bidan segera datang membawa putraku, kugendong ia untuk pertama kalinya. “Bu, alhamdulillah, ibu dapat melahirkan normal, bahkan sangat lancar, selamat ya bu...” ucap bidan yang pernah memeriksaku sebelumnya. Senyum pun kukembangkan padanya.

“Ya Allah... terima kasih untuk semua kemudahan dalam persalinanku dan untuk segala nikmat yang telah Engkau berikan...”

* * *

    Itulah sepenggal kisah tentang peristiwa yang akan selalu terkenang dan selalu kusyukuri. Terima kasih kepada semua keluarga, sahabat, dan rekan-rekan yang telah memberiku motivasi. Terutama kepada suamiku yang selalu setia bersama dalam susah maupun senang, juga untuk anakku tersayang ‘Ziyad’ permata hatiku semoga menjadi anak yang sholeh dan dapat menjadi kebanggaan untuk keluarga, agama, dan negara.

I love u all, because Allah... ^_^ 

Karena Cinta Aku Memilihmu

Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa
Aku hanya ingin menyempurnakan agamaku sebagai istri shalihah
Tak apa hidup sederhana, asalkan bahagia bersamamu


Sedih rasanya ketika mengingat dulu
Saat engkau telah pulang bekerja, sementara aku masih sibuk di tempat kerjaku
Kau setia menantiku di rumah, bahkan seringkali kau datang menjemputku walau kutahu kau masih lelah
Meski alasanku bekerja adalah utnuk membantumu mendapat penghasilan tambahan
Namun sebenarnya egolah yang menguasai
Aku malu padamu
Malu pada Allah dan Rasul-Nya


Kini kuputuskan untuk meninggalkan segalanya karena cinta
Tak kupedulikan cibiran orang lain
“Percuma sarjana kalau hanya jadi ibu rumah tangga,” kata mereka
Bukankah semua yang dilakukan seorang istri di rumah adalah ibadah
dan seorang ibu pun harus cerdas untuk mendidik ana-anaknya
Maka, aku bahagia menjalani peranku saat ini
Aku merasa lebih produktif bekerja di rumah dibanding di luar sana
Banyak hal yang dapat kulakukan
Mengurus rumah tangga, berwirausaha, bahkan melakukan kegemaran menulisku
Waktuku bersamamu menjadi lebih banyak
Selain itu, senang rasanya ketika dapat melihat perkembangan putra kita setiap hari
Hal yang mungkin takkan kudapatkan jika aku masih bekerja


Kebahagiaan terindah memang bukan diperoleh dari banyaknya waktu yang kita miliki
Namun waktu yang berkualitas
Karena itu, aku mencoba memanfaatkan setiap waktu agar dapat menjadi amal yang bermanfaat untuk semua orang


Sejak kau mengungkapkan cinta usai ijab qobul
Kutahu, sejak saat itulah seluruh tanggung jawab berpindah padamu
Kau adalah imamku, ayah bagi anak-anakku
Kuserahkan seluruh cinta padamu
Aku ingin merajut impian dan merangkai masa depan bersamamu


Aku bersyukur menjadi istrimu
Kau begitu baik, perhatian, pengertian, dan penyayang
Kau sangat sabar menghadapi diriku yang terkadang masih kekanakan
Bimbing aku selalu, suamiku
Agar aku dapat menjadi shalihah untukmu
Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, mendidik mereka agar menjadi generasi yang terbaik
Sungguh, aku memilihmu dan mencintaimu karena-Nya

Dalam naungan cinta-Nya,
29 April 2014/ 02:43

Bukan Sekedar Cinta

Gadis kecil itu masih terduduk di samping dua gundukan tanah merah yang membisu. Bertemankan hujan yang semakin membasahi hatinya yang sendu, ia masih saja menatap nisan yang bertuliskan nama orang-orang yang begitu dicintainya. Bunga kamboja yang sedikit menghiasi gundukan tanah merah itu pun semakin layu.

Derasnya hujan, petir yang memekakan telinga dan angin yang menusuk tulang tak dipedulikannya. Kini yang ada dalam pikirannya adalah orang-orang yang selama sembilan tahun menjaganya. Di dalam hatinya masih tersimpan kasih sayang orang-orang yang dicintainya, yang kini telah tiada.

“Ayah, Ibu… Dinda rindu… Sungguh…” dalam tangisnya, ia ungkapkan seluruh gejolak batinnya. Langit pun seolah mengerti isi hatinya dan turut menangis untuknya.

Sebenarnya perasaan itu sudah lama ia pendam. Perasaan rindu yang mendalam, yang selalu mengusik hari-harinya. Ia tak tahu bagaimana harus mengobatinya, karena luka itu semakin menganga. Bukan pada dua gundukan tanah itu ia mengadu, bukan pula pada jasad yang bersembunyi di baliknya. Namun pada Sang Pemilik ruh, ia tumpahkan segalanya.

“Rabb, Engkaulah yang menciptakan mereka, Engkau pula yang berhak mengambil mereka. Karena itu, kumohon pada-Mu, sampaikan rindu ini pada mereka… sampaikan sayang ini pada ayah ibuku… sampaikan Ya Rahmaan…”

Ia tak tahu lagi pada siapa ia limpahkan semua perasaannya, selain pada Allah yang begitu dekat dengan hamba-Nya.

Entah sudah berapa lama ia berada di sana, awan gelap mulai menyelimuti bumi. Setelah semua yang mengganjal di batinnya ia ungkapkan, ia pun beranjak dari tempat itu. Ditatapnya kembali dua gundukan tanah merah yang takkan pernah bisa menjawab rindunya. Sebuah doa ia lantunkan untuk mereka yang jasanya tiada berbalas.

Saat malam mulai erat memeluk tubuhnya, ia sudah kembali berada di panti asuhan tempat tinggalnya kini. Setetes air mata kembali jatuh membasahi jilbabnya yang telah basah, tatkala ia mengingat bahwa menurutnya terlalu pagi ayah dan ibunya pergi. Apalah daya, yang pergi takkan pernah kembali lagi, kecuali jika ia temui di tempat terbaik, di surga-Nya.

Matanya yang basah belum dapat terpejam, deras air kerinduan di hatinya belum juga mereda. Dirinya sudah berada di rumah, namun pikirannya jauh meninggalkan waktu, kembali pada masa ia masih berada di pangkuan ayah ibunya, ketika purnama masih bercahaya menerangi bumi cinta.

* * *

Matahari di atas ubun-ubun selalu setia menemani langkah gadis kecil itu. Seragam putih merah yang mulai pudar dan tas gendong yang tak jelas lagi bentuknya masih ia kenakan.

“Yah… jatuh lagi pensilnya…” ucapnya sambil jongkok mengambil pensil yang nakal keluar dari lubang di tasnya. Sudah hampir enam kali ia berhenti untuk sekedar mengambil barang-barangnya yang jatuh. Karena ia sudah mulai lelah, ditambah perjalanan pulang yang masih jauh, akhirnya ia memutuskan untuk memangku tasnya dan menutup lubang itu dengan tangannya.

Setibanya di rumah, meski dengan peluh yang mengucur di dahinya, lekas ia berlari ke dalam rumah sederhana tempat tinggalnya bersama kedua orangtua yang begitu mencintainya. Sejenak ia menjinjit kakinya yang pegal karena sepatu yang sudah tak muat lagi untuk kakinya.

“Ibu…tasku bocor, peralatan sekolahku jadi loncat semua…” ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan lubang di tasnya. Ibunya yang sedang menyiapkan makan siang berbalik menatap gadis kecil itu dan menyejajarkan duduk dengannya.

“Oh iya Nak, tapi tasnya masih bisa dipakai kan?” tanya ibu dengan nada lembut. Mendengar pertanyaan ibunya, ia cemberut karena tahu kalau ia tak bisa mendapat tas baru.

“Sini Nak, ibu coba perbaiki tasmu ya, biar bisa kembali seperti baru dibeli,” ucap ibu yang mengerti dengan perasaan anak gadisnya itu. “Wah, memangnya bisa jadi baru lagi ya bu? Seperti baru beli lagi? Mau dong bu…” ia pun segera memberikan tasnya yang rusak pada ibunya.

Akhirnya, siang itu ia habiskan bersama ibu, memperhatikan tangan ibunya yang cekatan menjahit tasnya. Ada harapan di mata anak itu, ada bahagia di hatinya, ia sangat bersyukur memiliki ibu yang begitu perhatian dan sayang padanya.

“Bu, Dinda sayang ibu…” ucapnya ketika tasnya usai diperbaiki. Ibu pun membalas dengan kecupan hangat di pipi gadis kecil itu. “Ibu juga sayang Dinda.”

Malam semakin larut, tapi Dinda kecil masih terjaga. Ia bersama ibunya menunggu ayah pulang sambil menikmati teh hangat di depan rumah. Ketika bulan mulai menunjukkan kesempurnaan bentuknya, seseorang yang dinanti pun tiba. Dengan berlari, Dinda menghampiri ayahnya dan memeluknya.

“Aduh…anak ayah yang cantik ini kok belum tidur sih…” ucap ayah sambil menggendong Dinda. “Kan nunggu ayah pulang, nunggu oleh-oleh juga…” kata Dinda sambil memperlihatkan senyum manisnya, berharap ayah memberikan oleh-oleh untuknya.

“Dinda sayang, ayah kan baru pulang, masih capek. Sini Dinda sama ibu dulu,” ibu berusaha menggendong Dinda, karena melihat suaminya yang kelelahan. “Tidak apa-apa kok bu, ini ayah punya oleh-oleh untuk Dinda,” ucap ayah membuat Dinda tersenyum girang.

Dinda selalu menunggu ayahnya pulang dan berharap membawa oleh-oleh untuknya. Seperti malam ini, ia begitu bahagia dan lagi-lagi ia mengungkapkan cintanya.

“Dinda sayang ayah…sayang ibu juga…” ucapnya.

Tapi, kebahagiaannya tak bertahan lama. Malam itu, sebuah tragedi memaksanya harus berpisah dengan ayah dan ibunya, selama-lamanya.

Ketika keluarga kecil itu sedang tertidur lelap, api menjalar dari arah samping rumah mereka. Melahap apa saja yang menghalanginya, masuk ke sela-sela dinding rumah, dan membakar semua benda seketika. Saat api sudah membesar, panasnya mulai membakar kulit, Dinda tersadar dari tidurnya. Ia menatap ke jendela kamar, kobaran api perlahan memecahkan kaca-kaca jendela. Suaranya membuat dia takut. Dinda terjebak di dalam kamar, badannya gemetar, ia hanya bisa menangis dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara itu api mulai masuk tanpa permisi.

Malam yang mengerikan itu, rupanya dirasakan pula oleh orang-orang di sekitar rumah mereka. Api yang tak berhati itu membakar rumah yang berderet di kompleks itu. Semua orang panik, berusaha menyelamatkan keluarganya. Tak dipikirkan barang-barang berharga yang dimakan oleh api, karena keluarga mereka lebih berharga dari apapun.

Ketika api mulai mereda atas pemadam kebakaran yang memang tak datang tepat waktu, sayup-sayup suara isak tangis terdengar di dalam rumah yang hanya tinggal puing-puing. Beberapa warga berusaha masuk dan menyelamatkan seorang anak kecil yang menangis di sudut ruangan terlindung oleh meja kayu yang kuat. Namun, para warga terlambat menyelamatkan orang tuanya yang sudah penuh dengan luka bakar.

Tragedi yang terjadi di kompleks perumahan itu, rupanya berasal dari salah satu rumah warga karena tabung gas yang meledak. Karena angin malam yang sangat besar, menyebabkan api cepat menjalar menghabiskan beberapa rumah di sekitarnya. Sudah menjadi takdir, ternyata rumah gadis itu tepat di samping rumah warga yang menjadi sumber datangnya api.

* * *

Lima tahun telah berlalu, namun ingatan tentang kejadian di malam yang mencekam itu tak pernah hilang. Dinda berusaha untuk hidup meski dengan keadaan payah. Ia berniat dalam hatinya bahwa selama ia masih bernafas, ia akan memberikan yang terbaik untuk Sang Pencipta dan orang-orang yang dicintainya.

Hidup di panti asuhan memang tak mudah. Terlebih ketika panti tempatnya tinggal tak memiliki donatur tetap, sehingga anak-anak di sana harus bekerja mencari uang. Begitu pula dengan Dinda, setiap harinya ia bekerja sebagai penjual koran di jalanan dari pagi hingga petang. Meski berat, namun ia tak pernah mengeluh, karena ibu panti yang tinggal bersama anak-anak yatim piatu di sana selalu memberikan motivasi.

“Hidup itu hanya sementara, tak apa sengsara di dunia yang penting bahagia di akhirat. Tugas kita adalah beramal sebanyak-banyaknya. Meski tak ada uang, amal bisa dilakukan dengan apapun. Niatkan semuanya untuk ibadah, Insya Allah akan ada keberkahan pada setiap apapun yang kita kerjakan,” ucap ibu panti yang sudah paruh baya usai solat berjamaah bersama anak-anak panti. Dinda tahu betul karakter ibu panti yang tak ingin mengemis pada orang-orang untuk membiayai panti asuhan. Ia telah mengajarkan untuk berjuang mencari rizki yang halal dengan keringat sendiri.

Meski begitu, melihat kondisi anak-anak panti di sana, Dinda tidak tinggal diam. Ia memiliki mimpi agar anak-anak itu dapat meraih cita-cita mereka. Ia yakin, masa depan mereka sangat cerah. Mereka memliki hak untuk memperoleh pendidikan dan hidup layak. Mimpinya itu bukan sekedar mimpi saja, namun ia berusaha untuk mewujudkannya.

Dinda memang anak yang cerdas, sejak duduk di bangku sekolah dasar dulu, ia selalu mendapat ranking pertama. Walaupun kini ia tak melanjutkan sekolah, namun wawasan Dinda sangat luas. Jelas saja, setiap hari ia melahap berita dan informasi dari koran-koran yang dijualnya. Mulai berita dalam negeri sampai mancanegara. Topik yang paling dia minati adalah seputar dunia pendidikan. Sampai suatu saat ia berinisiatif untuk menulis surat kepada Menteri Pendidikan, mengetuk pintu hatinya agar dapat membantu anak-anak di Panti Asuhan.

Awalnya ia hanya mengirimkan surat satu kali dalam sebulan. Namun, karena tak kunjung ada balasan, akhirnya ia mengirim surat setiap minggu bahkan setiap hari. Ia berharap menteri pendidikan dapat membaca surat-suratnya dan mengubah wajah dunia pendidikan di negerinya.

Suatu hari, saat pulang bekerja pada senja yang indah, ia melihat ada sebuah mobil bagus berhenti di halaman panti. Ibu panti menyambut kedatangan beberapa orang berpakaian sangat rapi dengan ramah.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” ucap ibu panti setelah menjawab salam dari mereka.

“Kami mencari anak yang bernama Adinda Purnama. Apakah betul dia salah satu anak asuh di panti ini?” Ucap salah seorang di antara mereka yang membawa sebuah map.

“Iya betul, Dinda tinggal di sini. Ada apa ya?” ucap ibu panti agak khawatir.

“Kami mencarinya, bisa tolong panggilkan dia kemari?” pinta orang itu lagi. Tak lama Dinda datang ditemani ibu panti.

“Nak, apa benar kamu yang mengirim surat kepada Bapak Menteri Pendidikan setiap hari?” tanyanya lagi. Dinda menjawab dengan anggukan.

“Kami dari Dinas Pendidikan Kota mendapat amanat dari Bapak Menteri untuk menyerahkan surat balasan ini untukmu,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah amplop putih berisi tulisan tangan dari Menteri Pendidikan.

“Alhamdulillah... Ternyata Bapak Menteri membaca surat-suratku, Terima kasih Pak telah mengantarkan ini untukku,” ucap Dinda dengan senyum yang mengembang.

“Iya Nak, kami juga membawa bantuan berupa seragam sekolah, buku-buku, serta beasiswa pendidikan untuk anak-anak di sini. Sekarang kalian dapat bersekolah dan meraih cita-cita setinggi langit,” ucap bapak itu ramah.

Ibu panti yang berada di samping Dinda menangis terharu dan bangga pada anak asuhnya itu. Begitu pula dengan Dinda, akhirnya mimpinya akan segera terwujud. Ia yakin bahwa dengan kesungguhan, usaha yang kuat, serta doa yang tulus semua dapat diraih. Di dalam hatinya ia berdoa, semoga apapun amal kebaikan yang ia kerjakan, pahalanya dapat mengalir untuk kedua orang tuanya hingga ia dapat berkumpul kembali di surga bersama mereka yang ia cintai karena Allah.

Pagiku

Ada yang menyapa pagiku
Diam-diam menyelinap lewat jendela kamar
Tak seperti biasa
Pagiku merekah menyisakan sejumput senyuman
Di penghujung pekat kutemukan namamu
Yang sedari tadi menemani pagiku
Mengajakku berlari
Menerobos waktu menjelma sang surya
Pagiku takkan hilang
Ia selalu ada mengusir sepi
Merajut mimpi dalam masa yang berganti
Kuawali pagiku dengan sejuta harap
Untuk hidup yang lebih berarti


(230415/ 22:53)

Dilema Seorang Gadis Cantik

Dilema Seorang Gadis Cantik

Suara isak tangis terdengar di sudut masjid kampus. Seorang gadis tengah mengadukan isi hatinya kepada Sang Pemilik hati. Tak dipedulikannya senja yang mulai pudar. Kini ia hanya ingin mengungkapkan segala gundah pada-Nya. Betapa berat beban yang ia rasakan hingga air matanya mengalir begitu deras. Seisi masjid pun menjadi saksi betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. Di tengah syahdunya doa gadis itu, ia tak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya di balik tirai hijab antara tempat shalat laki-laki dan perempuan.

Senja itu ia habiskan bersujud di dalam masjid. Namun ketika ia menyadari bahwa waktu menunjukkan maghrib akan segera tiba, lekas ia menghapus air mata yang tak tebendung. Ia bangkit dari sujudnya dan segera mengambil air wudhu. Jamaah masjid kampus mulai berdatangan, kebanyakan yang shalat di sini adalah mahasiswa yang telah kuliah sore. Sementara gadis itu hanya ingin ber’itikaf di sana karena memang kosannya sangat dekat dengan masjid.

Usai shalat, ia lanjutkan berdo’a pada-Nya Sang Maha Mengetahui segala isi hati.

“Duhai Allah, Yang Maha Pengasih, ampunilah segala dosa hamba, sungguh aku begitu kecil di hadapan-Mu, Kuasa-Mu begitu agung Ya Rabb. Engkaulah yang begitu dekat dengan hamba, Engkau adalah kunci dari segala permasalahan hamba... Karena itu, kumohon jalan keluar yang terbaik untukku. Lepaskanlah segala beban yang selama ini ada di pundakku, sucikanlah hati dan pikiranku. Kumohon dengan sangat Ya Allah... Kabulkanlah... Aamiin Ya Robbal’alamiin.”

* * *

Sarah nama gadis itu. Ia sangat cerdas, aktif, lembut, dan cantik. Orang yang melihatnya menganggap bahwa ia memiliki segalanya. Orang tua yang sangat menyayanginya, kebutuhan yang serba tercukupi, bahkan wajah yang sangat cantik pun karunia yang ia miliki.

Sarah adalah salah satu wanita yang sangat terkenal di kampusnya. Bukan hanya karena kecantikan wajahnya yang mampu memikat hati siapapun yang melihat, tapi juga kecantikan yang ada dalam hatinya membuat ia terlihat begitu sempurna.

Namun, di balik semua itu Sarah selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia selalu merasa bersalah, dan perasaannya itulah yang selalu mengganggunya setiap waktu.

“Vi, apa ada yang salah dalam diriku?” Tanya Sarah pada sahabat terdekatnya.

“Apa maksudmu? Selama kau bersabat denganku, aku merasa kau tak pernah salah, Sarah,” jawab Via yang sudah bersahabat dengannya tiga tahun sejak awal masuk kuliah.

“Jawab dengan jujur Vi... Aku merasa selalu dikelilingi dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh diriku sendiri,” ungkap Sarah sambil menunduk.

“Aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan. Seharusnya kau bersyukur atas kelebihan yang Allah berikan untukmu. Kau itu cantik, baik, banyak orang yang suka denganmu dan banyak yang mengagumimu,” nasihat Via lembut.

“Justru di sanalah permasalahannya, Via. Aku sering bermuhasabah, mengevaluasi diriku sendiri. Apa ada yang salah dalam diriku? Mengapa begitu mudah orang lain menyukaiku? Mengapa banyak yang kagum padaku? Padahal aku bukan siapa-siapa...” Ucap Sarah sambil tersedu. Sementara, Via yang duduk di sampingnya tak mampu berkata apa-apa. Ia merasakan betapa berat beban yang ditanggung oleh sahabatnya itu.

Ungkapan Sarah memang bukan tanpa alasan. Sudah banyak laki-laki yang menyatakan cinta padanya, mengaku kagum dengan kebaikannya, dan berharap Sarah menjadi kekasih mereka. Namun tak pernah Ia menghiraukannya. Ia berusaha memegang prinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah, karena Ia ingin menjaga kesucian diri dan hatinya.

Pernah suatu saat ada yang bertanya padanya, “Apakah kau tak ingin jatuh cinta?”

Maka ia pun menjawab, “Aku bukan tak ingin jatuh cinta, tapi cinta adalah kesucian. Cinta berbicara tentang hati, ketulusan, dan kejujuran.”

Begitulah, ia merasa cintanya harus dijaga jangan sampai ternoda. Bukan diobral seperti banyak lelaki yang mengungkapkan cinta padanya. “Itu bukan cinta!” tegasnya.

Hal itulah yang sering membuatnya menangis usai tahajud.
“Rabb... Kumohon berikanlah jalan keluar yang terbaik untuk hamba-Mu yang lemah ini...” pintanya dalam setiap doa.

Sampai suatu hari, Allah seolah menjawab doanya.

Malam itu, ia memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya. Ia ingin mengungkapkan segala kegundahan hatinya pada mereka. Ia rindu suasana rumah yang selalu memberinya ketenangan. Namun, belum juga ia sampai, sebuah kecelakaan memaksanya untuk berhenti sejenak pada harapannya.

Langit begitu pekat tanpa bulan dan bintang yang menghiasi. Rintik hujan perlahan mulai membasahi bumi. Jalanan terlhat begitu sepi. Sementara laju bus yang ditumpangi Sarah memecah kesunyian. Namun, sunyi di malam itu terlihat seperti fatamorgana. Bus itu terus melaju dengan kecepatan yang tinggi. Di tengah perjalanan yang panjang itu, tiba-tiba bus yang ditumpangi Sarah menabrak sebuah mobil truk yang melaju sama kencangnya dari arah yang berbeda. Tepat di tikungan tajam, kedua mobil besar itu saling menunjukkan keangkuhannya.

Saking kerasnya tabrakan yang terjadi, bagian depan bus sudah tak berbentuk, sopir tergencit dan tak mampu mengendalikan bus lagi. Akhirnya bus itu pun oleng dan ternyata tikungan tajam tempat terjadinya kecelakaan itu tepat berada di samping jurang yang curam. Lantas saja bus itu jatuh ke jurang. Sementara seluruh penumpang yang berada di dalam bus panik dan tak tertolong.

* * *

Di tengah puing sisa tabrakan semalam, ternyata masih ada seseorang yang berjuang melanjutkan hidupnya. Di antara belasan mayat yang tergeletak, ia mencoba membuka mata dan mengatur nafasnya. Terlihat sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah segar yang masih bercucuran. Namun, tak lama matanya kembali terpejam.

Saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun, tim penyelamat baru saja tiba untuk mengevakuasi para korban kecelakaan. Badan bus dan truk sudah hanya tinggal puing-puing. Seluruh korban segera dibawa dan dievakuasi. Namun, tim evakuasi menemukan ada seseorang yang masih hidup.

“Ada yang masih hidup di sini, detak jantungnya masih ada!” ucap salah seorang tim evakuasi ketika melihat seorang gadis yang kakinya tertindih bagian badan bus. Lekas saja ia segera diselamatkan dan dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit. Ternyata, di antara belasan korban, hanya gadis itu yang selamat.

Setibanya di rumah sakit, dokter segera menanganinya dan berusaha menolongnya.

“Kondisinya sudah sangat kritis, kalau sedikit saja terlambat dibawa ke rumah sakit, mungkin ia sudah tak tertolong,” ucap dokter itu setelah memberikan pertolongan pertama pada pasien korban kecelakaan itu.

“Terima kasih, Dok. Namun kami kesulitan mencari identitasnya untuk menghubungi keluarganya,” ucap salah seorang tim yang telah menemukan gadis itu.

“Iya, tidak apa-apa, kita tunggu saja sampai ia sadar, karena sekarang kondisinya masih sangat kritis,” ucap dokter.

Tak lama, beberapa keluarga korban mulai berdatangan ke rumah sakit, di antara orang-orang itu, terlihat sepasang suami istri yang mencari-cari anak gadisnya.

“Pak, di mana anak saya?” tanya sang ibu dengan nada khawatir pada petugas rumah sakit.

“Tenang bu, kami minta data anak ibu untuk dicocokkan dengan data yang kami miliki,” ucap salah seorang perawat. Segera ibu itu memberikan biodata lengkap anaknya. Kemudian perawat itu pergi untuk mengambil data yang sudah berhasil ditemukan. Tak lama, ia kembali membawa sebuah map yang berisi data para korban.

“Maaf bu, data anak ibu tidak ada di sini,” ucapnya.

“Tidak mungkin! Kemarin anak saya janji akan pulang, namun ia tak kunjung datang. Sampai akhirnya kami mendengar ada berita kecelakaan di jalan yang menuju rumah kami. Saya yakin anak saya ada di sini,” ucap sang ibu memastikan.

Perawat itu bingung karena memang data yang diberikan oleh ibu itu tidak ada dalam data yang berhasil dikumpulkan. Namun tiba-tiba, seorang dokter menemui mereka dan mengatakan bahwa masih ada seorang gadis yang belum diketahui identitasnya. Akhirnya kedua orangtua itu pun diajak ke ruangan tempat gadis yang sedang dirawat.

“Apakah ia anak ibu?” tanya dokter itu. Sejenak mereka memerhatikan gadis yang terbujur kaku di hadapan mereka. Hampir saja mereka tak mengenalinya karena sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka, bahkan wajahnya sudah tak jelas lagi.

“Dia Sarah, anak kami!” Tiba-tiba ibu itu berkata yakin.

“Dari mana ibu tahu kalau itu anak ibu?” tanya dokter kembali.

“Saya ibunya, dan saya kenal betul dengan anak gadis saya,” jawab ibu itu sambil tangannya mengelus kepala gadis yang tak berdaya itu. Sungguh, sentuhan lembut dan tulus seorang ibu memang sebuah karunia. Tiba-tiba saja mata gadis itu terbuka perlahan-lahan. Ditatapnya wajah ibu di hadapannya, lalu segaris senyum mulai mengembang di bibirnya.

“I..bu...” ucap gadis itu terbata. Digenggamnya tangan ibunya yang sedari tadi tak lepas memegangnya.

“Iya sayang, ibu di sini, kau sudah kembali,” ucap ibunya. Setetes air mata terjatuh di pipinya, ia menangis bahagia. Setelah pulih, Sarah segera dibawa pulang oleh kedua orangtuanya.

Beberapa bulan berlalu setelah kecelakaan di malam yang mencekam itu. Kini kondisi Sarah sudah mulai membaik, namun ada yang terlihat berbeda dari dirinya. Sarah yang sekarang bukan Sarah yang dulu lagi. Kecelakaan itu telah mengambil semua kecantikan yang ia miliki. Wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka, serta kakinya patah karena tertindih oleh bagian badan bus. Tak terlihat lagi kecantikan yang dulu dikagumi banyak orang. Namun, meskipun fisiknya tak sempurna, Sarah masih memiliki hati yang cantik melebihi fisiknya.

“Alhamdulillah Sarah bersyukur, Allah masih memberikan Sarah kehidupan. Dia menyelamatkan Sarah dan mengizinkan Sarah untuk bertemu dengan ibu dan ayah,” ucap Sarah pada kedua orangtuanya.

Meskipun dalam kondisi yang belum pulih total, dia memutuskan untuk kembali kuliah, melanjutkan skripsinya yang sempat tertunda karena musibah yang menimpanya. Namun, ada hal berbeda yang dia rasakan. Tak ada lagi orang-orang yang dulu mengejar-ngejarnya. Hidupnya terasa lebih tentram dan damai.

“Apapun yang terjadi, kau tetaplah sahabatku. Mereka hanya melihat dari fisik saja, sementara tak mampu melihat hatimu yang begitu suci,” ucap Via saat mereka usai shalat di mesjid kampus.

“Terima kasih, sahabatku. Aku tahu, segala keindahan itu hanya milik Allah. Semoga Allah selalu menjaga hati kita agar tetap indah dengan karunia-Nya,” ucap Sarah sambil memeluk sahabatnya.

Akhirnya, karena kegigihan, ikhtiar, dan doa yang kuat, Sarah berhasil lulus dengan menyandang predikat Cumlaude. Meskipun dengan segala keterbatasan, namun ia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa. Ia yakin, bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Ujian di Dalam Ujian

Di ruang kelas yang begitu luas ini aku merasa sempit, tersudut, bahkan hampir tak bisa bernafas. Di sekelilingku tiga puluh empat pasang mata tengah mengawasi gerikku dan menanti kata yang akan keluar dari mulutku. Suasana masih hening, namun aku merasakan gemuruh emosi yang begitu keras dari mereka. Aku masih saja tak bergeming. Kucoba untuk tetap tenang agar tidak terbawa emosi.

“Keputusanku tetap sama,” ucapku dengan nada halus. Namun, mereka menimpali ucapanku barusan dengan nada kasar dan sumpah serapah.

“Baiklah, kalau kamu masih ngotot, mulai saat ini kamu bukan bagian dari kami lagi!” tegas sang ketua kelas. Mendengarnya, ada setetes air mata yang mengalir di pipiku. Tetap saja, sekuat apapun diriku, tapi hati ini tak dapat dibohongi. Meskipun kini aku tak dianggap bagian dari anggota kelas lagi, namun bagiku mereka tetap keluargaku. Sejujurnya, aku sangat menyayangi mereka, teman-temanku yang telah berjuang bersama selama tiga tahun di sekolah ini.

Satu per satu mereka mulai melangkah pergi meninggalkan aku sendiri di ruangan ini. Matahari senja sudah menyeruak masuk melalui kaca jendela. Kakiku yang sejak tadi berdiri menahan beban mulai lemas. Aku pun akhirnya terjatuh dan tersungkur di lantai yang membisu.

“Rabb, mengapa harus ada akhir yang menyedihkan? Kutahu, betapa lemahnya aku, tak mampu mengajak teman-temanku untuk mempertahankan nilai kejujuran seperti yang dimiliki oleh Rasulullah. Aku malu ya Rabb...malu kepada-Mu, malu kepada Kekasih-Mu, bahkan malu kepada diriku sendiri yang tak mampu menjalankan amanah-Mu.”

Saat senja mulai berganti petang dan langit pun telah merona, aku pun beranjak menuju rumah. Tak kupedulikan peluh yang masih mengalir, saat ini yang ingin kulakukan adalah segera mengambil air wudhu, berdo’a, dan mengadukan semua pada-Nya. Hanya Dia tempatku berkeluh kesah dan mencurahkan segala isi hatiku. Malam ini kuhabiskan waktuku hanya berdua dengan-Nya, Allah Sang Maha Penyayang.

Sejenak, terkenang olehku beberapa waktu yang telah lalu, saat aku mulai menginjakkan kaki di sekolahku tercinta. Seragam putih abu yang kubanggakan juga mimpi yang kugantungkan setinggi mungkin menjadi motivasi untukku bersaing di sekolah bergengsi ini. Namun, semua ambisi perlahan mulai surut saat aku mengenal Rohis, sebuah ekstrakulikuler yang bergerak dalam bidang kerohanian Islam. Di sana aku belajar banyak tentang agamaku dan Penciptaku.

Aku mulai memahami pentingnya niat dalam mengawali segala hal yang akan dilakukan. Sekecil dan seringan apapun pekerjaan itu harus dilandasi niat karena Allah semata. Karena ketika Allah ridho dengan hal yang kita kerjakan, maka balasannya adalah surga. Sementara jika niat karena dunia, maka kita hanya mendapatkan yang kita tuju saja namun tidak sampai ke akhirat. Sebab itulah, aku mulai mencoba untuk meluruskan niat. Merevisi kembali mimpi-mimpiku, bukan sekedar dunia yang kutuju, namun ridho-Nyalah yang kudamba.

Sejak saat itulah idealismeku mulai tumbuh. Aku ingin Allah ridho atas semua amal yang kukerjakan, termasuk dalam hal ujian. Meski banyak cibiran yang kuterima, namun aku tak berpaling sedikit pun dari-Nya. Biarlah cibiran manusia di dunia, asal Allah tersenyum dan kuperoleh hadiah dari-Nya di surga nanti.

Awalnya teman-temanku mempermasalahkan atas sikap idealisku yang ingin jujur saat ujian berlangsung. Namun, lama-kelamaan mereka mulai memahami akan prinsipku tersebut. Dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas kujalani prinsipku itu walau banyak rintangan yang kuhadapi. Tetapi, ada yang berbeda ketika sekarang akan menghadapi Ujian Nasional. Teman-teman bahkan rasanya seisi sekolah tak mendukungku untuk berbuat jujur.

“Rabb, inikah ujian yang sesungguhnya dari-Mu untukku? Kutahu, ini bukan hanya tentang Ujian Nasional, namun lebih dari itu. Ini adalah Ujian Keimanan. Karena itu, kumohon dengan sepenuh hati, mudahkanlah...”

* * *

Hari ini Ujian Nasional dimulai, kucoba menenangkan hati dan pikiranku. Ada sedikit kedamaian setelah kucurahkan segala isi hatiku pada-Nya. Kujalani setiap detik-detik ujian dengan penuh kesungguhan dan ketenanga. Meski tak ada seorang pun di kelas yang menyapaku, namun aku tetap bersikap ramah seperti biasanya kepada mereka.

“Rabb, bukakanlah pintu hatiku dan pintu hidayah untuk teman-teman yang kucintai karena-Mu...” doaku di dalam hati.

Suasana di kelas benar-benar tak terkondisikan. Berkali-kali aku mengucap istighfar ketika melihat pemandangan di sekelilingku. Peserta ujian yang saling menyontek, pengawas yang tidak melaksanakan tugasnya, serta beberapa ‘oknum’ yang dengan mudahnya memberikan kunci jawaban bahkan di saat ujian belum dimulai. Betapa sedihnya hati melihat semua kejadian ini.

Hari demi hari telah terlewati, Ujian Nasional pun telah usai. Namun doaku pada-Nya takkan pernah berhenti, terus mengalir selama nafas masih berhembus.

“Tunjukkan jalan terbaik untukku Ya Allah...”

Hasil memang bukan segalanya, tetapi proses yang akan menunjukkan betapa berharganya setiap detik yang terlewati. Ketika semua menjauhiku, biarlah yang penting Allah selalu bersamaku. Aku yakin, Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Nilai kejujuran harus ditanamkan sejak dini, karena ia akan terus mengakar sampai tua. Begitu pula sebaliknya.


Yakinlah, Allah begitu dekat, maka memohonlah hanya kepada-Nya...

Nasib Sopir dan Kondekturnya

Hari ini Pak Budi datang lebih awal dari biasanya. Alasannya karena jadwal narik bus sekarang ada perubahan. Meski malas, dia tetap datang banting tulang demi menghidupi ‘istrinya’ yang sekarang entah ada di mana.

“Assalamu’alaikum Pak Budi! Kok lemes aaamat?” sapa Bangbang kondekturnya yang menyadari akan kelesuan rekannya.

“Wa’alaikum salam Bang, kamu bisa Bantu saya teu?” Pinta Pak Budi. Seperti biasa, kalau lagi punya masalah pasti sharingnya sama Bangbang. Maklum, dia kan yang suka bareng sama Pak Budi kalau sedang kerja, orang yang suaranya paling ‘cempreng’ sebab udah kehabisan suara dikarenakan tugasnya yang harus extra menguras suaranya dengan berteriak-teriak demi mendapatkan penumpang alias kondektur tea, sodara-sodara! Tapi pengorbanannya ngga sia-sia lho, soalnya berkat suaranya yang ‘merdu’, dia jadi dapat bonus dari atasannya. ‘Hmm lumayan!’

“Wah, ada masalah apa nih? Insya Allah saya akan berusaha membantu, tapi kali ini mah alakadarnya saja ya, soalnya saya juga punya masalah nih!” seperti biasa juga, dengan senang hati dia akan membantu meski terkadang sering teledor alias kurang maksimal gitu.

“Apa? Kamu juga punya masalah?” Tanya Pak Budi kaget. Tapi Bangbang hanya mengangguk saja. Terlihat dari wajahnya seolah-olah menyimpan sejuta masalah yang suangat beurat.

“Wah tumben kamu punya masalah, biasanyakan kamu ini satu-satunya orang yang hidupnya sering hepi-hepi aja!” “Ck, ck, ck ternyata…!” Pak Budi berdecak sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk yang seolah-olah menemukan sesuatu.

“Ternyata apa Pak?” Bangbang terlihat bingung dengan ucapan Pak Budi tadi.

“Ternyata…kondektur juga manusia!” jawab Pak Budi diikuti dengan tawa garingnya. “Ah Bapak ini bisa saja!” elak Bangbang.

“Oh ya, memang kamu teh punya masalah apa?” Tanya Pak Budi dengan sisa-sisa tawanya.

“Mmm, sebenarnya saya malu mengatakannya Pak,” akunya. “Ayolah, mungkin saya bisa bantu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu sering membantu saya!” tawar Pak Budi.
“Nuhun Pak, saya teh seb…sebenarnya… lagi punya masalah di rumah, isteri saya… pundung, dan sekarang dia kabur entah kemana, saya bingung Pak…!”

Seketika wajah Pak Budi jadi pias. Dia bingung harus bicara apa. Ingin dia katakan… “Bang, nasib kita…SAMA!”. Sementara Pak Budi meratapi nasibnya dan Bangbang menangis tersedu, seseorang datang mendekati mereka.
            “Punten, mau numpang nanya, yang namanya Pak Budiman, eh maksud saya Pak Budi, yang mana ya?” seorang tukang parkir dengan keringat yang membasahi seragamnya bertanya kepada mereka. Meski masih pagi, tapi bagi para tukang parkir-ers pagi adalah waktu yang sangat melelahkan.
            “Muhun, saya sendiri orangnya!”
            “Oh, ini Pak ada surat buat Bapak!” tukang parkir itu memberikan sepucuk surat tak beramplop, dan Pak Budi segera menerimanya lalu membukanya dengan hati yang penasaran. ‘Siapa ya orang yang nulis surat buat saya? Perasaan, dari dulu saya tidak pernah nerima surat dari siapapun kecuali Surat Tagihan Hutang’.
         
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak, ini isterimu yang saati ni sedang merana
Pak, daripada saya terus-menerus merana seperti ini, lebih baik……pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…!
            Pak saya sedih………Hiks!

NUNIK

            Seketika Pak Budi mengangkat kepalanya lalu celingak-celingukan ke sana ke mari seperti harimau mencari mangsanya.
            “Punten Pak, Bapak kenapa? Sedang latihan jadi pemain wayang ya!” Tanya sang tukang parkir polos, sebab dia merasa aneh melihat tingkah Pak Budi.
            “Enak saja! Saya sedang mencari orang yang nulis surat ini!” elak Pak Budi marah. “Ooh orang yang tadi?” “Heh, kamu tahu?” segera Pak Budi berbalik dan memperhatikan tukang parkir itu.
            “Mmm, yang orangnya agak gemuk itu ya Pak?” “Ya!”
            “Yang hidungnya agak pesek itu ya Pak?” “Ya!”
     “Terus yang kalau bicara suka nyeroscos itu ya Pak?” “Ya!”
            “Dan yang orangnya gal…,” “Berhenti!!!” tiba-tiba tukang parkir itu terlonjak kaget.
            “Kamu mau ngasih tahu saya atau menjelek-jelekan isteri saya heh? Sekarang cepat kasih tahu saya ada di mana dia sebelum dia kabur lagi!” ucap Pak Budi nyeroscos. “Huh dasar, suami isteri sama saja bawelnya!” protesnya pelan, tapi sedikit tedengar oleh Pak Budi. “Apa kamu bilang?”
            “Ng, ngga Pak, maksud saya, tadi isteri bapak sudah pergi naik bus jurusan Sukabumi!” jelasnya gemetar dan langsung melarikan diri sambil marah-marah. “Huh dasar, ngga tahu terima kasih, udah susah-susah nyari orangnya, dimarahin pula, nasiiib nasiiib!”
            “Aduuuh terlambat! Dia balik sama orang tuanya!” Pak Budi menyesal, sementara orang yang sejak tadi ada di sampingnya terlihat lebih ceria.
            “Hore… jadi, kita senasib dong Pak! Sama-sama ditinggal!!!” teriaknya girang. “Hore…..!!!”
            “GLEK’!”

* * *

Gara-Gara Berita Kriminal

Pagi hari yang datang bersama embun, pasti akan terasa menghangatkan jika dihadapi dengan secaangkir kopi panas, dan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan siaran berita di televisi.

Tapi, hal itu tidak dapat mengubah suasana hati seorang lelaki separuh baya yang sedang duduk bersila di depan sebuah pesawat televisi berukuran 14 inc yang gambarnya masih hitam-putih itu.
Berkali-kali ia mengutuki berita-berita di televisi.

“Ini sebenarnya zaman macam apa sih? Kok beritanya ngga ada yang bagus-bagus!” teriak Pak Budi –begitu orang memanggilnya, walaupun sebenarnya dia memiliki nama yang lebih baik, yaitu Setiawan tetapi bermula dari pekerjaan barunya menjadi seorang sopir bus Budiman, dan saat itu orang memanggilnya Pak Budi.

“Ada apa sih Pak? Pagi-pagi kok teriak-teriak sendiri!” Tanya istrinya bingung melihat tingkah Pak Budi.

“Ini loh Bu, kenapa ya beritanya kriminal melulu? Tiap dioperin, masalah kriminal, dioperin lagi, kriminal lagi, jadi jenuh saya!” tutur Pak Budi menggebu-gebu.

“Ya terserah yang bikinnya atuh!” elak istrinya.
“Euleuh, ibu ini gimana sih, maksud saya….”, ucapan pak Budi menggantung, sebab keburu dipotong oleh istrinya yang malah terdengar seperti ceramah.

“Sudahlah Pak, kita syukuri saja apa yang ada, masalah acara berita, itu mah gimana yang bikinnya saja, lagipula percuma Pak, ngomel-ngomel di depan TV, moal matak kedengeran sama yang di dalem TV, yang ada malah nanti saya kabur soalnya Bapak marah-marah wae!” jelasnya, sementara

Pak Budi hanya geleng-geleng kepala.
“Begini Bu, maksud saya kenapa tidak ada acara berita yang bisa bikin hati saya tenang, aman, dan damai!” jelas Pak Budi menenangkan. Sebab dia tahu, kalau istrinya sudah ngancam-ngancam begitu, bisa gawat nanti! Bisa-bisa dia kabur dan ngga pulang-pulang selama ‘3 kali puasa, 3 kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang’… (lho-lho-lho kok malah nyanyi dangdut sih ?!)

“Ooh, jadi Bapak teh maunya apa atuh ?” Tanya istrinya sedikit lebih tenang.
“Seandainya saja, setiap kali saya memindahkan acara televisi, saya tidak melihat berita kriminal lagi, dan pembaca berita berkata’ “Selamat pagi pemirsa, mohon maaf hari ini tidak ada berita kriminal karena para pelaku kejahatan sudah berubah menjadi baik dan mereka berjanji untuk tidak berbuat kejahatan lagi!”ucap Pak Budi bak seorang pembaca berita.

Sementara istrinya tak kuasa menahan tawanya. “Aduuuh, Bapak ini ada-ada saja, dengerin ya Pak kalau menghayal itu jangan tinggi-tinggi!” sarannya masih dengan tawanya.
“Memangnya kenapa Bu?”

“Nih Pak, selama bumi masih berputar, maka selama itu pun orang-orang yang berniat jahat akan selalu ada, jangan mimpi deh!” ucap istrinya sedikit lebih tenang.

“Dengerin ya Bu, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jadi, apa yang saya ucapkan itu bisa saja terjadi bukan?” Pak Budi tidak mau kalah, dan sekarang dia merasa puas karena ucapannya lebih baik daripada istinya. Tapi… dengan ucapannya tadi malah seolah-olah dapat membius istrinya.

“Baik Pak, kalau itu yang bapak mau, saya mah mau minggat sekarang juga, soalnya udah bosen dimarah-marahin wae!” ancam istrinya sambil pergi meninggalkan Pak Budi.

“Eh, Bu…bu…tunggu! jangan pergi Bu….!” Pak Budi berusaha mempertahankan istrinya, tapi sayang dia sudah keburu pergi. Dan saat ini Pak budi tengah mengutuki dirinya sendiri yang egois dan tidak mau kalah dari istrinya hanya karena berita kriminal “Aduh…!”

Ya, sekarang jadi deh…”3 kali puasa, tiga kali lebaran, istri tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang” …seh… (NB : dibaca dengan irama dangdut ok ;-))

Mana Cinta?

“Siapatah yang sudi membantuku?
 Seseorang yang tak tahu arti cinta
"Hai burung-burung kau terbang tanpa beban, tapi apakah kau sudah mendapatkan cinta?!
“Oh, lautan yang membiru, adakah cinta di sana?
“Duhai diriku yang malang, Kau tahu, dimana cinta?
“Sungguh kudibuat lemah tak berdaya  olehnya.
“Duhai cinta, dimana kau kini……….”
Sang Putri duduk menunduk, tenggelam dalam kesendirian dan hening… hingga sehembus nafas tiba di penghujung………
         
            “Huuuuuuh!”
            Tirai pun tertutup, menggemalah sorak sorai penonton dan tepuk tangan riuh tanda keberhasilan bagi Putri.
            “Wuiiih keren amat sih?” ucap Chika sambil menciumi kedua pipi sahabatnya yang baru turun dari pentas.
            “Terima kasih……!” jawab Putri, layaknya sang Putri dalam cerita, sambil mengangangkat gaun kerajaannya dengan tersenyum manis.
            “Putri lakukan ini untuk cinta, yang tak kunjung datang dalam hatiku…!” lanjutnya dengan nada puitisnya.
            “Cielaah, udeh deh non ini bukan di pentas!” ledek Tie.
            “Ehm, kalian tahu? Peran ini kulakukan atas kebenaran dalam hidup dan kehidupanku. Kini, aku yang lemah ini tak kuasa mencari cinta yang terpendam di dasar lautan nun jauh di sana…”
            “Yawdahlah, nanti juga kau kan dapatkan cinta itu. dan sekarang kau ikuti langkah kami. Maka akan kau temukan cintamu,” ajak Nadin lawan mainnya di pentas tadi yang sama-sama jago berpuitis. Dan Putri pun melangkah bersama kawan-kawannya.
            Tibalah mereka di depan pintu aula sekolah yang tertutup rapat.
            Ditatapnya wajah ke tiga sahabatnya itu yang bertingkah mencurigakan. ‘Ada sesuatu yang mereka sembunyikan!’ batinnya.
            “Satu… dua… tiga…..!!!”
            Terbukalah pintu aula. Dan tahukah kalian, apa yang terjadi di sana?

            “Putri, ini untukmu, sayang,” tiba-tiba Mama muncul di antara orang-orang di sana dan segera berhamburlah ia di pelukan Mama.
            “Oh Mama aku mencintaimu!”
            Sebuah pesta kecil dibuat untuk Putri oleh mama dan teman-teman yang sangat baik padanya. Sebagai bentuk sayang mereka pada Putri.

            “Put, ada acara pentas baru yang diselenggarakan oleh yayasan Gerakan Islam Bangsa, dan mereka mengundangmu untuk ikut bermain dalam teater ini!” tawar Bu Elsi yang bertugas sebagai pengasuh plus managernya.
            Putri cukup bingung juga menerima tawaran itu, mengingat dia masih sibuk menyelesaikan skripsinya yang tinggal sedikit lagi dan baru tiga hari yang lalu dia bermain teater sekarang harus main lagi.
            “Hmmm, Putri masih bingung Mbak, belom bisa ngasih keputusan nih, takut pekerjaan yang lain terbengkalai,” ucap Putri.
            “Tapi manurutku, ngga ada salahnya loh kamu nyoba ikutan teater ini, ceritanya cukup menarik juga!” saran Nadin yang sedang membaca majalah kesukaannya.
            “Iya juga sih, lagian aku kan belum pernah main dalam teater yang bernuansa religi seperti ini, mungkin saja ada hal baru yang akan aku dapatkan dalam teater kali ini!” jawab Putri.
            “Jadi, apa kau akan ikut teater ini?” tanya Mba Elsi meyakinkan.
            “Yup!” ucap Putri mantap.
            Dan, Mbak Elsi pun segera menelpon yayasan itu, memberitahukan bahwa Putri siap main dalam teater mereka.
            “O ya Putri, besok kau bisa mulai latihan, nanti Mbak yang ngatur!” beritahu Mbak Elsi setelah menutup telponnya.
            “Thanks ya Mbak!” ucap Putri yang sedang sibuk mengetik di depan layar komputer.
            Betapa pun seabrek tugasnya. Putri tak akan pernah membengkalaikan salah satunya. Dia akan berusaha melaksanakan kewajibannya. Dan Main teater adalah salah satu hobi di tengah kesibukannya, dia akan melakukannya dengan senang hati.

* * *

            “Eh itu Putri, seorang pemain teater terkenal yang jago akting!” tunjuk Sarah, ketua keputrian yayasan GIB pada Fitrah.
            “Yuk, kita sambut dia, mudah-mudahan bisa bekerja sama dengan kita!” ajaknya sambil menggamit lengan Fitrah.
            Putri tersenyum pada dua orang yang kini ada di hadapannya.
            “Assalamu’alaikum, selamat bergabung ukhti di yayasan kami!” ucap Sarah sambil menjabat tangan Putri dengan penuh keramahan, begitu pun dengan Fitrah. Tapi Putri malah bengong sendiri, dia merasa canggung ada di hadapan dua orang yang jarang dia temukan dalam kehidupannya.
            “Wa…Wa’alaikum salam!” jawabnya ragu. ‘Ya ampun, sudah lama aku tak mengucapkannya, terasa ada sesuatu yang kurasakan yang tak pernah ada sebelumnya. Kenapa lidah ini terasa ringan dan hati tenang begitu mengucapkannya?’ batin Putri.
             “Mari, kami antar berkeliling di yayasan sederhana ini, agar Ukhti lebih mengenal lingkungan yang akan kita tempati selama latihan teater ini!” ajak kedua gadis berjilbab ini. Dengan senang hati Putri menerima ajakan itu.
            Kini, aku seolah tengah berada dalam dunia lain, duia yang sebelumnya pernah kumasuki, walau hanya sekejap saja.
            Oh, mereka sungguh berbeda. Ya, jauh berbeda! Suasana penuh kehangatan ini membawaku tuk lebih mengenal Islam.
            Dulu, aku pernah seperti mereka, Sarah dan Fitrah. Jilbab yang kini ada di tangankua tak teresa asing lagi buatku. Tapi, ini untuk pertama kalinya aku mengenakan jilbab suci dan pakaian taqwa ini, setelah sekian lama ku tlah ajuh darinya.
            Aku sempat berpikir, ‘kenpa dulu aku menjauhunya? Kenapa dulu aku melupakannya? Kenapa?’
            Aku ini seorang muslim, ya, sekiranya begitu, sebab sejak lahir aku beragama islam. Tapi… masih pantaskah aku menyebut diriku sebagai seorang muslim? Setelah sekian lama kutinggalkan kehidupanku. Dan lebih memilih memasuki dunia hampa yang tak pernah kumenemukan sebuah kata yang tersembunyi?
            “Subhanallah, kau sungguh cantik Putri!” ucap Fitrah yang membantunya menggunakan jilab sebelum latihan.
            “Ah, Fitrah kau mengejekku ya!” ucap Putri malu.
            “Sungguh, kau cantik Ukhti, apalagi jika hatimu juga kau balut dengan jilbab suci ini!” ucap Fitrah lembut sambil memegang pundak Putri.
            Kau benar, sungguh aku malu pada diriku sendiri. Fitrah, andai kau tahu, aku iri padamu, aku cemburu padamu, karena aku merasa Allah lebih mencintaimu dari pada aku!
            Malam ini akan diadakan tausiyah ba’da Isya di masjid bersama para pemain teater.
            “Sebelum kita melaksanakan hajat ini, lebih baik kita berdo’a, memohon pada Sang Khalik agar apa yang kita rencanakan ini mendapatkan ridho darinya.
            “Fitrah, aku deg-degan banget nih, besok kita harus bermain sebaik mungkin!” bisik Putri pada lawan mainnya. Fitrah membalasnya dengan senyuman.
            Sebelumnya aku tak pernah merasakan kegelisahan ini. Padahal sudah begitu banyak dan sering aku bermain dalam teater, tetapi kali ini sangat berbeda.
            Naskah drama yang akan dipentaskan bercerita tentang seseorang yang baru masuk Islam dan memperdalam tentang agama barunya ini.
            Hati Putri semakin gelisah. Ia merasa takut karena ia tak sebaik tokoh yang harus diperankannya dalam teater itu. Meskipun sudah lama ia tidak mengaji, tetapi ia pernah dengar bahwa kita tidak boleh berkata tentang apa yang tidak kita kerjakan.
            Malam harinya, Putri tidur di asrama putrid bersama pemain teater yang lain. Sementara itu, Putri lebih memilih tidur di dekat Fitrah. Ia ingin mengetahui rahasia di balik diri seorang Fitrah.
            “Fit, boleh aku bertanya satu hal kepadamu?” Tanya Putri sedikit berbisik.

Baca Kompilasi Cerita Cinta lainnya ...

Maafkan Aku!

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Ba’da Tahmid dan Shalawat,

Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Sungguh, ingin kukatakan bahwa aku mencintaimu...
Dan aku ingin cintaku ini hanya karena Allah semata.

fitrah hanyalah sebuah fitrah...

Kau tahu,
Langit telah menyaksikan
Bulan pun merasakan
Dan aku tlah ikhlaskan
Aku tak pernah tahu apa yang kau rasakan
Karena aku tak tahu isi hatimu
Yang aku tahu hanyalah hatiku
Yang menyimpan rasa padamu
Bagiku, kaulah yang tlah ajarkan padaku
Sesuatu yang indah
Dan buatku bahagia
Karena dengan itu, aku semakin dekat dengan Tuhanku
Kaulah yang mengajarkan Cinta
Sehingga aku dapat mengenal CintaNya
Kaulah yang mengajarkan Sayang
Sehingga aku selalu menyayangiNya
Rasa ini, rindu, kasih, sayang dan cinta
Semua yang telah kau ajarkan padaku
Sungguh, aku bersyukur menerimanya
Sedangkan dirimu,
Aku Ikhlaskan...
Karena engkau adalah milikNya
Dan kini...
Hati dan perasaan ini,
Telah menemukan tempat berlabuhnya
Tiada Tuhan selain Allah
Cinta di atas cinta....

Maafkan aku...
Rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu.
Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur.
Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku.
Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam.
Yang siap Memberi apapun yang kupinta.
Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

Maaf, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia.
Aku ataupun Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya.
Dan aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya murka.
Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

Belum terlambat untuk kita bertaubat.
Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya.
Ia bisa marah...
Marah tentang saling pandang yang kita lakukan,
marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu,
marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu,
marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau,
tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu...
Marah karena semua yang telah kita lakukan...

Tapi sekali lagi semua belum terlambat.
Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang,
semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni.
Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

Jangan marah ya.
Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya.
Tapi tak cuma aku,
Kau pun bisa menjadi kekasihNya,
kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan.

Caranya satu,
kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini.
Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing.
Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya,
Kita mulai semuanya dari awal.
Kita perbaiki semuanya untuk mensucikan hati,
Untuk saling menjaga hati.

Kau tahu,
Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu dan mengenalmu.
Tapi, sebisa mungkin akan kujaga semua ini.
Agar hati ini tak ternoda lagi dengan cinta-cinta semu lain.
Kau akan menjadi sebuah kenangan indah dalam sejarah hidupku.
Dan aku ingin melewati ini hanya sekali
Mulai saat ini akan kujaga sepenuh hati,
Fitrah dariNya
Sampai kelak aku bertemu dengan seseorang yang telah ditakdirkan Allah menjadi pendamping hidupku.

Kuharap, kau pun begitu karena Allah.
Kita sama-sama saling menjaga hati ya...
Karena kuyakin Allah telah mempersiapkan Rencana terindah untuk masa depan kita.

kau pasti akan dipertemukan dengan seorang Wanita Shalihah.
Ya, Wanita Shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini.
Seperti yang pernah A katakan,
Seorang Wanita Shalihah bagai Cahaya Cinta...
Cahaya cinta yang didamba untuk saling mengingatkan,
Cahaya cinta yang akan menemani hidup ini,
Cahaya cinta yang akan saling melengkapi,
Cahaya cinta yang saling menerima segala kekurangan dan menyempurnakan segala kelebihan..
Kuyakin, kau akan mendapatkannya...
Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan Pernikahan yang Suci...
Inilah doaku untukmu, semoga kau pun mendoakanku.

Maafkan aku...
Aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini.
Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah.
Ya, saudara di jalan Allah.
Itulah ikatan terbaik.
Semoga silaturahim kita tak putus karena hal ini.
Silaturahim yang akan memperkuat ikatan kita sebagi saudara seiman.
Silaturahim yang mengantarkan kita pada keridhoan Allah.
Tak hanya antara kita berdua.
Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di telagaNya, lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.

Maaf,
Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini.
Aku takut ini merusak kesucian hati.
Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat
Doaku untukmu...
Juga sebagai tanda akhir dari hubungan kita, Insya Allah.
Meskipun kutahu ini perih dan rasanya pahit,
Namun, semua akan indah pada waktunya.
Oleh Karna itu,
Wahai orang yang kusayang karena Allah,,,
Yakinlah’!!
“Rencana Allah Selalu Indah...”

Maafkan aku...
Bukannya aku membencimu
Bukan pula aku mengkhianatimu
Aku hanya ingin kau tahu

Sungguh...
Aku mencintaimu,
Tetapi ada yang telah menempati hati ini
Mengisi jiwa dan hidupku

Aku tetap mencintaimu,
Tetapi cinta ini kujadikan sebagai fitrah
Yang diberikanNya padaku
Sebagai tanda bahwa Dia mencintaiku

Maafkan aku...
Aku rela jika harus jauh darimu,
Semoga itu akan lebih baik untukku dan untukmu

Maafkan aku...
Aku yakin Dia akan berikan yang terbaik
Karena sesungguhnya Dialah Cinta Sejati
Dialah Allah...
Sang Penggenggam Cinta...

“Rencana Allah Selalu Indah”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh...



           Puisi lainnya tidak kalah menarik. Baca kumpulan puisi cinta di sini
 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes