Archive For 2012 2012 - Teh Deska
TERBARU

Untuk Hati yang Terjaga


Kuharap kau tetap dalam fitrahnya. Tersimpan rapi, dihiasi bunga keimanan yang membuatmu semakin indah. Untukku dan karena-Nya kau jaga hatimu. Bukan semata ingin terlihat sempurna dipandang dari mataku yang sering tersalah, tapi dari mata hatiku yang semoga selalu terjaga.

Kuharap kau temukan sepotong lagi hatimu, yang telah dititipkan-Nya padaku. Pada saat yang tapat dan tempat yang tepat, di sini, di hatiku. Semoga Ia selalu menunjukkanmu jalan yang benar untuk menemukanku menuju tempat mendarat yang kau tuju. Jika bukan karena bimbingan-Nya, kau takkan pernah bisa bersua denganku. Bahkan aku pun takkan mampu menyempurnakan sekeping hatiku.

Kuharap semua karena-Nya, karena kau ingin mendapatkan cinta-Nya untuk mencintaiku. Namun, bukan kata cintamu yang kuinginkan, tapi bukti cintamu yang kudamba. Biarlah aku berada dalam posisi keberapapun dalam hatimu, yang terpenting bagiku Allah tetap yang pertama dan utama. Dialah yang telah menitipkan cinta ini padaku, hingga aku bisa mencintaimu karena-Nya. Walau kita belum pernah bertemu sekalipun, walau aku tak pernah tahu siapa dirimu, tapi hatiku mengatakan kaulah yang terbaik untukku. Kaulah yang telah dipilih-Nya untuk melengkapi sayapku.

Kuharap hati ini tetap terjaga, karena ada Allah yang Maha menjaga. Hati ini milik-Nya, sama sepertimu. Semoga dapat bersatu dalam pelabuhan hati yang terjaga. Semoga. ^_^

(220912/23:39)



Puisi lainnya tidak kalah menarik. Baca kumpulan puisi cinta di sini

Di Matamu Aku Melihat Mawar Merah dan Melati Putih

Aku masih menyimpan cinta yang kau titipkan kemarin sore
dalam sisi terbaik di hatiku
Dapatkah kau dengar suara angin berbisik
yang tlah kukirimkan salam padanya
Ada harap menyemai mimpi
untuk segenggam tanya
yang belum terjawab
Aku hanya ingin mengenangmu
Hingga bulan melelehkan rindu
Tak pernah bertepi
Tiada berbalas
(310812)

Dalam Bening Matamu

Penantian selalu saja memberi harapan
Pada sejumput perasaan
Di dasar hati berhias kenangan

Dalam bening matamu kutemukan cahaya bulan
Bersinar terang hapu semua keraguan
Lahirkan asa
Ciptakan rasa

Meski waktu tak menjawab semua tanya
Namun selalu ada harap dalam doa
Semoga penantian berlabuh indah
Pada senggenggam cinta karena-Nya

(040712-Dalam Terang Purnama)

Matahariku

Matahariku,,
Dalam dekapan malam yang sunyi
Aku menantimu bersama pekatnya langit
Mengharap kau hadir
Usir dingin yang bekukan hati

Matahariku,,
Masihkah kau dengarkanku
Dalam bisikan angin
Jawab semua tanya
Yang mengusik kebisuan hati

Matahariku,,
Tak banyak yang kupinta
Yakinku kau tahu inginku
Karena malam semakin larut
Alam pun kian terjaga

Matahariku,,
Satu harapanku pada kuasa-Nya atasmu
Sudilah engkau menuangkan secercah cahayamu
Untuk menemani Sang bulan
Menyelimuti bumi dalam tasbihnya

Nantikanku di Surga

Duhai kekasih hati
Telah sekian lama kupendam rasa ini
Jauh di lubuk hati
Tersimpan rapi, tertanam dan berbunga

Kini, rasa itu menguak ke permukaan
Mencari Sang Pemilik ruahan rindu
Penebar syafaat Penyejuk qalbu

Adakah disana kau menantiku
Bersama waktu
Berharap kita dapat berjumpa
Di sebuah tempat bernama Surga

Duhai kekasih hati
Ini diriku datang menghadap
Mencoba mencuri perhatianmu
Walau ku tahu kau rela berikan apapun
Untuk umat yang amat kau cinta

Dan kini aku pun berharap
Menjadi bagian dari cintamu
Cinta Sang kekasih hati
Duhai Rasulullah… Kekasih Allah…

Hitam Putih

Diam tak berarti padam
Senyap tak bermaksud lenyap
Hening tak menjadi kering
Sayu tak pasti layu

Secerah sinar mentari
Selembut cahaya rembulan
Seceria kerlip bintang
Seindah warna pelangi

Ada hitam tenangkan pandangan
Ada putih membagi kasih
Berputar saling mengejar
Dan akulah sang pemenang

(130111/18:40)

Di Ujung Senja

Bayangmu masih sempurna di bawah surya
Menyapaku lembut lewat jemari angin
Meski terhempas takkan lepas
Siang menyatukan harap kita
Bersama lalui hari
Dengan payung-Nya memayungi menaungi

Kau tetap berdiri di sana
Meski awan mencuri terangmu
Kokoh takkan rapuh

Kau setia bersama pijakmu
Hingga di ujung senja
Senyummu masih indah
Terbias dalam bayangmu yang semakin lelah

(Jumat/301210/00:09)

Fatamorgana

Alam bicara dengan jubah agung-Nya
Menebar wangi Surgawi
Lesapkan dendam yang membuncah
Dalam dada api kata

Kadang hati bicara dalam diam
Menata rasa
Meredam asa

Jauh jiwa terbang
Menembus angin langit
Menuju alam tak terbayang

Lambaian Fatamorgana menarik hati insan
Yang terlena dalam khayal
 Jauh alam nyata
Dunia…

(2010)

Kau Inspirasiku

Kurangkai kata untukmu
Pencuri larik dalam baitku
Lambaikan khayal dalam imaji
Sampai ruh jadi tautan
Dibumbui majas pelengkap diksi
Terasa indah dilafalkan dihayati

Kau setia jadi inspirasi
Bagi nadi kata-kataku
Mengalir tenang menuju pelabuhan asa
Biarkan ia terhempas
Terbang melayang
Mencipta sebuah puisi
Untuk kau yang menjadi inspirasiku

(Kamis/291210/23:55)

Bahtera

Ya Rabb, ketika hati ini menemukan fitrahnya
Tempatnya berlabuh usai tempuh perjalanan panjang
Nan melelahkan
Di lautan lepas temui badai yang mengguncang
Dahaga tiada tertahan
Hingga garam laut asin tertelan
Kini kuikat perahuku di dermaga hatinya
Rapuh, diguncang angin pantai
Namun ianya kokohkan harapan itu
Bawaku dalam istana pasir
Yang dibangun dengan tangan hampa
Kuharap tiada ombak runtuhkan istananya untukku
Bertahan dalam lambaian air menipis
Di tepi pantai
Tiada kutahu kan bertahan
Lama dalam angan
Ataukah kan temukan tempat kekal abadi
Dalam bingkai bahtera
Yang diikat dengan tali suci penuh janji
Hidup bersama dalam naungan-Mu
Hingga sampai kita pada tujuan Satu
Bahagia hingga ke Surga…
Amiin Ya Rabb…

(Selasa,030810/10:30)
Pertemuan Agung
100810/21:51

Ruang Kosong

Pintu itu masih tertutup
Sebelum Kau datang
Dengan cahaya kasih-Mu
Membias terangi hati yang telah redup

Buka tabir itu
Dan penuhi ruang kosongnya
Hingga tiada asa menggunung
Dalam debu kedukaan

Kuhirup nafas keinsyafan
Atas detik penuh noda
Melebur bersama bayang tertinggal
Jauh hilang tertelan masa

(Rabu, 7 Juli 2010/24 Rajab 1431 H)

Merajut Mimpi

Meski malam kian larut
Namun aku belum dapat larut dalam mimpiku

Bulan masih saja mengambang di atas langit
Membentuk sepotong episode yang indah

Malam ini aku lihat ia bersembunyi
Mencoba menyibak rinai di balik tirai langit

Tapi ia masih saja asyik bernyanyi
Dalam rintik yang membawa kenangan
Membuat malam terasa indah
Walau tanpa bebintang menemani
Sebab kutahu ia sedang bermain bersama bulan
masih di balik awan

Kadang ia mengintip sambil tersenyum
Malu-malu mengantarkan rindunya
Pada malam yang berhias temaram
Mencoba menggodaku dengan cahayanya

“Ayolah lekas rajut mimpimu,
biar kutemani engkau sampai fajar memanggil!” katanya.
(040412/23:38)                                    

Setapak Jejak Untukmu

Aku ingin membuat jejak
Di batinmu di hatimu
Seperti langkah yang kau tapaki
Aku ingin membuat kenangan
Di hidupmu di jiwamu
Menjadi goresan tinta yang abadi
Aku selalu ingin menjadi sejarah untukmu
Meski kadang rintik itu menghapus harap
Namun mentari esok pasti kan datang
Biar kuulang semua cerita
Tentang pagimu yang meninggalkan embun
Atau siangmu yang meninggalkan peluh
Mungkin pada sore yang meninggalkan jingga
Bahkan pada malam yang meninggalkan mimpi
(040412/2317)

Pesan untuk Rinai

Rinai…aku ingin berpesan padamu malam ini
Jaga bulan yang masih mengambang di atas harap
Meski kau milik langit malam ini
Tapi bulan tetap ada untukmu
Seperti malam-malam sebelumnya
Aku tahu rinai dan bulan tak bisa bersapa
dalam satu waktu
Namun akan kusampaikan rinduku padamu
melalui matahari
Karena ia yang telah ulurkan cahaya untuk bulan
Kuharap kau mau berbagi dengannya
Tentang malam-malam yang akan kita lewati
Rinai ataupun bulan
Langit akan tetap indah
Menemani malam
(040412/22:56)

Nantikanku di Surga

Duhai kekasih hati
Telah sekian lama kupendam rasa ini
Jauh di lubuk hati
Tersimpan rapi, tertanam dan berbunga

Kini, rasa itu menguak ke permukaan
Mencari Sang Pemilik ruahan rindu
Penebar syafaat Penyejuk qalbu

Adakah disana kau menantiku
Bersama waktu
Berharap kita dapat berjumpa
Di sebuah tempat bernama Surga

Duhai kekasih hati
Ini diriku datang menghadap
Mencoba mencuri perhatianmu
Walau ku tahu kau rela berikan apapun
Untuk umat yang amat kau cinta

Dan kini aku pun berharap
Menjadi bagian dari cintamu
Cinta Sang kekasih hati
Duhai Rasulullah… Kekasih Allah…

Selamat malam, Bulan…!

Waktu malam,

kuintip bulan di balik awan.

Walau kelam,
kau tetap menawan.

Bawa aku tenggelam,
dalam angin kegelapan.

Sebelum mata ini menyelam,
ku kirim sebuah sapaan.

Selamat malam,
Bulan...

(310110)

Sayap-sayap yang Telah Hilang

Angin membisikkan rindunya padaku
Dengan bahasa alam
Kuantarkan senyuman untuk rembulan
Menggantung di langit malam

Batinku yakin kalian ada di sana
Sayap-sayap yang telah terbang…hilang…
Menjauh tinggalkan sepi

Tapi gadis kecil yang kini terduduk manis di atas bumi
Hanya mampu bermimpi sendiri
Berharap ia temukan sayap-sayapnya
Di tempat terbaik
Di sisi-Nya
Di surga-Nya

(Di atas bumi-Nya) Kamis, 101111/17:01


Rindu Ibu



            Ketika dada sesak, hati pilu, pikiran tak menentu, ada hal yang buatku ingin meneteskan air mata. Diri yang tak kuasa menahan perasaan yang hadir begitu menyesakkan, hanya mampu menangis kala itu.
            Kala rindu menyeruak dalam qalbu. Namun aku hanya berada di batas harap, hanya mampu merintih tanpa bisa mengungkapkan dalam bahasa hati dan merengkuh dalam dekapan nyata. Andai saja berandai-andai itu tak salah, maka aku berharap andai waktu terulang kembali. Kan kuukir semua cerita indah bersamamu yang kini begitu kurindukan. Namun kusadar, itu hanya angan yang takkan disampaikan angin padanya.
            Dalam sejuta tanyaku yang tak ada satu pun mampu menjawabnya, aku mulai diam. Tersadar akan alam nyata yang harus kuhadapi. Bukan mimpi yang semata menjadi bunga tidur. Aku harus kembali menatap masa depan yang menantiku, berusaha menggapai citaku yang tlah kuukir bersamanya. Bukan diam tanpa aksi. Bukan dengan air mata yang mulai membeku.
            Aku pun malu akan semua fikir yang sempat terlintas dalam benak. Karena kuyakin ada yang mampu menjawab semua tanyaku yang melangit. Ya, ada Allah yang paling setia menemani hari-hariku meski tanpa ia yang kurindukan. Tapi, yakinku, Allah kan menyampaikan semua kata rinduku melalui bahasa terindah-Nya.
* * *
            Pagi itu, tepat tiga hari setelah Ibu pergi, aku sudah berada di rumah tempat aku berbagi kasih bersama orang-orang terkasih.
            Seperti biasa, kesibukan di pagi hari mulai terlihat, seperti mentari yang sibuk menghangatkan bumi. Kakak yang bersiap berangkat kerja, adik-adik yang siap berangkat sekolah. Sementara aku sibuk mempersiapkan kebutuhan saudar-saudaraku agar tidak terlambat menunaikan amanahnya. Namun, dalam sekejap saja kesibukan itu sirna, berganti hening di dalam rumah.
            “Alhamdulillah, beres sudah tugasku. Semoga mereka baik-baik saja sampai pulang kembali,” ucapku di depan pintu rumah, menatap kakak dan adik-adikku serempak berangkat menuju tempat pencarian ilmunya masing-masing.
            Masih di depan pintu, ketika tatapan mataku berhenti di ujung gang yang mengakhiri tatapanku, karena sosok mereka sudah hilang tertelan arah. Aku masih menatap jalanan itu, melihat lalu lalang kendaraan di pagi hari yang tak kalah sibuknya dengan aktifitas para pengguna jalanan itu. Tak sadar, rupanya ada sekitar sepuluh menit aku berdiri di sana.
            Seketika aku tersenyum mengingat wajah saudara-saudara yang amat kusayangi itu. Mereka telah membuat hari-hariku indah dan penuh warna. “Terima kasih ya Allah, telah memberiku teman hidup di dunia. Bersama merekalah kuukir semua kisah yang indah, meski terkadang ada haru…..”
            Tak berapa lama, senyum itu hilang. Kembali mataku tertuju pada jalanan yang semakin sibuk. Ada haru yang mulai hadir. Sejenak kupejamkan mata, dan meneteslah air mata yang tak mampu kutahan.
            Kembali terbayang sosoknya. Kembali teringat kenangan-kenangan bersamanya.
            Setiap pagi, ibulah yang selalu paling awal bangun. Ketika anak-anaknya masih terlelap di saat bulan mulai hilang, ibu sudah siap dengan semua aktifitas hariannya. Bangun, sholat, membuka jendela, memasak, dan mempersiapkan semua keperluan anak-anaknya. Usai subuh, ibu mulai membangunkan anak-anaknya dengan penuh kelembutan. Mengetuk pintu kamar, masuk dengan perlahan dan membelai kepalaku dengan lembut.
            “Sayang, ayo bangun, solat subuh, mandi dan bersiap-siap sebelum adik-adikmu bangun,’ ucapnya sambil duduk di atas tempat tidurku, di sampingku.
            “Hm,, iya Bu… jam berapa sekarang?” tanyaku setelah membaca doa dalam hati.
            “Sudah jam empat lebih, tuh ayam tetangga udah bangun duluan dari tadi, eh putri ibu yang cantik ini kok masih tidur, malu dong sama ayam...” jawab ibu sambil bercanda, membuatku sedikit tertawa hingga hilanglah rasa kantukku.
            “Baik ibuku yang cantik, Shafa laksanakan semua perintah…” kataku sambil berdiri dan siap menuju kamar mandi. Kutatap sekilas wajah ibu yang masih berada di dalam kamar. ‘Hm, beruntung aku memiliki ibu seperti ibu yang selalu mengingatkan aku untuk gesit dalam semua hal, meski terkadang sering kulanggar,’ batinku.
            Usai semua anggota keluarga bangun dan siap dengan semua peralatan sekolahnya, ibu sudah menghidangkan sarapan yang begitu lezat. Meski hanya dengan telor dadar ditambah kecap dan nasi hangat, tapi terasa nikmat dimakan bersama orang tersayang.
            “Bu, kami berangkat sekolah dulu, doakan kami ya, Assalamualaikum,” ucapku pamit sambil mencium tangan ibu diikuti oleh kakak dan adik-adikku.
            “Iya Nak, hati-hati, ibu doakan semoga lancar dan mendapat ilmu yang bermanfaat, Waalaikumsalam Warohmatulloh,” jawabmu mengiringi kami berangkat sekolah.
            Ah, betapa indahnya saat-saat itu.
            Kini, aku berdiri di tempat yang sama dengan ibu ketika mengantar kami sampai di depan pintu rumah. Dan di depan pintu ini jugalah ibu menanti kami pulang kembali.
            Keharuan kembali menyeruak dalam qalbu. ‘Oh ibu, mengapa kau pergi begitu cepat? Aku kini sendiri di sini. Tak mampu mengganti posisimu sebagai seorang ibu bagi kakak dan adik-adikku’.
            Setetes permata bening jatuh di pipiku. Hangat. Kunikmati suasana kebersamaanku dengan ibu. Kubayangkan tangan  lembut ibu mengusap air mata yang menghiasi pipi. Tapi kusadar itu hanya sebuah bayang yang takkan pernah terjadi lagi.
            Rindu!
            Aku benar-benar merindukkan ibu. Sekilas kutatap halaman rumah. Tanaman-tanaman kesayangan ibu, yang setiap pagi selalu disiramnya seolah ikut merasakan apa yang kini tengah kurasakan. Dedaunan melambaikan rindunya, berharap tangan ibu kembali menyapanya dengan air yang menyejukkan.
            Semua yang kulihat di halaman, mengingatkanku pada ibu.
Tak ingin berlama-lama dalam kedukaan, mulai kututup pintu rumah, berharap duka itu segera tertutup. Namun, tatkala aku berbalik arah, semua yang kutatap di dalam rumah kembali membuka kenangan-kenangan kebersamaan itu.
            Kursi yang biasa ibu duduki ketika menonton TV untuk sekedar berkumpul bersama anak-anaknya, pintu kamar yang sering dilewatinya, dapur tempat ia memasak penuh cinta, meja makan tempat ia menghidangkan makanan-makanan terlezat, sudut-sudut rumah, semua begitu haru. Hening.
            Oh ibu, kini tak ada lagi yang mampu menghangatkan rumah ini dengan kasih sayang seorang wanita mulia sepertimu.
            Ibu, ingin rasanya saat ini aku memelukmu. Menangis di pangkuanmu. Mengungkapkan semua rinduku…
            Tapi apa dayaku?
            Kau tlah tiada…
Kupejamkan mataku sesaat, kurasakan dirimu masih ada di sini. Tersenyum padaku, membelai lembut kepalaku, mencium keningku. Indahnya.
            Namun, ketika kubuka mata, tak ada!

Ibu tak ada di sini…
kucari ibu di setiap sudut rumah. Tak ada!
Dimana ibuku?
Dimana ibu yang begitu kusayang?
Aku ingin ibu… aku rindu ibu….
Aku berlari menuju kamar, ibu tak ada disana!
Ibu…
Tangisku mulai deras, hatiku basah, tanganku gemetar, tubuhku lemas, dan aku pun terduduk pasrah di atas lantai.
“Ya Allah…aku meridukannya….” Ucapku lirih.
Masih dalam tangis yang belum reda, aku teringat sesuatu…
“Allah…”
“Engkaulah yang Maha menghidupkan dan Engkau pula yang berhak mengambil setiap makhluk yang Kau ciptakan…”
“Allah…Engkau yang menghadirkan ibu untuk kusayang, dan Engkau pula yang meniadakkannya…”

Pikiranku mulai mengingat-Nya Yang Maha memiliki.
Sejenak aku terdiam. Hening.

Kemudian bangkit, menuju kamar mandi lalu mengambil air wudhu. Sejuk rasanya, ketika air itu menerpa jemariku, kuusap wajah, ada ketenangan yang kurasakan. Kuusap rambut, membuat pikiran terasa jernih. Hingga akhir, kubaca doa seusai wudhu. Damai rasanya.

Mulai kuatur nafas. Sesak yang tadi kurasakan, kini mulai hilang berganti lega. Kugelar sejadah, dan mulailah aku bermunajah. Sujud panjang di pagi yang mulai hangat itu memberi sebuah kedamaian.
“Duhai Allah Sang Pemilik jiwa, maafkan hamba yang sempat melupakan-Mu. Maafkan hamba yang sering lalai terhadap-Mu. Kini, hamba-Mu yang lemah ini memohon penuh kesungguhan…”

Ya Rahmaan, Ya Rahiim, aku titipkan rindu yang memburu, pada-Mu… Aku ikhlas Ya Rabb… Sebesar apapun sayangku pada ibu, kutahu Engkau jauh lebih menyayanginya… Karena itu aku rela jika ibu pergi, bukan untuk meninggalkanku, tapi untuk bertemu dengan-Mu… Dalam permohonan yang kecil ini, hamba berharap Engkau dapat mempertemukan kami kembali di tempat terbaik, di Surga-Mu…

Meski kusadar, siapalah diri ini? Meminta Surga-Mu, sementara langkahku jauh menujunya… Tapi aku tak sanggup masuk neraka-Mu, tempat yang tak ingin kusinggahi walau sebentar, membayangkannya pun aku tak sanggup! Ya Rabb…

Tapi, dalam munajahku yang sederhana ini, aku berharap penuh harap pada-Mu… ampuni dosa-dosaku, dosa kedua orangtuaku, dosa kakak dan adik-adikku, serta dosa hamba-hamba yang mencintai-Mu… Tunjukkan jalan terbaik-Mu Ya Lathif, jangan biarkan hamba tersesat dan terjerat dalam kubangan hitam itu.

Rabb, kuyakin Engkau Maha Penyayang dan kusampaikan sayangku ini pada ibu dan ayah yang kini semakin dekat dengan-Mu… Jika ada kebaikan yang kulakukan, semoga kebaikannya mengalir kepada mereka. Tempatkan mereka pada tempat terbaik di sisi-Mu… di Surga-Mu… Amiin Ya Rabbal’alamiin….

Kuakhiri munajahku dengan sujud kepasrahan.
Betapa damainya hati ini. Kini kutahu jawabannya. Meski ibu telah tiada, tapi ia masih ada di sini, di hatiku… Doaku selalu untukmu, ayah dan ibuku….
Dari aku yang merindukanmu…..

Kini, setiap aku merindukkan ibu, atau orang-orang yang kusayang, aku akan mengambil air wudhu yang menyejukkan qalbu, dan mulai kupanjatkan doa. Karena kuyakin, doa adalah pengantar ungkapan setiap rindu. Doa yang tulus dari hati, akan dikabulkan oleh Allah Al-Mujib, Yang maha mengabulkan setiap doa.
Ungkapan rindu itu akan tersampaikan pada ia yang kita rindukan, dengan cara-Nya… Cara-Nya yang terindah… seindah bait-bait doa yang kita sampaikan pada-Nya yang maha indah….

(Dalam kerinduan, 6 Januari 2012/05:50)
           

Rindukan Rembulan

Saat Purnama datang,
Bumi hangat dalam dinginnya malam
Karena lembut cahayanya
Mampu menarik jutaan hati
Yang rindu akan kehadirannya

Saat Sabit gantikan Purnama,
Langit masih setia berikan tempat
Untuk ia berlabuh
Bagai tersenyum,
Tulus ia hiasi malam dalam gulitanya

Namun, saat Rembulan tak tampak lagi,
Masihkah kau kan setia?
Menunggu di bawah naungan langit
Yang membisu tanpa cahayanya

Masihkah kau kan setia?
Menanti bersama bumi
Yang selalu rindu akan satelitnya

Sungguh, kesetiaan itu kan terbalas
Oleh waktu yang berputar
Hingga Rembulan kembali datang
Bersama cahaya penyejuk hati…

(101009)

 
Back To Top
Copyright © 2014 Teh Deska. Designed by OddThemes